Showing posts with label percik. Show all posts
Showing posts with label percik. Show all posts

Monday, 8 April 2013

Be a Writer: Berani Berkarya, Nurani Tetap Terjaga!

11 comments

Be a Writer (BaW) bagi saya adalah komunitas yang luar biasa. Berada di dalamnya, seperti halnya berada di antara para penjaga semangat untuk menebar kebaikan melalui pena. Menulis bagi saya pribadi adalah sarana menjaga nyala cahaya di dada agar tidak meredup. Menulis selalu mengingatkan saya akan perjalanan mencari cahaya. Perjalanan menjemput hidayah dengan membaca  dan mendengarkan bisikan nurani.
Memasuki bangku SLTP (SMP), saya semakin gemar membaca, tidak saja buku-buku yang berada dalam perpustakaan tapi juga berbagai majalah remaja yang beredar di kelas. Ketika memutuskan untuk berlangganan majalah, saya memutuskan berlangganan Majalah ANNIDA. Keputusan itu juga mengawali titik balik perubahan dalam diri saya dan cara pandang terhadap Islam. Saya mulai berbenah, dan bertekad untuk mengajak teman-teman menjemput cahaya melalui tulisan. Singkat kata, ada janji yang diam-diam saya ikrarkan saat itu: saya akan menempuh jalur pena dalam berdakwah (wow^^, meski kusadari diri ini hanya debu di hamparan pasir-Nya ~nyanyi~).
Memasuki bangku SMU (SMA), saat saya merasa menjadi orang bahagia di dunia, saya masih konsisten dengan janji untuk terus (belajar) menulis. Semangat menulis itu terpelihara karena saya punya komunitas.  Salah satunya adalah tim redaktur buletin dakwah sekolah. Kemudian, ketika diizinkan untuk menginjakkan kaki di kampus hijau (UNS), banyak sekali lomba, seminar, dan komunitas yang senantiasa mengingatkan saya untuk terus mengukir sejarah dan berdakwah lewat pena. Bahkan, ada yang memfasilitasi saya agar terus menulis, salah satunya dengan menjadikan saya bagian dari admin sebuah situs LDK. Saya bersyukur memiliki sahabat yang memotivasi saya untuk terus berbenah dan menulis meskipun tertatih-tatih.
Pertengahan tahun 2006, saat mengikuti sebuah PPL (Program Pengalaman Lapangan, baca: praktik mengajar), saya mendapatkan kabar gembira dari sebuah penerbit. Salah satu kumpulan tulisan sederhana (baca diary) hendak diterbitkan. Satu tahun berlalu, tulisan itu belum juga terbit. Setelah mengalami masa terombang-ambing dan ketidakjelasan nasib karena menunggu antrian untuk diterbitkan, naskah itu saya cabut dan saya lempar ke penerbit lain dengan sedikit revisi.  Suatu hari, di awal tahun 2008, alhamdulillah akhirnya naskah itu menemukan juga jodohnya. Hanya satu kata yang dihadiahkan sang editor kepada saya, ”Betty, tulisanmu sebenarnya biasa dan sederhana. Tapi saya berharap, ini menjadi awal untuk karya-karyamu selanjutnya.”
Tahun itu juga saya diberi kesempatan untuk berakrab ria dengan tulisan dan belajar menjadi editor secara otodidak. Saya menikmati bahasa-bahasa langit (di antaranya naskah bahasa Arab yang diterjemahkan) yang luar biasa hampir setiap hari dari pagi hingga menjelang Ashar. Alhamdulillah, saya mendapatkan bacaan gratis yang mencerahkan di samping uang saku tambahan. Saat itu, janji untuk menulis masih saya pegang dengan penuh kebanggaan. Saya masih ingin menjadi salah satu da’iyah bersenjata pena:).
Tahun 2009, ketika Allah mengizinkan saya menjadi seorang Ibu, saya berharap masih bisa terus menulis. Memilih menjadi full time mom (ada yang bilang stay at home mom) dan beradaptasi dinamika yang baru membuat saya tak selalu bisa menulis. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa saya butuh sebuah komunitas yang mengingatkan saya tentang janji yang pernah saya ikrarkan sewaktu SMP. Ya, sebuah komunitas yang menjaga saya untuk istiqomah dan tak pernah berhenti berjuang dengan pena.
