Monday, 8 April 2013

Be a Writer: Berani Berkarya, Nurani Tetap Terjaga!

15 comments

Be a Writer (BaW) bagi saya adalah komunitas yang luar biasa. Berada di dalamnya, seperti halnya berada di antara para penjaga semangat untuk menebar kebaikan melalui pena. Menulis bagi saya pribadi adalah sarana menjaga nyala cahaya di dada agar tidak meredup. Menulis selalu mengingatkan saya akan perjalanan mencari cahaya. Perjalanan menjemput hidayah dengan membaca  dan mendengarkan bisikan nurani.
Memasuki bangku SLTP (SMP), saya semakin gemar membaca, tidak saja buku-buku yang berada dalam perpustakaan tapi juga berbagai majalah remaja yang beredar di kelas. Ketika memutuskan untuk berlangganan majalah, saya memutuskan berlangganan Majalah ANNIDA. Keputusan itu juga mengawali titik balik perubahan dalam diri saya dan cara pandang terhadap Islam. Saya mulai berbenah, dan bertekad untuk mengajak teman-teman menjemput cahaya melalui tulisan. Singkat kata, ada janji yang diam-diam saya ikrarkan saat itu: saya akan menempuh jalur pena dalam berdakwah (wow^^, meski kusadari diri ini hanya debu di hamparan pasir-Nya ~nyanyi~).
Memasuki bangku SMU (SMA), saat saya merasa menjadi orang bahagia di dunia, saya masih konsisten dengan janji untuk terus (belajar) menulis. Semangat menulis itu terpelihara karena saya punya komunitas.  Salah satunya adalah tim redaktur buletin dakwah sekolah. Kemudian, ketika diizinkan untuk menginjakkan kaki di kampus hijau (UNS), banyak sekali lomba, seminar, dan komunitas yang senantiasa mengingatkan saya untuk terus mengukir sejarah dan berdakwah lewat pena. Bahkan, ada yang memfasilitasi saya agar terus menulis, salah satunya dengan menjadikan saya bagian dari admin sebuah situs LDK. Saya bersyukur memiliki sahabat yang memotivasi saya untuk terus berbenah dan menulis meskipun tertatih-tatih.
Pertengahan tahun 2006, saat mengikuti sebuah PPL (Program Pengalaman Lapangan, baca: praktik mengajar), saya mendapatkan kabar gembira dari sebuah penerbit. Salah satu kumpulan tulisan sederhana (baca diary) hendak diterbitkan. Satu tahun berlalu, tulisan itu belum juga terbit. Setelah mengalami masa terombang-ambing dan ketidakjelasan nasib karena menunggu antrian untuk diterbitkan, naskah itu saya cabut dan saya lempar ke penerbit lain dengan sedikit revisi.  Suatu hari, di awal tahun 2008, alhamdulillah akhirnya naskah itu menemukan juga jodohnya. Hanya satu kata yang dihadiahkan sang editor kepada saya, ”Betty, tulisanmu sebenarnya biasa dan sederhana. Tapi saya berharap, ini menjadi awal untuk karya-karyamu selanjutnya.”
Tahun itu juga saya diberi kesempatan untuk berakrab ria dengan tulisan dan belajar menjadi editor secara otodidak. Saya menikmati bahasa-bahasa langit (di antaranya naskah bahasa Arab yang diterjemahkan) yang luar biasa hampir setiap hari dari pagi hingga menjelang Ashar. Alhamdulillah, saya mendapatkan bacaan gratis yang mencerahkan di samping uang saku tambahan. Saat itu, janji untuk menulis masih saya pegang dengan penuh kebanggaan. Saya masih ingin menjadi salah satu da’iyah bersenjata pena:).
Tahun 2009, ketika Allah mengizinkan saya menjadi seorang Ibu, saya berharap masih bisa terus menulis. Memilih menjadi full time mom (ada yang bilang stay at home mom) dan beradaptasi dinamika yang baru membuat saya tak selalu bisa menulis. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa saya butuh sebuah komunitas yang mengingatkan saya tentang janji yang pernah saya ikrarkan sewaktu SMP. Ya, sebuah komunitas yang menjaga saya untuk istiqomah dan tak pernah berhenti berjuang dengan pena.
