<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106</id><updated>2011-12-24T14:47:09.767+07:00</updated><category term='LDK'/><category term='green'/><category term='islam'/><category term='percik'/><category term='cerpen'/><category term='tips'/><category term='balita'/><category term='bukuku'/><category term='asi'/><category term='surat cinta'/><category term='diary dodol'/><category term='resensi'/><category term='little mujahid'/><category term='Palestina'/><category term='opini'/><category term='ibrah'/><category term='keluarga'/><category term='diary'/><category term='muhasabah'/><title type='text'>~ fathimatul azizah ~</title><subtitle type='html'>meniti jalan surga-Nya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-2139892399068934310</id><published>2011-11-30T22:14:00.000+07:00</published><updated>2011-11-30T22:17:11.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='balita'/><title type='text'>HASRAT INGIN MEREBUT</title><content type='html'>“Bude, mobil sedanku direbut Mas Rama.” Adu Alif pada Bu Asih, Ibu dari anak yang merebut mainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Asih segera mendekati anaknya, “Kembalikan pada Dek Alif, Nak. Ambil mobil-mobilanmu di rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Asih mulai geram. Tidak sekali dua kali saja anak 2,5 tahun itu merebut mainan temannya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan hal yang aneh melihat balita suka merebut mainan milik teman. Meskipun mempunyai mainan yang mirip atau bahkan sama, mereka selalu ingin memiliki apa yang sedang dinikmati oleh orang lain. Oleh karena itu, di usia batita, orang tua hendaknya mengenalkan konsep kepemilikan. Bukan hanya mana benda kepunyaannya, tapi juga mana yang bukan miliknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anak di usia ini sedang berkembang sifat otonominya. Otonomi merupakan sifat kemandirian yang berkaitan erat dengan eksistensi anak atau kemampuannya melakukan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otonomi juga yang menyebabkan anak ingin mencoba sesuatu tanpa mempedulikan orang lain. Terlebih di usia ini, anak juga senang bereksplorasi. Ia senang mencoba-coba sesuatu yang dirasa menarik olehnya. Saat melihat mainan temannya yang baru, anak langsung tergerak untuk mencoba dan kemudian merebutnya&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Jika dibiarkan, anak tidak akan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang salah. Bisa-bisa dia akan kehilangan teman-temannya. Untuk mengatasinya, orang tua harus segera membantunya dengan :&lt;br /&gt;1. Mengajari anak untuk menghormati kepemilikan. ”Mainan itu milik Alif, kita tidak boleh merebutnya kecuali dia meminjamkan.” Demikian juga, mintalah anak untuk menjaga barang yang dimilikinya.&lt;br /&gt;2. Mengajari  anak meminta izin. Jadilah contoh yang baik. Biasakan selalu minta izin saat meminta sesuatu pada orang lain, termasuk kepada si kecil, ”Rama, bolehkah Bunda pinjam mainanmu?”&lt;br /&gt;3. Mengajarkan empati dan jangan berpihak. Penting bagi anak untuk menerima konskuensi jika orang lain tidak mau meminjamkan mainan kepadanya meskipun sudah ia meminta izin. Alihkan perhatiannya, “Rama main yang lain saja, yuk! Dik Alif masih mau main mobil sedannya.”&lt;br /&gt;4. Sabar dan konsisten. Lakukan dengan penuh kesabaran dan tetap konsisten dengan nilai-nilai yang ingin Anda ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~Dari Berbagai sumber, Fathimatul Azizah~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-2139892399068934310?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/2139892399068934310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2011/11/hasrat-ingin-merebut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2139892399068934310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2139892399068934310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2011/11/hasrat-ingin-merebut.html' title='HASRAT INGIN MEREBUT'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-8810191052658781890</id><published>2011-11-27T11:32:00.005+07:00</published><updated>2011-11-27T11:43:24.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='little mujahid'/><title type='text'>ASI SAMPAI 2 TAHUN? BISA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-a1YelTho6ig/TtG_jaWRBpI/AAAAAAAAAsM/r6XumsbRTfQ/s1600/IMG_0962.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-a1YelTho6ig/TtG_jaWRBpI/AAAAAAAAAsM/r6XumsbRTfQ/s320/IMG_0962.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679531220179945106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara senang menulis atau share link seputar ASI, saya sering mendapat pertanyaan dari adik-adik atau teman tips dan trik agar ASI lancar. Tak jarang pula mendapat teguran dari bapak-bapak yang tidak suka ajakan saya agar tidak menjatuhkan pilihan terhadap sufor meskipun sang ibu bekerja. Bahkan ada yang melarang saya agar tidak koar-koar tentang ASI. Katanya, saya hanya akan menyakiti hati ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI terhadap bayinya dengan optimal. Hati saya gerimis, maksud baik saya ditanggapi dengan hujatan yang menyakitkan. Namun, saya berusaha berlapang dada. Bagaimanapun saya ingin memberikan surga pertama untuk anak-anak saya di awal pertumbuhannya. Dan saya berharap bayi-bayi yang lain juga mendapatkan haknya. Ya. ASI bukan yang lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini izinkanlah saya menuliskan kembali tentang perjalanan memberikan ASI pada sulung saya, Arkan Dian Husnayan. Semoga bisa memotivasi para pejuang ASI untuk menyempurnakan pemberian ASI hingga 2 tahun penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SAAT KENYATAAN TAK SESUAI HARAPAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan pertama yang saya rasakan pasca melahirkan adalah belum bisa memberikan ASI pada buah hatiku. Padahal sejak ia dalam kandungan, saya sudah bertekad untuk tidak memberi setetes pun susu formula padanya. Tetapi apalah dayaku. ASI belum keluar walaupun pasca melahirkan ia diletakkan di dadaku untuk Inisiasi Menyusui Dini (IMD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sampai saat ini saya sesali adalah tidak segera mencari donor ASI. Maklum waktu itu saya masih lugu dan tidak menyangka bahwa ASI tidak langsung keluar dengan lancar. Parahnya, meskipun tahu bahwa bayi yang baru lahir masih mempunyai cadangan makanan hingga 2-3 hari, saya tak mampu melawan keadaan. Saat bidan menawarkan sufor, saya tidak menolak. Saya tak ingin berdebat dengan ibu dan kerabat yang tak tega melihat bayi yang baru lahir seharian tidak mendapatkan makanan apa-apa. (Maafkan, Ummi, ya Arkan Sholeh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya mengalami baby blues syndrom. Rupanya itu yang menjadi penyebab ASI tidak segera keluar. Bahkan sampai hari ke-5, ASI belum juga keluar. Saat itu banyak hal yang kupikirkan. Skripsi yang belum tersentuh, pekerjaan saya tinggalkan pasca melahirkan, rumah kontrakan dekat kampus yang belum kami temukan (saya tak ingin tinggal di rumah mertua), dan janji saya membantu ibu mengerjakan Tugas Akhir kuliah beliau. Saya takut tak mampu menjadi ibu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian, ketakutan itu menjelma menjadi kesedihan yang mendalam. Sedih bukan kepalang menyaksikan suamiku menyuapi bayi kami susu formula sendok demi sendok. Ya Allah, sampai kapan hal itu akan berlangsung? Sungguh, saya tak rela bayi yang tak berdosa itu minum susu formula. Setetes pun tak rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutepis sedihku dengan banyak-banyak berdoa. Apapun akan kulakukan agar bisa memberikan ASI. Selain makan kacang-kacangan dan berbagai macam sayuran hijau, saya juga rajin melakukan massage untuk merangsang agar ASI segera keluar. Saya pun rajin memberikan puting susu meski ASI belum keluar. Suami juga tak henti-hentinya memberikan support. Ia meyakinkan saya bahwa setiap ibu hamil Insya Allah bisa menyusui bayinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah hari ke-6, ASI keluar. Saya pun segera memberikannya pada bayi kami. Lega sekali rasanya saat aqiqah (hari ke-7), ASI sudah lancar. Saat itulah saya bisa say good bye to sufor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DIANKU, CAHAYA YANG TAK PERNAH PADAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suamiku, Dhian Kresnadipayana adalah orang nomor satu yang memberikan semangat dalam proses laktasi selama 2 tahun penuh tanpa sufor (kecuali ketika ASI belum keluar).  Dua motivasi yang selalu diberikan kepadaku adalah ingatan tentang ayat dan hadist betapa memberikan ASI adalah kewajiban seorang ibu. Betapa besar pahala ibu yang menyusui bayinya sepenuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melaink...an menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. ”&lt;/span&gt; (Al-Baqarah: 233)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“…Tak ada seorangpun perempuan yang hamil dari suaminya, kecuali ia berada dalam naungan Allah azza wa jalla, sampai ia merasakan sakit karena melahirkan, dan setiap rasa sakit yang ia rasakan pahalanya seperti memerdekakan seorang budak yang mukmin. Jika ia telah melahirkan anaknya dan menyusuinya, maka tak ada setetes pun air susu yang diisap oleh anaknya kecuali ia akan menjadi cahaya yang memancar di hadapannya kelak di hari kiamat, yang menakjubkan setiap orang yang melihatnya dari umat terdahulu hingga yang belakangan. Selain itu, ia dicatat sebagai seorang yang berpuasa, dan sekiranya puasa itu tanpa berbuka niscaya pahalanya dicatat seperti pahala puasa dan qiyamul layl sepanjang masa. Ketika ia menyapih anaknya Allah Yang Maha Agung sebutan-Nya berfirman: ‘Wahai perempuan, Aku telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, maka perbaruilah amalmu’.&lt;/blockquote&gt;”(Mustadrak Al-Wasail 2: bab 47, hlm 623)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;BREASTFEEDING FATHER ALA SUAMIKU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Breastfeeding father adalah dukungan penuh dari seorang suami kepada istrinya dalam proses menyusui. Dukungan ini diberikan mulai saat bayi masih dalam kandungan, lahir, dan menyusui. Beberapa hal yang dilakukan oleh suami saya selama menyusui anak pertama kami adalah memijat punggung, menyiapkan camilan dan minuman hangat di malam hari, dan membantu mengurus keperluan bayi seperti memandikan, mengganti celana, mengendong, bahkan terkadang memijatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses breastfeeding father,  ibu dan anak merasa dipedulikan. Kebahagiaan seorang ibu akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga produksi ASI juga meningkat. Lebih dari 90% keberhasilan ASI esklusif tidak lepas dari peran ayah. Sedangkan kegagalan ASI ekslusif disebabkan kurangnya support dari lingkungan, dan kurangnya penguasaan ilmu tentang ASI dan menyusui.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;ASI DI TAHUN KEDUA TETAP LEBIH BAIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak ibu yang meragukan kehebatan ASI setelah usia sang bayi  lebih dari 1 tahun. Bahkan, di kalangan ibu-ibu well-educated sekalipun. Gempuran iklan sufor yang bombastis ternyata benar-benar luar biasa pengaruhnya. Kasihan pada ibu-ibu yang pontang-panting mencari uang demi membeli sufor. Padahal sebenarnya jika mau, para ibu tak perlu repot memikirkan anggaran susu. Sungguh, memberikan susu yang terbaik tak perlu biaya. Gratis! Ya, jika saja semua ibu mengetahui bahwa ASI di tahun kedua tetap lebih baik. Anggaran sufor bisa dialihkan untuk anggaran pendidikan bagi buah hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, saya mendapatkan pertanyaan dari seorang ibu muda.&lt;br /&gt;“Sampai sekarang belum dikasih susu formula?” Saya tersenyum, perlahan menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, hebat.. tapi mbok dikenalkan susu formula, Mbak. Menyusui itu berat lho. Apalagi kalau ibu sakit. Wah rekoso , kasihan, kan, nanti dedeknya.” Ibu muda yang juga tetangga saya itu memberikan saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuta kali (lebay.com) pertanyaan yang sama ditujukan. Namun jawaban saya tidak berubah. Ho..ho tapi saya belum pernah bilang sama ibu-ibu: Say no to Sufor! Masih sungkan, sebagian besar punya banyak pengalaman yang lebih. Anak-anak mereka lebih dari satu. Bukan minder karena kalah pengalaman tapi saya belum menemukan kesempatan yang pas untuk koar-koar menolak sufor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih memilih adik-adik dan teman sebaya untuk mengatakan tidak pada sufor. Pada setiap kesempatan, saya berpesan agar kelak mereka selalu semangat memberikan ASI pada buah hati. Tidak hanya 6 bulan pertama tapi sampai dua tahun penuh. Silakan googling tentang ASI, maka kau akan percaya bahwa Allah memang sayang hambanya, adik bayi dan ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik-adikku, inilah  beberapa  alasan yang menguatkan bahwa di tahun kedua bayi masih membutuhkan ASI:&lt;br /&gt;1. ASI di tahun kedua kandungan faktor imunitasnya meningkat &lt;br /&gt;2. Pemberian ASI setelah bayi 6 bulan cegah risiko alergi dan asma &lt;br /&gt;3. ASI perkecil risiko sakit anak usia 16-30 bulan &lt;br /&gt;4. ASI dibutuhkan anak yang sakit &lt;br /&gt;5. ASI di tahun kedua lebih kaya nutrisi &lt;br /&gt;6. ASI di tahun kedua sumber lemak dan vitamin A tak tergantikan &lt;br /&gt; Selengkapnya silahkan mendarat di sini http://irmahs.wordpress.com/2009/04/17/asi-di-tahun-kedua-tetap-yang-terbaik/  dan berselancar bersama Mbah Google:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKHIRNYA EXTENDED BREASTFEEDING JADI PILIHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjelang usia dua tahun, sudah kupersiapkan menyapih Arkan. Kubisikkan padanya, “Nak, sebentar lagi Arkan dua tahun. Kalau sudah dua tahun nggak nenen Ummi lagi, ya, Sayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menyapih Arkan dengan cinta. Berbagai referensi tentang Weaning with Love (WWL )sudah saya baca berulang kali mulai Arkan usia 15 bulan. Tapi rupanya sampai Arkan usia 2,5 tahun ini saya belum berhasil menyapihnya. Saya nggak tega dan tidak punya alasan kuat untuk menolak tiap kali Arkan minta ASI (Alhamdulillah sekarang udah jarang, seringnya pas mau bobok aja). Apalagi saya telah mengunyah artikel tentang keunggulan extended breastfeeding (menyusui lebih dari dua tahun).&lt;br /&gt;Saya telah lama berdiskusi dengan suami tentang kapan harus benar-benar menyapih Arkan. Alhamdulillah, suami tak berkeberatan saya menjadikan extended breastfeeding sebagai pilihan. Jadi Arkan masih boleh nenen, deh. Boleh juga minum susu UHT.  Semoga menjelang usia tiga tahun bisa self weaning, ya:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SELAMAT BERJUANG IBU DAN AYAH!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Asi memang bukan segala-galanya. Tapi bisa jadi segala-galanya berawal dari ASI. Setelah sukses menyusui selama 2 tahun, bahkan lebih, saya merasakan manfaat yang luar biasa dari proses laktasi. Sungguh Allah Maha Pengasih, Allah sayang Ibu dan Adik bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berjuang bersama, Wahai para ibu! Ya, Karena ASI Perlu Diperjuangkan! Dan Ayah, bantu istrimu untuk semangat memberikan yang terbaik untuk buah hati tanpa mengganti dengan susu lain. Mari berjuang bersama demi generasi terbaik yang akan menggantikan kita. Ingatlah selalu bahwa anak adalah amanah-Nya. SEMANGAT!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya, seperti pejuang di garis depan fi sabilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid.&lt;/span&gt; ” (HR. Tabrani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-8810191052658781890?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/8810191052658781890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2011/11/asi-sampai-2-tahun-bisa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8810191052658781890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8810191052658781890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2011/11/asi-sampai-2-tahun-bisa.html' title='ASI SAMPAI 2 TAHUN? BISA!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-a1YelTho6ig/TtG_jaWRBpI/AAAAAAAAAsM/r6XumsbRTfQ/s72-c/IMG_0962.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3075398341063993906</id><published>2010-12-06T22:14:00.003+07:00</published><updated>2010-12-06T22:22:39.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='percik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>Man jadda wa jadda: Kesungguhanmu benar-benar Diuji!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz-wnL6eFI/AAAAAAAAArw/JJoU_mj59Ik/s1600/man%2Bjadda.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz-wnL6eFI/AAAAAAAAArw/JJoU_mj59Ik/s320/man%2Bjadda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547588952119736402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003, saya diterima di sebuah kampus negeri di Surakarta (Solo). Kami menyebutnya kampus hijau. Bukan hanya karena masih banyak pohon hijau di dalamnya tapi lebih karena dakwah kampus dan sepak terjang para aktivisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004, saya berniat hengkang dari kampus. Sungguh, saya belum merasa nyaman tinggal di Solo. Saya masih belum sreg dengan jurusan. Saya mencoba mengikuti ujian masuk sebuah sekolah tinggi negeri dengan semangat yang menyala-nyala. Sayang sekali tidak lolos. Manusia hanya mampu berencana, dan saya selalu berhuznudzon atas semua takdir-Nya. Maka, meski sempat disorientasi, saya mencoba menikmati kuliah saya di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, saya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan (khususnya aktivitas dakwah kampus). Saya tidak ingin menjadi mahasiswa triple K yang aktivitasnya hanya berkutat pada tiga hal: kuliah-kantin-kos. Saya juga rajin menghadiri seminar, talkshow dan pelatihan-pelatihan. Banyak bekal yang saya perlukan untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Saya sadar bahwa kuliah yang saya jalani bukanlah satu-satunya jalan untuk mencari pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2005, saya memutuskan untuk menjadi bagian dari santriwati sebuah pesantren mahasiswa. Kesibukan saya bertambah banyak. Rutinitas saya dimulai dari jam setengah enam pagi: dirosah (kuliah pagi di pesantren mahasiswa). Kemudian dilanjutkan aktivitas kampus: kuliah, rapat-rapat keorganisasian, dan kegiatan-kegiatan yang seolah tanpa jeda. Meski begitu, di akhir pekan saya tetap menyempatkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran, Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun ini, keinginan untuk pindah jurusan semakin menggebu. Namun, hal itu tidak mungkin saya lakukan. Saya tak ingin menambah beban bunda. Di tahun itu, tragedi memilukan terjadi kembali dalam keluargaku. Hubungan ayah dan bunda semakin memburuk. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Sungguh saat itu saya merasa tak berguna karena tak mampu untuk menyegahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin saya keluar kuliah, sedang saat itu bunda menyemangati saya untuk terus bertahan, ”Dik, walaupun ayah sudah tidak bersama kita lagi, kita harus bisa buktikan bahwa kita bisa. Adik tidak boleh lemah. Harus tetap semangat kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya motivasi bunda memang berpengaruh dalam kestabilan semangat belajarku. Di tahun  itu, IPK semester berhasil menyentuh angka 3. Padahal, sebelumnya berkisar antara 2,8-2,9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, kakak semata wayangku merantau ke Kalimantan. Saya semakin tidak tenang tinggal di Solo. Di sisi lain, amanah kelembagaan saya sedang berada dalam puncaknya. Saat itu saya juga praktik mengajar di sebuah SMP. Konsentrasi saya terpecah antara Ngawi-Solo. Setelah ujian PPL (Program Pengalaman Lapangan), saya semakin yakin bahwa kompetensi saya bukan di bidang yang selama ini saya geluti dengan perasaan berdarah-darah.&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat awan semakin bergelayut di langit hatiku, ada kabar gembira yang sedikit menjadi pelipur lara. Naskah bukuku diterima sebuah penerbit. Saya tersentak: bukankah  itu satu di antara cita-cita yang kuidam-idamkan sejak SD? Alhamdulillah, satu demi satu lomba menulis yang saya ikuti juga membuahkan hasil. Meskipun hadiah yang saya terima tidak seberapa, setidaknya saya makin bersemangat untuk terus belajar menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007, saya tidak lagi tinggal di asrama santriwati. Saya pindah ke sebuah kos muslimah di belakang kampus. Di tahun itu, saya baru mulai mengambil skripsi. Dan tahun itu saya habiskan dengan menyusun proposal skripsi dan menunaikan amanah dakwah. Selain itu, saya juga belajar mencari penghasilan sendiri ( menjadi guru les privat dan penjaga toko). Sebelumnya saya pernah jualan baju dan kerudung. Hasilnya lumayan. Setidaknya ujicoba saya berhasil; kelak tak harus menggunakan ijazah untuk mendapatkan penghasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa setiap manusia telah telah ditetapkan rizkinya oleh Allah. Tinggal bagaimana ia menjemputnya. Sebab rizki memang harus diupayakan (dijemput bukan sekedar dicari). Di penghujung tahun 2007, saya mendapat job menulis cergam untuk anak. Hasilnya membuat saya terpukau. Hanya semalam nglembur tapi honor yang saya terima cukup fantastis untuk ukuran mahasiswa (menyentuh angka satu juta). Hal ini semakin membuat saya bersemangat untuk segera lulus dan banting setir ke dunia tulis menulis. Meskipun honor bukanlah tujuan utama, setidaknya bisa menjadi penyemangat tersendiri bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayung bersambut. Tahun 2008, saya mendapat tawaran untuk menjadi editor sebuah penerbitan Islam. Dengan senang hati, saya menerimanya. Aktivitas saya bertambah: kuliah, kerja, dan dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Mei 2008 saya bersiap-siap melakukan penelitian. Bagaimanapun, masa kuliah saya harus segera disudahi. Namun, ternyata pembimbing kedua saya belum memberikan lampu hijau. Beliau meminta saya untuk memperbaiki Bab I terlebih dahulu. Ya Allah, lemas rasanya persendianku. Mengulang dari awal lagi?!&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Juni 2008, seorang pemuda datang ke rumah bersama keluarganya. Antara percaya dan tidak, khitbah (lamaran) itu berlanjut dengan pernikahan sebulan kemudian. Kini status saya berubah menjadi seorang istri. Kesibukan saya juga bertambah. Kuliah, kerja, nikah, dan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skripsi saya jalan di tempat. Ternyata tak mudah bagi saya untuk fokus menyelesaikannya. Apalagi sebulan setelah menikah Allah menambah amanah baru. Saya hamil. Pada trimester pertama, saya minta izin atasan untuk cuti dua bulan. Selain menjaga kehamilan pada trimester pertama, saya berharap masa cuti bisa saya manfaatkan untuk benar-benar konsentrasi mengerjakan tugas akhir saya sebagai mahasiwa. Sayang, tak ada perkembangan yang berarti dalam dua bulan itu. Akhirnya, saya masuk kantor lagi sampai usia kehamilan memasuki usia 9 bulan.&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, tepatnya tanggal 13 April, anak pertama kami lahir dengan proses normal. Alhamdulillah, saya dan suami mendapat amanah baru menjadi orang tua. Kami berjanji dalam hati untuk memberikan yang terbaik untuknya. Salah satunya dengan memberikan ASI sebagai surga dunia pertama untuknya. ASI tanpa sufor sampai dua tahun. Insya Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami memberi dukungan penuh kepada saya. Bagaimanapun manajemen ASI juga berbanding lurus dengan kondisi psikis. Setelah beberapa kali mencoba untuk bangkit memulai kembali skripsi, akhirnya pertahanan saya roboh. Saya mengambil jeda. Saya tak ingin gagal dalam memberikan ASI karena pikiran yang bercabang-cabang membuat saya mudah lelah. Emosi saya fluktuatif.&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ibu rumah tangga putus kuliah adalah beban yang membuatku terpenjara dalam perasaan bersalah. Tentu saja stress berkepanjangan itu harus segera berakhir. Tak ada pilihan selain bangkit dari keterpurukan. Setelah lebih dari dua tahun skripsi jalan di tempat, dengan dukungan penuh dari suami dan ibu, saya memulai aktivitas sebagai mahasiswa lagi. Saya memutuskan untuk transfer ke Universitas Terbuka (UT). Di waktu yang sama, suami juga sedang menyelesaikan kuliah S2-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We are never old to learn. Tak ada kata terlambat. Kuluruskan kembali niat. Di tengah kesibukan sebagai guru untuk sulung kami, Arkan (19 bulan), yang sedang berada dalam masa emasnya dan aktivitas ibu rumahtangga yang seolah tiada habisnya, saya bulatkan tekad untuk menyelesaikan kuliah. Sudah kepalang tanggung. Tinggal selangkah lagi: bismillah bantu hambamu yang dhaif ini, ya Allah!&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai membangun pikiran positif dalam diri, saya ingat kembali episode masa sekolah. Dari SD sampai SMA, saya tak menemui hambatan yang berarti dalam masalah studi. Selalu lulus dengan hasil sangat memuaskan. Mengingat hal itu menjadi penyemangat dalam diri. Saya pasti &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BISA!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di UT, saya kuliah tanpa beban. Mahasiswa UT yang majemuk dalam hal usia dan pekerjaan juga menambah motivasi saya. Waktu ujian, saya melihat banyak ibu yang sedang hamil. Bahkan ada yang hari itu HPLnya. Ada pula yang membawa anaknya yang masih bayi agar di sela-sela waktu ujian bisa tetap memberikan ASI langsung. Subhanallah, hal ini juga menimbulkan semangat baru: saya bisa melewati masa-masa kuliah di UT dengan lebih baik. Ya, saya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PASTI BISA!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya setiap manusia tak akan diberi beban di luar batas kesanggupan. Saya pelihara terus pikiran-pikiran positif:&lt;span style="font-style:italic;"&gt; you can if you think you can&lt;/span&gt;. Bagaimanapun,&lt;br /&gt;apapun yang kita pikirkan, pikiran kita akan selalu berusaha mewujudkannya. Man jadda wa jadda. Dan kali ini kesungguhan saya benar-benar diuji. Saya yakin Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Jadi, tak ada pilihan lain kecuali&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; TETAP SEMANGAT&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NEVER GIVE UP!&lt;/span&gt; Masa depan yang terbentang di hadapan, marilah kita sambut dengan hati riang, kesungguhan, dan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Solo, 3 Desember 2010:06.11&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3075398341063993906?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3075398341063993906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/12/man-jadda-wa-jadda-kesungguhanmu-benar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3075398341063993906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3075398341063993906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/12/man-jadda-wa-jadda-kesungguhanmu-benar.html' title='Man jadda wa jadda: Kesungguhanmu benar-benar Diuji!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz-wnL6eFI/AAAAAAAAArw/JJoU_mj59Ik/s72-c/man%2Bjadda.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-6214205506076353646</id><published>2010-12-06T22:08:00.002+07:00</published><updated>2010-12-06T22:13:15.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary dodol'/><title type='text'>Pohon Talok Pohon Simalakama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz9eey8g2I/AAAAAAAAAro/OgDCUfVoxF0/s1600/talok.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 89px; height: 118px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz9eey8g2I/AAAAAAAAAro/OgDCUfVoxF0/s320/talok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547587541118255970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Kalian mau talok? Tuh!”  Kutunjuk buah kersen berwarna merah yang sebagian tersembunyi di bawah daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa komando, anak-anak membuka pagar dan masuk ke halaman rumah. Mereka berusaha menggapai buah kersen yang dirasa paling mudah dijangkau. Namun apa daya tongkat pramuka yang mereka pakai tidak mencukupi. Kutahan tawaku agar tidak menggoyahkan tekad mereka. Sampai akhirnya salah satu di antara mereka merajuk manja kepadaku, ”Bulik, petikan taloknya. Bulik, kan, lebih tinggi. Tolong, Bulik saja yang metik taloknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho..ho.. kini saya menjadi korban. Baiklah anak-anak manis, saya mengalah. Demi senyum dan binar di mata mereka, saya memanjat kursi dan mulai beraksi dengan pipa panjang yang tidak terpakai. Kalau saja sore itu ada Abu Arkan mungkin akan lain kejadiannya. Doi, kan, lebih piawai memetik satu demi satu buah-buah yang bertebaran di ranting pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebenarnya keberadaan pohon talok di depan rumah, tepatnya kamar Arkan, membuat halaman rumah menjadi lebih teduh. Apalagi saat panas matahari begitu menyengat. Saya sering mengajak sulung kami, Arkan, berekspresi (baca: bermain) di bawah pohon talok. Kami begitu menikmati semilir angin yang begitu menyejukkan. Ranting dan dedahanan yang meliuk-liuk menarik perhatian Arkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering bertanya kepadanya, ”Buah apa ini, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Talo” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya tak bertanya, ia yang ganti bertanya. Lantas ia tertawa-tawa. Kadang keluar usilnya, diinjaknya buah yang berjatuhan. Arkan juga sering memegang sapu dan berlagak membersihkan dedaunan yang jatuh sambil berkata , ”Capu.. capu.” Terkadang juga ia  fasih, ”Sapu..sapu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada masalah dengan keberadaan pohon talok di depan rumah. Arkan dan Abu Arkan sangat menikmati keberadaannya. Sesekali anak-anak di perumahan juga menginginkan buahnya. Ada pula tetangga yang memetiknya untuk dijadikan obat asam urat atau sekedar sebagai pencuci mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada masalah dengan rindangnya pohon talok di depan rumah. Hanya saja, daun-daunnya sering kali berguguran. Frekuensinya melebihi pepohonan rindang yang lain. Dan tentu saja, hal ini begitu menyibukkan saya. Bayangkan saja, belum selesai menyapu, daun-daunnya yang menguning sudah berjatuhan lagi. Capek, deh... Padahal saya nggak dapat gaji khusus untuk menyapunya setiap saat:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedaunan yang berguguran itu tidak hanya menyibukkan diriku tetapi juga suamiku. Kalau langit mulai gelap, angin berhembus kencang, dan penampakan lain yang mengisyaratkan hujan segera turun, ia mulai sibuk beraksi. Mengambil tangga. Hup.. dalam hitungan detik sudah nangkring di atas atap membersihkan daun-daun talok. Kalau tidak, bisa kebanjiran kamar dan dapur kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun talok kering yang berguguran juga telah menyibukkan tetanggaku. Suatu hari, sepulang dari pengajian rutin, kami mendapati pohon talok di depan rumah sudah ramping. Usut punya usut, bapak-bapak yang hari itu kerja bakti, berinisiatif untuk memangkas beberapa dahan yang dirasa terlalu rindang. Tentu saja saya senang, daun-daun yang berguguran akan berkurang. Meski (tentu saja) di sisi lain, merasa nggak enak hati. Biasalah perasaan wong Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya semakin dipangkas, pertumbuhan talok semakin menggila (He..he.. lebay.com). Tak lama berselang sudah rimbun lagi dan capeklah kami dibuatnya. Maka tak heran, salah satu tetangga kami yang baik hati (suka menolong dan tidak sombong:D), mengajak suami untuk mengurangi (lagi) dahan dan rantingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Arkan mudik ke rumah Mbah di Ngawi, tetangga yang lain juga punya kesibukan baru. Menyapu jalan di depan rumah kami tiap pagi. Dan setelah genap seminggu Arkan kembali ke rumah, sampah daun talok di depan kamarnya sudah menggunung tinggi. Ola..la...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talok tidak hanya menyibukkanku, suami, dan tetangga, tetapi mertuaku juga pernah sibuk karenanya. Saat saya hendak berangkat pagi (mau Ujian Akhir Semester ceritanya), beliau bela-belain menyapu jalan di depan rumah sebelum mengajak Arkan menuju kediamannya (Karanganyar). Saat itu saya baru sempat menyapu rumah, belum sampai ke halaman. Ya sudahlah...apa boleh baut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***** *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;”Tebang aja, tuh pohon sampai ke akar-akarnya,” suatu ketika kuutarakan uneg-unegku pada suami.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Not responding.&lt;/span&gt; Saya juga sadar diri. He..he.. bukan kami yang menanam pohon itu. Milik siempunya kontrakan. Mungkin suatu saat, jika rumah itu kami beli (^^), akan kami babat tuntas pohon itu dan menggantinya dengan tanaman lain. Kalau saya, sih, ingin pohon bambu hias saja. Semangat Go Green. Konon, bambu bisa menghasilkan 35% Oksigen lebih banyak daripada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon talok di depan kamar Arkan memang pohon simalakama. Kalau ditebang, pasti banyak juga yang kehilangan. Selain itu, kamar Arkan akan lebih terasa panas. Kalau tidak ditebang, kok, ya banyak yang repot dibuatnya. Gimana, nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bukit Gading Indah, 26 November 2010:00.44&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan depan Arkan sekeluarga mau mudik ke Ngawi. Ada yang mau jadi relawan petugas kebersihan? Dikasih bonus metik talok sepuasnya, deh:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan tambahan dari Mbah Wiki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan buah kersen (talok) setiap 100 gram kersen terkandung : air (77,8 gram),protein (0,384 gram), Lemak (1,56 Gram), karbohidrat (17,9 gram), serat (4,6 gram), abu (1,14 gram), kalsium (124,6 mg), fosfor (84mg), Besi (1,18 mg), karoten (0,019g), tianin (0,065g), ribofalin (0,037g), niacin (0,554 g) dan kandungan vitamin C (80,5 mg) nilai energi yang dihasilkan adalah 380KJ/100 gram. sedangkan daun kersen telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional yang digunakan sebagai obat sakit kepala dan anti radang oleh masyarakat Peru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-6214205506076353646?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/6214205506076353646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/12/pohon-talok-pohon-simalakama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6214205506076353646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6214205506076353646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/12/pohon-talok-pohon-simalakama.html' title='Pohon Talok Pohon Simalakama'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TPz9eey8g2I/AAAAAAAAAro/OgDCUfVoxF0/s72-c/talok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-8469543965928282004</id><published>2010-08-05T13:36:00.006+07:00</published><updated>2010-08-05T22:08:21.812+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='green'/><title type='text'>GO GREEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFrR-DVwPPI/AAAAAAAAAqY/1zXVWuSABeE/s1600/go+green+cantik.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFrR-DVwPPI/AAAAAAAAAqY/1zXVWuSABeE/s320/go+green+cantik.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5501940758765124850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, saya menerima setumpuk undangan merah jambu. Dari setumpuk itu, ada nama saya dan suami yang tertulis dalam dua undangan. Ho..ho..kok nggak dijadikan satu aja, ya, biar hemat kertas dan bersahabat dengan alam. