Sunday, 25 January 2009

Muhasabah Cinta-Q

0 comments
Berbekalah untuk hari yang sudah pastiSungguh kematian adalah muara manusiaRelakah dirimu menyertai segolongan orang Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa....(Suara Persaudaraan)Malam itu, 26 Desember 2004, selepas Isya’ ada SMS yang masuk ke hp saya. Meski dengan mata yang terkantuk-kantuk, saya raih hp yang tergeletak di dekat bantal kemudian membukanya dengan segera. SMS dari Bude saya, “Nduk, tolong doakan masmu. Bude sangat sedih karena telp nggak bisa dihub.”Saya tercenung sejenak....

SAAT-SAAT SEPERTI INI..

0 comments
Sore ini pun aku menangis lagi…Rindu pada orang-orang tercinta menghunjam begitu dalam.Air mata itu tertahan dalam kesendirian, menetes perlahan-lahan. Kucoba menahannya agar tidak terlalu deras berjatuhan. Kasihan mujahid kecilku, tiap hari mendapati umminya menangis (Maafkan Ummi, Nak!). Sungguh, kutakmau mewariskan kesedihan padanya. Ia harus lebih tegar dari Abi dan umminya. Maka, kucoba memaknai kembali ketegaran itu; bahwa perjuangan mengalahkan diri sendiri adalah jihad yang paling berat.Entahlah.....

DAKWAH KAMPUS DALAM KENANGKU; SECUIL KISAH untukmu, Sahabat!

3 comments
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 ...

Friday, 9 January 2009

Mujahid Kecil Kami

0 comments
“ Eh, ’Ammah yang satunya...” seru Nafis, salah satu putra Ustadz -pimpinan saya di kantor- dengan senyum penuh. Pandangan matanya mengarah ke saya.“Ayo, ‘ammah siapa?” kejar Mbak Rina, patner saya, dari mejanya.“’Ammah Rina..,” masih dengan senyumnya, bocah laki-laki itu mencoba menebak. “’Ammah Betty…” Mbak Rina mengingatkan nama saya padanya.“’Ammah Betty…” akhirnya ia menyapa saya dengan malu-malu, kemudian menjabat dan mencium tangan saya.“Sudah nggak sakit lagi?” Tanyanya setengah berbisik.Saya...