Saya sangat berterimakasih kepada Mbak Leyla Imtichanah (Leyla Hana) yang mengizinkan saya untuk berada dalam Be a Writer (BaW). Semoga seiring dengan perjalanan waktu –hayah-, saya tak hanya menjadi anggota pasif tapi juga bisa memberikan kontribusi seperti teman-teman yang lain (baca: para senior). Diam- diam, saya belajar banyak dari Mbak Leyla. Saya mengenal namanya sekitar tahun 2006 ketika mencari referensi novel remaja. Kala itu, buku Mbak leyla yang berjudul True Love menjadi bacaan awal sebelum saya menyelesaikan novel remaja untuk diikutkan sebuah lomba (he2 meskipun hasilnya bukan saya juaranya^^). Kemudian, lebih dari satu tahun yang lalu melalui beliau pula saya mengirimkan kumpulan tulisan (baca diary) ke sebuah penerbit. Mbak Leyla bahkan telah berbaik hati memberi masukan ke naskah tersebut sebagai pijakan revisi tapi sampai detik ini juga belum selesai. Nah, ini sebenarnya yang membuat saya ‘pekewuh’ untuk aktif di BaW. Jujur, saya malu. Sangat malu kepada Kepsek BaW ini. Hmm.. bagaimana, ya? Saya tak ingin memberikan alasan klise tentang managemen waktu yang masih kacau balau. Saya akan berusaha untuk menyelesaikannya. Setidaknya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kebaikan beliau yang telah memberi koreksi di antara kesibukannya. Ya apapun hasilnya, saya Insya Allah akan menuntaskannya. Maafkan, saya ya Mbak Ela! Tolong izinkan saya tetap berada dalam grup ini:).
BaW adalah sekolah menulis yang luar biasa bagi saya. Meskipun lebih banyak menyimak tapi jujur, begitu banyak pelajaran yang saya dapatkan. Saya berusaha tak melewatkan setiap note dan diskusi hangat meski tak banyak meninggalkan jejak.
Saya takjub menyaksikan para penulis yang tak berhenti berkarya. Mbak Eni Martini, Riawani Elyta (Fauziah Fachra), Shabrina Ws, Aida Maslamah, Arul Chandrana, Ade Anita, dkk. Para penulis yang juga jago lomba seperti Mbak Mugniar, Naqiyyah Syam, Windi Teguh, Binta Al-Mamba, dkk. Semoga suatu saat, as well as possible, saya bisa seperti mereka.
BaW bagi saya mirip jaringan FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) yang lebih banyak bertemu di dunia maya tapi tetap berkarya di mana saja. Kadang ngiri juga dengan teman-teman yang berkesempatan untuk bertemu langsung –kopi darat-. Semoga suatu hari nanti, Allah mengizinkan saya untuk belajar langsung, setidaknya bertegur sapa dengan mereka (para senior saya itu). Setidaknya saya juga ingin bertemu dengan teman-teman di kawasan Solo Raya. Ada Mbak Santi Artanti, Triana Wibawanti, Mell Shaliha, Cowie, dan tentu saja Mbak Afra –sosok yang begitu menjulang dan ho-ho.. diam-diam beberapa kali saya lihat dari jarak lumayan dekat tanpa pernah saya berani untuk memperkenalkan diri-. O, ya saya juga ingin berjumpa kembali dengan Viana Wahyu -satu-satunya teman SMA yang ada di sini- dan Mbak Najmatul Jannah -semoga segera berhasil merealisasikan duet kita, ya, Mbak-.
BaW bagi saya seperti keluarga, tempat pulang yang paling nyaman. Di sini, para anggotanya bisa saling berbagi apa saja. Bukan sekedar teori kepenulisan tetapi lebih dari itu. Inilah yang membuat BaW menjadi salah satu universitas kehidupan dengan mata kuliah yang beragam seperti persiapan pra-nikah, parenting, akhlak, moral, dsb.
BaW juga mengajarkan bagaimana menjadi penulis bermental baja yang mampu menghadapi setiap aral melintang dalam perjalanan menuju kegemilangan. Selalu mengingatkan agar kita  tetap rendah hati dengan setiap keberhasilan, serta tetap semangat memaknai kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda. Sebab, sejatinya dunia kepenulisan sama kerasnya dengan kehidupan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang punya nyali untuk melalui proses yang tak kenal henti.
Saat saya masih tertatih untuk (belajar) menulis seperti saat ini, BaW seperti halnya sebuah jama’ah dakwah. Jika saya adalah domba, maka berada dalam lingkaran BaW seperti halnya menjaga diri agar tidak diterkam serigala. Setidaknya, dengan tetap berada di sini, saya (lebih) mudah untuk istiqomah menulis dan menepati janji yang saya ikrarkan saat masih SMP untuk menjadi bagian da’iyah yang bersenjata pena. Mari bersama-sama menebar kebaikan, saling menyemangati, dan menjadi lebih baik dengan membaca dan menuliskannya kembali untuk anak cucu kita.
Semoga BaW selalu berani berkarya dan berjaya sepanjang masa. Ya! Bersama-sama berkarya dalam bingkai nurani yang selalu terjaga. Insya Allah.