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Go green&lt;/span&gt;-lah (ups, ikut latah suami yang lagi semangat dalam mengkampanyekan persahabatannya dengan alam ^^). Lebih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;go green&lt;/span&gt; lagi kalau undangan hanya via FB, email atau SMS [kalau dua yang terakhir ini rencana saya dulu sebelum nikah tapi dinilai calon suami, Akh Dian Kresna (begitu panggilan sebelum aqad), kurang sopan karena dalam list undangan ada nama beberapa ustadz]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan majalah kesayangan saya, ANNIDA. Antara sedih dan bahagia ketika pertama kali mengetahui bahwa saya tidak dapat menjumpainya kembali dalam edisi cetak. Sampai sekarang, seringkali saya kangen meski tak sampai berharap ia terbit lagi. Majalah yang menemani saya untuk menggapai hidayah sejak bangku SMP itu telah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;go green &lt;/span&gt;sejak Juli 2009. Si Nida sudah bereinkarnasi menjadi Annida virtual melalui www.Annida-online.com.  Annida &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Go Green&lt;/span&gt; benar-benar sebuah hal yang mengejutkan bagi saya. Bagaimanapun, terobosan untuk menjadi majalah virtual (tanpa edisi cetak) sempat membuat saya geleng-geleng kepala. Majalah yang sudah besar dan mengalami kejayaan, dengan kerelaan menghilang dari peredaraan dengan tujuan yang sangat mulia. Apalagi kalau demi menghemat kertas yang sebagian besar berasal dari illegal logging. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Annida Go Green&lt;/span&gt; demi generasi kita di masa mendatang. Agar hutan kita tidak semakin gersang, agar kita tidak menghabiskan persediaan minyak, listrik dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Antara lingkungan dan ekonomi itu seringkali bertolak belakang," begitulah komentar MH, Abiyasa Dhian Kresnadipayana, mendapati istrinya masih terpekur karena kehilangan majalah kesayangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jadi kelak tidak banyak lagi buku yang terbit,” tambahnya.&lt;br /&gt;Ho..ho.. saya masih belum percaya. Bagaimanapun beda rasanya memburu ilmu di perpustakaan nyata dan di DL (digital library). Dan saya tetap ngotot, kalau lebih asyik baca buku daripada via &lt;span style="font-style:italic;"&gt;e-book&lt;/span&gt; atau virtual. Buku, kan, dapat dipegang,. Membacanya bisa dengan segala posisi: duduk di kursi, selonjoran, tiduran, bahkan bisa dengan guling sana-guling sini. Banyak variasi^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau begitu, buku-buku dicetak dengan kertas daur ulang,” suamii memberikan alternatif. Jujur, saya belum bisa menerima ini. What? Kertas daur ulang? Mending nanam pohon dari sekarang.Saya kan punya cita-cita mewariskan banyak buku pada anak-anak. Sekarang baru ada tiga buku.Hiks:(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah melakukan perenungan yang mendalam (cie..), saya bantu deh, untuk kampanye (meski super telat): Yuk, selamatkan bumi demi anak cucu kita di masa mendatang. Kita mulai dari hal-hal yang paling sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa tips yang saya dapatkan dari tetangga sebelah:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Reduce&lt;/span&gt; (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. &lt;br /&gt;2.  Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah. &lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Recycle &lt;/span&gt;(Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain. &lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Replace &lt;/span&gt;( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami. (http://id.shvoong.com/humanities/1779528-green-hadiah-termahal-untuk-anak/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah-wah.. , saya yang terbiasa dengan hal-hal yang praktis jadi cengar-cengir. Meski demikian tetap saya coba, deh! Ya..ya..ya.. demi anak cucu, generasi terbaik di masa mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya semangati diri dengan sebuah hadist Rasulullah,&lt;br /&gt; “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang diantara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat, maka hendaklah dia menanamnya.&lt;/span&gt;”(HR. Imam Ahmad 3/183, 184, 191, Imam Ath-Thayalisi no.2078, Imam Bukhari di kitab Al-Adab Al-Mufrad no. 479 dan Ibnul Arabi di kitabnya Al-Mu’jam 1/21 dari hadits Hisyam bin Yazid dari Ana Rodhiyallohu ‘Anhu) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menyiratkan pesan yang cukup dalam agar seseorang memanfaatkan masa hidupnya untuk menanam sesuatu yang dapat dinikmati oleh orang-orang sesudahnya, hingga pahalanya mengalir sampai hari kiamat tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sedikit-sedikit, pelan tapi pasti, dimulai dari diri sendiri, dan dari saat ini, cobalah kita pelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik untuk menjaga bumi kita. Contoh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;real&lt;/span&gt;-nya (menurut referensi yang saya baca): &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;1.Bercocok Tanam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk penghijauan, kegiatan ini juga sangat baik untuk kesehatan badan. Konon, jiwa yang tenang seimbang dengan tubuh yang ideal. Gerakan menyiram,menanam dan memberi pupuk selama 5 menit bisa merampingkan tangan lho!Dulu, sih sebelum hijrah ke Solo kegiatan ini sangat akrab dalam keseharian (meski lebih sering lihat^^). Di rumah (Ngawi) saya, dulu banyak sekali bonsai. Banyak banget. Tapi sekarang lebih banyak burung perkutut (pm ke saya kalau mau beli^^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.Menyuci Piring&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan peralatan makan yang tidak sekali pakai, kita sudah mengurangi limbah plastik yang sulit dicerna. Meski terkadang terkesan tidak praktis dan merepotkan, gerakan mencuci piring bermanfaat untuk mengurangi lebih dari 50 kalori di dalam tubuh. Wah, kalau sehari nyuci piring tiga kali, bisa langsing, dunk. He..he.. kalau saya cukup saya rapel di malam hari sewaktu Arkan dan abinya sudah terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.Bersepeda ria!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak memproduksi poluttan, bersepeda juga bermanfaat untuk tubuh kita. Jantung sehat dan.. (ehem) badan yang lebih proporsional. Ada yang sudah membuktikan? Sayang sekarang saya nggak punya sepeda ontel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Kurangi penggunaan Microwave&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain memberikan kesempatan bernafas untuk bumi kita, microwave juga tidak baik untuk badan kita. Makanan yang sering dipanaskan dengan microwave memang tidak membuat kita menunggu lebih lama,tetapi hal ini membahayakan tubuh dikarenakan ultraviolet yang ikut terkonsumsi! Kalau saya sih, alhamdulillah nggak pernah pake microwave, nggak punya, sih. Ada yang mau ngasih (lho..lho.. jus mangga..just kidding^^)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;5.Kurangi plastik di rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kurangi penggunaan plastik dan cari produk yang lebih ramah lingkungan.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Green product is so rock!&lt;/span&gt; Maaf juga, ya, kemarin baru beli lemari plastik buat Arkan. He..he..secara harga lebih bersahabat, sih. But, lain kali saya pertimbangkan seribu kali, ya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah ibu-ibu, bapak-bapak, mas/mbak, adik-adik, tunggu apalagi kita mulai dari sekarang, yuX! &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Go Green...GO.. GO..GO!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;BGI, 5 Agustus 2010:09.06&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tahukah Anda? Global warming berdampak pada cucian saya yang terkadang nggak kering. Sudah kemarau masih sering hujan.  Ada yang tahu musim apa ini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-8469543965928282004?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/8469543965928282004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/08/go-green.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8469543965928282004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8469543965928282004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/08/go-green.html' title='GO GREEN'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFrR-DVwPPI/AAAAAAAAAqY/1zXVWuSABeE/s72-c/go+green+cantik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-4808151499998241610</id><published>2010-08-01T01:01:00.005+07:00</published><updated>2010-08-01T01:39:13.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LDK'/><title type='text'>INDAH UKHUWWAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFRnZRhgliI/AAAAAAAAAp4/ub1onFyotv8/s1600/logo+ukmi+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 155px; height: 220px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFRnZRhgliI/AAAAAAAAAp4/ub1onFyotv8/s320/logo+ukmi+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500134728824559138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tulisan jadul,4 tahun yang lalu, hari ini belum selesai nulis. flu tuing2. O, ya sebenarnya ini mau dibikin serial tapi belum terlaksana. Selamat membaca, terkhusus adik2 JN UKMI UNS ^^..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sambut pagi dengan seulas senyum simpulmu&lt;br /&gt;Siapkan seutas tali SEMANGATMU&lt;br /&gt;Sebut nama Rabb Penciptamu&lt;br /&gt;Sehingga SUKSES seluruh ikhtiarmu&lt;/span&gt;!*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar barulah menjelang dan dzikir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-ma’tsurat&lt;/span&gt; baru saja terlantunkan. Nurul menerima sebuah SMS dari Huda. Sejenak ia pun tertegun, saudara kembarnya itu ternyata memang masih sempat membagi sarapan paginya. Kali ini sebuah taushiyah padat berisi, cukup untuk mengembalikan staminanya yang mulai menurun. Tadi malam ia lembur sampai malam untuk menggunting tulisan yang akan dipakai untuk background HAMASA (Sehari Bersama Nisaa’), sebuah acara yang dikemas khusus untuk pengurus akhwat. Kemarin malamnya ia pun tidur di atas jam malam karena usai rapat bidang laporan praktikumnya melambai-lambai untuk diselesaikan. Dua malam sebelumnya ia juga harus stand by di depan komputer, memenuhi deadline artikel sebuah majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Waktu begitu cepat berlalu, tanpa disadari ia sudah berada di pertengahan akhir semester dua. Kesibukan kuliah dan aktivitasnya yang padat kadang membuatnya lupa bahwa  ia adalah gadis yang teramat bangga  dengan romantisme kenangan masa SMA. Barulah saat-saat ketika lelah mendominasi ruang rasa, ia rindu dengan masa itu kembali datang. Rindu dengan gelora semangat yang selalu digemakan oleh para rohiser, rindu dengan semua kebersamaan yang terbingkai atas nama ukhuwwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kenikmatan yang sering manusia tertipu dengannya adalah nikmat sehat dan waktu luang. Entah mengapa ia seperti mendengar hadist itu kembali dibisikkan di telinga. Dan album kenangan di awal hidayah itu pun datang, seolah diputar. Ternyata semangat yang menyala itu ada di sana. Ternyata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhlasun niat&lt;/span&gt; kala itu begitu beningnya.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jihad is still going on!&lt;/span&gt; Tiba-tiba Nurul terhenyak. Jam dinding di kamar menunjuk angka 6 dan duabelas. Ia pun bergegas merapikan kamar, bersih diri dan bersiap menuju GOR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illabillah! Semoga acara HAMASA hari ini berjalan lancar, doanya sebelum melangkahkan kaki ke luar gerbang pondoknya.&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Akhi…&lt;br /&gt;Ingin kulebur dosa yang pernah ada &lt;br /&gt;Lewat medan jihad ini&lt;br /&gt;Kuingin mendekapmu&lt;br /&gt;Kuingin merengkuhmu untuk bersama&lt;br /&gt;Kuingin membagi indahnya jihad bersamamu&lt;br /&gt;Dan kuingin engkau berjanji saudaraku&lt;br /&gt;Suatu saat kita bertemu karena ALLAH&lt;/span&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huda tersenyum membaca SMS dari Nurul. Kembarannya itu ternyata sudah kehabisan ide. Buktinya sarapan pagi yang diberikan kepadanya adalah kutipan dari tulisan seorang al-akh Ambon yang ada di Majalah Tarbawi. Bunyi tulisan itu sudah sangat di hapalnya sejak kelas satu SMA. Meskipun bukan menu baru, ia pun merasa mendapat supplai energi baru untuk memulai aktivitas hari ini. Tiba-tiba ia terharu. Duhai, inikah salah satu keindahan ukhuwwah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMBON! Peristiwa itu kembali menyapanya. Ah.., entah mengapa ia jadi teringat dengan tragedi yang terjadi tahun 1999. Huda pun ingat dengan cerita seniornya yang baru saja melakukan jaulah ke Ambon. Ternyata sampai detik ini, Ambon masih sangat kekurangan SDM dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya Ambon, hampir seluruh wilayah di Indonesia timur saat ini masih membutuhkan kader dakwah. Ayo’, siapa mau ke sana?! Kalau sudah lulus, urusan pekerjaan gampang. Banyak channel di sana.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Promosi seorang anggota tim BP FSLDK**** itu terdengar seperti sebuah tantangan. Ke Ambon? Kedengarannya indah. Ia tiba-tiba tersadar bahwa bekalnya belumlah cukup. Ia, seperti halnya Nurul, baru semester dua. Masih banyak hal yang harus dipelajarinya di kampus hijau tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2009! Refleks, tangannya mulai menggambar peta masa depan. Di tahun itu aku harus sudah lulus dan menjadi kader dakwah yang kokoh dan mandiri, cerdas dan kreatif, spesialis berwawasan global,…ups, tiba-tiba ia menyebutkan karakteristik kader dakwah 2009. Wow! Bukan sekedar kata, tapi mewujudkannya adalah keniscayaan. Ya! Huda pun menerbitkan optimistis di hatinya. Ia sangat yakin bahwa dakwah adalah mega proyek yang membutuhkan banyak tenaga. Itulah mengapa ia ingin bersegera mengaplikasikan kurikulum dakwah berbasis kompetensi untuk menjawab tantangan dan peluang yang sama-sama terbuka lebar di masa depan.&lt;br /&gt;*********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana HAMASAnya kemarin?” tanya Huda dalam perjalanan menuju ke rumah. Ahad pagi ini Si Kembar “eNHa” sengaja memilih bus Jurusan Jogja-Surabaya karena kondisi fisik. Capek motor-motoran alasan keduanya. Lagian di bus mereka bisa muroja’ah Quran bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmh,…yang datang sedikit.” Jawab Nurul sepertinya sedikit kecewa. Dialihkan pandangannya ke luar menembus kaca di sampingnya. Gadis berjilbab putih itu buru-buru menutupi setitik kecewanya, banyak ibrah yang didapatnya dari acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting, kan bukan banyaknya peserta yang datang, Chay. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;By the way&lt;/span&gt;, temanya apa, sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurul yang lebih senang dipanggil Chaya itu pun membenarkan ucapan Huda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indahnya Ukhuwwah Dalam Kebersamaan. Ya! Kamu bener, aku jadi malu. Ternyata ta’aruf, tafahum, dan takaful itu memang tahapan yang harus dilalui dalam membina keindahan ukhuwwah. Aku baru nyadar kalau selama beberapa bulan jadi pengurus JN UKMI ini, aku belum terlalu ma’rifah dengan teman-teman yang lain. Aku baru tahu bahwa ternyata teman-teman di bidang lain juga punya banyak agenda yang padat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JN UKMI itu ibarat keluarga. Antara bidang satu dengan yang lain adalah kesatuan. Jangan pernah terkotakkan oleh bidang. Jadikan dinamika dakwah kampus sebagai kawah candradimuka yang akan menggembleng kita sebelum terjun ke medan jihad yang lebih berat. Apapun yang terjadi, kita adalah da’i sebelum yang lain. Ingat ikrar kita, kan? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nahnu du’at qobla kulli syai’in&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya tentu ingat, dong! O, ya…gimana Bakti Jama’ah? Katanya mau ngadain baksos, ya? Aku bisa bantu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakaian pantas pakaimu kayaknya banyak, deh. Disumbangin aja daripada memenuhi lemari? Trus…”&lt;br /&gt;“Tapi, Da. Aku masih suka semuanya.”  &lt;br /&gt;“Katanya indahnya ukhuwwah karena kita ibarat satu tubuh. Jangan egoistis, dong! Dakwah, kan butuh tadhiyyah. Lagian bagaimana bisa itsar kalo berbagi dengan saudara saja tidak mau…”&lt;br /&gt;“I ya, deh..! Sekarang kita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;muroja’ah&lt;/span&gt; dulu, yuk. Gimana hapalanmu, Da?”&lt;br /&gt;“Oke kita cek bareng-bareng, ya!” Huda pun mengawalinya dengan ta’awudz….&lt;br /&gt;Bus jurusan Jogja-Surabaya masih melaju tenang.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fathim, 140506:2.04&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   : SMS seorang sekbid menjelang Subuh&lt;br /&gt;**  : Potongan email di milist muslim_smuda;published by nahdahalfauziya:090305&lt;br /&gt;*** :Dirosat, Tarbawi Edisi 4 Th. 1 15 Oktober 1999&lt;br /&gt;****:Badan Pekerja Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-4808151499998241610?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/4808151499998241610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/08/indah-ukhuwwah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/4808151499998241610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/4808151499998241610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/08/indah-ukhuwwah.html' title='INDAH UKHUWWAH'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TFRnZRhgliI/AAAAAAAAAp4/ub1onFyotv8/s72-c/logo+ukmi+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-1008896859780221565</id><published>2010-07-13T19:30:00.000+07:00</published><updated>2010-07-13T19:39:53.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='little mujahid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>Asi yang Terbaik untuk Buah Hati Kami (No Sufor No Cry)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TDxdqP1mGLI/AAAAAAAAAoU/D0slffwSmL4/s1600/25042010344.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TDxdqP1mGLI/AAAAAAAAAoU/D0slffwSmL4/s320/25042010344.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5493368625872378034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebuah catatan kecil yang kubuat selama MH badminton:Rabu Malam, mengejar lomba menulis bunda tapi terlambat. Hitung2 stimulasi bikin buku baru: catatan rumah tangga muda! Lagi mengamankan ide. Doakan segera terlahir dengan selamat dan bahagia&lt;/span&gt; ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asi yang Terbaik untuk Buah Hati Kami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Semua terjadi begitu cepat. Pernikahan saya hanya membutuhkan persiapan selama 3 pekan. Alhamdulillah, acara aqad dan walimatul ursy pun berjalan relatif lancar. Semua terasa seperti mimpi. Apalagi sebulan kemudian Allah memberi kami amanah yang baru. Saya tak mendapati haid lagi setelah pernikahan kami.&lt;br /&gt;Saya hamil. Ya Allah! Sebagai perempuan normal, tentu saya bahagia. Saya merasa purna sebagai seorang istri. Di sisi lain, saya merasa gundah. Betapa cepat amanah baru ini diberikan. Saya menata hati, berbaik sangka pada Allah dan berdoa agar diberi kemampuan menunaikannya dengan sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap bulan, suami mengantar saya ke rumah sakit. Tiap bulan pula dengan sabar, ia menunggu sampai tiba giliran kami untuk berjumpa buah hati via USG. Saya beruntung. Laki-laki yang berstatus calon ayah bayiku begitu peduli. Ia juga proaktif menjaga calon mujahid kami sejak dalam kandungan. Ia tak hanya ikut memperhatikan asupan gizi calon bayi kami tapi juga rajin mengajaknya berkomunikasi, mengelusnya, dan mengajaknya bicara tentang apa saja. Bila adzan masjid depan rumah kami berkumandang, ia pun berbisik ke perut saya, “Dede’, sudah adzan, dengarkan, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai calon ibu baru, saya juga rajin membaca perkembangan bayi dalam kandungan. Saya mengikuti perkembangan bayi kami dari bulan ke bulan dengan membaca buku “9 Bulan yang Menakjubkan” terbitan Ayahbunda dan rajin searching seputar kehamilan via internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan ke-3 dan ke-4, atas anjuran suami, saya cuti dari sebagai editor sebuah penerbitan di Solo. Selain menjaga kehamilan pertama, dalam masa cuti itu saya berharap bisa menyelesaikan skripsi. Ternyata tak mudah. Saya sering teler dan tak juga bisa berkonsentrasi. Bulan ke-5 hingga menjelang bulan ke-9, saya kembali menikmati aktivitas di kantor. Tiap hari menempuh perjalanan 2 x 22 km. Jalan terasa begitu panjang. Alhamdulillah di bulan-bulan terakhir kehamilan suami bersikukuh untuk mengantar jemput saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan HPL, bayi kami lahir sekitar tanggal 20 April 2009. Pertengahan Maret 2009, saya diizinkan untuk membawa kerjaan kantor ke rumah. Saya mengedit naskah di rumah. Kemudian, akhir Maret, kami memutuskan untuk pulang ke tanah kelahiran, Ngawi. Secara psikologis, saya ingin dekat dengan ibu dan ditunggui beliau saat persalinan. Alhamdulillah, suami mengerti dan tak sedikit pun keberatan untuk bolak-balik Ngawi-Solo tiap akhir pekan. Begitu pula yang terjadi saat kesibukan menjelang dan pasca pemilu. Suami tetap bertekad pulang tiap akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HPL kurang seminggu lagi, akhir pekan tanggal 11 April, suami pulang ke Ngawi dalam kondisi capek pasca pemilu. Sudah feeling kali, ya, bayi kami akan lahir. Jadi tetap memilih pulang meskipun ada undangan pernikahan. Suamiku memang tipe suami siaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 12 April tengah malam, saya merasa aneh. Ada semacam kontraksi. Rasanya seperti mau buang air besar. Saya belum ngeh juga kalau waktu persalinan telah tiba. Meski terasa sakit, saya terlelap sampai sepertiga malam terakhir. Saat terbangun, saya sudah merintih kesakitan. Tak lama kemudian, bersama ibu dan suami, saya menuju tempat persalinan terdekat. Tanpa banyak persiapan kami berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Subuh kami sampai di Rumah Bersalin. Saat diperiksa baru pembukaan satu. Sekitar lima menit kemudian sudah pembukaan sembilan. Masya Allah, kontraksi terjadi seolah tanpa jeda. Waktu terasa berjalan begitu lambat. Apalagi bidan masih menangani satu pasien yang terlebih dahulu datang. Saya harus menunggu giliran. Padahal bayi kami sudah hampir lahir. Suami tetap siaga di samping, ibu pun ada di kamar menunggui saya dengan harap-harap cemas.&lt;br /&gt;Adzan Subuh terdengar begitu syahdu. Saya menahan sakit, menetralisir segala rasa dengan dzikrullah. Suami saya keluar ruangan bersalin untuk shalat Subuh berjama’ah di mushola. Ia tak menyia-nyikan kesempatan itu untuk mengulang doa agar saya diberi kemudahan saat melahirkan dan agar bayi kami terlahir dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidan yang seharusnya membantu persalinan saya ternyata merujuk pasien ke rumah sakit. Saya harus menunggu. Sungguh, saya nggak kuat : duh sampai kapan? Akhirnya proses kelahiran pertama saya dibantu oleh bidan muda. Usut punya usut, ia adik kelas saya di SMA. Alhamdulillah, hanya dengan dua-tiga kali mengejan, bayi kami lahir dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami saya menangis haru dan mencium kening saya saat tangis pertama bayi kami terdengar. Setelah dibersihkan, ia mengumandangkan adzan dan iqomah secara bergantian di kedua telinga.&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan pertama yang saya rasakan pasca melahirkan adalah belum bisa memberikan ASI pada buah hatiku. Padahal sejak ia dalam kandungan, saya sudah bertekad untuk tidak memberi setetes pun susu formula pada bayiku. Tetapi apalah dayaku. ASI belum keluar walaupun pasca melahirkan ia diletakkan di dadaku untuk inisiasi menyusui dini. Sedih bukan kepalang menyaksikan suamiku menyuapi bayi kami susu formula sendok demi sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutepis sedihku dengan banyak-banyak berdoa. Apapun akan kulakukan agar bisa memberikan ASI. Selain makan kacang-kacangan dan berbagai macam sayuran hijau, saya juga rajin melakukan massage untuk merangsang agar ASI segera keluar. Saya pun rajin memberikan puting susu meski asi belum keluar. Suami juga tak henti-hentinya memberikan support. Ia meyakinkan saya bahwa setiap ibu hamil Insya Allah bisa menyusui bayinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah hari ke-6, ASI keluar. Saya pun segera memberikannya pada bayi kami. Asi pertama yang keluar mengandung kolustrum, jadi kami tak ingin melewatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-7, saat aqiqah, saya sudah memberikan ASI pada mujahid kecil yang kami beri nama Arkan Dian Husnayan. Secara makna, namanya merupakan harapan agar ia menjadi anak pertama (awal) ~sebagai dasar~ dalam menggapai cahaya kemenangan agama (Islam). Alhamdulillah, di hari aqiqah banyak sekali yang datang memberi ucapan selamat dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tujuh hari pertama, kami dibantu Bulik yang sudah berpengalaman dalam memandikan dan merawat bayi. Setelah pupak pusar, saya mulai belajar memandikan. Alhamdulillah, suami pun juga segera mahir sehingga kami bisa bergantian memandikan Arkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami masih harus bolak-balik Ngawi-Solo tiap akhir pekan. Saya sedih tiap kali ditinggal suami. Sepertinya sempat terjangkit baby blues syndrom. Biasalah ibu muda, masih butuh banyak support. Lebay kali, ya, hampir tiap hari saya mengirim foto perkembangan terbaru Arkan. Hal itu berlangsung sampai 2,5 bulan sampai kami boyongan ke Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang masih rajin searching seputar bayi dan tumbuh kembang bayi. Setiap kali menemui hal baru yang belum saya ketahui saya menjadikan Mbah Google sebagai guru pertama. Hasilnya lumayan. Tak perlu konsultasi dokter atau bidan, saya mampu mengatasi problematika yang ada. Saya senantiasa memantau tumbuh kembang bayi. Memastikan bahwa tumbuh kembang Arkan sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain full ASI pada enam bulan pertama, saya dan suami rajin membawa bayi ke bidan untuk melihat grafik pertambahan berat badan dan memijatkannya sepekan sekali. Kalau terlambat, maka giliran suami saya yang memijatnya. Hal ini kami rasakan banyak sekali manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Arkan lulus ASI ekslusif versi saya (meski enam hari pertama terpaksa mencicipi sufor). Tepat enam bulan ia mulai menikmati MPASI yang orisinal buatan saya sendiri. Hanya sebulan saja ia mau mencicipi bubur susu instant. Selanjutnya, ia menolak dan sampai sekarang tidak mau mencicipi makanan bayi instant kecuali biskuit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bersyukur. ASI ekslusif terbukti tokcer. Arkan tumbuh sehat dan jarang sekali sakit. Ia juga lincah dan ceria. Sampai sekarang Arkan tetap minum ASI dan tidak beralih ke susu formula. Insya Allah kami akan mengupayakan ASI sampai Arkan berusia dua tahun. Tak mudah memang, banyak sekali yang menegur: Kenapa nggak dikenalkan dengan susu formula?&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh kembang tiap bayi itu unik. Itulah mengapa kami tak pernah membandingkan Arkan dengan anak-anak usianya. Kami tak perlu khawatir, misalnya, ketika di usia satu tahun ini Arkan belum lancar berjalan sedangkan ada juga bayi 9 bulan sudah lancar berjalan. Arkan punya prestasi tersendiri dalam tahapan usianya. Sekarang ia sudah pandai cium tangan, dada, sayang Ummi-Abi, menyuapi Ummi-Abi, berlagak menyisir rambut sendiri, berlagak telp, bilang maem atau nenen jika merasa lapar atau haus, menyambut kedatangan Abi, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sudah satu tahun usia sulungku. Begitu banyak hal yang menakjubkan yang membuat saya dan suami tak henti-hentinya bertasbih dan bersyukur. Sungguh jalan yang terbentang masih begitu panjang. Kami pun masih harus banyak belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Menyaksikan tumbuh kembangnya dari hari ke hari adalah menuntun kami untuk senantiasa bersyukur. Pengalaman pertama menjadi orangtua menyadarkan kami betapa ia adalah anugerah terindah dari-Nya. Semoga ia menjadi cahaya mata, penyejuk hati kami selamanya, dan bermanfaat untuk agama dan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 15 April 2010:23.00&lt;br /&gt;Kado &lt;span style="font-style:italic;"&gt;milad &lt;/span&gt;buat Arkan Dian Husnayan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jazakallah&lt;/span&gt; buat MH atas semua support selama ini:)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-1008896859780221565?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/1008896859780221565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/07/asi-yang-terbaik-untuk-buah-hati-kami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/1008896859780221565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/1008896859780221565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/07/asi-yang-terbaik-untuk-buah-hati-kami.html' title='Asi yang Terbaik untuk Buah Hati Kami (No Sufor No Cry)'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/TDxdqP1mGLI/AAAAAAAAAoU/D0slffwSmL4/s72-c/25042010344.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-6980594805288492504</id><published>2010-04-08T00:45:00.000+07:00</published><updated>2010-04-08T00:54:42.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>METAMORPHORIA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/S7zF_u5oNUI/AAAAAAAAAnA/fkIDVaPl_30/s1600/bidadari.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 291px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/S7zF_u5oNUI/AAAAAAAAAnA/fkIDVaPl_30/s320/bidadari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457454547178370370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;”Perlahan tapi pasti manusia di sekitar Rasulullah mulai bermetamorfosis. Mereka mengisntal ulang visi dan pandangan hidupnya, tentang diri mereka sendiri, tentang Tuhan, tentang keberadaannya di dunia, dan tentang alam raya yang terbentang luas. Titik metamorfosis ini menjadi awal lahirnya manusia besar yang kelak memimpin dunia. Menjadikan mereka orang-orang yang luar biasa.*)” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sebuah sentuhan akhir yang manis. Naisya tak menduga bahwa  dengan sangat lancar ia berhasil mengucapkan kata-kata itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Adik-adik Muslimah yang dirahmati Allah, Mbak berharap setelah bedah buku kali ini, kita  menjadi manusia yang tercerahkan. Semoga kita mampu meresapi makna kehidupan yang sebenarnya. Marilah bersama-sama kita bermetamorfosis menjadi manusia baru dan bersiap mengukir sejarah emas bersama orang-orang besar yang cahayanya mempesonakan setiap mata.Ya, mari kita ber-metamorphoria. Karena berubah menjadi baik itu menyenangkan!”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Naisya menata hatinya. Rasa-rasanya closing statement itu lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri. Sungguh tiap kali ada permintaan untuk menjadi pembicara dalam berbagai kesempatan, ia berada pada dilema. Menolak berarti ia menyia-nyiakan kesempatan untuk dakwah bil lisan. Menerima berarti ia harus kembali berkaca pada dirinya sendiri: seberapa pantas ia mampu menginternalisasikan kebaikan yang disampaikannya pada diri sendiri? Pada akhirnya, ia lebih sering menerima tawaran menjadi pembicara dengan mencoba meluruskan niatnya. Segala amal itu tergantung niatnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuuih... akhirnya sampai di penghujung sesi tanya jawab. Muslimah yang hampir memasuki usia seperempat abad itu menarik nafas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpamitan dengan panitia, gadis berjilbab yang mempunyai nama lengkap Naisya Fathimatuzzakia itu bersiap meluncur ke kampus belahan utara kawasan Solo Raya. Ada kajian rutin bersama adik-adik kampus yang harus didatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Nais, bisa, kan? Ayolah, Mbak!” Suara di sebrang mulai merayu.&lt;br /&gt;“Yang lain saja, ya, Dik. Mbak, kan belum menikah. Khawatir hanya omdo -ngomong doang- berdasarkan teori tanpa pengalaman sesungguhnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Mbak, ini mendesak. Ayolah, Mbak! Hitung-hitung memantapkan kesiapan setengah dien. Ayolah, Mbak! Mbak Nais sendiri, kan yang bilang kalo kita sedang berproses. Berubah menjadi baik itu menyenangkan. Begitu, kan? Metamorphoria, Mbak. Ingat METAMORPHORIA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masya Allah, Salma. Mbak Nais nggak bisa. Ini mendadak sekali. Mbak kan perlu persiapan. Mosok yo besok tho, Nduk? Mbak Nais carikan yang lebih ahli, ya?” Naisya mencoba untuk bernegosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, kalau begitu. Segera kabari Salma via SMS, ya, Mbak. Jazakillah. Assalamu’alaykum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjawab salam, Naiya meletakkan HP-nya dengan asal. Ruang kamar berukuran 4x3 M ini terasa semakin sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salma ngaco banget. Masak nyuruh ngisi materi tentang fiqh Munakahat. Emang aku ini Ustadzah? Fuih... M U N A K AH A T?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Naisya uring-uringan sendiri. Meski hanya dalam hati, jilbaber yang mempunyai jam terbang tinggi itu merasa mangkel. Siapa yang harus dihubunginya? Acaranya besok. Catat: BESOK! TOR juga belum dikasih. Bagaimana mungkin ’menembak’ Ustadzah untuk mengisi acara dalam waktu yang cukup mepet. Malu, ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Naisya mencoba menghubungi para senior dakwah kampus yang sudah lulus. Berulangkali ia memencet kotak unyilnya, mengirim SMS dan menelepon para kakak tingkat yang diseganinya. Hasilnya nihil. Tak ada satu pun yang menyatakan kesanggupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, mendadak sekali Dek Nais. Mbak dah ada acara.”&lt;br /&gt;”Lho, masak besok. Mbak nggak bisa, Dek.”&lt;br /&gt;”Coba hubungi Ustadzah Ely saja, Dek. Atau Ustadzah Lusi.”&lt;br /&gt;Naisya menggeleng. Ia tidak punya muka menghadap Ustadzah. Satu hal yang menjadi masalah. TIME. Waktunya terlalu mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah ditekuk dan mulut manyun, Naisya keluar kamar. Warga kosnya sedang asyik ngerumpi di ruang tengah sambil melakukan aktivitas sendiri-sendiri. Ada yang setrika, ada yang menyalin laporan praktikum, ada yang menyulam, ada yang mengiris sayuran untuk dimasak, ada pula yang nonton TV sambil facebook-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dear kru KEMULIAAN yang Mbak NICE Sayangi, Help me please!”&lt;br /&gt;Kontan, anak-anak Wisma Kemuliaan menghentikan aktivitas mereka sejenak.&lt;br /&gt;”Ada apa, Mbak Nais?” Tanya mereka kompak&lt;br /&gt;”Siapa yang mau gantiin Mbak ngisi kajian besok di kampus sebrang kali. UNSA?”&lt;br /&gt;”Haaa...Besok?” Eka menghentikan sulamannya.&lt;br /&gt;”Temanya Apa, Mbak?” Tanya  Win bersimpati&lt;br /&gt;”Nikah.” jawab Naisya singkat.&lt;br /&gt;”Nyak, Babe, aye mau nikah.” Yani yang sedang facebook-an menyahut.&lt;br /&gt;”Kenapa nggak minta tolong Ustadzah aja.” Usul Eka.&lt;br /&gt;”Hmh...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naisya pun ngeloyor pergi dengan tampang bete. Ia kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Dimatikannya lampu kamar pertanda ia bersiap tidur. Begitulah kalau lagi suntuk. Naisya melampiaskannya dengan tidur. Sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Namun, setidaknya ia bisa meringankan kepalanya barang sejenak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja Naisya terlelap. Tiba-tiba saja mengalun ringtone dari HP-nya pertanda ada SMS yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapa Mbak yang akan mengisi, besok?Makasih. Salma Hanifah&lt;br /&gt;Naisya tersenyum getir dan me-replay: Naisya Fathimatuzzakia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huuuh.... Naisya mendengus tak percaya. Sayang, ia terlanjur menuliskan namanya. Mau tak mau ia pun menyalakan lampu kamarnya. Ia keluar kamar untuk mengambil laptopnya yang lagi dipakai online oleh salah satu adik kosnya.