Saya sangat berterimakasih kepada Mbak Leyla Imtichanah (Leyla Hana) yang mengizinkan saya untuk berada dalam Be a Writer (BaW). Semoga seiring dengan perjalanan waktu –hayah-, saya tak hanya menjadi anggota pasif tapi juga bisa memberikan kontribusi seperti teman-teman yang lain (baca: para senior). Diam- diam, saya belajar banyak dari Mbak Leyla. Saya mengenal namanya sekitar tahun 2006 ketika mencari referensi novel remaja. Kala itu, buku Mbak leyla yang berjudul True Love menjadi bacaan awal sebelum saya menyelesaikan novel remaja untuk diikutkan sebuah lomba (he2 meskipun hasilnya bukan saya juaranya^^). Kemudian, lebih dari satu tahun yang lalu melalui beliau pula saya mengirimkan kumpulan tulisan (baca diary) ke sebuah penerbit. Mbak Leyla bahkan telah berbaik hati memberi masukan ke naskah tersebut sebagai pijakan revisi tapi sampai detik ini juga belum selesai. Nah, ini sebenarnya yang membuat saya ‘pekewuh’ untuk aktif di BaW. Jujur, saya malu. Sangat malu kepada Kepsek BaW ini. Hmm.. bagaimana, ya? Saya tak ingin memberikan alasan klise tentang managemen waktu yang masih kacau balau. Saya akan berusaha untuk menyelesaikannya. Setidaknya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kebaikan beliau yang telah memberi koreksi di antara kesibukannya. Ya apapun hasilnya, saya Insya Allah akan menuntaskannya. Maafkan, saya ya Mbak Ela! Tolong izinkan saya tetap berada dalam grup ini:).
BaW adalah sekolah menulis yang luar biasa bagi saya. Meskipun lebih banyak menyimak tapi jujur, begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Saya berusaha tak melewatkan setiap note dan diskusi hangat meski tak banyak meninggalkan jejak.
Saya takjub menyaksikan para penulis yang tak berhenti berkarya. Mbak Eni Martini, Riawani Elyta (Fauziah Fachra), Shabrina Ws, Aida Maslamah, Arul Chandrana, Ade Anita, dkk. Para penulis yang juga jago lomba seperti Mbak Mugniar, Naqiyyah Syam, Windi Teguh, Binta Al-Mamba, dkk. Semoga suatu saat, as well as possible, saya bisa seperti mereka.
BaW bagi saya mirip jaringan FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) yang lebih banyak bertemu di dunia maya tapi tetap berkarya di mana saja. Kadang ngiri juga dengan teman-teman yang berkesempatan untuk bertemu langsung –kopi darat-. Semoga suatu hari nanti, Allah mengizinkan saya untuk belajar langsung, setidaknya bertegur sapa dengan mereka (para senior saya itu). Setidaknya saya juga ingin bertemu dengan teman-teman di kawasan Solo Raya. Ada Mbak Santi Artanti, Triana Wibawanti, Mell Shaliha, Cowie, dan tentu saja Mbak Afra –sosok yang begitu menjulang dan ho-ho.. diam-diam beberapa kali saya lihat dari jarak lumayan dekat tanpa pernah saya berani untuk memperkenalkan diri-. O, ya saya juga ingin berjumpa kembali dengan Viana Wahyu -satu-satunya teman SMA yang ada di sini- dan Mbak Najmatul Jannah -semoga segera berhasil merealisasikan duet kita, ya, Mbak-.
BaW bagi saya seperti keluarga, tempat pulang yang paling nyaman. Di sini, para anggotanya bisa saling berbagi apa saja. Bukan sekedar teori kepenulisan tetapi lebih dari itu. Inilah yang membuat BaW menjadi salah satu universitas kehidupan dengan mata kuliah yang beragam seperti persiapan pra-nikah, parenting, akhlak, moral, dsb.
BaW juga mengajarkan bagaimana menjadi penulis bermental baja yang mampu menghadapi setiap aral melintang dalam perjalanan menuju kegemilangan. Selalu mengingatkan agar kita  tetap rendah hati dengan setiap keberhasilan, serta tetap semangat memaknai kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda. Sebab, sejatinya dunia kepenulisan sama kerasnya dengan kehidupan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang punya nyali untuk melalui proses yang tak kenal henti.
Saat saya masih tertatih untuk (belajar) menulis seperti saat ini, BaW seperti halnya sebuah jama’ah dakwah. Jika saya adalah domba, maka berada dalam lingkaran BaW seperti halnya menjaga diri agar tidak diterkam serigala. Setidaknya, dengan tetap berada di sini, saya (lebih) mudah untuk istiqomah menulis dan menepati janji yang saya ikrarkan saat masih SMP untuk menjadi bagian da’iyah yang bersenjata pena. Mari bersama-sama menebar kebaikan, saling menyemangati, dan menjadi lebih baik dengan membaca dan menuliskannya kembali untuk anak cucu kita.
Semoga BaW selalu berani berkarya dan berjaya sepanjang masa. Ya! Bersama-sama berkarya dalam bingkai nurani yang selalu terjaga. Insya Allah.

Solo, 6 April 2013 9:17 pm
Fathimatul Azizah

Tulisan ini dikutsertakan dalam Give Away BaW. Syarat dan ketentuan bisa dibaca di sini



15 comments:

Post a Comment