Solo, 6 April 2013 9:17 pm
Fathimatul Azizah

Tulisan ini dikutsertakan dalam Give Away BaW. Syarat dan ketentuan bisa dibaca di sini



Monday, 6 December 2010

Man jadda wa jadda: Kesungguhanmu benar-benar Diuji!

0 comments


Tahun 2003, saya diterima di sebuah kampus negeri di Surakarta (Solo). Kami menyebutnya kampus hijau. Bukan hanya karena masih banyak pohon hijau di dalamnya tapi lebih karena dakwah kampus dan sepak terjang para aktivisnya.

Tahun 2004, saya berniat hengkang dari kampus. Sungguh, saya belum merasa nyaman tinggal di Solo. Saya masih belum sreg dengan jurusan. Saya mencoba mengikuti ujian masuk sebuah sekolah tinggi negeri dengan semangat yang menyala-nyala. Sayang sekali tidak lolos. Manusia hanya mampu berencana, dan saya selalu berhuznudzon atas semua takdir-Nya. Maka, meski sempat disorientasi, saya mencoba menikmati kuliah saya di Solo.

Sejak awal, saya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan (khususnya aktivitas dakwah kampus). Saya tidak ingin menjadi mahasiswa triple K yang aktivitasnya hanya berkutat pada tiga hal: kuliah-kantin-kos. Saya juga rajin menghadiri seminar, talkshow dan pelatihan-pelatihan. Banyak bekal yang saya perlukan untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Saya sadar bahwa kuliah yang saya jalani bukanlah satu-satunya jalan untuk mencari pekerjaan.

Tahun 2005, saya memutuskan untuk menjadi bagian dari santriwati sebuah pesantren mahasiswa. Kesibukan saya bertambah banyak. Rutinitas saya dimulai dari jam setengah enam pagi: dirosah (kuliah pagi di pesantren mahasiswa). Kemudian dilanjutkan aktivitas kampus: kuliah, rapat-rapat keorganisasian, dan kegiatan-kegiatan yang seolah tanpa jeda. Meski begitu, di akhir pekan saya tetap menyempatkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran, Ngawi.

Di tahun ini, keinginan untuk pindah jurusan semakin menggebu. Namun, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Saya tak ingin menambah beban bunda. Di tahun itu, tragedi memilukan terjadi kembali dalam keluargaku. Hubungan ayah dan bunda semakin memburuk. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Sungguh saat itu saya merasa tak berguna karena tak mampu untuk menyegahnya.