&lt;br /&gt;”Mbak pinjam sebentar buat berselancar,ya? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan menit mahasiswa tingkat akhir Universitas Nomor Satu itu sudah asyik berselancar lewat dunia maya. Apalagi kalau bukan mencari materi tentang pernikahan buat kajian Muslimah besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam menganjurkan ummatnya untuk melakukan pernikahan, Islam tidak semata–mata beranggapan bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara farj atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja.  Sekali lagi bukan sekedar alasan tersebut. Akan tetapi lebih dari itu.**) ” Naisya mengawali pemaparannya dengan tenang. Sebelumnya ia telah meminta izin panitia untuk menyampaikan materi tentang persiapan menuju gerbang pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan. Pernikahan adalah bagian tak terpisahkan dari upaya perbaikan Ummat. Untuk itulah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas berbagai persiapan menjelang pernikahan. Apa saja itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khas Naisya. Ia melempar pertanyaan pada audience sambil mengingat-ingat kelanjutan materi yang akan disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi seputar pernikahan memang selalu menarik bagi anak kampus. Tak terasa satu jam telah berlalu. Naisya tersenyum. Entah mengapa ia berbunga-bunga sendiri. Tak menyangka bahwa inilah materi yang disampaikannya adalah kebutuhannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Siapa tahu sebentar lagi married. Lho kok malah ngelantur, nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya tak bisa banyak berkata-kata. Saya bukan pakar cinta atau pernikahan. Yang jelas saya meyakini bahwa secara sunatullah, laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Oleh karena itu, sejak saat ini tak ada salahnya kita mempersiapkan diri. Siapa tahu, besok telah ada laki-laki yang berhati cahaya yang disiapkan Allah untuk kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh kalimat terakhir itu adalah doaku, Naisya membatin.&lt;br /&gt;”Baiklah, marilah bersama-sama kita bermetamorfosis menjadi manusia baru dan bersiap mengukir sejarah emas bersama orang-orang besar yang cahayanya mempesonakan setiap mata.Ya, mari kita ber-metamorphoria. Karena berubah menjadi baik itu menyenangkan! ” Kembali Naisya mengkampayekan metamorphoria sebagai closing statement. Para muslimah di hadapannya pun mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METAMORPHORIA. Hampir setiap hari Naisya mengucapkan kata-kata itu lengkap dengan slogan kebanggaannya: KARENA BERUBAH MENJADI BAIK ITU MENYENANGKAN.***) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METAMORPHORIA sebenarnya adalah judul buku mentoring yang digunakan oleh kampus-kampus harapan di kawasan Solo Raya. Naisya sendiri pernah bergabung sebagai tim pendamping salah satu kampus harapan. Mereka menamai kampus-kampus swasta di kawasan Solo Raya dengan kampus harapan. Mereka meyakini satu hal: selama ada mahasiswa di sana maka ada harapan untuk melebarkan dakwah. Kampus bagi mereka selalu menyimpan harapan untuk menambah jumlah orang yang berafiliasi terhadap dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim kampus harapan adalah tim solid yang berjibaku tak pernah lelah untuk mengembangkan sayap dakwah. Mereka mempunyai motto: karena berubah menjadi baik itu menyenangkan. Maka tak heran bila sepak terjang mereka luar biasa. Sejalan dengan kinerja FSLDK****)  Solo Raya mereka bergerilya dari kampus ke kampus hampir setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hari ini kita masak apa, Dik?”&lt;br /&gt;Naisya terkejut dengan pertanyaan laki-laki berjanggut tipis di hadapannya.&lt;br /&gt;”Ya, mau masak apa? Boros, kan kalau kita beli terus tiap hari. Bisa masak, kan, Dik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”He..he... bisa-bisa, masak air.” Jawab Naisya lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu pasti bercanda. Tapi gak papa, soal rasa, lidah Abang ini cukup toleran, kok. Nggak usah khawatir. Ingat sloganmu waktu mendampingi kampus harapan, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”METAMORPHORIA.” pelan Naisya menjawab. Kali ini sungguh tanpa antusias seperti dulu yang biasa meledak-ledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Karena berubah menjadi baik itu menyenangkan, ya Dik?” Ghazi menyambung  kalimat kebanggaan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah, learning by doing aja. Abang berangkat dulu, ya. Jaga diri dan kehormatan suamimu baik-baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naisya mencium takzim tangan suaminya. Ini adalah hari keempat pernikahan mereka. Belum genap tujuh hari sudah ditinggal-tinggal. Namun, Naisya menyadari sepenuhnya konskuensi menikah dengan aktivis dakwah. Setelah mencari nafkah masih banyak hal yang harus dikerjakan. Bukankah mereka memang da’i sebelum menjadi yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Naisya pun menikmati status barunya sebagai seorang istri. Ia ingat, pertanyaan suaminya yang belum dijawab. Masak apa, ya? Bahannya apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naisya pun menyalakan laptop. Ia pun bertanya kepada Mbah Google tentang menu masakan. Akhirnya pilihannya jatuh pada sayur bening. Sederhana. Tinggal masak air dengan bumbu bawang merah, bawang putih, temu hitam, dan 2 cm kencur yang diiris halus. Setelah mendidih, tinggal masukkan jagung manis, wortel, dan sayur bayam. Matang, tinggal angkat. Mudah, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naisya pun keluar rumah. Berjalan beberapa meter ke kios. Ia membeli beras, sayuran, dan kebutuhan untuk masak-memasak hari ini. Pengalaman pertama,  Naisya terlihat masih malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, nyonya muda itu tak bersegera memasak. Suaminya pulang sore. Jadi masaknya nanti sore aja. Siang ini makan mie instan. Duh kebiasaan anak kos itu masih melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat Ashar, Naisya bersiap memasak. Bismillah.... bantu aku ya Allah, bisiknya penuh harap. Ia memotong Jagung, wortel, bayam dan menyiapkan bumbu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, ya sebelum masak sayur mending nanak nasi dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naisya pun mencuci beras. Tak sampai bersih, takut vitaminnya hilang. Setelah itu dikasih air. Seberapa, ya? Husy... Naisya lupa pelajaran dari Widya dan adik-adik kosnya. Mau tanya via telepon gengsi. Akhirnya, beras yang sudah berada dalam panci itu dituanginya air menurut takarannya sendiri. Tinggal cup! Sudah nancep di listrik, nunggu mateng deh! Naisya tertawa-tawa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah sayur bening, tempe dan pindang goreng plus sambal tomat kreasinya siap dihidangkan, Naisya mandi. Bersiap menyambut suami dengan penampilan terbaik dan keceriaan penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantian Naisya sore ini berakhir. Deg-degan jantung Naisya waktu suaminya mengetuk pintu diiringi salam.&lt;br /&gt;”Subhanallah, cantik sekali bidadari Abang ini.”&lt;br /&gt;”Halah... Bang Ghozi mulai, deh ngegombal.”&lt;br /&gt;”Nggak, kok. Ini tulus dari hati. Hmh... by the way, Abang lapar berat nih. Dari siang belum makan.”&lt;br /&gt;“Tenang, Bang, makanan sudah siap, kok.”&lt;br /&gt;Naisya menghidangkan kreasi istimewa perdananya.&lt;br /&gt;“Wah, kelihatannya enak. Mana nasinya, Dik?”&lt;br /&gt;“Ada di rice cooker, Bang.”&lt;br /&gt;“Oh, baiklah giliran Abang yang mengambilkan, deh.”&lt;br /&gt;Naisya mengiyakan.&lt;br /&gt;“Masya Allah, Dik. Kok nasinya belum masak?”&lt;br /&gt;Gubrrakkk!!!&lt;br /&gt;Naisya terkejut. Ia ingat belum meng-On-kan rice cooker-nya. Astaghfirullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghozi tersenyum melihat kepanikan istrinya. Diam-diam, ia membawa panci dan membuang air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Airnya kebayakan, Dek. Sini Abang ajarin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghozi unjuk kebolehannya menanak nasi di rice cooker. Lha wong cuma masak nasi kok nggak bisa. Kebangetan deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METAMORPHORIA, learning by doing, karena berubah menjadi baik itu menyenangkan, dan sederet slogan kebanggaan Naisya kini tak berarti lagi. Ternyata tak cukup slogan sebagai penyemangat. Namun, butuh aplikasi yang lebih. So, mari kita ber-METAMORPHORIA dengan sungguh-sungguh. Jangan instan, ya! Yoi: karena berubah menjadi baik itu menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;  *)Preface di buku METAMORPHORIA&lt;br /&gt;**)   http://cahaya05.wordpress.com&lt;br /&gt;***) Preface di buku METAMORPHORIA&lt;br /&gt;****) Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus, http://fsldkn.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-6980594805288492504?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/6980594805288492504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/04/metamorphoria.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6980594805288492504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6980594805288492504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2010/04/metamorphoria.html' title='METAMORPHORIA'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/S7zF_u5oNUI/AAAAAAAAAnA/fkIDVaPl_30/s72-c/bidadari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3485849778485544755</id><published>2009-12-21T20:44:00.001+07:00</published><updated>2009-12-21T20:57:05.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surat cinta'/><title type='text'>SURAT BUAT BUNDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sy9912NVFUI/AAAAAAAAAgA/-5_0dLTJYr4/s1600-h/DSC00182.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sy9912NVFUI/AAAAAAAAAgA/-5_0dLTJYr4/s320/DSC00182.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417687240787957058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kubaca lagi surat buat bundaku dua tahun yang lalu&lt;br /&gt;hanya biru mewarna hatiku&lt;br /&gt;Maaf, Bunda, Adik belum mampu membuatmu tersenyum bangga&lt;br /&gt;Maafkanlah anakmu..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutemukan bening kristal berjatuhan&lt;br /&gt;saat senyummu menjawab semua tanya&lt;br /&gt;agar damai terjaga di singgasana rasa&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Boleh, kan, Adik  mengembarakan Cinta?&lt;br /&gt;Boleh, ya, Bunda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlasmu antar aku pada harapan&lt;br /&gt;tentang indah keabadian&lt;br /&gt;usai persinggahan yang hanya sebentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan...jangan terbuai pesona&lt;br /&gt;dunia hanya fatamorgana!&lt;/span&gt; (Menjadi Bidadari by Fathimatul Azizah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Sungguh, hanya bagi ALLAH segala puji. Semoga ditetapkan hati-hati kita di atas agama-NYA. Shalawat dan salam kepada junjungan tercinta. Semoga mampu kaki-kaki kita mengikuti sunnahnya.&lt;br /&gt;Kabar baik, Bunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu itu kalimat pertama yang Adik hadiahkan buat Bunda via telepon atau SMS. Hampir tiap hari Bunda mendapatkannya. Dan Bunda selalu meyakinkan Adik bahwa Bunda baik-baik saja meskipun keadaan Bunda tak selalu begitu. Bunda tak pernah tega mengabarkan hal-hal yang tidak baik karena Bunda tak mau Adik terlalu khawatir memikirkan keadaan Bunda.  Baiklah, Bunda... Adik mengerti itulah salah satu bukti ketegaran yang engkau punya.  Namun Bunda, di malam yang semakin larut ini entah mengapa mata enggan terpejam. Ada gundah yang masih terus berkecamuk dalam diri. Adik tak berhasil menepis gundah itu. Ya! Bagaimana mungkin Adik bisa tenang membiarkan Bunda sendirian di rumah; tak berkawan seorang pun di waktu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang jelas di mata Adik, saat Bunda diam-diam menangis setelah shalat. Betapa memang hanya ALLAH muara segala rasa yang ada di jiwa. Bunda mengajariku lagi makna ketegaran dengan mengadukannya kepada Yang Maha Penyanyang. Adik tahu tak mudah  menghadapi kenyataan pahit. Tak mudah bagi kita melepas kepergian orang yang kita cintai. Apalagi ia telah berpuluh-puluh tahun menjadi sandaran jiwa. Namun, Bunda telah buktikan ketegaran untuk melepasnya; merelakan kepergian Ayah meski sungguh tak terkira perihnya hati yang terluka. Bunda mencoba untuk ikhlas. Ya, Adik tahu...sangat tahu bahwa hal itu teramat berat bagi Bunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, kini Adik mengerti mengapa kita tak boleh mencintai sesuatu secara berlebihan. Rasul telah mengingatkan kita untuk bersikap proporsional; mencintai atau membenci sesuatu sewajarnya saja. Sesuatu yang kita cintai bisa menjadi sesuatu yang kita benci dan sebaliknya. ALLAH yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Bisa jadi apa yang menurut kita baik namun teramat buruk di hadapan ALLAH dan sesuatu yang kita anggap buruk ternyata justru baik bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, sudah dua tahun lebih Ayah tak lagi bersama kita di rumah. Dalam rentang waktu itu, Adik mencoba memaknakan setiap peristiwa sebagai tanda kasih sayang-NYA. Sungguh ALLAH tak pernah menguji kita di luar batas kesanggupan. Dari Ayah dan Bunda, Adik semakin mengerti bahwa ternyata masih banyak bekal yang harus dipersiapkan sebelum mengarungi bahtera rumah tangga. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah. Sebelum saat itu tiba –-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;saat seorang lelaki yang berhati cahaya dihadirkan-NYA untuk meniti jalan bersama menuju surga&lt;/span&gt;-- Adik  harus terus memperbaiki diri.  Bukankah menggenapkan setengah dien adalah ibadah yang harus dipersiapkan dengan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apapun yang terjadi, selama nafas kita masih diizinkan-NYA berhembus, kita harus bersemangat untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan abadi. Adik berjanji untuk terus memperbaiki diri. Beberapa bulan terakhir ini, ALLAH menegur Adik dengan kepergian orang-orang hebat. Adik menganggap mereka sahabat perjuangan. Mereka adalah mujahid dan mujahidah masjid kampus. Tiga di antaranya -–&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akh Bambang, Mbak Amal, Akh Joko Suseno-- pernah aktif di JN UKMI UNS –Lembaga Dakwah Kampus di tingkat universitas&lt;/span&gt;-. Ya! Meski tidak semuanya Adik kenal dari dekat tapi Adik belajar banyak dari mereka. Mereka adalah sosok-sosok yang amanah dalam dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, di satu sisi Adik merasa benar-benar kehilangan, namun di sisi lain Adik semakin tersadar betapa memang ALLAH  Penggenggam jiwa semua makhluknya. DIA telah menentukan berapa jatah usia kita. Adik semakin takut, akankah dalam sisa usia yang masih diberikan-NYA mampu Adik gunakan untuk memberikan yang terbaik? Akankah Adik mampu menjadi anak yang berbakti pada Ayah dan Bunda? Mampukah Adik menjadi wanita shalihah di setiap sisi kehidupan? Menjadi sebaik-baik perhiasan dunia yang didamba para pencinta-NYA? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketakutan itu, Adik berharap banyak dari doa Bunda. Doa agar ALLAH menjadikan Adik sebaik-baik perhiasan dunia; menjadi anak, istri, dan ibu yang shalihah –nantinya-. Adik percaya doa Bunda selalu menyertai langkah-langkah kaki Adik dalam menapak di jalan-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda ,ingat, nasyid yang sering Adik putar waktu SMA? Nuansa; nasyid pinjaman dari perpus Rohis SMA. Entah mengapa akhir-akhir ini Adik sering menyandungkannya. Saat-saat Adik sendiri..saat-saat Adik rindu dengan Bunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Duhai ibuku..&lt;br /&gt;Dengar nasyidku...&lt;br /&gt;Putramu (i) yang kini dari sisimu&lt;br /&gt;Tunaikan tugas emban amanah&lt;br /&gt;Turut perjuangkan Dinul Islam tercinta.. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, Adik ingin menjadi bagian dari barisan akhwat tangguh; menjadi seorang mujahidah yang tegar hadapi setiap ujian perjuangan. Adik tahu, Adik punya banyak keterbatasan namun bukankah ALLAH berikan kemampuan dan kesempatan untuk berusaha? Kemenangan atau kekalahan bukanlah hakekat yang diperjuangkan. Biarlah  ALLAH, Rasul dan orang-orang beriman menjadi saksi dari tiap kerja keras yang kita lakukan. Bunda, doakan Adik ya... Adik ingin menjadi bagian pembela agama-NYA. Adik ingin menjadi bagian dari kebangkitan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, diakhir surat ini.. Adik ingin mengatakan bahwa Adik bangga terlahir sebagai seorang muslimah. Adik pun bangga memiliki Ibu sepertimu. Bunda telah banyak berkorban demi kami –-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adik dan Mas&lt;/span&gt;-- Bunda tak pernah membiarkan binar mata kami redup. Maka, tak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas semua itu selain doa. Semoga ALLAH menjaga Bunda selalu, menyayangi Bunda seperti Bunda menyayangi kami di waktu kecil. Terimakasih Bunda... Hanya ALLAH yang bisa membalas semua pengorbananmu. &lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3485849778485544755?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3485849778485544755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/12/surat-buat-bunda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3485849778485544755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3485849778485544755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/12/surat-buat-bunda.html' title='SURAT BUAT BUNDA'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sy9912NVFUI/AAAAAAAAAgA/-5_0dLTJYr4/s72-c/DSC00182.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-2399776856641396580</id><published>2009-12-02T21:16:00.000+07:00</published><updated>2009-12-02T21:20:43.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muhasabah'/><title type='text'>MUHASABAH BERSAMA SAHABAT PERJUANGAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxZ3k1i_04I/AAAAAAAAAfY/DaAidmRMKnQ/s1600-h/lampung.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxZ3k1i_04I/AAAAAAAAAfY/DaAidmRMKnQ/s320/lampung.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410643477065094018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Amanah yang terembankan &lt;br /&gt;pada pundak yang semakin lemah &lt;br /&gt;Bukan sebuah keluhan, &lt;br /&gt;ketidakterimaan,...keputusasaan!&lt;br /&gt;terlebih surut langkah ke belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah awal pertempuran&lt;br /&gt;Awal pembuktiaan&lt;br /&gt;Siapa diri yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai diri, sambutlah seruannya&lt;br /&gt;Orang-orang besar lahir karena beban  perjuangan&lt;br /&gt;Bukan menghindar dari peperangan*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAHABAT,&lt;br /&gt;Mari kita ambil istirah sejenak. Kita nikmati keheningan bersama kesendirian.  Kita pintal kembali harapan yang pernah terkoyak. Mari bermonolog dengan kejujuran hati nurani.  Benarkah diri  ini masih selalu merindu indah jannah-NYA?  Keindahan  yang dihadiahkan-NYA untuk orang-orang yang beriman; orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan-NYA. Benarkah kita bertekad untuk terlibat dalam sebuah perniagaan yang dapat menyelamatkan kita dari adzab pedih-NYA? Ya! Tentu selalu kita damba keberuntungan besar itu. Namun, akankah mampu kita bayar pahitnya perjuangan, dengan semanis mahar berupa pengorbanan? Sanggupkah kita menebusnya dengan amal yang tidak seberapa? Dengan kerja-kerja yang masih tak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAHABAT, selagi belum terlambat mari luruskan kembali niat. Bukankah dari awal perjalanan kita telah diingatkan bahwa jalan dakwah yang akan kita tempuh adalah jalan panjang? Kita pun telah diingatkan betapa banyak aral dan cobaan yang menguji keistiqomahan kita dalam menempuhnya. Namun bukankah kita pun akhirnya sepakat untuk menghusungnya bersama-sama? Tak satu pun dari kita yang sanggup memikul berat bebannya. Dan bukankah ALLAH pun menyukai kita terhimpun dalam barisan yang teratur hingga kita laksana bangunan yang tersusun kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, sudah saatnya kita mengambil peran dalam perjalanan panjang ini.  Marilah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam amal dakwah ini. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan tanpa melanggar nilai-nilai syar’i. Hal-hal yang kita anggap kecil bisa jadi nilainya sangat besar di sisi ALLAH. Yakinlah bahwa ALLAH tidak melihat hasil usaha kita akan tetapi sejauh mana keikhlasan, ikhtiar dan kesungguhan hamba-hamba-NYA. Maka mari iringi setiap usaha kita dengan doa-doa malam; doa yang dipenuhi rasa harap dan khauf atas pertolongan dan cobaan-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa ALLAH tidak akan pernah mendzalimi hamba-NYA di luar batas kesunggupannya. Oleh karena itu amanah apapun yang dipercayakan pada kita, InsyaALLAH kita mampu menunaikannya. Ketika amanah dipikulkan pada kita berarti kita telah memenangkan proyek besar dari ALLAH: kita adalah orang-orang pilihan di antara yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berjihadlah kamu di jalan ALLAH dengan jihad yang sebenar-benarnya. DIA telah memilih kamu dan DIA tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan...” (22:78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelorakan semangat juangmu, wahai SAHABATku! Sudah bukan saatnya lagi perbedaan karakter menjadi hal yang menghalangi amal dakwah kita. Sudah bukan zamannya semangat dakwah kita bergantung pada mood dalam diri. Sudah bukan waktunya kita hanya memilih menjadi penonton atas perjuangan dan pengorbanan saudara-saudara kita menegakkan risalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempengaruhi orang itulah pekerjaan dakwah. Orang kaya lebih berpengaruh di mata masyarakat awam. Maka sudah semestinya kita menjadi orang-orang kaya ruhiyah, berjiwa besar dan berlapang dada, bersabar, dan tetap optimis akan pertolongan ALLAH SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahanlah meskipun  beban dakwah ini begitu berat. Cukuplah keikhlasan menjadi saksi perjuangan kita. Berdoalah selalu agar ALLAH menjadikan kita pengemban amanah dakwah yg jiddiyah. Yg tidak  saja membuat dakwah bersemi di lingkungan kita, melainkan mampu membangun semangat  ikhwah kita yang sedang melemah.**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah gado2, cuplikan dari file FSLDKN XII &amp; taushiyah seorang mbak. (fa)&lt;br /&gt;*dari tulisan “Mencari Energi yang Hilang Dalam Dakwah” taushiyah seorang mbak&lt;br /&gt;** kata-kata di majalah Al-Izzah di sebuah edisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-2399776856641396580?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/2399776856641396580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/12/muhasabah-bersama-sahabat-perjuangan_02.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2399776856641396580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2399776856641396580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/12/muhasabah-bersama-sahabat-perjuangan_02.html' title='MUHASABAH BERSAMA SAHABAT PERJUANGAN'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxZ3k1i_04I/AAAAAAAAAfY/DaAidmRMKnQ/s72-c/lampung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-222773413377755245</id><published>2009-12-01T08:49:00.000+07:00</published><updated>2009-12-01T08:54:27.767+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bukuku'/><title type='text'>RINTIK  YANG  MENYUBURKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxR2eP3Cj2I/AAAAAAAAAeg/R_6H2vcku0c/s1600/cover+depan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 228px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxR2eP3Cj2I/AAAAAAAAAeg/R_6H2vcku0c/s320/cover+depan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410079314404347746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mukhammad N.F (eks Ketua Umum FLP Solo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hubungan yang lembab antara penulis, kesunyian dan Pencipta Sunyi menjadi bagian dari alur yang indah dalam sebuah tulisan kenangan. Saya menyebutnya kenangan karena tulisan-tulisan di dalam buku ini lebih sebagai fragmen yang menitipkan kenangan silam. Ingatan-ingatan lalu yang mengirimkan rindu dan cinta. Tidak... tidak hanya itu, tetapi ingatan yang membekaskan nafas, meniupkan bara dan melapukkan kesombongan. Nyanyian masa lampau yang masih terdengar indah karena berderet-deret nama Tuhan selalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;–dan berkali–&lt;/span&gt; disebut dalam setiap kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menghubungkan setiap kejadian pada nama-nama Tuhan bagi sebagian orang menjadi aktivitas yang buta dan sunyi. Tetapi bagi sebagian yang lain, tidak menghadirkan kemuliaan-Nya justru menjeratkan kepedihan dan keresahan. Memang tidak salah tatkala menyikapi masalah dengan ukuran logika dan kebesaran pikiran. Tetapi lebih indah, saat berbagai beban datang bertubi-hunjam maka nama-nama Tuhan menghias basah menjadi dzikir di bibir hamba. Mereka memaknai kejadian sebagai bagian kenikmatan, mencandai ‘beban’ sebagai rintik yang menyuburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disampaikan dalam Wahyul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Qalam&lt;/span&gt;-nya Ar-Rafi’i, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika engkau menghadapi dunia dengan jiwa lapang, engkau akan memperoleh banyak kegembiraan yang semakin lama semakin bertambah, semakin luas, duka yang makin mengecil dan menyempit. Engkau harus tahu bahwa bila duniamu terasa sempit, sebenarnya jiwamu lah yang sempit —bukan dunianya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah...!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, manakah yang lebih indah jika hamba yang pandai itu (juga) seorang penulis? Pasti ia akan melekatkan pena yang menghubungkan kisah dengan sesungguh penghambaan. Hal itulah yang berusaha dilakukan oleh penulis muda ini dalam buku catatan kecilnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Sedetik di Mata, Selamanya di Jiwa”&lt;/span&gt;. Sebagai karya pertama yang –akhirnya– dibukukan, layaklah jika usaha dan kerja kerasnya menjadi catatan tersendiri. Di samping kegigihan dan keinginannya untuk mengembalikan riak-riak kecil yang meriuh (beban) selalu pada kebesaran asma Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan, ada 29 (duapuluh sembilan) kisah yang ditata dengan sederhana dalam buku kecil ini. Kisah-kisah yang oleh Fathim (panggilan untuk Fathimatul Azizah) diharapkan dapat menjadi ruang istirah dan meng’hisab’ diri. Semuanya adalah catatan nyata yang dikumpulkan dari ingatan-ingatan lapuk penuh warna. Fathim tidak hanya memindahkan warna itu mentah-mentah, tetapi ia menghadirkan dirinya tiap kali menuliskan catatan. Bahwa setiap catatan adalah kenangan dan setiap kenangan pasti membenamkan pelajaran, itulah kehidupannya. Seperti : subuh yang bergerak, pengamen yang santun, kematian yang tiba-tiba, jilbab yang ‘berongga’, air mata yang lindap di kesunyian, hingga nasyid (senandung islami) yang –kadang– melalaikan, pun persaudaraan para aktivis LDK yang pekat tak luput ia usapkan warna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang penulis perempuan, saya menangkap keseluruhan kisah Fathim hampir-hampir juga berwarna ‘perempuan’. Fathim melihat setiap kejadian dengan perasaannya sebagai seorang perempuan. Hingga dalam setiap kisah akan sering ditemukan catatan yang ‘basah’ karena bermuara air mata dan sendu kepedihan. Tetapi tidak semuanya! Sebab ada beberapa kisah yang justru memberontakkan ketegaran dan kekuatan. Justru di situlah saya menangkap kelebihan Fathim. Kisah-kisah yang dihadirkan terasa lebih lunak dan lembut karena ditulis oleh seorang perempuan. Maka tidak salah jika Fathim menginginkan buku ini menjadi ruang untuk istirah. Sebab, di ruang itu ia memantik api yang menghangatkan bukan yang membakar, ia meniupkan angin yang meneduhkan bukan yang menghancurkan. Seperti dzikir yang berulang-ulang di ujung malam, selalu mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bacalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Anda tidak hanya diajak untuk berehat memintal jeda sejenak, tetapi Anda akan diajaknya pula untuk menyeberang malam hingga di ujung fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ufuk semburat merahnya . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Solo, Syawal 1428 H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-222773413377755245?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/222773413377755245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/11/rintik-yang-menyuburkan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/222773413377755245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/222773413377755245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/11/rintik-yang-menyuburkan.html' title='RINTIK  YANG  MENYUBURKAN'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SxR2eP3Cj2I/AAAAAAAAAeg/R_6H2vcku0c/s72-c/cover+depan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-1654696607930997538</id><published>2009-06-13T09:27:00.000+07:00</published><updated>2009-06-13T09:37:01.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='little mujahid'/><title type='text'>Arkan Dian Husnayan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SjMQp4469eI/AAAAAAAAAZo/CGnnox3i7jo/s1600-h/DSC00011.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SjMQp4469eI/AAAAAAAAAZo/CGnnox3i7jo/s320/DSC00011.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5346635494450722274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kusenandungkan ini untuk mengantar anakku tidur:&lt;br /&gt;Tidurlah-tidur anakku..tidurlah sayang&lt;br /&gt;umi selalu menjaga dan berdoa&lt;br /&gt;agar kelak kau dijadikan manusia&lt;br /&gt;pembebas durjana pelepas duka lara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji syukur pada-Mu ya Illahi Rabbi&lt;br /&gt;tercipta buah hati dambaan insani&lt;br /&gt;Kuserahkan jiwa raga sebagai bukti&lt;br /&gt;sang ibu dan ayah bersatu dalam janji...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-1654696607930997538?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/1654696607930997538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/06/arkan-dian-husnayan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/1654696607930997538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/1654696607930997538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/06/arkan-dian-husnayan.html' title='Arkan Dian Husnayan'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SjMQp4469eI/AAAAAAAAAZo/CGnnox3i7jo/s72-c/DSC00011.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3939492146616033983</id><published>2009-03-25T22:54:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T23:04:50.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>CAHAYA YANG TERUS MENYALA*</title><content type='html'>Inilah resensi Buku Pedoman Asistensi (BPA)UNS yang kini telah direvisi. Saya melihat tampilannya kini sudah berubah namun  muatan di dalamnya tak jauh berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA BUKU&lt;br /&gt;Judul  : Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi&lt;br /&gt;Penyusun : Yeceu Ekajaya, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Nurul Huda Press&lt;br /&gt;Edisi  :Edisi keempat, September 2005&lt;br /&gt;Tebal  : xvii + 166 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu sudah sangat faham bahwa masa muda adalah masa yang paling berharga dalam fase kehidupan manusia. Di masa mudalah kekuatan fisik menyatu dengan berbadai ide dan cita-cita serta tekad yang kuat membaja. Benarlah apa yang dikatakan Hasan Al-Banna bahwa pemuda adalah pilar kebangkitan, karena memang dalam setiap kebangkitan pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Tidaklah mengherankan jika banyak pihak yang berusaha untuk memanfaatkan pemuda untuk memenuhi tuntutan ambisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari kondisi umat Islam yang jauh melangkah dan terjebak dalam kondisi kejahiliyahan maka Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi, Buku Panduan Asistensi (BPA) Agama Islam UNS, disusun oleh Tim BPA. Buku ini adalah persembahan istimewa untuk menyambut mahasiswa baru yang masih bersemangat dalam menemukan jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BPA disusun dengan sistematis. Hal itu dapat kita lihat dari penyusunan bab demi bab. Bab 1 mengajak kita, khususnya mahasiswa baru, untuk mengenal diri kita sebagai manusia individu. Tiga unsur manusia, akal, jasad dan  ruh, membentuk senyawa kepribadian sehingga membedakan kita dengan makhluk yang lain. Dengan memahami Manusia Dalam Perspektif Islam kita diharapkan mampu menyadari potensi dan keistimewaan kita sebagai manusia. Dengan pemahaman yang benar manusia diharapkan mampu melaksanakan misi penciptaan yang diembannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenal eksistensi kita sebagai manusia dalam perspektif Islam, dalam 3 bab selanjutnya, bab 2, 3, dan 4, kita diajak untuk berma’rifah (mengenal) Allah, Rasul, dan Islam. Ma’rifatullah, Ma’rifatul Rasul, dan Ma’rifatul Islam adalah 3 hal penting yang harus difahami oleh seluruh umat Islam. Pemahaman yang benar akan 3 hal tersebut sesungguhnya berkolerasi dengan lurusnya aqidah seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenal Allah, Rasul, dan Islam, mata kita dibuka untuk melihat &lt;br /&gt;Problematika Umat Islam yang kini telah melanda. Realitas individu (lemahnya komitmen aqidah, wawasan, spiritual, kemauan dan cita-cita serta harga diri individu muslim) dan realitas masyarakat (lemahnya kepemimpinan, persaudaraan, jaringan, dan lemahnya perencanaan dakwah) sesungguhnya adalah penyakit yang semakin menyurutkan kekuatan umat Islam dalam menghadapi tantangan masa kini, baik invasi fisik maupun invansi pemikiran (ghazwul fikri) yang berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari fitrahnya. Dalam bab ke-5 ini kita disadarkan bahwa kebangkitan Islam adalah sebuah kemestian. Diperlukan dakwah Islamiyah yang syamilah (komprehensif) untuk menyingkirkan penyakit dari dalam tubuh umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyongsong kebangkitan umat Islam dan menjalankan dakwah Islam yang menyeluruh maka Tarbiyah Islamiyah yang ada dalam bab ke-6 adalah perangkat yang ditawarkan. Bab ini membahas pengertian, urgensi, dan karekteristik tarbiyah Islamiyah. Secara umum, tarbiyah Islamiyah adalah proses penyiapan menumbuhkan dan membentuk manusia yang shalih pada setiap sisinya sehingga tercipta keseimbangan dalam potensi, tujuan, ucapan dan tindakannya. Bab ini meyakinkan kita bahwa tarbiyah adalah solusi yang tepat untuk mencapai tujuan mulia. Diperlukan kesungguhan dalam proses tarbiyah karena, seperti yang dikatakan Musthafa Masyur, tarbiyah memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya takkan bias diraih kecuali dengan tarbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia membutuhkan pedoman hidup yang jelas agar tidak tersesat. Dalam bab terakhir, bab ke-7, kita diingatkan bahwa pedoman hidup seorang muslim adalah Al-Quran. Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk berinteraksi dengan Al-Quran. Bab ini menjelaskan tentang fungsi, keistimewaan, dan kewajiban kita terhadap Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Panduan Asistensi ini cukup lengkap dan mampu menutupi kekurangan materi dalam Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Susunannya yang sistematis memudahkan kita untuk memahami bab demi bab. Kita seolah diajak berpetualang dengan rute yang menarik. Bab demi bab yang telah terbaca memudahkan kita untuk memahami bab selanjutnya. Sisi kemanusiaan kita disentuh dengan cara yang sangat lembut lewat jeda yang ada di antara bab satu dengan bab yang lain. Sejenak Merenung adalah jeda yang menuntun kita untuk mengambil untaian hikmah yang sarat akan pembelajaran dalam memaknakan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang sistematis. Namun akan lebih menarik jika gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa ringan, mengingat buku ini ditujukan untuk mahasiswa muslim yang baru saja lulus SMA. Tidak ada salahnya jika dalam edisi selanjutnya, buku ini ditulis dengan bahasa gaul yang santun dan mudah difahami. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kejemuan mahasiswa baru dalam membaca keseluruhan isi buku yang cukup berat. Kosa kata bahasa arab memang tetap diperlukan. Meskipun sudah ada glossary untuk kata-kata sulit tersebut, namun pemilihan kata yang sesuai dengan karakteristik anak muda tetap diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari edisi pertama sampai edisi keempat ini tidak ada revisi yang signifikan. Buku ini memang masih relevan jika digunakan untuk beberapa tahun mendatang. Namun dalam edisi selanjutnya haruslah diupayakan revisi dan inovasi yang menarik. Setting dan lay out buku ini bisa dipercantik, dan font yang digunakan tidaklah harus Times New Roman yang kesannya sangat formal. Tidak ada salahnya jika ditambahkan ilustrasi lucu (gambar kartun misalnya) dalam setiap babnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang ada, Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi, diharapkan mampu menjadi sarana untuk mendukung kembalinya generasi Islam pada jalan yang sesungguhnya dan sebagai sarana untuk menggapai cahaya-Nya. Semoga buku ini mampu menjadi sumber rujukan bagi setiap muslim yang mencari jalan kebenaran. Semoga buku ini benar-benar mampu menunjukkan cahaya. Cahaya yang membuka hati manusia untuk menggapai hidayah-Nya. Ya! Karena  cahaya itu  akan terus menyala!&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah akan tetap menyempurnakan agamanya meskipun orang-orang kafir benci&lt;/span&gt;.” (Ash-Shaff:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*resensi kecil masa kecil,juara III lomba resensi perpus ukmi di masanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3939492146616033983?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3939492146616033983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/03/cahaya-yang-terus-menyala.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3939492146616033983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3939492146616033983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/03/cahaya-yang-terus-menyala.html' title='CAHAYA YANG TERUS MENYALA*'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-5594269449398652471</id><published>2009-03-25T22:42:00.000+07:00</published><updated>2009-03-25T22:49:39.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>PANGGILAN DAN KENYAMANAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/ScpSfPduPII/AAAAAAAAAYg/Q8T_jwurZj8/s1600-h/kado.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 111px; height: 111px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/ScpSfPduPII/AAAAAAAAAYg/Q8T_jwurZj8/s200/kado.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317153006744910978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Tidak suka dipanggil dengan sebutan ‘boss/pak..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum membaca profil salah seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-akh&lt;/span&gt;. Ia adalah salah satu anggota di sebuah ‘tim dakwah’ yang usia di kampusnya terpaut dua angkatan di bawah saya. Saya tidak menyangka ia akan menuliskan hal tersebut dalam form yang saya bagikan sebelumnya. Dan hari ini, setelah lima bulan berlalu, saya minta maaf kepada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-akh&lt;/span&gt;, anggota tim yang lain. Saya merasa bersalah karena beberapa waktu terakhir sering memanggilnya dengan ‘Dik’. Panggilan yang sebenarnya biasa saya gunakan untuk memanggil adik-adik saya, baik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwan/akhwat&lt;/span&gt; yang berasal dari tanah kelahiran saya, Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang salah dengan panggilan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tergantung dari masing-masing personal dan apa yang ada di dalam hatinya. Sebenarnya saya merasa nyaman saja memanggil teman-teman yang usianya terpaut beberapa tahun di bawah saya dengan panggilan ‘Dik’. Bagi saya, panggilan ‘Dik’ ke akhwat menimbulkan kedekatan, sedangkan memanggil ‘Dik’ pada ikhwan akan memperjelas batas; bahwa ia lebih muda daripada saya. Dengan begitu –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;awalnya&lt;/span&gt;- saya fikir lebih aman dalam berinteraksi.  Saya tidak mempunyai maksud apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada teguran yang datang, ataupun ada pertanyaan yang terlontar dari seorang sahabat tentang alasan mengapa saya memanggil&lt;span style="font-style:italic;"&gt; al-akh &lt;/span&gt;dengan panggilan tersebut, saya menjawabnya dengan alasan di atas. Meskipun seorang&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ukhti&lt;/span&gt; di Surabaya mengatakan bahwa memanggil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwan&lt;/span&gt; dengan panggilan ‘Dik’  adalah salah satu bentuk pelanggaran, saya tetap melakukannya. Menurut saya tak ada yang salah dengan panggilan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadari bahwa panggilan yang kita berikan pada orang-orang di sekitar haruslah panggilan yang baik. Bukankah Rasulullah pun mengajarkan untuk memberikan panggilan yang baik pada orang lain? Jadi bukan asal kita merasa nyaman, tapi lebih dari itu kita pun harus memperhatikan perasaan orang yang kita panggil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan aktivis –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ikhwan/akhwat&lt;/span&gt;-, mungkin panggilan yang paling aman adalah ‘Akhi/Ukhti’. Meskipun di beberapa tempat kebiasaan itu kadang tidak berlaku untuk semua usia. Daerah Jogja misalnya. Berdasarkan cerita dari teman-teman di UGM, mereka terbiasa memanggil ikhwan dengan sebutan ‘Pak’. Teman-teman Indonesia Timur –&lt;span style="font-style:italic;"&gt;yang saya tahu akhwat Ternate&lt;/span&gt;- memanggil ikhwan yang lebih tua dengan panggilan ‘Kak’, sedangkan teman-teman di Padang mempunyai panggilan ‘Uda/Bang’. Jadi, memang tak ada keharusan memanggil apa pada&lt;span style="font-style:italic;"&gt; ikhwan/akhwat&lt;/span&gt;. Pun memanggil dengan panggilan ‘Akhi/Ukhti’.  Apalagi di khalayak ramai, panggilan tersebut cenderung kita minimalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah yang saya sampaikan di awal. Apakah ada yang salah dengan panggilan ‘Dik’ yang saya tujukan pada seorang al-akh? Kurang ahsan-kah panggilan tersebut? Entahlah...tiba-tiba saja saya merasa harus mengubah cara saja memanggil al-akh itu, meskipun secara usia ia terpaut beberapa tahun di bawah saya. Ya! Saya khawatir ia tidak ridha terhadap panggilan yang saya berikan. Saya masih ingat, dalam SMS terkadang ia masih sering memanggil saya dengan ‘Ukh’. Hanya sekali dua kali ia memanggil saya dengan ‘Mbak’. Saya kemudian berkesimpulan bahwa tidak semua ikhwan –yang secara usia lebih muda- senang dipanggil ‘Dik’, seperti halnya saudara saya yang tidak suka dipanggil ‘Boss/ Pak’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah hal yang wajar memanggil orang dengan panggilan yang membuat kita merasa nyaman dengan panggilan tersebut. Namun, ada baiknya kita berfikir ulang dengan panggilan yang kita berikan. Saya khawatir panggilan yang kurang tepat bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Bagaimanapun kita harus menjaga diri dan tahu dengan siapa kita bergaul. Alhamdulillah, saya pun sedikit lega ketika akhirnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;al-akh&lt;/span&gt; yang beberapa waktu terakhir saya panggil ‘Dik’ ternyata tidak keberatan dengan panggilan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kmrn sya ngk OL ki &amp; jga blm bca psn mbk. IA sya ngk mslh dipnggil DIK, toh srg dpngl dik ma mbk Iin. Mlh lbh nyaman dipnggl dik. Tfdhli mbk bety mo mangl apa&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisma Kemuliaan, 6 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-5594269449398652471?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/5594269449398652471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/03/panggilan-dan-kenyamanan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5594269449398652471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5594269449398652471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/03/panggilan-dan-kenyamanan.html' title='PANGGILAN DAN KENYAMANAN'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/ScpSfPduPII/AAAAAAAAAYg/Q8T_jwurZj8/s72-c/kado.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-4022681492876763413</id><published>2009-02-26T23:49:00.000+07:00</published><updated>2009-02-26T23:52:50.781+07:00</updated><title type='text'>(masih) Belajar Menjadi Aktivis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabI1Sw4XMI/AAAAAAAAAYA/E-v0WlKvuM4/s1600-h/ikhwan.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 82px; height: 82px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabI1Sw4XMI/AAAAAAAAAYA/E-v0WlKvuM4/s200/ikhwan.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307150028798188738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Engkau bahkan masih memberi penjelas, penegas bahwa kita harus berbagi tugas. Tidak semua harus terjun ketika agenda dakwah begitu memadat. Banyak ruang kosong di sana sini yang harus diisi oleh sebaran kader yang harus terbagi. Dan engkau yang membagi sebaran itu, dan engkau yang memilih ruang lain itu.1&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“af1, Akh. Da amanah lain yg hrus sgra ditunaikan. ane g bs syuro bidang nanti mlm.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Huda tersenyum getir membaca SMS dari stafnya. Izin lagi. Izin lagi. Kapan seluruh staf bisa kumpul dalam syuro bidang? Padahal undangan syuro dah dikirim jauh-jauh hari yang lalu. Bukan sekedar via SMS tapi juga undangan tertulis plus taushiyah telah disampaikannya secara langsung. Semua usaha untuk menghadirkan seluruh personel bidang sudah dilakukan. Bahkan sebagai ketua bidang, ia rela bergerilya dari kos ke kos, dari fakultas ke fakultas, dan dari basecamp ke basecamp agar bisa  menemukan anak buahnya. Memastikan agar syuro special kali ini bisa dihadiri oleh seluruh personel. Minimal kali ini saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurul, kembaran sekaligus sekretaris bidangnya, juga telah melakukan hal yang sama. Tapi memang manusia hanya bisa berencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhwat hanya separuh yang bisa. Yang lain izin.” Laporan Nurul via interkom membuat Huda jadi kehilangan semangat. Kalau begini terus bagaimana bidangnya bisa solid? Padahal targetan syuro bidang malam nanti adalah membahas the big event  yang membutuhkan banyak pemikiran. Bagaimana mungkin hanya mengandalkan kabid dan sekbidnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan akumulasi kekecewaan Huda menuruni tangga masjid NH. Segera ditujunya tempat wudhu. Kesejukan air kran membuat kepala ikhwan berjenggot tipis itu sedikit lebih ringan. Pelan, istighfar pun terlantun dari bibirnya. Hatinya kini menjadi lebih lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia bersiap untuk shalat ashar. Usai ashar ia harus meluncur ke kampus sebelah untuk mengisi kajian sore.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurul berjalan berjingkat-jingkat. Hujan selepas maghrib menemani perjalanannya menuju masjid kampus. Payung mungilnya tak mampu melindungi tubuhnya dari guyuran air dari langit. Jaket UKMI yang dikenakannya sudah basah. Kaos kakinya apalagi. Namun gadis itu mencoba menikmatinya. Ia ingat taushiyah sang murrabiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan adalah tentara ALLAH. Dan antunna percaya bahwa sesama tentara ALLAH tak akan saling menyakiti, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gadis itu pun tersenyum. Kalaupun habis kehujanan ia jatuh sakit biasanya sebuah isyarat staminanya sedang menurun. Mudah-mudahan kali ini tidak begitu. In tanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Ia percaya hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Nurul, tunggu!” Sebuah suara yang tidak asing menghentikan langkahnya. Nurul menengok ke belakang. Ada Ajeng yang berlari-lari kecil mendekat ke arahnya. Keduanya pun bergegas menuju eNHa, masjid perjuangan tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak afwan sebelumnya. Ajeng capek banget. Tadi habis muter-muter cari sponshorship untuk acara HMJ. Semisal nanti nggak terlalu loading dalam syuro harap dimaklumi, ya?” sebuah pinta dari Ajeng  baru saja diterimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatmu datang saja, mbak sudah senang. Nurul berucap dalam hati. Senyumnya yang masih mengembang membuat Ajeng jadi salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, deh mbak, ntar Ajeng tetap berusaha connect.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu lebih baik. You can if you think you can!.” Kata-kata itu tiba-tiba meluncur begitu saja. Semangat yang lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurul masuk rumah sakit. Typus-nya kambuh. Huda segera meminta bantuan seorang al-akh untuk meneruskan proposal kegiatan bidang yang sebenarnya sudah didelegasikan ke stafnya, lebih tepatnya menjadi tanggung jawab sekretaris kegiatan. Deadline sudah lewat, proposal itu belum juga dikerjakan. Terpaksa ia mengambil alih pekerjaan itu untuk kesekian kali. Namun kali ini ia terpaksa meminta tolong pada teman sekamarnya di eNHa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huda segera meluncur ke PKU Muhammadiyah, tempat Nurul dirawat inap. &lt;br /&gt;“Syafakillah, Dik,” bisik Huda di cuping saudara kembarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Nggak usah khawatir. Ini bukan yang pertama, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi lemah, Nurul masih saja bercanda. Mau nggak mau Huda pun tersenyum. Dua akhwat yang membawa Nurul ke rumah sakit pamit untuk sementara waktu. Huda pun segera mengiyakan. Tak lupa ia berterimakasih pada keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tawadzun itu nggak mudah, ya?” Nurul masih saja berceloteh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah nggak usah mikir yang macam-macam. Istirahat aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Da... deadline laporanku....?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah...Insya ALLAH kubantu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups! Tak sengaja ia berjanji. Tapi Huda bertekad akan membantu saudara kembarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan Nurul. Tadi malam ia masih berapi-api dalam syuro bidang bersamanya. Meski dari 15 personel hanya tujuh yang hadir, gadis itu masih berusaha membantunya mengkondisikan forum agar muntijah. Saudara kandung sekaligus teman seperjuangan yang tak pernah bosan menyemangatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di dinding kamar rumah sakit menunjukkan pukul dua dini hari. Huda masih terjaga. Dipandanginya wajah tirus sang adik kembar. Hanya iba yang kini mewarna di benaknya. Iba itu menimbulkan sesak di dada,  men-stimulus bening-bening kristal mengalir di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah! Ia kembali mengulang istighfarnya. Lantas diraihnya mushaf kecil di meja. Dibacanya kalam suci dengan tartil. Sepenuh hati dicobanya mentadabburi ayat-ayat cinta Illahi. Ada ketenangan yang tak berhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huda me-review kembali perjalanannya di kampus hijau. Betapa ternyata kesibukan demi kesibukan tak diimbangi dengan suplai energi yang sepadan. Betapa ternyata ‘kokoh dan mandiri dalam maknawiyah, fikriyah dan jasadiyah’ masih sebatas slogan. Amal yauminya akhir-akhir ini seolah hanya mengejar target tanpa pemaknaan. Buku-buku pergerakan dan sains yang dibacanya sama sekali tak berbekas. Pola makan dan istirahatnya belumlah memenuhi standar kesehatan. Huda mendesah pelan. Ia yakin Nurul pun demikian. Mungkin lebih parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aina anta ya jundullah?”&lt;/span&gt; kini pertanyaan itu lebih pantas ditujukan untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Aina ana?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lagi-lagi ia (masih) harus belajar untuk menjadi seorang aktivis. Semangat saja memang tidak cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibentangkannya sajadah kecil di samping tempat tidur Nurul. Sepertiga malam ini dilaluinya dengan syahdu. Di hadapkan wajahnya dengan hati yang penuh rindu. Betapa ia merasa sangat lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa jadinya diri ini tanpa pertolonganmu, Ya Rabb?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huda tersungkur dalam sujud panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Juli 2007:01.30 untuk adik2 eNHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dikutip dari “Aina Anta Ya Jundullah?Refleksi seorang Murrabi: Fajar el-Shahwah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-4022681492876763413?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/4022681492876763413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/masih-belajar-menjadi-aktivis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/4022681492876763413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/4022681492876763413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/masih-belajar-menjadi-aktivis.html' title='(masih) Belajar Menjadi Aktivis'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabI1Sw4XMI/AAAAAAAAAYA/E-v0WlKvuM4/s72-c/ikhwan.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-5021608806266521830</id><published>2009-02-26T23:31:00.000+07:00</published><updated>2009-02-26T23:39:41.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>RINDU DAMAI SENYUMMU, BUNDA !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabFsVh_8fI/AAAAAAAAAX4/C7Z2hOYlxwQ/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabFsVh_8fI/AAAAAAAAAX4/C7Z2hOYlxwQ/s200/Untitled-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307146576387371506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SELEPAS membaca&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Al-Matsurat&lt;/span&gt; bersama teman-teman sepondok, aku segera kembali ke kamar. Adzan Isya’ sepertinya masih beberapa menit lagi. Kuraih mushaf yang ada di meja kecilku. Masih ada waktu untuk tilawah barang satu dua lembar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dua ayat yang kubaca, terdengar SMS masuk ke ‘kotak unyil’ yang lupa ku-non-aktifkan. Meski sedikit malas, kubuka SMS itu. Siapa tahu memang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assmlkm. M’Ita, bsk ba’da Ashar syuro’ di masjid kampus. Mbk, anti stiap minggu plg da acr, ya? Usul:bgmn jk bsk tdk plg, mndampingi adik2? Sampun diSMS U’Wati, tho? Fahma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa kali kuterima permintaan yang sama. Permintaan agar akhir pekan aku tidak pulang. Kali ini giliran Fahma, mahasiswa semester empat yang jadi koordinator majalah ‘English Sisters’ yang memintaku mendampingi mereka syuro’. Di pekan-pekan sebelumnya permintaan yang sama tak sekali dua kali ditujukan padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak selalu kita mesti mengatakan pada orang lain apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.” tegas Mbak Ais ketika aku mengeluhkan protes beberapa orang akan kepulanganku tiap Sabtu sore.&lt;br /&gt;Segera kuhapus SMS dari Fahma tanpa membalasnya. Pulsaku sudah habis sejak tadi pagi. Belum ada anggaran untuk mengisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin juga ada telepon yang minta kesediaanku untuk rapat di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah ana tegaskan: ana nggak bisa mabit malam Ahad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anti selalu pulang? Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada alasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya menyerah juga. Aku pun segera menutup gagang telepon. Dalam hati aku merasa bersalah namun bukankah setiap orang bebas menentukan apa yang terbaik menurutnya. Begitu pun aku.&lt;br /&gt;Aku sudah berjanji untuk selalu pulang, minimal sepekan sekali. Tak ada yang bisa menghalangiku kecuali ada agenda yang menuntut tanggungjawab penuhku. Kukira syuro’ atau rapat  tanpaku tetap bisa berjalan. &lt;br /&gt;☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunda nggak masak apa-apa. Adanya cuma soto ayam dari warung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Bunda! Selalu begitu! Nggak pa-pa, kok. Tenang aja.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap sekilas wajah perempuan yang telah melahirkanku. Kutemukan gurat kelelahan di sana. Ya, bahkan masih kujumpai kesedihan yang belum juga hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ita, Bunda sudah lupa untuk memasakkan makanan kesukaanmu.” Ujarnya penuh rasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Bunda. Tsabita tak pernah mempermasalahkan tentang makanan yang kita makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah kalau begitu. Bunda ke depan dulu, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, perempuan yang baru menginjak usia 45 tahun itu, segera meninggalkanku. Tiap sore beliau selalu meluangkan waktunya untuk menyirami bunga-bunga, bonsai, dan rumput di taman depan bila hujan tidak turun. Sudah setahun lebih Bunda melakukan rutinitas itu, terhitung sejak ayah pergi meninggalkan kami dan menikah dengan perempuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, jaga Bunda baik-baik, ya!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu terngiang di telinga pesan dari Mas Ikhlas, kakak semata wayangku, sebelum merantau ke Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aku juga seorang perempuan.” jawabku waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengerti perasaannya dan pasti akan menjaganya. Memastikan beliau baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janji pulang tiap pekan, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah! Mulai saat itu aku pulang ke rumah tiap pekan untuk memastikan kondisi bunda baik-baik saja. Minimal Bunda tidak sakit dan masih melakukan rutinitas seperti biasa. &lt;br /&gt;☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rintik-rintik air hujan &lt;br /&gt;jatuh ke bumi membawa rizki &lt;br /&gt;hilangkan dahaga ini &lt;br /&gt;hapus semua keluh kesah kita*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis kecil mulai berjatuhan. Segera kupercepat langkahku menuju pondok sederhana, tempatku melepas penat setelah seharian beraktivitas. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum.” Ucapku riang sesampai di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumussalaam… Wah, kehujanan, ya Mbak? Ada yang bisa dibantu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara khas Ayu dari dalam kamar terdengar riang. Teman sekamarku itu memang gadis yang teramat baik. Hampir-hampir aku tak pernah melihatnya berdiam diri sekiranya ada yang bisa dilakukan untuk membantu orang lain. Sungguh, aku masih harus banyak belajar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, kubuatkan teh hangat, ya?” lagi-lagi ia menawarkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah nggak usah. Nanti aja usai mandi, mbak buat sendiri. Lanjutkan aja pekerjaanmu, Dek.”&lt;br /&gt;Kutinggalkan Ayu yang sedang asyik di depan komputer. Kulangkahkan kaki keluar kamar menuju tempat cucian. Ada dua pasang gamis, kerudung dan kaos kaki yang harus segera kucuci. Mumpung masih ada waktu luang. Ya! Jangan sampai ada kejadian seorang Tsabita kehabisan baju dengan alasan terlalu sibuk dengan seabrek agenda. Sama sekali nggak nyeni, kan? Apalagi membawa baju kotor ke laundry, jangan pernah, deh kecuali dalam kondisi darurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nyuci&lt;/span&gt; itu menyenangkan, kok! Setidaknya itulah yang diajarkan ayah ketika kami –aku dan Mas Ikhlas-  mulai belajar mencuci baju sendiri. Ketika itu kami baru pindah dari Jakarta  ke sebuah desa kecil di kabupaten Ngawi. Dalam kondisi ekonomi yang masih belum mapan, segala pekerjaan rumah tangga kami lakukan bersama. Bahkan sampai sekarang, ketika segalanya telah teraih, dalam hal ini lebih pada perekonomian yang semakin mapan, aku dan Mas Ikhlas pun masih selalu melakukan pekerjaan rumah tangga; nyuci, nyapu, ngepel sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja kupandangi tetes-tetes air dari langit yang semakin berjatuhan.&lt;br /&gt;Ayah! Hujan hari ini mengingatkanku akan memori masa lalu. Hujan yang menghadirkanmu dalam monologku. Kutahu, ayah, hujan yang dianugerahkannya juga tentara Allah. Kedatangannya selalu mengingatkanku; betapa kita pernah bersama; betapa kita pernah bahagia. Kini apa yang kau rasakan tiap rintik-rintik itu turun?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah!&lt;/span&gt; Kuulang istighfar dalam-dalam. Tiba-tiba aku begitu merindukan ayah.  Aku baru sadar bahwa aku tak benar-benar bisa melupakannya. Ternyata bunda benar; bahwa apapun yang terjadi; ayah tetaplah ayah dan tak pernah ada yang akan mampu memutuskan ikatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Bunda. Semoga sore yang basah ini pun, putrimu masih selalu mampu menjaga bara shalihahnya hingga menjadi secantik bidadari, sebaik-baik perhiasan dunia.&lt;br /&gt;Bidadari? Ah, kukira terlalu berlebihan gelar itu kudapatkan saat ini. Ya! Masih terlalu jauh. &lt;br /&gt;☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Tsabita? Kau sudah siap untuk menggenapkan setengah dienmu, bukan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mbak Ais hanya kubalas dengan senyum. Aku tak terlalu yakin dengan apa yang baru saja kudengar. Bukankah saat ini masih banyak yang lebih berhak ketimbang diriku? Atau jangan-jangan Mbak Ais hanya mencoba menjajaki sejauh mana kesiapan adik-adik binaannya. Setahuku, baru Mbak Ami yang telah mengisi biodata ‘hijau’ untuk diproses. Ya! Idealnya memang Mbak Ami lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Mbak Ais?”  aku balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ganti mbakku yang tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setahu Ita, pernikahan itu menyatukan dua kekuatan. Siap menikah artinya juga siap menjanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah begitu, Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu apa, Tsabita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang bilang menikah itu mengumpulkan dua kekuatan menjadi interdepent, kumpulan dua orang yang independent, masing-masing tidak bergantung dengan yang lain. Ita merasa belum siap kehilangan, Mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaghfirullah, Tsabita...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ais meraih tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku masih trauma dengan kepergian ayah. Aku tidak siap bila kelak mengalami kejadian yang sama dengan apa yang telah terjadi pada bunda. Aku tahu menikah itu ibadah, namun aku tak yakin telah benar-benar siap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah tak pernah ada yang abadi di dunia, Ukhti? Mbak rasa sudah saatnya kau mengaplikasikan ilmu yang kau pelajari selama di pondok dan majelis ilmu yang lain; tarbiyatul aulad, tafsir wanita, fiqh dakwah muslimah, shirah sahabat, juga teori-teori  praktis kehidupan, setidaknya akan membantumu untuk memasuki kehidupan pasca pernikahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Mbak sepertinya Ita belum siap. Ita masih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Semua mbak kembalikan padamu. Dalam sepekan ini, kuatkan maknawiyahmu. Mbak percaya padamu, Tsabita. Kau boleh pulang sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan rumah Mbak Ais dengan ragu. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih gamang. Namun hari sudah terlalu sore untuk tinggal. Sebentar lagi adzan Maghrib sepertinya berkumandang.&lt;br /&gt;Kukendalikan motor dengan kecepatan sedang. Sungguh aku tak tahu apakah ini jawaban dari doa-doaku; agar ALLAH menjagaku untuk tetap teguh menapaki kehidupan? DIA datangkan teman perjalanan ketika langkahku mulai terasa berat.&lt;br /&gt;☺&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang indah. Bintang-bintang bertaburan meski tanpa cahaya bulan. Kutengadahkan wajah melihat bentang luas cakrawala. Dulu aku dan Mas Ikhlas sering menghabiskan malam dengan melihat bintang bersama ayah. Masa kecil yang tak kan terulang. Saat itu aku merasa menjadi anak yang beruntung. Punya ayah yang hebat, mas yang baik, dan bunda yang selalu memanjakanku. Aku menyangka keutuhan keluarga kami akan terjaga selamanya. Takdir berkata lain. Ayah pergi dari rumah di tahun ketiga aku duduk di bangku kuliah. Kepergian yang tiba-tiba itu sungguh menggoncang kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda bilang mestinya aku bersyukur. Ayah pergi ketika aku telah punya pegangan yang kuat; aku telah belajar agama dan punya banyak teman berbagi. Meski tergoncang, aku mencoba memaknai hal itu sebagai ujian. Ayah memang tak ada lagi di samping kami namun ia tak pernah benar-benar pergi dari hati. Selalu kususun jemari, menyebut namanya dalam doa yang tiada putusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percayalah Tsabita, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Bunda yakin kau adalah gadis yang tegar. Tak perlu larut dalam kesedihan panjang. Belajarlah dari ayah dan bunda agar kelak bahtera rumah tanggamu tenang menghadapi karang dan gelombang kehidupan.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku jadi kangen dengan Bunda. Apakah beliau akan bahagia bila putri semata wayangnya menikah? Apakah bebannya akan berkurang? Selama ini kutahu Bunda selalu mencemaskanku. Sejak ayah pergi, kami jadi semakin dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada damai di senyum Bunda. Selalu kutemukan kekuatan dari senyum itu. Senyum yang mengisyaratkan ketegaran; bahwa hidup akan terus berlanjut dengan atau tanpa pasangan yang kita cintai. Baiklah Bunda, izinkan putrimu belajar meniti ketegaran dengan damai senyum itu.&lt;br /&gt;Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, masih belum mampu kuhitung bintang. Tak akan pernah memang. Namun tahukah engkau, Bunda? Bila memang sudah tiba masanya kan kusambut dia yang berhati cahaya untuk meniti jalan bersama menuju surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi, 21 April 2007:21.41&lt;br /&gt;Bingkisan di bulan kelahiran ayah.&lt;br /&gt;Thanks untuk mbak Er lis atas inspirasinya.  &lt;br /&gt;*petikan senandung dari Harmoni Voice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-5021608806266521830?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/5021608806266521830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/rindu-damai-senyummu-bunda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5021608806266521830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5021608806266521830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/rindu-damai-senyummu-bunda.html' title='RINDU DAMAI SENYUMMU, BUNDA !'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SabFsVh_8fI/AAAAAAAAAX4/C7Z2hOYlxwQ/s72-c/Untitled-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-5283374118938894390</id><published>2009-02-26T23:16:00.000+07:00</published><updated>2009-02-26T23:28:59.004+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>BARA SHALIHAH</title><content type='html'>Malam ini hatiku sedang gerimis. Kangen dengan orang-orang di rumah. Bersyukur pada Allah, aku masih punya mereka. Hanya ruang dan waktu yang memberi jarak. Ya! Kucoba membongkar ingatan bersama ayah dan ibu. Sudut mataku basah, ada aliran deras iringi munajatku. Tiada kata mulia kecuali doa untuk mereka. Kucoba telusuri rangkaian kebersamaan masa kecil. Benar: kasih sayang dan pengorbanan mereka tiada kan pernah terbeli di dunia ini. Ya Allah, kuingin membayar semua itu dengan kesholihahanku. Izinkan aku menjadi jariyah untuk mereka.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Adakah orang yang tak mempunyai beban dalam hidup ini? Jangan sekali-kali kau jawab ada : orang gila. Itu bukan jawaban yang kuminta.” &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Atiyatul Izzah, teman masa SMA, dua tahun silam tiba-tiba terngiang di telingaku. Hm...kini baru kusadari bahwa beban adalah sebuah kemestian yang harus ditanggung oleh manusia yang menjalani kehidupan. Kini kucoba menyemai harap akan hadirnya sejumput kekuatan untuk tetap tegak dalam menapaki hidup. Mungkin ini adalah episode yang menuntutku untuk mengaplikasikan beberapa ilmu yang hampir-hampir tak berbekas dalam keseharianku.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“When you said, when you blue, when you really2 blue, don’t forget that you have Allah!** My dear, be patient. I will always love you &amp; support you. And be sure Allah protect and help you if you close to HIM. And our parents need your help. Please pray for them!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sms Mbak Eka dua tahun silam mengingatkanku akan tempat bersandar yang paling tepat. Ya, aku masih punya Allah. Diam-diam kuhapus bening-bening kristal  yang tlah lama berjatuhan di pipi. Kupupuk segenap keyakinan bahwa Allah begitu mencintaiku. Meski kurasa kali ini ujian itu begitu berat. Ya Allah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;help me please!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hati ini biarlah kusimpan segala dukaku rapat-rapat. Ah, andai saja berandai-andai itu boleh. Kuingin ada seorang saudara yang tahu dan mendamaikanku dengan untaian taushiyah. But what should I do? Aku tak ingin masalahku menambah beban mereka sedang dakwah yang mereka pikul pun tlah menguras energi yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senantiasa Qta ingat! Ats diri qta...ada hak u/ agama qta, u/diri qta sdr, u/ ortu, u/sahabat,...dst. Shg jngn smp qta spt lilin yg t’bakar. Mbrkn cahaya pd lingkungn tp mbiarkn drnya hancur. Smg qta bs tawadzun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca untuk kesekian kali kubaca taushiyah yang dikirim oleh seorang sahabat via SMS. Harusnya memang aku mampu memanaj diri. Menjadi seperti lilin bukanlah hal yang kuinginkan. Bahkan tak pernah terbesit sedikit pun menjadi seperti itu. Tapi apa yang terjadi saat ini padaku memang seperti lilin. Aku terbakar dan hampir hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan meraja di jiwaku. Bagaimana mungkin aku bisa tetap tinggal di Solo sementara di rumah begitu banyak masalah yang tak kunjung selesai. Ya Allah...betapa Kau tahu bahwa tak pernah terbesit niat di hatiku untuk mendzolimi siapapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas kelembagaan yang selalu hadir tiap kali aku hendak pulang kadang kurasa begitu berat. Aku yang memang belum sepenuhnya faham akan fiqh prioritas seringkali bimbang. Kutunaikan tugas-tugas itu dengan hati yang meradang. Bayangan ibu senantiasa memenuhi pikiranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kepulanganmu ke rumah begitu diperlukan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang hampir selalu sama. Dan aku hanya bisa mengangguk sedih tanpa penjelasan apapun. Teman-temanku telah begitu hapal kebiasaanku tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya kulakukan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak memang. Hanya saja aku tak akan pernah bisa tenang jika seminggu saja tak pulang. Bayangan ibu akan selalu lekat di keseharianku. Ibu yang hampir tak pernah mengeluh. Ibu yang selalu berusaha tampak tegar di hadapanku. Ibu yang tak henti-hentinya memompakan semangat kepadaku meski dalam dirinya seringkali tersimpan keletihan yang sangat.