Bagaimana mungkin saya keluar kuliah, sedang saat itu bunda menyemangati saya untuk terus bertahan, ”Dik, walaupun ayah sudah tidak bersama kita lagi, kita harus bisa buktikan bahwa kita bisa. Adik tidak boleh lemah. Harus tetap semangat kuliah.”

Rupanya motivasi bunda memang berpengaruh dalam kestabilan semangat belajarku. Di tahun itu, IPK semester berhasil menyentuh angka 3. Padahal, sebelumnya berkisar antara 2,8-2,9.

Tahun 2006, kakak semata wayangku merantau ke Kalimantan. Saya semakin tidak tenang tinggal di Solo. Di sisi lain, amanah kelembagaan saya sedang berada dalam puncaknya. Saat itu saya juga praktik mengajar di sebuah SMP. Konsentrasi saya terpecah antara Ngawi-Solo. Setelah ujian PPL (Program Pengalaman Lapangan), saya semakin yakin bahwa kompetensi saya bukan di bidang yang selama ini saya geluti dengan perasaan berdarah-darah.
***** *****


Saat awan semakin bergelayut di langit hatiku, ada kabar gembira yang sedikit menjadi pelipur lara. Naskah bukuku diterima sebuah penerbit. Saya tersentak: bukankah itu satu di antara cita-cita yang kuidam-idamkan sejak SD? Alhamdulillah, satu demi satu lomba menulis yang saya ikuti juga membuahkan hasil. Meskipun hadiah yang saya terima tidak seberapa, setidaknya saya makin bersemangat untuk terus belajar menulis.

Tahun 2007, saya tidak lagi tinggal di asrama santriwati. Saya pindah ke sebuah kos muslimah di belakang kampus. Di tahun itu, saya baru mulai mengambil skripsi. Dan tahun itu saya habiskan dengan menyusun proposal skripsi dan menunaikan amanah dakwah. Selain itu, saya juga belajar mencari penghasilan sendiri ( menjadi guru les privat dan penjaga toko). Sebelumnya saya pernah jualan baju dan kerudung. Hasilnya lumayan. Setidaknya ujicoba saya berhasil; kelak tak harus menggunakan ijazah untuk mendapatkan penghasilan.

Saya percaya bahwa setiap manusia telah telah ditetapkan rizkinya oleh Allah. Tinggal bagaimana ia menjemputnya. Sebab rizki memang harus diupayakan (dijemput bukan sekedar dicari). Di penghujung tahun 2007, saya mendapat job menulis cergam untuk anak. Hasilnya membuat saya terpukau. Hanya semalam nglembur tapi honor yang saya terima cukup fantastis untuk ukuran mahasiswa (menyentuh angka satu juta). Hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk segera lulus dan banting setir ke dunia tulis menulis. Meskipun honor bukanlah tujuan utama, setidaknya bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi saya.

Gayung bersambut. Tahun 2008, saya mendapat tawaran untuk menjadi editor sebuah penerbitan Islam. Dengan senang hati, saya menerimanya. Aktivitas saya bertambah: kuliah, kerja, dan dakwah.

Bulan Mei 2008 saya bersiap-siap melakukan penelitian. Bagaimanapun, masa kuliah saya harus segera disudahi. Namun, ternyata pembimbing kedua saya belum memberikan lampu hijau. Beliau meminta saya untuk memperbaiki Bab I terlebih dahulu. Ya Allah, lemas rasanya persendianku. Mengulang dari awal lagi?!
***** *****

Bulan Juni 2008, seorang pemuda datang ke rumah bersama keluarganya. Antara percaya dan tidak, khitbah (lamaran) itu berlanjut dengan pernikahan sebulan kemudian. Kini status saya berubah menjadi seorang istri. Kesibukan saya juga bertambah. Kuliah, kerja, nikah, dan dakwah.