&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kabar baik, Bunda? &lt;br /&gt;Smg malam ini penuh barokah. &lt;br /&gt;&amp; qta sll bsyukur kpd-Nya.&lt;br /&gt;Doakan nanda bisa jd so2k yg shalihah &lt;br /&gt;agar bs brmanfaat bgi smua &lt;br /&gt;&amp; bs mbuat Bunda trsenyum bangga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengirim SMS, kukenakan jaket peninggalan Mbak Eka. Udara malam ini benar-benar dingin. Hujan yang seharian turun seperti tak memberiku jeda agar bisa sedikit menepis gundah. Hampir selalu begitu.  Aku tak mengerti mengapa percikan air yang jatuh senantiasa menghadirkan romantika kenangan yang kini lebih cenderung menguras air mata. Kenangan indah yang tak akan terulang. Dan ternyata keindahan itu begitu mahal untuk kumiliki saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember yang basah tlah sampai ke penghujungnya. Biasanya di akhir tahun masehi ada Mbak Eka di sampingku, mengingatkanku untuk tidak larut dalam hingar bingar menyambut tahun baru. Kebiasaan jahiliyah, katanya. Lebih banyak menimbulkan mudharat. Sedangkan setiap 1 Muharram belum tentu kami, yang mengaku umat Islam, menyambutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura cuek ketika empat tahun yang lalu kakak perempuanku itu memaparkan argument yang jitu. Diam-diam aku sepakat dengannya : bahwa lebih baik pesta di penghujung tahun itu diganti dengan evaluasi diri saja. Setelah itu setiap dari kita hendaknya menata ulang planning setahun ke depan agar target berprestasi di setiap sisi kehidupan bisa tercapai.&lt;br /&gt;Ayah dan Mas Dwi hanya tertawa ringan. Mereka sengaja membiarkan Mbak Eka berbicara panjang lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“What it is to be, it is up to you, Eka,” &lt;/span&gt;begitu prolog yang digunakan Mas Dwi untuk menyatakan ketidaksepemahaman pendapat, “So, menjadilah dirimu dan janganlah kau mempengaruhi kami. Ingat, tahun baru hanya sekali setahun. Senang-senang sedikit nggak ada salahnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dan Catur, si bungsu yang saat itu masih kelas 5 SD, berada di pihak yang netral. Ya! Tak ada gunanya saling memaksakan pendapat bila tak ada titik yang bisa mempertemukan sudut pandang. Lebih baik pesta tahun baru tetap diadakan dengan masing-masing pemaknaan. Begitulah…tahun berikutnya kebiasaan begadang di pergantian tahun itu tetap berlaku sampai akhirnya terjadi insiden yang meluluhlantakkan jiwaku&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau adalah anak yang baik, kau tahu itu, kan***?” Mbak Eka sengaja mengulang perkataan itu lantas ia pun membelai kepalaku yang hampir empat tahun tertutup selembar kain lebar, “Setahu Mbak, kau adalah gadis yang tegar melebihi mbakmu ini. Tetaplah bersemangat adikku, meski Mbak Eka tak lagi di sampingmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sangat terlambat, aku tergugu menyadari kalimat perpisahan kakak perempuanku. Ia pergi saat aku merasa benar-benar membutuhkan kehadirannya. Ibu, wanita yang sangat tegar itu, memelukku erat. Mengingatkanku bahwa Mbak Eka adalah titipan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikhlaskan saja, Nak! Doakan mbak Eka-mu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”&lt;br /&gt;Mbak Eka pergi tepat setahun setelah ayah tak lagi ada di sisi kami. Hampir-hampir aku tak kuat menanggung beratnya ujian. Ya! Andai saja aku tak ingat janji-Nya di ayat terakhir surat Al-Baqoroh; bahwa Dia tak kan menguji hambanya di luar batas kesanggupan, mungkin aku sudah berganti haluan seperti Mas Dwi yang kini tinggal di bui.&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Ilah melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali. Kami berpagi hari di atas fitrah Islam, di atas kata keikhlasan, di atas agama nabi kami : Muhammad saw., dan di atas millah bapak kami : Ibrahim yang hanif. Dan ia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba memaknai wirid al-matsurat dengan hati yang bening,  menghadirkan selalu semangat tiap pagi hingga petang. Mengikhlaskan segala kejadian yang tlah ditetapkan-Nya. Meyakini bahwa setiap apa yang tlah digariskan-Nya adalah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan pahit yang kualami seperti kisah-kisah yang ada dalam sinetron. Rasanya tragedi yang beruntun dalam keluargaku adalah rentetan kisah dalam sinetron yang di-skenario dengan sangat sempurna. Dan bukankah memang segalanya tak pernah bisa lepas dari skenario Allah, Tuhan Semesta Alam? Bila saja berandai-andai itu boleh; ingin sekali aku lari dari kenyataan. Tapi itu tak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih yang begitu menghunjam. Seketika kurasa perih yang teramat sangat ketika tanpa sengaja kubuka sms di HP ayah. Sms di tanggal 1 Syawal itu dikirim oleh seorang wanita. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bah, di hari yang fitri ini aku minta maaf. &lt;br /&gt;Ingin sekali aku ada di sampingmu &lt;br /&gt;tapi apalah dayaku. Aku hanya wanita keduamu&lt;br /&gt;Tapi aku sangat mencintaimu, Bah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Astagfirullah….&lt;/span&gt;Kulantunkan istighfar berulang-ulang. Menepis dzon yang buruk tentang ayah. Bagaimana mungkin ayah, sosok yang senantiasa bijak di mataku, ternyata berkhianat. Ayah, seorang tokoh masyarakat yang kredibilitasnya sebagai seorang pendidik tak pernah kami ragukan, ternyata berselingkuh. Ayah, yang meyakinkan ibu bahwa jilbab yang menutup seluruh tubuhku tak akan menghalangiku untuk menjadi gadis lincah dan berprestasi, ternyata berpaling dari wanita yang telah melahirkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali aku mencaci maki diriku sendiri yang terlambat mengetahui berita buruk itu. Aku yang dalam hati sering memproklamirkan diri sebagai aktivis dakwah kampus ternyata terlambat menyadari  badai yang menghantam bahtera rumah tangga yang telah dibina lebih dari 23 tahun. Di mana kepekaanku? Di mana empatiku ketika tiap kali pulang kulihat ayah jarang di rumah. Bahkan aku tak sedikit pun menaruh curiga ketika ibu semakin kurus. Kupikir ayah sibuk dengan bisnis kayu jatinya sedangkan ibu semakin langsing karena diet dan rajin ikut senam kebugaran dua kali dalam seminggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana tanggungjawabku? Aku yang kuliah hanya beberapa kilo dari rumah tak mampu memberikan perhatian yang lebih pada keluarga. Mana aplikasi dari materi birul walida’in yang beberapa kali kuberikan pada adik-adik mentorku di SMA? Mengenaskan sekali ketika agenda kampus yang padat membuatku jarang pulang. Padahal jarak Solo-Sragen tak ditempuh dalam waktu yang lama. Tidak seperti Mbak Eka yang kuliah di STAN. Tidak pula sama dengan Mas Dwi yang kuliah di ITB.&lt;br /&gt;Ketika aku minta maaf pada Mbak Eka dan berkata bahwa aku-lah yang harus disalahkan dalam musibah yang membuat ayah akhirnya pergi dari rumah, Mbak Eka menggenggam erat tanganku.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Segala yang terjadi tlah menjadi ketetapan Allah, Dik. Jangan pernah menyalahkan diri. Jadikan ujian ini kendaraan yang megah yang akan menghantarmu bermunajat, bermesraan dengan Allah Yang Maha Penyayang. Mbak tahu, kau sangat terpukul tapi mbak sangat yakin kau adalah gadis yang tegar.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Eka, kakak yang selalu menjaga perasaanku, saat itu sudah menyelesaikan tugas akhirnya. Tinggal menunggu masa wisuda dan penempatan kerja. &lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kau merasa bangga &lt;br /&gt;akan dunia yang sementara &lt;br /&gt;Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi &lt;br /&gt;meninggalkan dirimu….****&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana awal bermulanya. Mas Dwi tak mampu lagi menahan emosi. Melihat Retno, wanita pemicu nyala api di antara ayah dan ibu, hadir di sidang perceraian, kakak laki-lakiku yang gagah tiba-tiba berlari dan menghunjamkan pisau tajam ke dada wanita itu.&lt;br /&gt;Wanita itu roboh. Ia segera dibawa ke rumah sakit tapi nyawanya tak bisa diselamatkan. Sidang perceraian ditunda. Beberapa hari berikutnya memang ada persidangan, tapi tak lagi di pengadilan agama. Ya! Sidang pengadilan akhirnya memutuskan  masku menghuni penjara atas tuduhan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masku memutuskan naik banding. Kutelepon Mbak Eka untuk segera pulang dan mencarikan pengancara. Tapi ternyata Allah punya skenario lain. Bus Patas yang ditumpangi kakakku bertabrakan dengan truk tronton saat hendak menyalib bus antar propinsi di tikungan. Tak banyak yang selamat. Masih beruntung Mbak Eka sempat di bawa ke rumah sakit. Masa koma telah lewat. Tapi ternyata itu adalah keadaan yang  dihadiahkan-Nya agar kami bisa benar-benar mampu menyaksikan kepergiaannya yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada haru yang senantiasa menitikkan butir-butir bening di mataku tiap kali aku mengingat kata-kata terakhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau adalah anak yang baik, kau tahu itu, kan***? Setahu Mbak, kau adalah gadis yang tegar melebihi mbakmu ini. Tetaplah bersemangat adikku, meski Mbak Eka tak lagi di sampingmu.”&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di sana ada malaikat yang kasar dan keras yang tidak akan mengelak perintah Allah kepada mereka dan mereka melakukan apa-apa yang diperintahkan.”&lt;/span&gt; (Q.S At-Tahrim : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember yang basah tlah benar-benar sampai di penghujungnya. Terompet tahun baru tlah duabelas kali terdengar. Kulepas jaket Mbak Eka, membiarkan dingin menyapa kesendirianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga hal yang pahalanya akan terus mengalir sampai mati.”&lt;br /&gt; Tiba-tiba suara Mbak Eka saat aku menangis di pelukannya kembali terngiang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amal jariyah, doa anak yang shalih dan ilmu yang bermanfaat.”&lt;br /&gt;Kubuka jendela  kamar kos perlahan. Refeks, tatapku menengadah menatap langit tak berbintang. Gelap pekat; terlihat awan menggumpal. Gerimis kecil masih berjatuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik Tri, dalam sebuah hadist riwayat Bukhari &amp; Muslim, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilakah aku menjadi sosok itu, Mbak?” retoris, tanyaku saat itu terucap sendu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, bila saja kau punya tekad yang kuat. Lalu biarkan azzam itu menjadi bara. Jagalah bara shalihahmu agar terus menyala. Wanita yang didunianya shalihah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari****.”&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah &amp; ibu, ………&lt;br /&gt;Ini impianku :&lt;br /&gt;ingin menjadi anak yang sholeh&lt;br /&gt;Menolong ayah, &lt;br /&gt;membantu ibu &lt;br /&gt;Terus berbakti di negeri abadi…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O&lt;span style="font-style:italic;"&gt;, Tuhan beri kekuatan iman….&lt;br /&gt;Kepada kedua ayah dan ibuku&lt;br /&gt;Kau ampunkan segala kelemahan&lt;br /&gt;Senantiasa dalam bimbingan-Mu………&lt;/span&gt;…******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari! &lt;br /&gt;Awal bulan pertama dalam hitungan masehi kali ini berhasil kulewati tanpa hingar bingar. Tiada ayah di sisi. Tidak pula Mbak Eka, ibu, Mas Dwi, dan Dik Catur. Kebersamaan dengan mereka dalam satu waktu adalah kenangan yang akan selalu menyalakan bara di hatiku. &lt;br /&gt;Hari ini aku pulang ke Sragen. Minggu tenang selama 7 hari sebaiknya kuhabiskan di rumah saja. Menemani Dik Catur belajar. Membantu ibu menjaga toko kelontong kami yang mulai berkembang. Usai Ujian Akhir Semester kan kutengok Mas Dwi di LP. Menyemangatinya untuk selalu berbenah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb, sucikan selalu niatku &lt;br /&gt;agar tiada lagi resah di jiwaku&lt;br /&gt;Jaga asaku menggapai jannah-Mu&lt;br /&gt;Maka : izinkan aku menyalakan bara shalihah sepanjang hayatku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖ ﺏﻱﺖ ﺏﻱﺖ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi: sebuah rumah yang sangat nyaman, &lt;br /&gt;02 Januari 2006 : 12.02&lt;br /&gt;Kado wisuda (yang telat tapi tulus) buat masku : maafkan aku tak hadir di wisudamu. Jazakumullah khoir untuk semangat yang selalu dipompakan; terkhusus untuk Bulik Hery &amp; 2 mujahidah kecilku : Rohmah &amp;Nahdah.&lt;br /&gt;* : gubahan sms dari Mbak Ferriya, yang menyemangatiku menyelesaikan 3 tulisan.&lt;br /&gt;** : bait nasyid dari SNADA&lt;br /&gt;* ** : perkataan Mr. Kobayashi pada Toto-Chan yang sering ditirukan Dek Wiwit,dkk.&lt;br /&gt;**** : bait dari “Bila Waktu Tlah Berakhir” (Opics)&lt;br /&gt;***** : kata-kata di E-book Islami di CD hadiah kuis dari Humas SKI FKIP UNS.&lt;br /&gt;******: bait nasyid di winamp, nggak tahu siapa yang menyenandungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-5283374118938894390?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/5283374118938894390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/bara-shalihah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5283374118938894390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/5283374118938894390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/bara-shalihah.html' title='BARA SHALIHAH'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-2789923430466444958</id><published>2009-02-16T23:33:00.000+07:00</published><updated>2009-02-20T13:29:46.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MELIHAT DIRIKU DI SETIAP SISI1</title><content type='html'>Dalam islam wanita tidak pernah sedikitpun dikebiri kebebasannya dalam meningkatkan kualitas dirinya untuk maju. Wanita seperti halnya lelaki diberi kebebasan dalam menuntut ilmu, bekerja (membantu suami) dll. Kita tahu Khadija, istri nabi yang memiliki kekayaan berlimpah sebagai bisnis women yang sukses. Kita tahu Aisyah, yang dengan kecerdasannya mampu menghafalkan ratusan hadits-hadits rasullullah. Dan kita tahu bagaimana seorang Syafiah turut berperang/berjihad di dalam salah satu peperangan bersama nabi. 2&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fathimah masih bertahan di depan komputer. Rasa kantuk yang datang telah coba diusirnya dengan segelas kopi tulen. Kebiasaan buruk itu memang susah dihilangkan meski sebetulnya dalam salah satu muwashofat yang harus dipenuhinya adalah tidak mengkonsumsi kopi, teh dan minuman yang tidak baik untuk kesehatan. Apa boleh buat.. gadis itu harus bertahan dan membaca sebagian files yang diwariskan oleh para pendahulunya. Ia ingin belajar dari sejarah. Bukankah belajar sejarah adalah keharusan untuk menjadi maju dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Ada pula yang mengatakan bahwa orang yang bijak adalah orang yang mau belajar dari sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis 22 tahun itu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar HP yang diletakkan di meja sebelah bergetar. Ada satu pesan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teruntuk U’Fathimah. Bismillah.. Ukhti, Insya 4JJi ana akan menggenapkn dien ana. Tgl 28 Okt jam 7 pgi (Akad&amp;amp;walimah). Mhn doa dan kehadirannya. Syukron. Wulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum. Subhanallah! Alhamdulillah! Berulang-ulang tasbih dan tahmid pun terlantunkan dalam hatinya. Teman ngajinya masa SMA satu demi satu menggenapkan diennya.&lt;br /&gt;Kapan giliranku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya itu kemudian ditepisnya. Masih banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ia ingin ketika masa itu tiba ia telah benar-benar siap. Baginya menikah adalah rekayasa dakwah, bukan lintasan keinginan yang harus dituruti. Emangnya seperti buat mie instant? Gadis itu lagi-lagi tersenyum.  Fragmen-fragmen yang berserakan yang telah dilaluinya pun hadir menyapa; menghentikan aktivitasnya beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;SEPENGGAL FRAGMEN SEORANG ‘MBAK’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“‘Wanita yg baik adl utk laki2 yg baik &amp;amp; laki2 yg baik adl utk wanita yg baik2’.  Mba’ ukuran wanita baik2 tu seperti apa?&amp;amp; bagaimana? Aq bingung, apa ya hrs pake  kerudung/jilbab besar? Af1 ganggu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu HP sengaja tidak kuaktifkan. Rasanya  tiap SMS yang masuk, membuatku semakin tertekan. Biasa, kalo’ lagi stress tiap bunyi dari ‘kotak unyil’ itu terdengar berisik dan mengusik ketenangan yang beberapa hari terakhir ini tak kutemukan. Esoknya ketika HP kembali aktif, beruntun SMS masuk memenuhi inbox. Salah satunya berisi pertanyaan Ika, salah satu adik binaanku. Pertanyaan yang cukup menarik, yang menurutku wajar ditanyakan oleh seorang gadis yang mulai menginjak usia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali kulantunkan istighfar, teringat janji untuk siap dihubungi kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya kalo’ ada permasalahan hubungi mbak. Kapan saja, Insya ALLAH online 24 jam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh free talk, dong Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dan mengangguk, “Kalo’ nggak diangkat berarti nggak dengar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Ternyata aku nggak bisa memenuhi janji apalagi kalau pulsa lagi kosong.. Free talk sih Oke, tapi kalo’ SMS? Nggak bisa ngasih a good service, dong! Tapi Alhamdulillah, sebagian telah mengerti. Semacam kesepakatan nggak tertulis:kalau nggak membalas SMS artinya nggak punya pulsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang terjadi sekarang: aku telat membalas SMS bukan karena pulsa. Aku sedang tidak ingin dihubungi oleh siapapun. Hmh… something wrong with my hearth. Biasa sedang banyak deadline. Astaghfirullah. Aku harus ber-istighfar dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca SMS itu sekali lagi. Beberapa kali aku tertegun, mencoba mencerna kembali pertanyaan itu.  Kata-kata yang sebenarnya lebih tepat untuk kumamah kembali. Sebab menjadi wanita yang baik memerlukan proses dan tidak bisa dicapai dalam sekejab. Aku  jadi teringat lembar kajian muslimah yang kususun waktu masih di keputrian Rohis SMU. Dari beberapa buku rujukan, disebutkan kriteria tentang wanita yang baik (baca: shalihah). Kriteria yang cukup singkat tapi masih memerlukan banyak penjabaran. Tiga diantaranya, yang sampai saat ini masih kuingat, adalah wanita wanita yang taat kepada Allah, yang taat pada Rasulullah, dan berjihad di jalan-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menemukan kata-kata yang tepat untuk mendefinisikan wanita yang baik. Apalagi via SMS. Akhirnya aku mengirimi Ika beberapa kalimat yang kuketik dengan ‘kotak unyil’ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan jadikan ukuran kerudung sebagai parameter. Sebab itu hanya penampakan dzahir saja, De’. Ukuran besar kecilnya kerudung tidak selalu berbanding lurus dengan keimanan seorang muslimah. Yang penting menutup aurat dengan baik. Ngerti maksud, mbak, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas tentang laki-laki yang baik, Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What? Apa maksud adikku.&lt;br /&gt;“Mbak jelaskan pada pertemuan rutin kita, ya!,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEPENGGAL  FRAGMEN SEORANG UKHTI FSLDK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabar Jarmus FSLDK? Hari ini ada syuting jam 14.00. Agenda: evaluasi tim jilbab nas, PPM, dan JKD.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dari Uni Agustiba Zahara, Koordinator Komisi C FSLDK3, mengingatkanku bahwa hari ini ada syuro’ chatting (syuting).  Rasa bersalah kembali hadir, lagi-lagi aku tidak bisa ikut. Jam dua aku masih ada kuliah sampai Ashar. Untuk kesekian kali aku mem-forward SMS itu ke Mbak Anis, berharap ia bisa hadir dalam syuro’ di dunia cyber. Ya! Bagaimanapun chatting adalah alternatif yang yang paling efektif untuk melakukan koordinasi dengan teman-teman antar wilayah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) merupakan salah satu bentuk komunikasi dakwah yang berfungsi sebagai sarana terciptanya gerak dakwah yang teratur, terpadu, kompak saling menguatkan laksana bangunan yang kokoh menuju terbentuknya ummatan wahidah4. Di dalamnya terdapat tiga komisi, dan aku lebih sering berada di komisi C, nama lain dari komisi Jaringan Muslimah. Ada beberapa progam kerja terkait dengan kebutuhan dan isu-isu kemuslimahan yang berkembang. Selain isu jilbab, pornografi dan pornoaksi, Pengembangan Potensi Muslimah (PPM) menjadi agenda yang  dievaluasi hampir setiap syuro’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPM merupakan sebuah program yang berfungsi untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh muslimah sehingga dapat memperlancar aktifitas LDK di kampus dan untuk lebih mengoptimalkan peran muslimah sebagai aktifis dakwah. Hasil akhirnya nanti adalah untuk membuat standarisasi konsep keputrian LDK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmh,.. PPM! Mengeja tiga huruf itu akan mengingatkanku pada training PPM yang sempat kuikuti di Padang akhir bulan Maret yang lalu. Sayangnya, sampai sekarang Buku PPM belum bisa dilaunchingkan. Jarmusnas masih menunggu masukan dari BP-BP5 yang lain. Masukan dari UNS sudah kusampaikan langsung ke Uni Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar kusenandungkan mars muslimah yang pernah dibawakan para kabid Nisaa’ fakultas-fakultas yang ada Unand:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengarlah wahai muslimah&lt;br /&gt;Janganlah pernah menyerah&lt;br /&gt;Berjuang….Fii sabilillah&lt;br /&gt;Muslimah benteng kebenaran&lt;br /&gt;Nan selalu rindu kejayaan&lt;br /&gt;Muslimah pewaris tahta nan gemilang&lt;br /&gt;Pendidik generasi yang cemerlang….. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Mars Muslimah Universitas Andalas, Padang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas), yang dulu dipegang UNS, berpindah ke Unand dan UNS menjadi BP belum banyak progress report dari kinerja yang ada. Tinggal setahun lagi amanah puskomnas ini akan berpindah tangan. Dan dalam hitungan waktu yang sudah lebih setahun aku belum bisa memberikan kontribusi apa-apa.  Astaghfirullah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;SEPENGGAL FRAGMEN SEORANG CALON PENDIDIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku tertegun ketika mendengar seorang ummahat bercerita tentang kehidupan rumah tangga. Aku merasa tersindir, seolah-olah taushiyah beliau memang sengaja diberikan kepada orang-orang yang lebih sering berpikir pragmatis sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSLIMAH TANGGUH! Begitulah aku memberi judul atas rangkaian kata yang beliau susun untuk para gadis lajang yang beberapa di antaranya sudah hampir diwisuda. Intinya: seorang muslimah memang membutuhkan banyak bekal yang cukup untuk kehidupannya yang akan semakin penuh dengan nuansa pelangi. Aku mengangguk dalam diam ketika umi (begitu aku dan teman-teman memanggilnya) bertutur tentang berbagai bekal yang harus dimiliki oleh  muslimah, khususnya muslimah yang da’iyah, sebelum menghadapi kehidupan pasca pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata materi tarbiyatul aulad yang selama ini kudapatkan masih belum cukup. Aku memang masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang pendidik. Aku jadi teringat SMS dari seorang kakak tingkat yang dikirim ketika aku benar-benar tidak bersemangat menghadapi anak-anak SMP yang kuajar saat PPL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bknny menglng  kslahan, siklus hidup adl prss bljr &amp;amp; prss bljr adl manifestasi ibadah seorg muslim &amp;amp; qt akn mdptkn hsil ssnggny stlh maut mjmpt, ktk kubur dilpngkn smp 70 hsta, ktk dplihtkn pntu surga yg akn qt tmpt klak dipadi&amp;amp;sore hr. Dan 1 hal yg prlu qt syukuri, qt saat ni msh dbri ksmptn u bljr, bljr, &amp;amp; bljr smp liang lahat. Tdk smua org mdptkn ksmptn ini, sxpun qt mnggp seolah2 qt org tbodoh di dunia. Niat lurus, nkmti hdp:pkkny apapun yg tjd shw mst go on, nvr give up. Smg 4jji br kmdhn.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun seorang wanita, jika ALLAH mengizinkan, adalah seorang pendidik meskipun tidak semuanya menjadi guru di sekolah formal. Dari rahimnyalah kelak akan lahir generasi baru. Di tanganlah pertama kali seorang anak belajar. Jadi tak ada alasan sedikit pun untukku berhenti mencari bekal untuk kehidupan di masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan memang indah namun kehidupan pasca pernikahan-lah yang harus  lebih dipersiapkan.&lt;br /&gt;ﺏﻱﺖﻱ@F&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan…Wulan… berbahagialah. Semoga ALLAH anugerahkan lelaki berhati cahaya sebagai pendamping hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir tentang menikah selalu membuat fantasi Fathimah ke mana-mana. Ia  selalu mengkaitkannya dengan posisi wanita di kehidupan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelami dunia wanita tiada kan ada ujungnya. Sungguh harusnya aku bersyukur ditakdirkan menjadi wanita  meski terkadang aku tak mengerti kenapa eksistensiku pun selalu tak jauh dari dunia wanita; di Rohis SMA aku masuk di divisi keputrian, di LDK masuk Bidang Nisaa’, di FS bagian Jarmus, dan baru-baru ini ‘dipaksa’ menjadi bagian dari ‘English Sisters’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathimah pun kembali ke alam nyata. Fragmen-fragmen  yang sempat terlintas membuatnya berkaca. Membuatnya merasa tersadar bahwa begitu berat tugas yang diembannya sebagai seorang wanita. Namun bukankah ALLAH menjanjikan keindahan yang lebih di akhirat jika ia ikhlas melaksanakan semua kewajiban yang dibebankan padanya? Perlahan dibacanya kembali tulisan yang ada di layar komputernya. Tulisan yang membahas tentang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam ingin memuliakan wanita menjadi wanita yang aktif yang berinteraksi dengan realita baru,berpartisipasi dalam memeliharanya dan ikut aktif dalam pengembangannya menuju universilitas islam. Ajaran islam yang berkaitan dengan wanita ditujukan untuk mencetak wanita haraki yang aktif dalam pembinaan diri, keluarga, pekerjaan dan masyarakatnya.bila ia mampu menjadi wanita yang aktif lagi positif,wanita baru akan merasakan nilai dari kedudukannya yang hakiki sebagai wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itulah yang seharusnya ada dalam diri kita (akhwat) wanita yang memilki kekhasan yang menjadi dirimya “luar biasa”di mata Allah dan mulia juga di mata sesamanya.yaitu:&lt;br /&gt;Wanita yang memilki kepribadian yang kuat,berani dan percaya diri, berpikir rasional, sistematis, memilki kemempuan intelektual dalam megkritik,mengevaluasi,membangun,menentang dan memilih serta mandiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu saudariku kita dalam proses menuju ke sana dan hal ini harus dimulai dari sekarang dan satukan semua tekad dan optimalkan potensi diri, ambillah bagian dalam barisan para syuhada ALLAHU AKHBAR.. 6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALLAHU AKBAR! Refleks, gadis itu pun bertakbir usai membaca paragraf terakhir. Ada semangat yang kini membara di jiwanya. Semangat untuk membuat bidadari-bidadari surga cemburu padanya.  Sepenggal hadits yang dijadikan pelecut semangat kini diingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…wahai Rasulullah, manakah yang lebih baik antara wanita-wanita dunia dengan bidadari bermata jeli? Jawab Rasulullah Saw., wanita-wanita dunia lebih baik daripada bidadari-bidadari bermata jeli sebagaimana bagian luar lebih baik daripada bagian dalam. Mereka lebih baik karena sholatnya, puasanya, dan ibadahnya kepada ALLAH SWT….” (HR. AThabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F@, 25 Oktober 2006:20.24&lt;br /&gt;Special 4: Retno Wulandari, Heni Marina &amp;amp; Hannah Kuswara Nova!Luv u all!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOOTNOTES:&lt;br /&gt;1 : terinspirasi dari bait-bait Harmoni Voice&lt;br /&gt;Aku bersimpuh di hadapan ALLAH/ Kusujudkan wajahku pada debu-NYA/ Menohon aku agar diridhoi-NYA/ Melihat diriku di setiap sisi/ Agar kutemukan kesejatian/ dan mengerti akan arti kehidupan.&lt;br /&gt;2  : paragraf kedua dari Artikel “EUPHORIA, DISTORSI FEMINISME” yang ditulis Yanti Rahim, saya temukan di antara file “LOKOMOTIF FSLDK” yang dicopy dari FKI Rabbani, Universitas Andalas, Padang&lt;br /&gt;3  :    FSLDK=Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus; jaringan Lembaga Dakwah Kampus nasional. Dari hasil FSLDKN XIII di Samarinda, mengamanahi FKI RABBANI UNAND PADANG sebagai puskomnas periode 2005-2007&lt;br /&gt;4  : pengertia FSLDK dari artikel “FSLDKN, MATA RANTAI PERJUANGANPEMUDA MENUJU INDONESIA BARU” yang ditulis oleh Dimas Bayu Susanto, anggota Puskomnas JN UKMI UNS periode 2002-2005&lt;br /&gt;5 BP : Badan Pekerja Puskomnas; berfungsi sebagai kepanjangan tangan  dari puskomnas untuk lebih memudahkan komunikasi dengan puskomda-puskomda yang berada dibawahnya. UNS adalah 1 diantaranya BP yang ditunjuk oleh Puskomnas, sebagai pendamping untuk wilayah Indonesia timur.&lt;br /&gt;6 : empat paragraf terakhir dari artikel yang sama dengan footnotes ke-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-2789923430466444958?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/2789923430466444958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/melihat-diriku-di-setiap-sisi1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2789923430466444958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2789923430466444958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/melihat-diriku-di-setiap-sisi1.html' title='MELIHAT DIRIKU DI SETIAP SISI1'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-740041203676817905</id><published>2009-02-16T23:17:00.000+07:00</published><updated>2009-02-20T13:22:53.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>MELATI  MEWANGI HATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmSpAeT_dI/AAAAAAAAAWw/eez_D7R6kJA/s1600-h/akhwat+2.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 82px; height: 82px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmSpAeT_dI/AAAAAAAAAWw/eez_D7R6kJA/s320/akhwat+2.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303431269404900818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibu kulo nyuwun arto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ing njawi wonten kere&lt;br /&gt;Kere lumpuh lan wuto&lt;br /&gt;Sambat ngelak lan luwe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iki angger wenehno&lt;br /&gt;Sega iwak lan banyu&lt;br /&gt;Kerene kandanono&lt;br /&gt;Kongkon rene saben minggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENTAH mengapa bayangan nenek selalu berkelebat  di hadapannya tiap kali ia melewati bolevard kampus hijaunya. Bahkan ia pun tak mengerti mengapa telinganya seolah menangkap tembang yang seringkali dinyanyikan bersama ibu di masa kecilnya. Kenangan manis itu menyapanya tanpa diminta, membuatnya terpaku sejenak. Kemudian baik dengan lapang dada atau pun terpaksa ia akan merogoh saku tasnya lalu mengambil beberapa koin logam. Sebentuk senyumnya akan mengembang beriringan dengan perpindahan beberapa koin logam ke topi caping yang diletakkan tepat di hadapan perempuan-perempuan tua yang selalu duduk di trotoar jalan hampir setiap waktu dhuha.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada tiga orang perempuan tua yang menengadahkan tangan, menampakkan wajah penuh harap akan belas kasihan para pejalan kaki yang berjalan menuju ke bagian dalam kampus. Dan ia adalah salah seorang yang tak pernah tidak memperhatikan para perempuan tua seumur neneknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin aku membiarkan nenek itu berhampa tangan sedang  Ibu selalu membekaliku uang berlebih setiap aku berangkat dari rumah. Sisi batinnya selalu memprotes rasa jemu yang kadang hinggap dan mengeruhkan dzonnya. Kadang hatinya mengatai mereka sebagai orang-orang malas yang senang menggantungkan nasib pada orang lain. Kadang ia pun jengkel mendengar rengekan yang sangat dihapalnya, “Den Ayu, kula nyuwun paring-paring.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh ia akan tetap memberi mereka tidak kurang dari dua ratus rupiah per orang. Kalkulasi matematika atas sejumlah uangnya yang begitu saja berpindah tangan  tak pernah diingatnya. Karena memang ia menyadari bahwa dalam setiap harta yang dimilikinya ada bagian untuk orang lain. Tiada pilihan  selain melafalkan istighfar yang akan mengembalikan ikhlasun niatnya. Bukankah ia sudah bertekad untuk berbagi dengan siapa saja yang memerlukan baik diminta maupun tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nduk, bagaimana perasaanmu jika kau ada dalam posisi mereka?”  pertanyaan retoris Ibu membuat dadanya lapang dan ia akan sekuat tenaga menyingkirkan prasangka yang mengganggu benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Analogikan saja mereka dengan dirimu yang selalu menengadahkan tangan pada Ibu tiap pekan!” Nasehat yang dinilainya sangat bijak. Mengingatnya sama halnya dengan memutar kenangan masa kanak-kanaknya. Begitu mulia apa pernah yang diteladankan ibu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Min Gesot datang!”  lapornya jika  pengemis ‘langganan’nya telah nampak di pelataran rumahnya dengan pakaian compang-camping plus wajah memelas. Rutinitas yang menghiasi hari minggu masa kanak-kanaknya  membuatnya senang menyanyikan lagu tentang kere yang datang ke rumahnya karena lapar dan haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibu kulo nyuwun arto&lt;br /&gt;Ing njawi wonten kere&lt;br /&gt;Kere lumpuh lan wuto&lt;br /&gt;Sambat ngelak lan luwe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iki angger wenehno&lt;br /&gt;Sega iwak lan banyu&lt;br /&gt;Kerene kandanono&lt;br /&gt;Kongkon rene saben minggu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu akan tersenyum, memberinya bungkusan nasi dan plastik berisi air putih.  Dan seperti yang diajarkan ibu di hari-hari sebelumnya ia segera membawa bungkusan itu lalu menyerahkannya pada pengemis dengan wajah ceria. Ibu pernah menasehatinya; bahwa tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Ia tak mengerti. Baru setelah duduk di bangku SD dan belajar peribahasa, ia mulai belajar mencerna kebenaran dari nasehat ibu; bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yas, kamu  ada uang?” bisik Vika, teman sekosnya usai sholat duhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum. Vika masih berhutang sepuluh ribu rupiah. Jika ia mau meminjam kepadaku lagi berarti rencanaku untuk membeli buku Agar Bidadari Cemburu Padamu-nya Salim A.Fillah akan tertunda lagi. Ia membantin. Angin yang menerobos dengan leluasa ke Masjid Nurul Huda tak mampu menularkan kedamaian. Ada bimbang yang berkecamuk di hatinya. Penting mana antara membeli buku atau menolong teman? Itsar, Yas! Ia berusaha untuk menepis keegoaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yasmin!” Vika mengeraskan suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh...i ya..i ya.... kenapa Vik?”  Ia tergagap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lupa bawa uang. Padahal harus membayar uang fotokopian ke Ayu. Kamu bisa tolong aku, nggak? Please deh...Yas! Insya Allah besok aku kembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa?” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua puluh ribu. Kamu punya, nggak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya bawa uang sepuluh ribu. Kekurangannya pinjam teman yang lain ya! Afwan, aku harus ke kampus sekarang. Ada kuliah . Yuk, assalamu’alaikum.” Ia menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan pada Vika. Dengan terburu-buru ia segera menuruni tangga masjid dan membawa langkahnya menuju kampus yang hanya berjarak beberapa meter dari masjid Nurul Huda. Tapi baru beberapa langkah dari pintu masjid, Ivan, seorang bocah usia lima tahunan telah menantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, minta uangnya untuk beli nasi!” rengekan yang sangat dihapalnya. Hm...selalu begitu. Dan kali ini ia tidak berkomentar apa-apa. Biasanya ia akan menasehati bocah kecil itu dengan beberapa kalimat tapi kali ini ia hanya berlalu dengan kesedihan yang mendalam. Siapa orang tua bocah kecil itu? Siapa yang mengajarinya untuk ‘bekerja’ di kompleks masjid kampus?  Ia hanya mengeluh dengan pertanyaan yang masih juga sama dengan hari-hari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan, di sela-sela kota, kulihat tangan tengadah&lt;br /&gt;Wajah lelah resah, tubuh lusuh berpeluh, menunggu para penderma&lt;br /&gt;Jalan hidup tlah meredup, ujian dari Allah&lt;br /&gt;Ladang cinta sang penderma, Sbagian tanda taqwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balada Dhu’afa dari Mupla mengalun lirih di kamar kosnya yang sempit. Diletakkannya diktat kuliah yang belum juga sempat dibacanya. Bayangan Min Gesot yang datang ke rumahnya dengan pakaian compang-camping kembali mengusiknya. Di mana rasa empati yang pernah diinternalisasikan dalam jiwanya? Di mana kepedulian yang dulu mewarnai hari-harinya? Di mana tekadnya untuk senantiasa memberi, baik dalam keadaan ringan atau berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nduk, kamu tahu kenapa Ibu memberimu nama Yasmin Rizki Ramadhani?”&lt;br /&gt;Ia menggeleng ketika tiba-tiba ibu menyodori pertanyaan tentang sejarah nama uniknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yasmin itu melati. Bapak suka sekali dengan bunga itu karena meski kecil dan kadang tersembunyi tapi wanginya mampu mengikat hati. Putihnya suci dan nggak menyolok hingga tak pernah membuat jemu orang yang memandangnnya. Rizki Ramadhani karena kau lahir di bulan Ramadhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm...nama yang cantik sekali. Pasti bapak orang yang romantis. Pikirnya sederhana.&lt;br /&gt;“Kau tahu, Nduk, nama adalah do’a. Ibu dan bapak berharap kau mampu menjadi seperti melati.”&lt;br /&gt;Astaghfirullah! Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi ruang hatinya. Akankah ia mampu untuk mewujudkan pencitraan melati pada dirinya? Akankah ia mampu mencerna kata-kata yang sering diberikan pada adik-adik asistensinya? Bahwa sebaik-baik mukmin adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap muslim adalah bersaudara Ibarat tubuh, kita adalah satu. Jika ada satu bagian saja yang sakit yang lain ikut merasakan.”  Kalimat yang diucapkannya sebagai prolog waktu menasehati adik tingkatnya yang cenderung apatis dalam setiap masalah  di LDK kembali terngiang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kau mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, Yasmin? &lt;/span&gt;Ia menyudutkan dirinya sendiri. Ternyata teori tentang ukhuwah yang sering diagung-kannya masih sangat sempit dalam pemahamannya. Ia hanya berpikir, bagaimana mengaplikasikan teori itu sebatas pada orang-orang yang dicintainya? Setiap muslim adalah bersaudara. Meski tidak saling mengenal. Jadi selama ini aku belum mampu memenuhi hak saudara-saudaraku. Kesimpulan yang sungguh dengan terpaksa tak dibantahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika diriku bercermin di kaca akau jadi malu&lt;br /&gt;Melihat bayangan yang berjilbab putih itulah diriku&lt;br /&gt;Tapi nyatanya hati dan tingkah lakuku&lt;br /&gt;Belum sesuai dengan pakaianku.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar bibirnya menyenandungkan bait nasyid dari Bestari yang dihapalnya bersama teman-teman masa SMP-nya. Seperti hari-hari yang lain, ia mengenakan jilbab warna putih. Ia tampak bahagia hari ini. Mungkin efek dari  supplai energi mabiru yang diikutinya semalam.&lt;br /&gt;Hari ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berjuang menjadi seputih melati. Menghilangkan segala tuntutannya untuk diperhatikan. Ia berjanji untuk menjadi muslimah yang baik, yang mampu memberi manfaat bagi siapapun. Ia berjanji untuk lebih peka terhadap lingkungan. Ia berjanji untuk membumikan teori tentang ukhuwah yang telah dipelajari sejak ia masih kelas tiga SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yas, mau berangkat ke kampus lagi, ya?”  Pertanyaan Vika sedikit mengejutkannya. Ia melirik sahabatnya dari cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, Vik. Abis kuliah nanti aku langsung pulang ke rumah lho... Insya Allah Senin pagi aku kembali ke sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang lagi? Apa nggak capek?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau ikut?” tawarnya tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm..lain kali aja. Tugasku menumpuk. Jangan lupa bawa oleh-oleh ya!”&lt;br /&gt;“Insya Allah.” Jawabnya serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tresno iki dudu mung dolanan&lt;br /&gt;Kabeh mau amargo kahanan&lt;br /&gt;Sing tak jaluk amung kesabaran&lt;br /&gt;Mogo Gusti paring kesempatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum mendengar suara bocah usia SD yang berdiri tak jauh dari joknya. Kenapa bocah  ingusan juga senang dengan lagu campur sari macam itu? Wajahnya seketika berubah. Kasihan sekali .bocah itu. Ya Allah....berikan kasih sayang dan cinta-Mu kepadanya. Ia berdoa tulus. Lalu bunga-bunga empati yang dikejawantahkan melalui kepingan koin lima ratusan pun diberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus Sumber Kencono jurusan Jogja-Surabaya melaju cepat. Sampai di daerah Pilang Sari, Sragen, bus berhenti menurunkan beberapa penumpang dan mengganti- kannya dengan penumpang baru plus pedagang asongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buah...buah.” seorang ibu menawarkan dagangannya.&lt;br /&gt;Ia segera menyiapkan selembar uang bergambar Kapitan Pattimura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buahnya...Mbak. Semangka, nanas, melon...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melon Bu’, kaleh.” Ia ingat Mbah Putri yang kadang kesulitan mencari buah untuk menurunkan darah tingginya. Dan bukankah melon adalah salah satu buah ‘favorit’ Mbah Putrinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buahnya...Mas! Semangka, nanas, melon, kates, bengkoang, jeruk....”&lt;br /&gt;Diperhatikannya sejenak ibu penjual buah yang berusaha menjaga keseimbangan. Ia berpindah dari bus demi bus untuk menawarkan dagangannya.  Subhanallah. Betapa kerasnya kehidupan ini hingga seorang ibu pun turut membanting tulang demi menghidupi diri dan mungkin anak-anak yang dicintai. Ya...Allah ampuni aku bila selama ini kurang menghargai tiap tetesan keringat kedua orang tuaku. Batinnya bergemuruh...kemudian air yang menggenang di pelupuk matanya terasa begitu panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus Sumber Kencono masih melaju kencang. Ia mencoba memperbaiki posisi duduknya. Disandarkan tubuh letihnya pada sandaran jok. Ia mencoba untuk menikmati perjalanannya dengan memejamkan mata. Jarak Sragen-Ngawi tinggal beberapa kilometer. Bayangan Ibu di rumah yang menunggu kedatangannya terlihat begitu jelas. Bait-bait yang disenandungkan Salsabila Rafflesia tiba-tiba terngiang di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari dilalui&lt;br /&gt;Isak tangis terkadang menyayat hati&lt;br /&gt;Namun ia tetap tabahkan diri&lt;br /&gt;Moga syurga kan selalu menanti&lt;br /&gt;Derita demi derita&lt;br /&gt;Dilaluinya dengan tabah&lt;br /&gt;Tak pernah ia rasakan lelah&lt;br /&gt;Demi untuk membesarkan kita semua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukhuwah itu degup penuh makna yang m’ngalir indah b’sama darah b’awankan ketsiqohan m’nembus kuras prasangka dlm hati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U-khu-wah! Ia mengeja kata itu berkali-kali. SMS dari kakak kelas SMA yang kini kuliah di Surabaya itu coba dipahaminya. Ukhuwah itu indah. Ya betul, ukhuwah itu indah. Paling tidak, jalinan yang terjaga atas nama cinta karena-NYA itu mampu membuatnya percaya bahwa keindahan itu memang ada dan akan terus tumbuh tanpa tendensi apa-apa. Ia  adalah salah satu di antara orang yang  merasa beruntung karena ‘dibesarkan’ dalam media tumbuh yang sehat. Ya,  ukhuwah memang ada karena kasih sayang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa ia tak pernah memungkiri bahwa dalam bingkai ukhuwah ia mampu belajar banyak hal. Cinta, perhatian, dan kasih sayang mungkin adalah hal yang biasa ia temukan. Dalam bingkai ukhuwah ia pun menjadi mengerti; bagaimana cara memanagemen hati agar senantiasa lapang menerima segala kenyataan yang kadang di luar perkiraan; bagaimana menyampaikan kritik agar tidak tidak menjadi sayatan yang menyakitkan; bagaimana cara bersikap itsar dan memenuhi hak-hak saudara sebagai sesama muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm...ukhuwah itu indah. Sungguh! Tanpa ukhuwah, mungkin ia sudah tercebur dalam dunia kelam. Secuil perhatian dari saudara-saudaranya yang jauh di seberang adalah pompa semangat yang membuatnya  tetap optimistis memandang masa depan. Ketika ia merasa putus asa, seringkali Allah menegurnya via taushiyah seorang ikhwah. Ada haru yang segera membuatnya tersadar bahwa masih banyak orang yang menerima ujian yang lebih berat. Kemudian ia pun kembali yakin bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah itu indah! Ia pun bertekad untuk membagi keindahannya dengan siapa saja. Dengan para anak jalanan; pengamen, pedagang asongan dan saudara yang belum dikenalnya. Ia ingin merasakan segala suka duka yang mewarnai hari-hari mereka di sepanjang jalan.&lt;br /&gt;Ukhuwah itu indah. Maka di pertengahan Sya’ban ini pun ia tlah menyiapkan kado untuk kaum dhu’afa yang sering dijumpainya. Meski mungkin kecil, ia tlah menyisihkan uang sakunya demi sembako yang akan diberikannya pada beberapa orang yang secara tidak sengaja mengajarkannya makna perjuangan. Ya, mereka adalah para ibu yang sering dilihatnya menyapu dan membersihkan kawasan Kampus Hijaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah itu indah. Itulah mengapa ia dan teman-teman kampusnya akan menggelar  baksos di kawasan kritis yang menjadi target pemurtadan. Ia dan teman-temannya akan berjuang untuk menyelamatkan akidah yang tergadai karena kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah itu indah! Karenanya ia ingin membiaskan keyakinan kepada setiap orang yang merasa terbebani oleh ujian hidup dengan kata-kata yang pernah dihadiahkan seorang ikhwah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sbnrnya ktk 4JJI mmbr mslh, itu a/ bukti cinta-NYA pd hamba-NYA. Mk jk qta ttp huznudzon, Isy a/ byk hal yg akn qta dpt. KEIMANN, KSBRN, KDWSAAN, &amp;amp; KECINTAAN-NYA. Hny pd 4JJI qta bsrh dr.” &lt;br /&gt;.Ukhuwah itu indah! Ingin sekali ia membisikkan kata itu kepada siapa saja yang ditemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tiada kata indah seindah kata ukhuwah&lt;br /&gt;Dalam sebuah jalinan persaudaraan Islam&lt;br /&gt;Jalinan abadi di sisi Tuhan&lt;br /&gt;Berawal dari sebuah perkenalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UKHUWAH dari Suara Persaudaraan mengalun lirih di kamar kos Yasmin. Gadis 20 tahun itu mengenakan jilbab putih berbodir bunga sederhana. Senandung tentang Ukhuwah dari SP kini membuatnya mencium wangi melati. Yasmin ingin memiliki kesucian dari kuntum-kuntum mungilnya.  Ingin benar ia segera membagi rizki yang dimilikinya di bulan ramadhan ini. Ya! Agar melati mewangi hati di syahrul tarbiyah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi,  2 Oktober 2004:11.22&lt;br /&gt;Bingkisan buat Bundaku di Villa Gerih Permai&lt;br /&gt;Seputih Cintaku yg mewarna melati ‘tuk Ivan Cs dan API di bus Jurusan Surabaya-Jogja&lt;br /&gt;Untuk teman-teman di SIMPATI : yo yo ayo’ terus nulis tapi jangan lupa baca baca &amp;amp; baca&lt;br /&gt;To : Mbak En &amp;amp; A’Hendra : Jazakumullah atas  &amp;amp;nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-740041203676817905?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/740041203676817905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/melati-mewangi-hati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/740041203676817905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/740041203676817905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/melati-mewangi-hati.html' title='MELATI  MEWANGI HATI'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmSpAeT_dI/AAAAAAAAAWw/eez_D7R6kJA/s72-c/akhwat+2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-8968495445366887731</id><published>2009-02-16T22:54:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T23:05:53.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KADO-KADO Ke-15</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmOzhJ2iPI/AAAAAAAAAWg/Cw3xDjvjPjM/s1600-h/kado.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 111px; height: 111px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmOzhJ2iPI/AAAAAAAAAWg/Cw3xDjvjPjM/s320/kado.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303427051929635058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah jubahnya bagus lho, Bu! Makin cantik aja ! “ Aku mengomentari penampilan ibu yang sore ini lain dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ I ya, benar ya, Na! apalagi kalo’ ditambah jilbab biru dongker yang dibelikan Budhe Dyah sepulang dari Mekkah kemarin,” sambung Mas Doni sambil tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian pake penutup muka biar kaya’ ninja hatori. Oalah..mau jadi apa ibu nanti. Kalian tahu kan yen ibu ndak suka dengan penampilan yang ribet dan ndak praktis seperti itu. Makanya Na, kowe ojo terpengaruh dengan mereka. Bisa-bisa kamu terpengaruh alirannya. Aliran sesat, Nduk!” Ibu menanggapi gurauan kami dengan muka masam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Mas Doni hanya bisa bertemu pandang dengan senyum kesepakatan. Kesepakatan untuk menggoda ibu maksudnya. Eh...nggak nding kesepakatan untuk menggurauinya aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya, kowe rasah nganggo jilbab. Wis ngono kuwi wae. Ibu lebih suka kalo’ kamu berpenampilan wajar. Seperti layaknya manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa? Ibu menganggap para jilbaber itu bukan manusia?!” &lt;br /&gt;Astaghfirullah! Aku prihatin dengan pendapat ibu. Bahkan tak pernah kusangka kalau ternyata ibu sangat phobia dengan jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Dona sudah besar. Dan kalau toh memang ingin segera berjilbab bukankah itu  adalah pilihan yang harusnya kita dukung. Karena adalah suatu kewajiban bagi tiap muslimah yang sudah baliq untuk menutup semua tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.” Mas Doni mencoba untuk memberi penjelasan kepada ibu dengan hati-hati takut disangka bermaksud menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang bilang begitu, Don? Ustadz kamu, ya? Mbok yo kowe iki ojo sok keminter tho...Le! Baru ngaji kemarin aja sudah berani bilang yang enggak-enggak. Mbok..ya kamu jangan ikutan fanatik begitu. Coba kamu lihat Pak Ibnu dan guru-guru agama yang lain. Mereka pandai tentang Islam, pengetahuannya banyak, bacaan Qur’an-nya juga bagus, mereka juga sering jadi khotib dan sering diundang untuk ngisi pengajian dan resepsi pernikahan tapi toh mereka tetap bersikap moderat. Mereka nggak menuntut istrinya untuk berjilbab.  Buktinya rata-rata istri mereka hanya berjilbab kalau pas ada pengajian dan kadang di resepsi pernikahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Mas Doni terbungkam mendengar penuturan ibu. Aku pun demikian adanya. Kami belum tahu cara apalagi yang akan kami pakai  agar ibu mau menerima kebenaran yang tlah kami yakini;  bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi muslimah yang sudah baligh sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Don, Na, manusia hidup itu yang penting kelakuannya bukan  penampilannya. Yang penting kalian sopan dan tahu tata karma. Penampilan tidak menjamin kuat lemahnya keimanan seseorang. Kalian mau bukti?”  Seperti biasa ibu mencoba memancing kami untuk mengukuhkan ‘kemenangan’ dari argumennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kenal Meli, kan? Sudah dua tahun ini memakai jilbab. Tapi masih suka jalan bareng dengan anak laki. Berjilbab tapi bajunya ketat. Dan sekarang kalian pun tahu apa akibatnya, Meli dikeluarkan dari SMAnya karena ketahuan hamil. Dengan siapa pun..masih belum jelas karena dia tu suka sekali gonta-ganti pacar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mengambil jeda sejenak demi melihat reaksi kami, “Yang penting kalian sopan dan jadi anak yang berbakti, ibu sudah senang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Doni mencoba tersenyum. Lalu diilihatnya jam dinding tua yang terpasang di ruang tengah ini seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan yang tak kunjung mencapai titik temu.&lt;br /&gt;“Bu, Doni mau ke Baiturrrahman  dulu, ada janji dengan teman-teman. Kapan-kapan bisa kita lanjutkan pembicaraan ini dengan topik yang sama” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rapat lagi? Atau kajian...?”  Introgasi singkat ibu hanya dibalas dengan senyuman. Dan wajah ibu pun kembali seperti sedia kala. Padam  sudah emosi yang sempat menyala. Aku bisa bernapas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..Don..anter ibu dulu, ya! Kamu mau, kan? Ibu mau arisan ke tempat Bu Surti. Rumahnya sebelah utara Masjid Baiturrahman, kok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Doni mengangguk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, jangan lupa siapkan hidangan untuk berbuka Masmu, ya! Ibu mungkin sampai rumah agak malam soalnya mau njenguk Bu Titi di RS Widodo bareng ibu-ibu yang ikut arisan. Jangan lupa tutup pintu begitu ibu dan masmu keluar. Dan satu lagi : jaga dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa telepon masmu di hp!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir selalu begitu. Pesan yang 2panjang+2lebar alias berkeliling itu akan ditinggalkan untukku seolah aku masih belum mengerti apa yang harus kulakukan kalau tinggal di rumah sendirian. Over protetective benar ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“See you again, Honey! Assalamu’alaikum” Mas Doni melambaikan tangan padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alaikumussalam Mas. TitiDi J ya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati di jalan” jawabku sedikit berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kupandangi hujan rintik-rintik di luar  di sela-sela pandang melepas kepergian ibu dan kakak semata wayangku. Setelah  Kijang yang menyimpan banyak kenanganku dengan Ayah itu hilang ditelan tikungan segera kututup pintu dan menguncinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku sejenak dalam bimbang. Ya Allah bukalah pintu hati ibuku agar aku diizinkan untuk segera menunaikan kewajibanku. Seindah pintu hidayah yang terbuka melalui Mas Doni, kini pendirianku mulai berangsur tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ingat wahai adikku &lt;br /&gt;tuk menghormati ayah ibu &lt;br /&gt;mereka tlah berjasa membesarkan kita semua.... &lt;br /&gt;saat kau berdoa doakan pula mereka &lt;br /&gt;saat kau bahagia bahagiakan mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirih kusandungkan bait nasyid dari Harmoni Voice sambil memandang bunga flamboyan yang menghiasi taman halaman SLTPku. Mas Doni sering mengeraskan tapenya kalo’ aku keasyikan nonton TV di ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi Dona! Assalamu’alaikum. Lho..kok murung. Ada masalah apa?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng ketika Wulan menegurku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cantik sekali..!” aku bergumam ketika sosok berjilbab itu mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”  seolah ia tak mendengarkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngggak.. pa-pa kok. Hm.. by the way, semua keluargamu berjilbab ya? Sejak kapan kamu memakainya?”  ada iri yang menyelinap di hati apabila tanpa sengaja kuperhatikan jilbabnya yang berbordir bunga sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He...tentu saja tidak dong, Na! Hanya Mbak Ita, Mbak Nanik, aku dan keponakan kecilku yang memakainya.” Jawabnya sambil membetulkan tali sepatunya yang lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang lain?”  tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm..semua kakakku yang lain laki-laki jadi nggak mungkinlah kalau pakai jilbab.” &lt;br /&gt;Aku hanya ber’O panjang mendengar jawabannya. Andaikan aku punya kakak perempuan yang berjilbab satu saja..mungkin sekarang aku telah mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na,  aku ke kelas dulu ya! Ada PR-ku yang belum selesai. Insya Allah nanti tak jemput ke rumah sebelum berangkat kajian. Sudah jangan murung gitu...! Assalamu’alaikum”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terburu-buru  agaknya Wulan menuju kelasnya yang terletak di ujung timur. Dengan langkah yang kurang bersemangat, aku pun segera masuk ke kelas 3A yang berada persis di samping ruang TU. Kelasku yang kata orang kelas jalur cepat ini sudah dipenuhi penghuninya yang rajin-rajin. Teman-temanku memang maniak buku. Tuh, pagi-pagi aja sudah berkutat dengan buku....Aku juga nggak boleh ketinggalan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Time is time, time isn’t money &lt;/span&gt;,kata Mas Doni. He..he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ini terakhir kali kalian ngaji di sini ! “ Asli aku terkejut, seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Pak Ali. Kuperhatikan Sita, Rahma, Endang, dan Wulan yang sama terkejutnya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kalian nampaknya serius dan antusias di tiap pertemuan maka kalian akan saya transfer kepada seorang Mbak. Beliau masih muda, baru lulus dari Brawijaya. Insya Allah bisa lebih intents dalam membimbing kalian.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami bisa tersenyum lega. Mungkin Pak Ali sibuk , tapi nggak pa-pa deh, mungkin Mbak yang baru lulus kuliah itu lebih punya waktu menemani kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu-minggu berikutnya di hari yang sama -Sabtu- aku dan teman-teman bertemu dengan itu (Mbak Sa’adah, namanya) di sebuah rumah kontrakan  yang sederhana. Mbak itu cerdas, terlihat dari retorikanya yang teratur. Aku jadi semakin bersemangat untuk mengkaji Islam dengannya. Kami membahas masalah apa aja.  Hm..memperhatikan jilbabnya yang lebar, hatiku semakin dilanda rindu...apakah harus menunggu kelas 1 SMU dulu untuk mengenakan jilbab itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku harus bilang ke Mas Doni bahwa aku sudah nggak tahan membiarkan rambut hitamku ini tanpa pelindung. Mas Doni harus bisa membujuk ibu. Harus!Perlu senjata apa untuk meluluhkan hati ibu, dosen  STKIP yang kritis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumandang adzan Subuh menghentikan mimpiku. Lagi-lagi aku tertidur berbantal buku. Maksud hati pingin niru Mas Doni yang suka belajar usai shalat lail tapi ternyata aku lebih sukses menuju alam bawah sadar...belajar sambil tidur atau tidur sambil belajar, ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, bangun! Ayo’ shalat! Dah adzan lho..!” suara  Mas Doni membuatku segera beranjak.  Buru-buru aku mengambil air wudhu dan menyusulnya ke musholla keluarga yang terletak persis di depan kamarku. Kulihat Ibu dan Mas Doni sudah khusyu’ dalam Qobliyahnya. Aku segera menyusul. Jangan sampai aku kehilangan kesempatan yang sangat berharga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuhku lebih panjang dari biasanya. Kali ini di rakaat pertama Mas Doni membaca Surat Ar-Rahman dan rakaat kedua Masku membaca surat An-Nur. Bacaannya jernih dan makhrojnya jelas. Meski tak sepenuhnya tahu artinya, toh air mataku meleleh. Mas Doni pernah mengajakku untuk mentaddaburi kedua surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdu menyusup ke ruang hatiku dan semakin kurasa tatkala kusambung doaku usai salam. Tertunduk aku menatap sajadah yang terhampar. Kucurahkan semua beban yang menghimpit jiwa. Berharap kutemukan titik terang untuk segera keluar dari duka yang membebani kepala. Ya Illahi..bimbing dan tuntun.hamba menuju pada-MU dengan segenap bekal dan keridhoan!&lt;br /&gt;Tiba-tiba ibu menyentuh punggungku Aku terkejut. Tapi aku tak berani memandang wajahnya. Tatapku masih tertuju pada sajadah. Mas Doni masih tak bersuara, entah apa yang dilakukannya. Mungkin masih khusyu’ di dalam doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, Ibu mau bicara!”&lt;br /&gt;“Inggih, Bu. Sakniki?”&lt;br /&gt;“Iya, saiki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melipat mukena kuikuti langkah ibuku menuju ruang tengah. Aku menurut ketika ibu mengisyaratkanku untuk duduk di sofa, tepat di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dona, apa betul kamu pingin berjilbab? Kamu serius, Nduk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu membuka pembicaraan dengan nada tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah, Bu!” mantap sekali aku menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kau pikirkan konsekuensinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah Dona sudah berkomitmen. Jadi apa pun yang akan terjadi nanti Dona siap untuk menghadapinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya ibu tak berkeberatan. Hanya saja ibu masih khawatir...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khawatir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ibu khawatir kalau keinginan itu hanya letupan emosi sesaat karena  kebetulan kau masih dekat dengan Masmu. Apa i ya nantinya kamu mampu untuk tetap menjaga niatmu itu agar tidak menyimpang? Kau lihat fenomena yang terjadi sekarang? Bahwa jilbab mulai menjamur bukan karena produk idiologi tetapi sekedar trend. Jika kamu yakin dengan pilihanmu, ibu pun akan mendukung. Satu hal yang harus kau ingat : jangan sampai jilbab membatasi gerakmu. Buktikan dengan jilbab itu kau pun mampu berprestasi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah...segala puji hanyalah untuk-Mu Ya Rahman atas rizki dan pertolongan-Mu yang datang tanpa pernah bisa disangka. Apa saja ya....yang dikatakan Mas Doni pada ibu kemarin ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan, Dona ya Bu kalo’ ternyata kurang bisa menangkap kekhawatiran ibu. Dona mengira ibu sangat anti dengan jilbab.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga minta maaf, Nduk kalo’ sempat emosional menghadapi kalian. Sebenarnya itu lakukan karena ibu sayang sama kamu dan Mas Donimu. Ibu nggak ingin kalian jadi  bahan gunjingan karena kefanatikan yang tanpa pemikiran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceileh...da pa nih, nama Doni disebut-sebut? Siapa yang jadi bahan gunjingan?” tanpa permisi Mas doni nyelonong dan duduk di sampingku. Aku dan ibu tertawa tapi hanya sebentar kemudian entah kenapa kami terdiam hingga suasana menjadi hening. Kulirik Mas Doni, eh... Mas Doni juga meliriku. Jadilah suasana penuh lirikan. He...he.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu udah gedhe ya.. Na, padahal rasanya baru kemarin kita maen kejar-kejaran di rumah Si Mbah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hubungannya Mas?” aku sama sekali nggak ngerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu udah hampir 15 tahun, Na. Udah remaja. Orang bilang masa remaja adalah masa yang paling indah. So, jangan siakan masa remajamu. Mulailah belajar untuk menjadi sebaik-baik perhiasan.Mudeng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. 15 tahun? Masih beberapa bulan lagi. Masak Si Mas lupa sih dengan hari kelahiranku. Dasar Mas Doni jelek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, nggak terasa ya..beberapa hari lagi dah Ramadhan. Waktu begitu cepat berlalu. Kamu tahu , Na dalam hitungan tahun Hijriah usiamu genap 15 tahun karena lahirmu tepat 1 Ramadhan 15 tahun yang lalu.” Ibu membelai sayang rambutku sementara Mas Doni hanya cengar-cengir mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu siapa yang memberimu nama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleks aku menggeleng padahal aku ingat kalau ayah pernah bercerita tentang namaku yang bersejarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu yang ngasih nama karena ayah  sudah ngasih nama masmu. Dwi Anugerah Ramadhona. Artinya kamu itu anak kedua yang  dianugerahkan oleh Allah pada ayah dan ibu di bulan Ramadhan. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Trus kenapa nama Mas Doni juga ada embel-embel Ramadhon-nya?” tanyaku asal karena aku pun juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama pada ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eka Al-Fauzan Ramadhoni. Kata ayahmu,  Eka itu satu atau anak pertama. Fauzan itu kemenangan. Ramadhoni karena lahir di akhir Ramadhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Mas Doni itu anak pertama yang akan mencapai kemenangan setelah  ditempa Allah di bulan Ramadhan?” Aku mengambil kesimpulan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam berapa sekarang, Na?” Mas Doni selalu begitu. Tanya jam berarti ada jadwal di agendanya. Masku ini memang aktivis sejak SMU..tapi nggak masyalah. Meski jam terbangnya tinggi tetapi tetap ada waktu untukku jika aku mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam enam kurang sepuluh, Don.” Tanpa diminta ibu melihat jam tua peninggalan kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada Kajian Ahad Pagi di Al-Qomariah, kamu mau ikut nggak? Kalo’ ikut mandi dulu. Pakai jilbabmu yang paling rapi.” Masku mulai suka mendikte tapi kali ini aku senang kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Qomariah? Masjid di jalan Kartini itu, ya?”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, Bu. Emang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak pa-pa, kok! Hanya saja dulu ibu dan ayah melakukan ahad nikah di situ....Ngomong-ngomong ayahmu sedang apa ya di Jerman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya, sedang belajarlah, Bu atau mungkin menyelesaikan risetnya.” Jawabku mengira-ngira saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ah, nanti ibu mau telepon ah... ngabarin Dona mau pakai jilbab.  Jam sepuluh pagi berarti di sana jam berapa, ya?”Ibu seolah bertanya pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin yang kutunggu akhirnya datang juga. Ingin segera kukabarkan pada Wulan bahwa sebentar lagi aku mau menyusulnya untuk berjilbab. Aku akan belajar menjadi akhwat mukminat yang shalihah ...Yes! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa badanku terasa lemah sekali....ILLAHI, ada apa ini? Napasku terasa berat, sesak maksudku. Susah payah aku mencapai pintu kamar tapi begitu pintu kubuka mataku berkunang-kunang. Ingin rasanya kupanggil Mas Doni tapi entah mengapa suaraku hanya menggema di hati. &lt;br /&gt;Syahdu! Kudengar suara orang membaca Qur’an di dekatku. Mas Doniku.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba membuka mata. Memastikan itu suara Masku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dona sudah sadar. Alhamdulillah”  suara ibuku.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah.”  Masku mendekat dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Dek. Kemarin kau kecapekan ya tak ajak muter-muter pake sepeda? Aku lupa kalau kau ndak boleh terlalu lelah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digenggamnya jemariku.  Hangat! Kulihat genangan air itu mengalir dan sebagian jatuh di tanganku. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabar, ya Dek! Moga Allah segera memberi kesembuhan untukmu.” Bisiknya pelan di telingaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Don, sebaiknya kamu istirahat di rumah dulu. Biar ibu yang jaga adikmu. Ayo! Kemarin kamu bilang pada Ibu bahwa tubuh kita punya hak untuk istirahat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecupnya keningku hati-hati sekali. Lalu tanpa kata-kata Mas Doni meninggalkanku. Ada apa ya? Kalau Mas memanggilku ‘Dek’ artinya sedang terjadi apa-apa padaku yang membuatnya khawatir. Entahlah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat sembuh, Sayang!” Ibu membelai rambutku yang kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupejamkan mataku. Illahi, apa yang terjadi padaku? Apakah asma dan jantungku kambuh lagi? Kalau memang itu yang terbaik untukku, hamba ikhlas ya Allah! Apabila sakit ini mampu menggugurkan sebagian dosa-dosaku, hamba ridho ya Rabb!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Na, kamu baik-baik saja, kan?” Ibu sepertinya khawatir melihat mataku yang terpejam. Demi melihat ibu tersenyum  kubuka kembali mataku meski sebenarnya terasa berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah..Ndak pa-pa, kok! Bu, tolong telfonkan Wulan, Dona ingin ketemu. Dona ingin...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wulan sudah di sini, Nduk. Sekarang ada di luar. Sebentar ya Ibu panggilkan!”  &lt;br /&gt;Wulandari Safitri. Sosok yang kukagumi benar ketawadhu’annya itu menghampiriku. Hari ini jilbabnya biru laut serasi sekali dengan warna gamisnya. Hm..masihkah ada waktu untukku untuk belajar menjadi tawadhu’ sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum, Na. Kaifa haluki ya..Ukhti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ana bikhoir. Alhamdulillah.” Aku tersenyum. Hm..Ukhti, baru ia yang memanggilku demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok tanggal berapa?” pertanyaan yang mungkin tak diduganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan Hjiriah?” kutegaskan pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ 1 Ramadhan, Na. Hari lahir anti, ya? Tadi pagi  Ibumu bercerita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang jam berapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam setengah empat, Na. Da apa?”&lt;br /&gt;“Sore?”&lt;br /&gt;“Ya”&lt;br /&gt;“Aku belum shalat”&lt;br /&gt;“Orang pingsan gugur kewajibab shalatnya.”&lt;br /&gt;“Sekarang sudah masukl Ashar, ya?”&lt;br /&gt;“I ya”&lt;br /&gt;“Aku mau shalat. Bantu ke kamar mandi ya! Aku wudhu dulu”&lt;br /&gt;“Tayamum aja! Anti belum boleh banyak gerak  dan nggak boleh kena air”&lt;br /&gt;“Caranya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan membantuku bertayamum. Lalu aku mengerjakan shalat dengan berbaring.   Jujur, aku takut sekali...takut ini shalat terakhirku. Ya Allah bilakah kau izinkan aku untuk menyiapkan perbekalan yang cukup  sebelum menuju pada-Mu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam aku ngotot minta pulang tapi rupanya dokter belum mengizinkan. Hasil diagnosa penyakitku pun belum keluar. Entahlah...aku menduga bukan hanya jantung dan asmaku yang kambuh tapi ada yang lain. Tapi aku pasrah! Mas Doni pernah bilang kalau nikmat seorang muslim yang tidak pernah dimiliki umat lain adalah ketika ditimpa musibah ia bersabar dan ketika mendapat nikmat ia bersyukur. Mungkin ini adalah saatnya aku belajar untuk menyelami ujian sekaligus nikmat yang diberikan oleh tuhanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah bangun, Dek.” Mas Doni menyibak tirai putih yang menghalangi pandanganku keluar. Ialah yang paling tahu kalo’ aku nggak suka berada di ruang tertutup. Dibukanya jendela mungil yang berada kurang lebih 1 meter dari pintu.  Kulihat mawar merah yang masih kuncup menyapaku dari kejauhan. Seolah mawar di taman mini itu menyuruhku untuk menyambut ramadhan pagi ini dengan ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah udara pagi ini sejuk sekali, ya Dek!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm..Dek? Sejak kemarin masku memanggilku demikian. Kedengarannya romantis sekali. Ada apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, kemarin ada titipan dari teman-temanmu yang ke sini. Sorry ya... nggak ku bangunkan...habisnya...” &lt;br /&gt;Aku manyun. Mas Doni jelek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, marah ya...tuan putri...? Nih, Mas bawakan something special from Solo...jangan manyun gitu jadi jelek lho..