Skripsi saya jalan di tempat. Ternyata tak mudah bagi saya untuk fokus menyelesaikannya. Apalagi sebulan setelah menikah Allah menambah amanah baru. Saya hamil. Pada trimester pertama, saya minta izin atasan untuk cuti dua bulan. Selain menjaga kehamilan pada trimester pertama, saya berharap masa cuti bisa saya manfaatkan untuk benar-benar konsentrasi mengerjakan tugas akhir saya sebagai mahasiwa. Sayang, tak ada perkembangan yang berarti dalam dua bulan itu. Akhirnya, saya masuk kantor lagi sampai usia kehamilan memasuki usia 9 bulan.
***** *****

Tahun 2009, tepatnya tanggal 13 April, anak pertama kami lahir dengan proses normal. Alhamdulillah, saya dan suami mendapat amanah baru menjadi orang tua. Kami berjanji dalam hati untuk memberikan yang terbaik untuknya. Salah satunya dengan memberikan ASI sebagai surga dunia pertama untuknya. ASI tanpa sufor sampai dua tahun. Insya Allah.

Suami memberi dukungan penuh kepada saya. Bagaimanapun manajemen ASI juga berbanding lurus dengan kondisi psikis. Setelah beberapa kali mencoba untuk bangkit memulai kembali skripsi, akhirnya pertahanan saya roboh. Saya mengambil jeda. Saya tak ingin gagal dalam memberikan ASI karena pikiran yang bercabang-cabang membuat saya mudah lelah. Emosi saya fluktuatif.
***** *****

Menjadi ibu rumah tangga putus kuliah adalah beban yang membuatku terpenjara dalam perasaan bersalah. Tentu saja stress berkepanjangan itu harus segera berakhir. Tak ada pilihan selain bangkit dari keterpurukan. Setelah lebih dari dua tahun skripsi jalan di tempat, dengan dukungan penuh dari suami dan ibu, saya memulai aktivitas sebagai mahasiswa lagi. Saya memutuskan untuk transfer ke Universitas Terbuka (UT). Di waktu yang sama, suami juga sedang menyelesaikan kuliah S2-nya.

We are never old to learn. Tak ada kata terlambat. Kuluruskan kembali niat. Di tengah kesibukan sebagai guru untuk sulung kami, Arkan (19 bulan), yang sedang berada dalam masa emasnya dan aktivitas ibu rumahtangga yang seolah tiada habisnya, saya bulatkan tekad untuk menyelesaikan kuliah. Sudah kepalang tanggung. Tinggal selangkah lagi: bismillah bantu hambamu yang dhaif ini, ya Allah!
***** *****

Saya mulai membangun pikiran positif dalam diri, saya ingat kembali episode masa sekolah. Dari SD sampai SMA, saya tak menemui hambatan yang berarti dalam masalah studi. Selalu lulus dengan hasil sangat memuaskan. Mengingat hal itu menjadi penyemangat dalam diri. Saya pasti BISA!

Di UT, saya kuliah tanpa beban. Mahasiswa UT yang majemuk dalam hal usia dan pekerjaan juga menambah motivasi saya. Waktu ujian, saya melihat banyak ibu yang sedang hamil. Bahkan ada yang hari itu HPLnya. Ada pula yang membawa anaknya yang masih bayi agar di sela-sela waktu ujian bisa tetap memberikan ASI langsung. Subhanallah, hal ini juga menimbulkan semangat baru: saya bisa melewati masa-masa kuliah di UT dengan lebih baik. Ya, saya PASTI BISA!

Saya percaya setiap manusia tak akan diberi beban di luar batas kesanggupan. Saya pelihara terus pikiran-pikiran positif: you can if you think you can. Bagaimanapun,
apapun yang kita pikirkan, pikiran kita akan selalu berusaha mewujudkannya. Man jadda wa jadda. Dan kali ini kesungguhan saya benar-benar diuji. Saya yakin Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali TETAP SEMANGAT and NEVER GIVE UP! Masa depan yang terbentang di hadapan, marilah kita sambut dengan hati riang, kesungguhan, dan penuh keyakinan.

Solo, 3 Desember 2010:06.11