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan Mas?”&lt;br /&gt;“Coba tebak!” &lt;br /&gt;Aku menggeleng. Males! Akhirnya Mas Doni  membukanya tanpa kuminta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah...Alhamdulillah. Masku memang paling baik sedunia. Kupegang jilbab-jilbab halus dari kain pilihan...(aku nggak tahu jenis-jenis kain, mungkin katun).  Manis sekali....ada warna-warna favoritku: biru dongker, putih,  dan coklat susu, putih, dan hijau lumut.  Ukurannya sama :130, pas dengan seleraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm..hatiku langsung berbunga-bunga. Bahagia dan haru jadi satu. Pokoknya aku merasa tersanjung. “Mas beli di mana? Kok bordirannya bagus banget, sih! Thanks ya, eh..syukron jazakallah!” Ucapku tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm...nitip akhwat yang kuliah di Solo. Jilbab-jilbab ini diproduksi sendiri. Semacam industri rumah tangga-lah . Tapi nggak kalah dengan yang di toko-toko, kan?”  &lt;br /&gt;“Boleh dong lain kali aku ke sana. Mborong yang banyak sekalian nanti di jual ke teman-teman. Ongkos Ngawi-Solo berapa ya..Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ih, dasar tukang jualan. Sakit-sakit masih mikir keuntungan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..jangan salah! Insya Allah sebentar lagi akan ada hijrah masal. Teman-temanku  bikin kesepakatan mau pake jilbab begitu masuk SMU. Pasti asyik deh! Mas, SMU 2 tu Rohisnya bagus lho..”  Tanpa sadar aku mulai menerawang, membayangkan betapa bahagianya jadi anak SMU.  &lt;br /&gt;“Sudah, Na. Jangan ngelantur ke mana-mana dulu. Nih lihat hadiah dari teman-temanmu! Ada nasyidnya lho..,buku, Annida edisi terbaru dan... apaan  ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He..he..masku menimang-nimang sepasang manset berwarna krem. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah terimakasih untuk semua nikmat yang Engkau limpahkan di awal Ramadhan ini. Di hari kelahiranku ini  Kau hadiahkan padaku kado-kado istimewa melalui orang-orang yang kucintai. Ya Allah...hantarkan aku bersama orang-orang yang teguh berjuang di jalan-Mu. Ya Rahman terimakasih tlah Kau hadirkan untukku orang-orang yang mencintaiku karena-Mu; untuk ibu yang ikhlas membesarkan kami dengan segala pengorbanan, untuk seorang Mas Doni yang baik, Pak Ali, Mbak Sa’adah, Wulan, dan teman-teman yang senantiasa memberi dukungan padaku untuk belajar dan berma’rifat pada-Mu. Ya Rahim, dengan apa aku akan membalas mereka? Ya Rabb, balaslah cinta mereka kepadaku dengan cinta-MU.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho..Na, kok nangis, sih? Don, kau apakan adikmu..?” Ibu terkejut mendapatiku tlah berlinang air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasa: anak cengeng!Nunggu Ibu nggak datang-datang...katanya lama sekali. Dah keburu pingin pulang dan pakai jilbab..” mulai deh Mas Doni menggodaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih, dah ibu bawakan jilbab babat. Langsung dipakai sekarang nih?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I yalah, Bu ini kan sudah 1 Ramadhan...masak mau ditunda lagi.”&lt;br /&gt;Lagi-lagi Masku yang menjawab. Aku hanya berteriak dalam hati: SURPRISE! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu yang selalu ada u/ nama-nama yang kupinjam tanpa izin, ikhlaskan saja ya!&lt;br /&gt;Ngawi, 1 November 1999  dengan perubahan alur &amp; nama2 tokoh 4tahun kemudian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-8968495445366887731?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/8968495445366887731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/kado-kado-ke-15.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8968495445366887731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/8968495445366887731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/kado-kado-ke-15.html' title='KADO-KADO Ke-15'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmOzhJ2iPI/AAAAAAAAAWg/Cw3xDjvjPjM/s72-c/kado.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-7536776906109869459</id><published>2009-02-16T22:45:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T22:54:09.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>BATU KALI BATU BATA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmMC-fh8cI/AAAAAAAAAWY/NI_Px_OaV9Y/s1600-h/batu.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 121px; height: 72px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmMC-fh8cI/AAAAAAAAAWY/NI_Px_OaV9Y/s320/batu.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303424018968342978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Jangan lupa,  jam sembilan rapat sie pelayanan sambut maru dan ba’da Ashar nanti ada rapat bidang! Bisa, kan, Dek?!”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa mencoba tersenyum, menyembunyikan resah yang semakin bertambah di dadanya. Matanya tertunduk ke bawah, ia tak berani menatap Mbak Eliza, Kabid Nisaa’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nisa usahakan, tapi untuk rapat bidangnya kali ini izin dulu, ya Mbak? Mungkin siang ini ke Jogja, mo’ lihat pengumuman STAN.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lewat internet, kan bisa, Dek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, sih tapi...”  suaranya mengambang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, deh. Mudah-mudahan diberikan yang terbaik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amien....Nisa pamit dulu, ya Mbak. Assalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa menyeret langkahnya, meninggalkan masjid kampus. Kajian Jumat Pagi yang baru saja diikutinya terasa benar-benar hambar. Degup di jantungnya semakin terasa ketika jarak MannaWaSalwa, kosnya yang terletak di Jalan Surya, tinggal beberapa meter lagi. Ya Allah...bagaimana hasil Ujian Masuk STAN-ku? Batinnya mulai lagi bertanya-tanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum.” Salamnya hampir tak terdengar. Ia segera menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum  beli maem, ya, Nis?” Nikmah  yang tengah sarapan  melihatnya berhampa tangan. Biasanya sepulang kajian pagi memang ada plastik yang berisi bungkusan nasi di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak sarapan, nggak ada selera.”  Jawabnya lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, katanya mau ke Jogja. Baiknya sarapan dulu. Yo’ sama aku, kelihatannya aku juga nggak habis, kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih, nanti aja kalo’ habis rapat aku mampir beli nasi.”  Ditampiknya tawaran Nikmah dengan halus. Ia segera masuk ke dalam kamarnya. Entahlah...hati-nya benar-benar nggak bisa tenang. Padahal dulu waktu menunggu pengumuman SPMB ia nggak setegang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihidupkannya HP yang sejak tadi malam dinon-aktifkan. Tak lama kemudian ada SMS masuk. Hatinya bergetar. Perlahan-lahan sekali ia membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ass, gmn dah da pgmn? Klo sulit hrs ke jogja, krm aja no BPU anti. Nnti biar tmn2 JKT yg mlihatkn. Apapun hsilnya, serahkn pd 4JJI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS itu berasal dari mahasiswa STAN yang sebentar lagi lulus.&lt;br /&gt;Bismillah...ia mengetik nomor BPUnya dan segera mengirimkannya pada kakak kelas SMUnya yang kini  di sedang magang di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gmn jd dftr STAN? Mau nyari apa smp pngn ksna?He..2 Anti akhwat, kn?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dari murrabiyahnya di SMU membuatnya sempat ragu. Tapi toh ia pun menyempatkan diri untuk mendaftar ke Jogja di sela-sela semester pendeknya. Jujur, apa yang dilakukannya hanya pelarian. Ia merasa kulminasi jenuh sudah mencapai puncaknya.Ia sudah merasa tidak kuat untuk bertahan di Kampus Hijaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari lingkungan yang baru. Mungkin itu alasan yang sangat tidak masuk akal. Ada hal yang tidak beres yang lama ditutupinya. Tidak ada yang tahu. Sampai akhirnya tanpa sengaja Tyas menemukan kartu peserta Ujian Saringan Masuk STAN di tasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh. Mungkin itu yang kemudian ditangkap oleh teman sehalaqohnya. Kemudian entah bagaimana murrabiyahnya di SMU pun tahu tentang hal itu. Ragu ia mereply sms yang datang tanpa diduga.&lt;br /&gt;“Doakn klo itu yg t’baik tuk dunia akherat, proses ke sna kn dpmudah. Di sini ada virus. Nisa ingin hijrah. Nisa nggak mau jadi lilin yg t’bakar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ane dah ngerasa da yg g’ beres pd anti. Biasanya klo dah tbina mlh hndri STAN. Di sna kbykn putra, putri plg byk 3-4. Apa anti kuat? Blm lg da ikatn dinas, nnti klo dah kerja plg sore2 bhkn smp jam 4. Tlg dpkrkn lg. Klo g’ co2k di LQ, sgr mnt gnti halaqoh&amp;mrrbyh. Hijrah ksna bkn kptsn yg tpat. Klo da pa2 telp ane or sgr ksni klo da waktu. Cerita da apa dng anti! Mau, kn?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa tergugu. Semangatnya untuk bertempur di ujian STAN surut seketika. Ia memang nggak berniat untuk kuliah di sana. Tapi hanya itu satu-satunya jalan yang bisa ditempuhnya. Mau ikut SPMB lagi jelas tidak mungkin. Ayah tidak akan mengijinkannnya apalagi kalau ngambil UGM. Selain jauh dari rumah, biaya kuliah dan biaya hidup di sana lebih mahal. Biaya dari mana? Kalau ngambil jurusan lain di Kampus Hijau itu sama aja ia harus tetap tinggal di Solo. Hm.&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Solo. TIDAK ADA! Apa yang dicarinya ada di sini. Tapi ...ia merasa menjadi manusia planet. Serasa tidak menginjak bumi. Eksistensinya tak terdeteksi. Ia merasa menjadi orang asing yang numpang sementara waktu di kota pusat berkembangnya beberapa harakah ini. Ia bukan Nisa yang periang seperti dulu. Ia bukan Nisa yang selalu bersemangat dengan aktivitas berlabel ‘dakwah’. Ia bukan lagi Nisa yang siap memenuhi panggilan jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, semua perubahan itu memang bukan tanpa alasan. Tapi ia sama sekali  tak yakin bahwa alasannya itu dipandang syar’i oleh teman-teman dan murrabiyahnya. Pingin tahu alasan sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks. Awalnya ada sedikit keraguan ketika ia memutuskan untuk registrasi ke kampus hijau. Alasan klasik: pilihan kedua yang juga pilihan ortu. Jadi  ia agak gamang, bisakah kuliah dengan sepenuh hati. Kemudian ketidaknyamaan yang dirasakannnya di prodi semakin bertambah. Kenapa? Belum ada seorang teman pun yang tertarbiyah, intinya ia belum menemukan teman seperjuangan yang nyambung kalo’ diajak ngomong dan berdiskusi tentang dakwah dan harakah, nggak bisa nyaman di kelas. Parahnya, ia merasa tidak cocok dengan halaqohnya.  Ia merasa kurang sreg teman-teman ngajinya yang kebayakan ‘aktivis siyasi’. Di kos-annya yang ammah, teman-teman nggak ada yang berstatus sebagai ADK. Ketika kondisi ruhiyahnya terpuruk dan ke-error-an kumat, nggak ada yang mengingatkan.  Ia merasa tertekan. Nggak ada yang bisa diajak sharing apalagi menyemangatinya untuk berfastabiqul khairat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semester pertama dilalui begitu saja. IPnya nggak sampai 3 bahkan ada satu mata kuliah yang nggak lulus. Ia semakin tidak kerasan tinggal di Solo. Capek lahir batin. Ia semakin mendramatisir keadaan. Ketika tersadar...ia telah jauh tertinggal dengan teman-teman sehalaqoh. Mereka tlah berakselerasi dan melesat jauh meninggalkannya sendirian dalam ambiguitas. Kondisinya kian hari bertambah kritis. Maka dalam batas kesadaran ia pun memutuskan untuk segera pergi dan mencari lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah di STAN? Mungkinkah? Konon, bi’ah di sana kondusif untuk percepatan diri. Tapi .....? Anti akhwat, kan? Pertanyaan retoris via sms itu begitu menggoreskan luka di hatinya. Ia takut tak bisa mempertahankan status itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang peluang masuk STAN lebih besar putra daripada putri tapi yg penting kn the best ikhtiar. Sukses, ya...Ukh!Smg 4JJI mbrkn yg t’baik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin SMS  dari ikhwan ini pun sekedar bentuk simpati. Tapi sekedar mencoba, kenapa tidak?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat sie pelayanan penyambutan mahasiswa baru di Nurul Huda, masjid kampusnya, diikutinya tanpa konsentrasi. Berkali-kali SMS masuk. Nisa hanya menghela nafas tiap kali mendapati SMS yang menanyakan tentang pengumuman STAN. Jujur ia pun ingin segera mengetahuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lupa saat penyambutan pakai jaket almamater, cocard dan jilbab putih untuk akhwat.” Pesan dari koordinator sie dari balik hijab hanya mampir sebentar di telinganya. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 10.00, ia pun izin meninggalkan rapat yang sebenarnya sudah hampir usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resah itu masih bersarang di hatinya. Akankah aku mampu menerima ketentuan Allah dengan ikhlas? Mampukah aku mengambil ibrah dari semua ini dengan sebening pemaknaan? &lt;br /&gt;Mengapa aku jadi putus asa begini? Illahi...kuatkan aku menjalani semua ini! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa mencoba mengusir ketakutan yang membisik di telinganya. Bukankah rizki Allah yang telah ditetapkan  untuknya tak kan mungkin diberikan kepada orang lain. Begitu pun sebaliknya. Jadi?  Sabar, Nis. Tunggu aja sms dari Jakarta. Nggak usah repot-repot pergi ke Jogja. Banyak hal yang harus kau selesaikan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah Semester Pendeknya pun belum selesai. Nanti siang  kuliah terakhir Cross Culture Understanding. Ya, sebaiknya aku tinggal di sini. Akhirnya ia membelokkan langkahnya ke jalan Surya menuju kosnya, MannaWaSalwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Afwan, ana nggak mnemukn no BPU anti. Coba dicek via web. Klo trnyt tidak diterima mungkin 4JJI lbh ridho anti berdakwah di Solo. Laa Tahzan, Ukh! Smg sll ISTIQOMAH.” begitu isi SMS yang ditunggu-tunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa  menghapus air matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laa Tahzan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah kesedihan adalah hal yang sangat manusiawi untuk saat-saat seperti ini?” sebuah suara menggema di hatinya. Ia menggeleng dan segera beranjak untuk mengambil wudhu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah sebuah episode yang harus kuhadapi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapnya tertuju pada sosok berjilbab putih  di kaca almari yang mencoba menyunggingkan senyum manis kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan masih panjang ...Sayang! Ia menghibur dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai Ujian Semester Pendek dan penyambutan mahasiswa, Nisa memutuskan untuk pulang kampung, Sidolaju. Kampung yang terletak di tengah hutan ini menyimpan banyak kenangan. Pagi ini ada Ikhwan yang mengajaknya melakukan perjalanan tapak tilas masa kecilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berdua saja, nggak usah ngajak adik-adik” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tawaran via SMS yang tanpa pertimbangan langsung disetujuinya. &lt;br /&gt;He..he..tenang aja! Ikhwan Kelana Mujahid adalah kakak sulungnya.&lt;br /&gt;Gemericik air  mengalir dari mbelik yang melewati celah-celah bebatuan sungai begitu merdu di telinganya. Nisa membiarkan kaos kakinya basah. Ia meniti sungai di dekat mbaon dengan hati yang riang. Sesekali bibirnya bertasbih. Ia pun mengakui kekerdilannya. Duhai...Maha Besar Allah dalam setiap pencintaan-NYa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, istirahat dulu ya. Duduk di batu besar itu sepertinya nyaman.”  Ajak Ikhwan seraya menunjuk tempat yang dimaksud. Batu-batu besar di bawah grojogan itu sepertinya memang nyaman untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa mengiyakan. Dipilihnya batu yang paling besar seukuran tempat tidurnya di kos. He...mungkin nggak perlu ranjang jika batu ini ada di kamar. Pikirnya usil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Main tebak-tebakan yuk!”  laki-laki berkaos oblong yang duduk di sampingnya mengeluarkan secarik kertas dan pulpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa nyengir, “MALES! Maen aja sama ikan mujair,” jawabnya asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..kalo’ kamu menang, besok tak anterin ke Solo pakai motor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mending juga naik bis.” Jawabnya sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya batu kali dengan batu bata?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gitu aja ditanyakan. Ih..dasar arsitek ...nggak punya nilai seni?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru inilah bagian dari seni. Nih jawab 3 pertanyaanku!”&lt;br /&gt;Tanpa semangat dibacanya 3 pertanyaaan dari sang kakak. Fuih...benar-benar nggak ilmiah. Tapi ia pun bingung juga menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bandingkan antara batu kali dan batu bata, lihat perbedaan yang mendasar antara keduanya; bagaimana proses tarbiyah keduanya, ciri-ciri dan kegunaannya dalam kehidupan.”&lt;br /&gt;Ikhwan tersenyum senang melihat wajah adiknya yang berubah serius. Diperhatikannya detail wajah gadis berkerudung yang beberapa bulan ini kehilangan binar kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Dek?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya....tapi jawaban ini nggak nyeni blas. Habis...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan membaca tulisan adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Batu kali melalui proses tarbiyah yang sangat panjang. Ia berasal dari dalam bumi yang kemudian keluar melalui letusan dasyat gunung berapi. Perubahan suhu lingkungan yang signifikan membuatnya menjadi kuat dan nggak mudah rapuh. Cocok digunakan sebagai pondasi bangunan dan bisa juga untuk dinding.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedangkan batu bata melalui proses tarbiyah yang cepat. Berasal dari tanah liat pilihan yang dicampur dengan air hingga menjadi adonan yang proporsional.  Setelah dicetak dikeringkan dibawah terik matahari lalu dibakar. Cirinya mudah rapuh, membawanya harus hati-hati sekali. Ia cocok digunakan sebagai dinding bangunan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“By the way, lagi nyindir aku ya....” &lt;br /&gt;Ikhwan tersentak. Astaghfirullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Sama sekali tak ada maksud untuk itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bohong.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinggalkannya Ikhwan dengan penuh kecewa. Nisa nggak habis pikir : duhai tega nian menambah luka yang belum-lah tuntas ia sembuhkan. Agak terburu-buru, ia kembali meniti sungai menuju dangau yang terletak di tengah mbaon Mbah Kungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adikku Sayang, &lt;br /&gt;semoga Allah snantiasa mengizinkan kita untuk meniti jalan panjang ini. Memang ujian dan rintangan akan selalu mengiringi perjalanan kita. Tapi percayalah Sayang, di balik itu semua banyak hikmah yang dapat kita petik. Yakinlah bahwa pertolongan Allah begitu dekat! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku generasi Aisyah ra, &lt;br /&gt;jangan bosan dengan tarbiyah. Belajarlah dari batu kali dan batu bata. Mana yang lebih baik? Itu bukan pertanyaan yang harus kau jawab. Masing-masing mempunyai peranannya sendiri. Tapi adikku, bukankah batu kali lebih kuat. Ia sanggup di tempatkan di mana-mana. Sebagai pondasi yang diletakkan paling bawah hingga tak kelihatan., sebagai campuran bahan cor, sebagai dinding atau sebagai apapun. Maka jangan pernah berharap kau akan menempati kedudukan yang strategis, yang kelihatan ‘wah’ dari luar tapi ternyata tak lebih seperti batu bata yang rapuh. Banyak orang memujinya tapi ia tak cukup kuat menghadapi terpaan badai atau angin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku, &lt;br /&gt;jangan kau larut dalam pilu berkepanjangan! Syukuri tiap nikmat yang tlah Allah berikan. Laa Tahzan! Semoga kau mampu setangguh batu. Di mana pun kau ditempatkan,  berikanlah yang terbaik. Jangan sedih tidak diterima di STAN, di sini pun kau mampu melesat tinggi menggapai harap dan impian. Jangan kecewa dengan lingkungan yang belum kondusif, di sini kaulah pioneer yang diharapkan memulai penghijauan. Jangan menyalahkan keadaan tapi tancapkan azzam untuk segera bergerak menyongsong kegemilangan!!! Teriring doa  untukmu, Adikku! Selalu.&lt;br /&gt;Sepenuh cinta karena-NYA&lt;br /&gt;Ikhwan Kelana Mujahid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sbnrnya ktk 4JJI mmbr mslh, itu a/ bukti cinta-NYA pd hamba-NYA. Mk jk qta ttp huznudzon, Isy a/ byk hal yg akn qta dpt. KEIMANN, KSBRN, KDWSAAN, &amp; KECINTAAN-NYA. Hny pd 4JJI qta bsrh dr.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kla jenuh mnerpa&amp;jubah mujahadah tlahlusuh t’kulai usang. Mk biarkan AZZAM m’jejak langkah m’napak syukur&amp;sabar dalam keikhlasan krn-Nya. Krn qta hanyalah jiwa yg lahir dr secuil masa”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Ikhlaskanlah tubuhmu…pikiranmu…dan hatimu untuk ALLAH. Slmt Bjuang Smoga Sukses’’  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa tersedu. Perhatian yang tulus ternyata tak hanya datang dari kakaknya tapi juga dari saudara-saudaranya yang berada jauh di seberang sana. Meski via sms tapi ia merasa taushiyah itu begitu mengena di hatinya. Maka ia pun berjanji untuk mengeringkan luka dengan segera. Jangan biarkan jiwa rapuh seperti batu bata. &lt;br /&gt;Duhai Nisa, tataplah ke depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi, 28 Ramadhan 1425 H : 21.19&lt;br /&gt;Untuk yang masih setengah hati di kampus hijau, jangan larut dalam kecewa berkepanjangan.&lt;br /&gt;‘Tuk Akh Hendra, Mbak Eni, &amp; Rifai : jazakumullah khairan jaza’ atas smsnya ()&lt;br /&gt;‘Tuk Aisyah Crew: luv u all coz of ALLAH! Afwan atas sgl kesalahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-7536776906109869459?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/7536776906109869459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/batu-kali-batu-bata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/7536776906109869459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/7536776906109869459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/batu-kali-batu-bata.html' title='BATU KALI BATU BATA'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmMC-fh8cI/AAAAAAAAAWY/NI_Px_OaV9Y/s72-c/batu.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3545912805505876752</id><published>2009-02-16T22:36:00.001+07:00</published><updated>2009-02-16T22:45:14.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KARENA QTA EMANG BEDA!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmJ6ZhcGQI/AAAAAAAAAWQ/z3aXXjA2Qac/s1600-h/u+cerpen.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 148px; height: 111px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmJ6ZhcGQI/AAAAAAAAAWQ/z3aXXjA2Qac/s320/u+cerpen.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303421672582027522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa 6 bulan telah berlalu. Ini berarti aku harus menjalankan aktivitas yang menjemukan : Ujian semester. Aku belum siap. Bukan karena harus belajar dalam seminggu penuh melainkan menyaksikan pemandangan yang membuatku kecewa. Aku tak ingin mengundang kekecewaan yang menjadikan aku enggan belajar. Aku tak pernah menginginkan kekecewaan itu menghadirkan prasangka buruk. Akan tetapi kekecewaan itu terlanjur berpadu dan menyatu erat denganku tiap kali mengikuti ujian semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, sebelum belajar berdoa dulu biar nggak diganggu setan!” Hani menepuk bahuku. Aku tersentak sesaat dan cepat-cepat mengarahkan pandangan pada buku yang ada di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah siap mengikuti ujian semester, Dik?” tanyaku sambil menutup buku yang baru terbaca judulnya saja. Yang kutahu selama ini Hani nggak jauh beda denganku. Sistem kebut semalam itu pasti berlaku jika hari-hari ujian semester sudah di hadapan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Bang. Yang pasti seminggu lagi bebas.” Jawabnya asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm..sama dong!” batinku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang Ihsan di ruang berapa? Satu, ya?” tanyanya menyelidik.&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Adikku yang superusil itu tersenyum dan meninggalkanku sendirian dalam tanya. Apa maksud senyumannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Peduli amat. Kulangkahkan kaki ke kamar karena  belajar di ruang tengah memang nggak nyaman. Ada saja yang nggganggu konsentrasi tapi di kamar pun belum tentu aku bisa menahan keinginan untuk mengembarakan angan. &lt;br /&gt;Aku harus belajar! Bismillah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik adik kelas yang duduk di sampingku. Seorang jilbaber lagi. Buru-buru kubawa tatapku menekuni kolong meja sambil menunggu soal dibagikan. Mengapa aku selalu duduk di samping jilbaber tiap kali mengikuti ujian semester?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pakai jilbab atau tidak, aku tak begitu mempermasalahkannya. Tapi kalau dia tidak menunjukkan eksistensi kepercayaan diri seorang muslimah alias  menunjukkan gelagat ketidaksopanan seperti suka ngerpek or cari bala bantuan pada yang lain, menurutku itu sangat mengganggu pemandangan. Aku tersinggung.  Apa bedanya dengan yang lain? Mudah-mudahan ia tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ihsan, cepetan. Cuma satu jam waktunya!” Slamet mengoyang-goyangkan kursiku. Refleks, segera kuberikan dua lembar soal ke belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillah...kupenuhi lembar jawab pilihan ganda satu-satu. Tanpa pikir panjang kukerjakan soal seadanya, tanpa penghayatan, tanpa pemahaman, dan tentu saja penuh ketidakmengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di dinding depan, dekat papan tulis menunjukkan waktu masih tersisa setengah jam. Aku malas meneliti jawaban walaupun kuyakin masih banyak yang harus dibenahi. Aku ceroboh, sifat yang sudah kusadari dari dulu tapi entah mengapa aku tak pernah berusaha untuk hati-hati. Jangankan untuk menjawab pertanyaan, untuk memahami soal saja nggak bisa 100 persen benar.&lt;br /&gt;Semenit kemudian suasana kelas agak gaduh. Ada yang lempar-lemparan kertas, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang menggunakan isyarat dengan sandi-sandi yang sudah menjadi kesepakatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh...benar-benar menjemukan.&lt;br /&gt;Kutatap tajam dua orang pengawas yang asyik ngobrol tentang masalah kriminal. Aku tak habis pikir mengapa mereka tidak menjalankan tugasnya dengan baik; mengapa mereka membiarkan murid-muridnya bekerjasama saat ulangan. Jangan-jangan mereka sengaja memberikan kesempatan ‘istimewa’ agar tercapai hasil yang maksimal. Bagaimana ujian semester mampu dijadikan tolak ukur keberhasilan siswa dalam belajar kalau praktik di lapangan sudah hancur seperti ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah!&lt;br /&gt;Kulirik adik kelas yang duduk di sampingku. Tampaknya ia masih tenang meneliti lembar jawabnya. Untuk kedua kalinya kembali kutekuni kolong meja. Kali ini dengan ditumbuhi  malu yang teramat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah, ampuni aku! Kucoba memanfaatkan sedikit tenaga yang tersisa untuk mengembalikan kekuatan yang hampir saja hilang tertelan kedongkolan. Waktu masih tersisa limabelas menit, saat kuputuskan untuk membaca ulang soal lalu mencocokannya dengan jawaban, sama seperti kebiasaanku di semester awal kelas satu. Masih setengah soal lagi, ini berarti aku harus melawan kejenuhan, mengganti jawaban yang kuyakin di kunci benar tetapi bertentangan dengan hati nuraniku. PPKN, entah mengapa aku tak menyukaimu. Siapa suruh kau terlalu mengagung-agungkan Pancasila? Siapa bilang Pancasila itu sakti? Huuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima menit lagi,” seorang pengawas mengingatkan. Lirih kudengar teman-temanku mengucap ‘aduh’.  Salah siapa pakai lirik kiri kanan, teriak batinku kesal. Astaghfirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tet...tet...tet....” Suara bel yang kutunggu-tunggu akhirnya terdengar juga.&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang segera kutinggalkan lembar soal di meja. Bersama Yusuf kuayunkan langkah ke musholla Ash-Sholihiin. Kuambil wudhu, shalat dhuha, dan memohon keimanan yang tak kan pudar di setiap keadaan, memohon kemudahan di setiap urusan, memohon ampunan di setiap kesalahan, memohon dan memohon....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa bening kaca berjatuhan di tengadah tanganku. Aku tak pantas berharap banyak sementara aku tak pernah berjuang untuk mempermudah diri dalam menyikapi setiap urusan. Allah...ampuni aku. Beri kesempatan padaku untuk memperbaiki diri. Agar aku tak hanya memohon tapi juga berjuang menggapai kemenangan yang Kau janjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam kedua, pelajaran matematika kulewati dengan biasa saja. Tak ada yang istimewa, pun ketika ada 5 soal yang tak mampu kuselesaikan dengan sebenar yakin. Aku tak mempunyai ganjalan sama sekali dan itu yang membuatku merasa perlu untuk mencaci maki diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ketiga kalinya kulirik jilbaber yang ada di sampingku. Ia masih tenang dan kelihatan penuh percaya diri mengerjakan. Padahal banyak di antara teman-temannya menjalankan aksi persekutua. Alhamdulillah, tiba-tiba aku merasa bangga dengannya. Ia mengingatkanku pada adik semata wayangku : Hanifah. Kuperhatikan kerudung  yang menutup kepalanya, selebar kerudung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hani. Jangan...jangan ia memang Hani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingin meliriknya sekali lagi.Tidak! Sudah berapa lirikan yang kutujukan untuknya. Aku harus menahan keingintahuanku tentang dirinya. Aku harus menjaga pandangan, gadhul bashar.He..he, jaim, Ok! Mungkin Allah mengingatkanku untuk bersikap tenang sepertinya dan bersungguh-sungguh dalam menunaikan pekerjaan yang baik dan rapi, jangan memalsu, seperti kata Imam Syahid Hasan Al-Banna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-2, ke-3, dan ke-4 kulewati dengan baik. Kubertekad untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Walaupun tak seluruh materi sempat terbaca,  aku yakin siap. Aku jadi sedikit lebih tenang dan tidak terlalu mempedulikan lingkungan yang mengelilingiku. Biarlah kubuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu menjadi diriku tanpa terpengaruh faktor luar yang sebenarnya cukup dominan membawaku pada tradisi ngerpek dan nyontek yang sudah menjadi kebiasaan. Tradisi yang memuakkan, mengikis habis rasa percaya diri generasi muda yang harusnya bermental baja. Dan aku nggak boleh ikut-ikutan memanipulasi jawaban alias terperangkap ke dalam kepalsuan. Aku bukan mereka dan mereka bukan diriku. So, menjadi diriku sendiri meski beda adalah tuntutan. Betul, tidak? He..he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ke-5, aku tak tahu mengapa kembali dilanda kejenuhan. Aku tak siap untuk bertempur dengan baik. sejarah dan geografi benar-benar membuatku tak bisa berkutik.  Semalam penyakit malasku kambuh lagi karena sejujurnya aku memang paling alergi kalau disuruh menghapalkan. So, what should I do? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba keinginanku untuk memperhatikan adik kelas yang duduk di sampingku muncul kembali. Allah...ampuni aku bila rasa penasaran tentang dirinya mengusik ketenanganku. Siapa dia sebenarnya? Mengapa kerudungnya mirip sekali dengan kerudung Hani? Apakah ia memang benar adikku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah...izinkan aku melihat wajahnya! Aku ingin memastikan kalau dia benar-benar Hani.&lt;br /&gt;Hampir lima menit aku memperhatikannya. Berharap gadis itu menoleh ke arahku untuk beberapa saat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mungkin ia benar-benar menyukai geografi sehingga terlihat serius mengerjakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hani?” akhirnya suaraku mengambang memanggilnya. Meski setengah berbisik, aku yakin volume suaraku masih mampu terdengar oleh telinganya. Kalau ternyata ia bukan Hani aku tinggal mencari akal untuk untuk menanyakan apakah ia kenal Hani atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ada Bang?” ia pun menoleh ke arahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah....ia benar-benar Hani-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, tidak! Nggak da apa-apa kok. Ngetest aja, kok kayaknya serius banget, sih!” jawabku asal. Dan Hani pun kembali asyik dengan soalnya. Aku malu-semalunya. Kuakui ia memang adik yang paling manis, ya...karena ia memang satu-satunya adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu masih tersisa lima belas menit ketika kuputuskan untuk ke luar kelas lebih dulu. Mungkin aku bisa memanfaatkan sisa waktu plus istirahatku untuk mempersiapkan ujian jam ke-2 alias sejarah yang tidak menarik sama sekali. Hm..terlalu banyak hapalan tentang tanggal dan peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kutinggalkan mejaku, kulihat Bu Farah, guru sekaligus sepupuku,  mendekati adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He...apa yang terjadi dengan Hani. Tak biasanya ia cemberut. Di mana senyum dan canda yang biasanya selalu mewarnai kebersamaan kami? Kuacak sayang rambutnya, tapi ia masih mempertahankan wajah cemberutnya. Bahkan tersenyum tipis pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Han?” tanyaku lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak!” Hani menyambar kerudung kaos yang tersampir di kursi dan melangkah ke serambi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, sih dengan Adik Kecil,” kugunakan panggilan kesayangannya. Mudah-mudahan ia mau bercerita. Hani masih setia dalam diamnya. Ia berjalan ke taman dan mendekati tanaman favoritnya, palem botol yang  terletak di dekat kolam ikan. Tak lama kemudian ditinjuinya bagian yang menggembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hani kecewa, Bang. Udah lama Hani memendamnya. Hani ingin menerima setiap keadaan dengan ikhlas, tapi nyatanya nggak bisa, Bang. Hani gagal melakukannya padahal Hani, kan sudah berusaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecewa, gagal, berusaha? Aku nggak ngerti arah pembicaraannya. Yang kutahu aku pernah mengalaminya dalam seminggu ini dan mungkin sampai besok aku masih harus merasakan ketersiksaan batin yang akan sembuh dengan sendirinya seiring perjalanan waktu. Dan jika ujian semester ganjil tiba, rasa itu pasti menyerangku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama kali masuk SMA, Hani merasa senang sekali. Bukan hanya karena banyak teman-teman yang hijrah dan berjilbab tetapi juga sambutan dari kakak-kakak kelas yang hangat dan menawarkan berjuta keindahan dalam ikatan ukhuwah. Hani seperti menemukan dunia baru yang menjanjikan solusi yang benar dan tepat untuk semua problematika yang nantinya akan Hani hadapi. Hani sangat kagum dengan para aktivis Rohis yang mengajarkan ketawadzunan. Selain aktif di organisasi-organisasi lain, nilai akademik pun selalu memuaskan. Sejujurnya Hani bangga dan ingin belajar untuk menjadi seperti mereka. Tapi, Bang mengapa kekaguman itu harus luntur manakala Hani melihat kenyataan lain yang tidak sesuai dengan yang Hani sangkakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa sebenarnya yang kau maksud, Han?” tanyaku bodoh padahal aku sudah tahu benar siapa saja aktivis Rohis yang dikaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa lagi kalau bukan Bang Ihsan dan teman-teman abang yang pernah ke sini, juga mbak-mbak yang tidak perlu Hani sebutkan namanya satu-satu.” &lt;br /&gt;Deg! Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku digolongkan orang yang menghilangkan rasa simpati? Tidak! Kali ini adik kecilku pasti salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak berhak memvonisku sekejam itu, Han!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang tersinggung?” tanyanya datar  tanpa rasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang memang tidak melakukan kecurangan selama lima hari terakhir ini. Tapi Hani cukup kecewa melihat Abang membiarkan teman Abang yang juga aktif di Rohis melakukan hal yang benar-benar  memalukan. Apa kata dunia kalau aktivis Rohis nyontek dan kerjasamaa saat ujian. Bagaimana bisa mengajak orang lain melakukan perbaikan sedang ia tidak mampu memberi keteladanan?”&lt;br /&gt;Sedapat mungkin kupaksakan diri untuk tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Han, segalanya butuh proses. Teman-teman yang aktif di Rohis memang belum  semuanya mampu untuk menginternalisasikan  nilai-nilai Islam ke dalam dirinya, termasuk dalam hal kejujuran. Bukan Abang nggak mau mengingatkan tapi....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu apa wujud esensi dari ilmu yang tlah kita pelajari selama ini?”&lt;br /&gt;Belum selesai aku memaparkan pembelaanku, Hani kembali menyerangku. Dengan wajah yang semakin kecewa ia berjalan meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lewat begitu saja. Aku benar-benar tertipu. Tujuh hari kulewati tanpa adanya perubahan yang berarti. Aku tak mampu menyelesaikan masalah kecil yang membebani kepala. Yang lebih parah, Hani sepertinya menuntutku untuk bertindak sebelum masa reorganisasi Rohis tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang Ihsan mencalonkan diri sebagai ketua saja.” Ucapnya polos.&lt;br /&gt;Emangnya jadi qiyadah itu mudah? Huh...dasar gadis kecil. Padahal satu tahun kepengurusan ke depan aku berniat untuk bergabung dengan Divisi Jurnalistik yang merupakan bagian dari Departement PSDM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Abang jadi ketua, kan penetapan AD ART bisa dilakukan setelah proses penggodokan yang ketat. Jadi bab yang mengatur tentang hak dan kewajiban pengurus bisa diterima oleh semua pihak dengan penuh kesadaran dan rasa tanggungjawab.”  &lt;br /&gt;Duh, Hani sudah mulai pintar ngomong sekarang. He..he...mungkin imbas dari kedekatannya dengan anak scout yang hobi debat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, pokoknya Hani pingin semua anak Rohis itu jujur, termasuk dalam ulangan atau ujian semester. Dan harus ada kartu monitoring yang ngontrol pelanggaran apa saja yang dibuat oleh pengurus. So, biar oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab merasa jera karena sekali melanggar peraturan kena iqob dan kalau pointnya sudah sampai batas yang tidak bisa ditoleransi bisa langsung di back list atau di-PHK dari Rohis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...adikku yang lagi jadi ABG (akhwat baru ghirah) terlihat menggebu. Biasalah...kalau anak lagi semangat idealismenya terjaga. Mudah-mudahan dia bisa mempertahankan apa yang baru dikatakannya. Hmm...tapi membentuk suatu kepengurusan yang benar-benar solid dan mampu bertanggungjawab terhadap diri dan umat tidaklah semudah mengatakannya. Butuh kesadaran dari semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seleksi pengurus Rohis tahun ini benar-benar ketat. Setiap calon pengurus wajib mengikuti test tulis, wawancara dan orasi. Pengurus lama yang sudah kelas tiga sebentar lagi berstatus demisioner. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hani tampak semangat sekali mengikuti seleksi. Apalagi pas orasi, dia sampai bela-belain kursus kilat kepadaku. Dia masih belum mampu melupakan kesedihannya pasca ujian semester. Sebagai rasa prihatin yang mendalam ia mengambil tema kejujuran yang dikemas dengan judul ‘Honesty where are you’. Selepas test tulis ia mengeluh kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok test masuk Rohis aja pakai test akademik. Kok ada matematika, bahasa inggris dan pengetahuan umum, sih, Bang? Aku mumet apalagi pas penalaran ada bagian yang mirip test IQ.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dakwah nggak sekedar memerlukan semangat tetapi kader yang militan; yang bisa menyeimbangkan dzikir, fikir dan ikhtiar....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutangkap rasa was-was dalam diri adikku selama masa tenggang menunggu hasil pengumuman. Tapi hari ini dari kejauhan kulihat ia begitu menikmati LDKR (Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis) yang diadakan di Tawangmangu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku salut juga melihat Hani dan teman-temannya. Saat pelantikan kulihat dia mengucapkan ‘Ikrar Mujahid’ dengan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang Ihsan!” panggil Hani sambil menimang-nimang raport yang baru diambil ibu dari sekolah.  Ia tampak begitu bahagia. Meski merasa kurang optimal tapi toh ia masih duduk dalam tiga besar di kelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm...” jawabku kurang bersemangat. Meski masih peringkat 1 di kelas tapi gelar juara umum lepas dari tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang jangan bilang siapa-siapa, ya!” setengah berbisik ia meletakkan telunjuknya di atas hidung,”Tahu, nggak kalau Mbak...Eh Bu Farah membantuku saat ujian geografi. Masak jawabanku yang salah diketuk-ketuk dengan jari telunjuk. Padahal seumur-umur belum pernah lho...Hani minta bantuan.  Trus mau nggak mau ya...jawaban yang salah itu Hani ganti. Tolong katakan pada Bu Farah : nggak usah repot-repot ngebantu Hani.”&lt;br /&gt;“Katakan saja sendiri..., ternyata kamu juga nggak PeDe. Apa bedanya dengan mereka?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye...Bang Ihsan jahat!” Aku segera berlari ketika Hanifah bersiap-siap menyerangku. Kelihatannya ia sudah tidak marah lagi padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbuat ihsanlah! Lihatlah Allah dalam setiap tindakkanmu. Jika kau tak melihat-NYA maka ketahuilah bahwa Allah melihat setiap tindakanmu.” Terngiang kembali akan pesan Ayah -yang juga ada dalam hadist arbain- sebelum pergi menghadap-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm...jadi mengapa harus sedih jika lingkungan tidak seperti yang kita harapkan. Bukankah yang terpenting bagi kita adalah berusaha mempersiapkan ‘amunisi’ yang terbaik dalam setiap peperangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kita nggak bisa mengubah tradisi, minimal kita memulainya dari diri sendiri. Karena memang kita berbeda. Keberhasilan yang kita raih bukan hanya dinilai dari segi hasil tapi lebih dari itu Allah melihat pekerjaan kita. Untuk itulah kita hanya menggunakan cara yang baik untuk mendapatkan hasil yang terbaik...waspadalah dengan keberhasilan yang datang dengan tiba-tiba!” jawaban yang diberikan Mas Cahyo saat Hani mengeluh di forum diskusi tentang fenomena oknum anak Rohis yang masih nggak jujur pada saat ulangan masih membekas dalam ingatanku. Semoga aku pun  bisa memberi keteladanan bagi teman-temanku untuk mulai mandiri dan jujur dalam setiap langkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi, Akhir Oktober2000, pasca ulangan Cawu1 kelas 1 SMU dengan sedikit penyesuaian 3 tahun kemudian.  Maksud hati protes pada ‘oknum TAMA’ yang kerjasama saat ulangan; mudah-mudahan nggak terulang lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3545912805505876752?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3545912805505876752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/karena-qta-emang-beda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3545912805505876752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3545912805505876752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/karena-qta-emang-beda.html' title='KARENA QTA EMANG BEDA!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmJ6ZhcGQI/AAAAAAAAAWQ/z3aXXjA2Qac/s72-c/u+cerpen.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3666015715641637040</id><published>2009-02-16T22:25:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T22:35:54.142+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>THE SAME PEOPLE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmHwg3VTNI/AAAAAAAAAWI/2eGvq_pTXRs/s1600-h/akhwat+2.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 82px; height: 82px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmHwg3VTNI/AAAAAAAAAWI/2eGvq_pTXRs/s200/akhwat+2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303419303730957522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;9 Mei 2001&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemarin tanpa sengaja kulihat Awan bersama Hari  dan beberapa teman SMPku berbelok ke arah jalan Kutilang. Ini berarti Awan tidak berbohong. Dia sudah ngaji lagi. Alhamdulillah, akhirnya kecemasanku terhadapmu berkurang sudah, Wan. Kalau selama ini aku selalu memantau perkembanganmu, memperhatikan sepak terjangmu, itu karena aku masih peduli padamu meski mungkin tak ada alasan untuk melakukan itu. Aku  menyayangimu meski sebenarnya tak ada benang merah yang dapat mempersaudarakan kita, aku tak bisa menganggapmu sebagai adik kandung. Kau tak pernah sepersusuan denganku walaupun masa kecil kita lewati dalam kebersamaan. Kau....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara menutup diarynya. Ia menggeleng berulang-ulang. Meski sedikit ragu, diary bersampul hijau muda itu diletakkannya di antara buku-buku di rak. Ada bening kaca yang tiba-tiba berjatuhan di pipinya. Bhara semakin gelisah. Belum ada jawaban yang tepat atas berbagai pertanyaan yang berkecamuk. Bhara tahu  selama ini dirinya masih diselimuti oleh ketidakjujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awan itu terlalu istimewa, Ra. Meski berulang kali kucoba menepis rasa yang semestinya bisa dikendalikan dengan iman, aku tetap kewalahan. Aku tak mungkin membunuh rasa cinta itu. Awan memang bukan cinta pertamaku. Tapi, Ra dia adalah sosok yang paling memberikan warna lain dalam keseharianku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah! Bhara hanya beristighfar mendengar pengakuan Caya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“For example?”  Akhirnya ia pun memancing  Caya untuk memberikan contoh konkret dari alasan mengapa ia begitu dimabuk cinta pada Awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara tidak langsung ia memotivasiku untuk lebih rajin belajar. Aku kan harus nyambung kalau diajak diskusi soal pelajaran. Catatanku jadi rapi, aku malu jika ia sampai meminjam catatanku yang semrawut. Aku jadi ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara menghela napas. Caya yang dulunya dianggap sebagai sosok yang tomboy saja bisa kepincut dengan Awan. Jadi apakah salah bila Bhara pun menjatuhkan harap pada Awan? Salahkah bila ia melakukan ‘PeDeKaTe’ dengan Awan demi menjaganya agar tidak tertular virus yang kini hinggap pada Caya dan  mungkin juga menjangkit teman-temannya. Salahkah ia berharap : Awan bisa tegak melangkah pada jalan yang kini mulai disusurinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Bhara menggeleng. Bukankah hidayah Allah akan diberikan pada siapapun yang dikehendaki-Nya? Jadi cukuplah ia membantu teman di masa kecilnya itu dengan doa. Ya..semoga Allah..senantiasa memberikan petunjuk-Nya!&lt;br /&gt;Benarkah ia bisa tulus di dalam doanya? Sepertinya Bhara sendiri pun masih ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara melipat mukena lalu memasukkannya ke dalam tas. Sebenarnya ia ingin lebih lama lagi singgah di Ash-Sholihiin, musholla sekolahnya. Menikmati udara pagi di serambi musholla adalah kenikmatan yang tidak akan ia temukan di tempat lain di lingkungan sekolahnya yang terletak di kawasan persawahan. Tapi kemarin Caya sudah mewanti-wantinya untuk berangkat sekolah lebih awal, tentunya dengan harapan sampai kelas pun lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam berapa, Mbak?”  tanyanya pada kakak kelas yang tengah menalikan sepatu di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, aku juga nggak bawa jam. Coba adik lihat ke dalam musholla. Mungkin bentar lagi jam tujuh. Mbak ke kelas dulu ya! Assalamu’alaikum.” Kakak kelas itu pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas! Ia membatin. Tapi toh akhirnya ia beranjak ke dalam musholla. Jam yang terpasang pada dinding belakang itu menunjukkan pukul tujuh kurang sedikit. Bhara kembali ke serambi dan mengecek buku-bukunya yang ada di dalam tas, takut ada yang ketinggalan habisnya tadi berangkat terburu-buru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar memastikan tidak salah melihat jam, Bhara menengok ke dalam musholla untuk yang kedua kalinya. Tapi..upps, ia melihat Awan baru bangun dari I’tidalnya. Ia masih shalat Dhuha. O..ya..kemarin Caya bilang kalo’ jam pertama dan kedua kosong. Pantas Awan tidak terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentuk senyum kini menghiasi wajahnya. Kini tak ada alasan untuk menyisakan kekhawatiran terhadap Awan. Bhara yakin, Awan masih terjaga. Allah masih menyayangimu, Wan! Istiqomah, ya Akh! Bhara membisikkan harap di hatinya sambil melangkah tenang menuju kelas. Tak henti-hentinya ia bertakbir dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum...” sapanya riang pada seisi kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumussalam Waa Rahmatullahi Wa Barakatuuh..” terdengar balasan kompak persis dengan koor adik-adik TPA yang diajarnya. Ia meletakkan tas di bangkunya dan mendekat pada segerombol anak yang membentuk lingkaran dan sibuk menyalin jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben kalian kompak..” Bhara berkomentar melihat kesibukan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya-lah Ra. Namanya aja PR alias Pekerjaan Rame-rame jadi harus dikerjakan secara berjama’ah, dong! Wah... untung jam pertama kosong kalau tidak pasti kamu sudah disindir Bu Umi dengan majas ironinya : Ra, sepagi ini kau berangkat, teman-temanmu sudah pada pulang tahu..!” Anggi menimpali komentar Bhara dengan seni bermajasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara hanya tersenyum mendengar jawaban konyol dari Anggi. Dasar nih anak memang terkesan dengan Bu Umi yang biasanya mengajar Bahasa Indonesia pada jam pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“By the way, Ra..ada yang mau curhat, nih!” Anggi berhenti menulis dan menyikut lengan Anis. &lt;br /&gt;“Ada apa, Nis?” &lt;br /&gt;“Hmm..ada aja! Eh... anu...nanti habis nyelesaian PR aja ya Mbak!” Jawab gadis manis yang berambut panjang itu sedikit malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara mengiyakan. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan PR dibacanya  Risalah Pergerakan yang kemarin dipinjamnya dari Ash-Sholihiin Islamic Library. Sekali-kali matanya melihat ke arah pintu, mencari sosok Caya. Hampir lima menit berlalu tapi sosok yang dicarinya belum juga muncul di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanyo..Mbak Bhara baca buku kok kaya’nya gelisah sekali...nunggu seseorang ya?” Tanpa disadarinya Anggi sudah duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm..ketahuan. tapi bukan Bhara kalau mau mengakui kebenaran dugaan Anis.&lt;br /&gt;“I ya..Nis, nunggu kamu. Katanya mau curhat.”&lt;br /&gt;“Gini...Mbak, Anis mau tanya...”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ya?” Bhara memasang telinganya takut kalau pertanyaan itu menyangkut privacynya. Anis tersenyum melihat Bhara berwajah serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawab dengan jujur, ya! Mbak Bhara pernah jatuh cinta nggak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What? Pertanyaan yang polos. Bhara mengulum senyum. Duh...mesti njawab apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawab dong Mbak, soalnya aku lagi naksir seseorang, nih! Tapi kayaknya bertepuk sebelah tangan.” Anis terlihat murung. Bhara diam menunggu kalau ada kelanjutan lebih detail dari kalimat Anis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu Mbak Bhara tuh nggak mengenal yang namanya pacaran tapi......” belum sempat melengakapi kalimatnya, Anis melihat ke arah pintu. Tak lama berselang Awan dan beberapa anak lelaki masuk ke kelas tanpa salam. Bhara pura-pura nggak melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak, sepulang sekolah ada acara, ya? Aku mau main ke rumah Mbak Bhara aja. Nggak jadi curhat di sini, takut ada yang ndengar...” Anis mulai salah tingkah. Meski berusaha menyembunyikannya tapi toh Bhara bisa menebak mengapa Anis mengurungkan niat curhatnya. Jawabannya sederhana :  orang yang ditaksir Anis ada di sini. Siapa lagi kalo’ bukan ketua suku yang baru saja datang : Awan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti sepulang sekolah ada ASC. Ikut, yuk! Acaranya sampai Ashar... habis itu langsung aja ke rumahku. Nanti tak anter pulang menjelang Maghrib. Tapi kau harus izin ibumu dulu. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ASC? Acara apaan tuh Mbak?”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak nggak pernah dengar, sih. ASC itu Ash-Sholiihin Study Club.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooh..kaya’nya menarik juga. Kegiatan belajar bareng anak-anak Rohis ya, Mbak? Gimana sih kegiatannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kita ngerjain soal-soal atau membahas kesulitan belajar di kelas. Tentornya kakak kelas 3. Hari ini jadwal kita belajar Fisika... Ayo’, Nis ikut aja. Minggu depan kan Bu Mei akan mengadakan ulangan. Ya itung-itung nyicil belajarlah...biar pas hari- H kita bisa ngerjakan dengan optimal...” akhirnya Bhara promosi padahal sebelumnya nggak ada rencana untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pikir-pikir dulu aja ya Mbak.  Kalau nggak jadi ikut berarti nanti sore aku langsung ke rumah Mbak. Ok?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh!” Bhara  mengangguk mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sip..!” Anis memamerkan dua jempolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau gitu aku ke perpus dulu, ya! Mau ngembalikin buku. Kalau telat nanti kena semprot Mbak Mur.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I ya, deh aku juga mau ke kantin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya berpisah di pintu kelas. Soalnya arah kantin yang dituju Anis berlawanan dengan letak perpus sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah lagi Bhara akan sampai di perpus tapi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He... Ra, mau ke mana? Nyari aku ya?” sebuah suara yang khas membuatnya celingukan. Tak lama kemudian Bhara merasa ada yang menutup matanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Idih...apa-apaan, sih , Ya?”  Bhara cemberut. Caya memasang wajah marahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jahat, Ra! Membiarkan aku terperangkap dalam demam berkepanjangan. Kau biarkan aku kembali pada dunia maya yang menyengsarakan. Kau...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bla-bla...Bhara ingin lari rasanya.  Seperti biasa Caya membuatnya merasa terpojok dan terjepit dalam tanda tanya besar : salahkukah semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bicara baik-baik, ya.. Ya! Ke sekretarian Rohis, yuk! Mumpung lagi sepi. Aku bawa kuncinya, kok.” Bhara mengurungkan niatnya ke perpus dan mencoba menawarkan tempat yang nyaman. Caya mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang yang berukuran 4x6 itu Caya mengungkapkan keluh kesahnya. Masih seputar kegelisahannya menepis gelora rasa terhadap Awan. Caya memberikan argumen-argumen yang kuat; bahwa Awan adalah sosok yang pantas untuk dicintai. Bhara mencoba bersabar mendengarkan setiap kata dari mulut sahabatnya. Ia masih menunggu Caya mengungkapkan pemaparannya yang lebih terperinci. Sampai akhirnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Please tolong aku, Ra!” Wajah Caya memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku butuh jawaban yang menyejukkan. Meski kutahu itu klise dan kau pun telah terlalu sering mengatakannya.” Caya menatap Bhara penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku akan coba menawarkan alternatif baru. Jika selama ini kau telah  sekuat tenaga menjaga pandanganmu untuk tidak menatapnya maka mulai detik ini cobalah juga untuk tidak menyebut namanya dalam setiap perbincangan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caya mendesah pelan. Bhara meyakinkan sahabatnya bahwa cinta kepada manusia tanpa landasan yang benar hanya akan membuahkan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kerap kali kita menjumpai kepalsuan. Hal yang kita sangka bahagia ternyata mengecewakan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit lebih Bhara mendapati Caya diam. Bhara tidak tahu apa yang sedang dipikirkan gadis tomboy yang hampir sebulan ini menyulsulnya berjilbab.  Perlahan diraihnya tangan Caya, mencoba menguatkannya untuk mengendalikan rasa itu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembali ke kelas, yuk! Bentar lagi Bu Ema datang. Sayang, kan kalau kau melewatkan matematikamu tercinta.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caya masih diam. Bhara  bingung mau berkata apalagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menurutmu apa yang kukatakan tadi terlalu ekstrim, kau boleh memilih langkah yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisimu saat ini.”&lt;br /&gt;Caya menatap Bhara lekat, “ Apa iya begitu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah lima sore Bhara baru sampai rumah. ASC  hari ini asyik nian. Pemandunya memang jagoan Fisika. Kabarnya mau masuk teknik elektro UGM via PBUD.  Ah, andaikan berandai-andai itu boleh, aku juga ingin masuk UGM tapi ngambil HI saja..keren...siapa tahu bisa ketemu Amien Rais atau minimal anaknya. He..he.. apa hubungannya? Coba tebak? Bhara juga nggak tahu..we...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ra, tadi Anis ke sini.  Ke mana aja, sih kamu ditungguin kok nggak pulang-pulang?”  tegur bundanya begitu ia siap beraksi ke meja makan. Lapar banget dari siang belum makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan, kemarin Bhara sudah izin pulang sore, Nda.”  Jawabnya santai sembari mengambil nasi dari Magicjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah! Bukankah tadi pagi Anis sudah buat kencan denganku. Tiba-tiba selera makannya jadi hilang. Dasar pelupa! Bhara memaki dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada pesan nggak, Nda?”&lt;br /&gt;“Ada. Nih..surat kepada layang.”  Bunda memang suka berkelakar. &lt;br /&gt;Bhara cengengesan, “Bukannya layang kepada surat, Nda?” &lt;br /&gt;“Emboh, Nduk! Aku mau njahit dulu....Apa pun pesan itu segera dibaca lho, barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan Anis.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda meninggalkannya sendirian di meja makan. Meski tidak antusias, akhirnya ia menuruti saran bundanya. Selesai makan dan mencuci piring, dibukanya surat dari teman sekelasnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Assalamu’alaikum, Mbak Bhara! To the point aja ya.!&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Awan rajin ke musholla, apakah ia mau bergabung dengan anak-anak  Ash-Sholihiin, Mbak? Dan sikapnya kok jadi aneh, ya? Sombong banget! Ia nggak mau mbonceng cewek...biasanya dia nawarin mboncengin aku pulang ke rumah tapi kok sekarang nggak mau lagi. Emangnya Mbak tahu kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran itu haram ya, Mbak? Tapi kalau sekedar pingin dekat dengannya boleh nggak? Cinta kan nggak harus memiliki! Tapi gimana bisa dekat lha wong dia aja angkuh begitu. Apa aku juga harus berjilbab seperti Mbak agar bisa menarik simpatinya?&lt;br /&gt;Jawab ya Mbak! Besok pagi taktunggu di gerbang sekolah! Via kertas aja jawabannya dan jangan sampai ketahuan siapa-siapa ya!Thanks. Wassalam&lt;br /&gt;Anis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara mengulang-ngulang istighfarnya....Mengapa jadi begini nasib sahabat kecilku? Aku harus bilang ke ikhwan Ash-Sholihiin untuk menjaganya. Tapi siapa? Lagian apakah aku berhak mencampuri urusannya? Bhara menggeleng! Rasanya nggak perlu, ia takut terjadi fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raa..ada telfon! “ Bunda berteriak memanggilnya dari ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam delapan malam. Baru dua soal dari 20 soal trigonometri yang diberikan Bu Ema terjawab, eh... sudah ada gangguan teknis. Kapan bisa kelar? Bhara mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum.” Sifat hiprokit-nya kambuh...pura-pura jadi orang terramah sedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ra..anu...eh... ‘Alaikumussalam. Gini lho, aku Cuma mau ngasih tahu kalo’ ternyata Anis juga naksir Awan. Parahnya lagi, ternyata nggak cuma dia yang suka dengan Awan. Widya, Yanti, Tri, dan Tyas juga kepincut berat sama Awan. Gimana dong, Ra?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara melongo mendengar suara penuh nada kecemasan dari sebrang. Kasihan benar Caya...berita seperti itu saja harus dikabarkan padaku. Bhara ngedumel dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istighfar Ya...Istighfar yang bener. Wudhu dulu, abis itu tanyakan pada hati nuranimu : Apa I ya semua yang kau lakukan untuk melupakan Awan sudah dilandasi kesadaran. Meski wajar bila kadang rasa itu menggelora di hatimu, tapi jangan terus dibiarkan, dong! Ingat, jalanmu masih panjang. Dah dulu ya...Caya Sayang aku mau nyelesain PR dari Bu Ema dulu. Daag...Assalamu’alaikuum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara menutup telepon tanpa persetujuan dari lawan bicaranya. Ia tertegun sejenak. Kata-kata yang diucapkan pada Caya sebenarnya lebih pas untuk dicernanya sendiri. &lt;br /&gt;Astaghfirullah! Bhara mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Awan...Awan, mengapa banyak sekali yang menjatuhkan harap padamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa semangat Bhara kembali ke kamarnya. PR matematika yang berjumlah 20 soal itu menjadi tidak menarik lagi. Pandangannya sengaja ia kembarakan ke seluruh penjuru kamar. Buku diarynya yang bersampul hijau muda seolah melambai padanya. Menawarinya untuk berbagi tentang cerita-ceritanya hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara tak menolak tawaran itu. Diambilnya diarinya dari rak buku yang tertempel di dinding.  Baru beberapa kata tertulis tapi Bhara memutuskan untuk berhenti. Diurungkan niatnya untuk membingkai kisah tentang Awan. Sudah terlalu sering ia tulis nama yang sama pada diarynya. &lt;br /&gt;Sebetulnya apa sih keistimewaanmu, Wan? Berlagak lupa, Bhara pun membuka lembar-lembar awal.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;17 Juli 2000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Muhammad Awan Kelana. Entah atas dasar apa kutuliskan namamu pada diary ini. Yang jelas aku sebel bin kesal serta tak habis pikir : kenapa kau sekelas lagi denganku? Huuh..aku jadi berprasangka yang macam-macam. Aku takut tak berani memulai perubahan total karena kau telah tahu bagaimana dan siapa aku waktu di TK, SD, dan SLTP. Aku takut kau akan membeberkan rahasiaku pada yang lain; bahwa aku angkuh, dingin, dan tentu saja nggak gaul. Astaghfirullah, maafkan aku, Wan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;18 Juli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku nggak peduli, Wan! Meskipun kau ada di kelasku, aku harus tetap berubah. Aku harus berani memulai petualangan baruku ‘tuk tunjukkan eksistensiku sebagai muslimah. Juju aja: aku masih harus banyak belajar darimu, terutama tentang cara membawa diri pada lingkungan yang heterogen dan bagaimana bisa berbaur dengan semua pihak tanpa melupakan kesejatian diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;20 Juli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Masa orientasi sudah berakhir. Kita sudah benar-benar resmi menghuni sekolah ‘kaporit’. Bagaimana denganmu, Wan? Apa kau sudah mulai bangga menjadi warga ‘Permadani Hijau’? Eh, gimana rasanya kepilih jadi kepala suku di kelas punya banyak etnis ini?? Mudah-mudahan kau bisa jadi kepala suku yang baik...Amien.&lt;br /&gt;10 Agustus&lt;br /&gt; Kamu memang ‘ndableg’, Wan! Kamu nggak suka ‘dioyak-oyak’. Dan akibatnya, nikmati aja sendiri...kelas kita terlambat mengumpulkan foto untuk raport dan kelengkapan administrasi. Tapi aku yakin kau tetap pegang amanah, kok. Insya Allah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;17 Agustus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;He...akhirnya kelas kita dinobatkan jadi kelas paling memprihatinkan dalam lomba kebersihan. Gimana perasaanmu? Cuek..pasti nggak kerasa apa-apa. Sebab apapun kata orang, kau akan bilang yoben, biarin!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;September 2000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Aku benci kau, Wan..asli! Siapa suruh kau calonkan aku jadi anggota MPK. Aku nggak suka rapat...kau tahu, kan sebenarnya? Tapi it will be oke karena sidang pleno itu hanya setahun sekali. Di komisi B, kami membahs tentang progam kerja OSIS. By the way, kau lulus jadi OSIS baru ya! Selamat, mudah-mudahan kau dapatkan banyak pengalaman. Sayangnya Dik, kau nggak aktif di musholla. Sebenarnya pilih Scout boleh aja, OSIS pun silakan asal RoHis jangan dilupa...Sayang seribu sayang jika  ngaji pun kau tinggalkan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan membaca, Bhara menutup diarynya. Dan kesimpulannya : Caya benar. Awan adalah figur yang istimewa, buktinya ia pun memperhatikan sosok yang kadang  kala dianggapnya sebagai musuh bebuyutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Bhara beristighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah bersihkanlah hati kami dari segala sesuatu yang membuat kami berpaling dari-MU. Izinkan kami merasakan keindahan kasih-MU selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhara tersedu menghayati do’a yang pernah didapatnya dari seorang sahabat. Entah dari mana sumbernya, ia tak tahu. Kini dibukanya kembali kertas merah jambu yang disimpannya di sela-sela buku diarynya. Berharap ia tak kan larut &amp; tertular penyakit yang tlah menjangkiti teman-temannya dan kini mulai menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;YA ALLAH, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-MU, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-MU. YA MUHAIMIN, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-MU YA ALLAH, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-MU, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu. YA RABBANA, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada-MU. YA RABBUL IZZATI, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-MU. YA ALLAH, jika aku menikmati cinta kekasih-MU, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-MU. YA ALLAH, jika aku jatuh hati pada kekasih-MU, jangan biarkan aku tertatih &amp; terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru pada manusia kepada-MU. YA ALLAH, jika KAU halalkan aku merindui kekasih-MU, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki&amp;rindu abadi hanya pada-MU&lt;/span&gt; *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngawi, 1 Juni 2001 dengan beberapat edit-an 3 tahun kemudian&lt;br /&gt;Untai rindu  untuk Ash-Sholihiin Crew : Moga Istiqomah selalu!&lt;br /&gt;*) diambil dari lembar yang dihadiahkan Bu Is tanpa kutahu sumbernya dari mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3666015715641637040?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3666015715641637040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/same-people.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3666015715641637040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3666015715641637040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/same-people.html' title='THE SAME PEOPLE'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmHwg3VTNI/AAAAAAAAAWI/2eGvq_pTXRs/s72-c/akhwat+2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-2158176145445057126</id><published>2009-02-16T22:08:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T22:24:08.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>BILAKAH KUGAPAI KEMBALI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmE3iv3PgI/AAAAAAAAAWA/mwO-RBdccpY/s1600-h/ikhwan.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 82px; height: 82px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmE3iv3PgI/AAAAAAAAAWA/mwO-RBdccpY/s200/ikhwan.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303416125960699394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, aku mo’ pulang dulu. Yuk, assalamu’alaikum,” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok berjilbab putih itu terlihat terburu-buru mengendarai sepeda mininya. Aku hanya diam melepas kepergiannya tanpa ekspresi yang tegas. Bahkan bibirku masih terkatup ketika salam yang selalu dihadiahkannya dengan penuh ketulusan itu terucap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memang bukan siap-siapa bagiku. Ia hanyalah seorang teman. Ya, seorang teman yang keberadaannya kadangkala mempengaruhi keseharianku. Tapi kali ini ia benar-benar membuatku marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, sesama muslim aku masih boleh mengingatkanmu, kan?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, kuakui ia memang pandai mengambil prolog lalu merangkai kata demi kata dengan retorika yang bagus. Sayangnya ia terlalu mengedepankan egonya, ia terlalu membawa ‘ekslusivitas’nya dalam menasehatiku. Ia benar-benar mengintegrasikan semua pengetahuan yang ia dapat ke dalam tindakan nyata , yang dinamainya sebagai ‘amal’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, apakah besok kau akan benar-benar merayakan hari lahirmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, sebenarnya aku masih ragu tapi rasanya sulit untuk mencegah ‘pasukan’ku dalam mengembangkan kreativitasnya yang kalau dilihat dengan kacamata Islam memiliki simbol sebagai kemubadziran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, kau masih mendengarkanku, kan?” &lt;br /&gt;Ia selalu senang dengan pertanyaan yang seharusnya nggak perlu ditanyakan. Dan seperti biasa aku pun menjawab dengan ‘deheman’ yang khas,”Ehm!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harap, kau bisa mengondisikan teman-teman sebaik mungkin. Paling tidak, insiden setahun yang lalu nggak terulang kembali. OK, do your best! Dan maaf jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku. Yah, aku ngerti kalau berbicara itu mudah. Tapi Insya Allah kalo’ kita mau benar-benar berusaha maka kemungkinan terciptanya keadaan yang terkondisi akan terbuka lebar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam, mencoba mencerna kata-katanya meski wajahku menyiratkan ketidaksimpatian atas semua nasehatnya. Aku tak butuh uraian panjang lebarnya dan aku yakin sebenarnya ia pun tahu bahwa manusia bisa berubah. Jadi aku punya hak, kan untuk menemukan dinamika hidup yang lebih kusuka dan sesuai trend?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Melatiningtyas. Aku lebih suka memanggilnya Mela meskipun teman-teman di sekolah kami lebih sering menyapanya Bunga. Aku mengenalnya secara tidak sengaja di perpus umum waktu kami masih sama-sama duduk di bangku SLTP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga cantik! Begitu pujian yang sering kudengar dari temab-teman. Dan untuk hal seperti itu aku sama sekali nggak berminat untuk memberi komentar. Bahkan memperhatikan wajah seorang wanita, apalagi yang memakai jilbab merupakan sebuah pelanggaran dan termasuk dalam katagori tabu dalam kamus keseharianku. Tapi itu dulu. Lantas sekarang? Sudah nggak berlaku lagi sebab bukankah wajah cantik memang untuk dilihat? Ya, hitung-hitung vitamin A-lah. Meski demikian tetapi tetap ada pengecualian dalam bersikap kepada Bunga alias Si Mela itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum pernah memandangnya. Sungguh! Jadi kalo’ ada yang bilang ia cantik aku sih percaya aja. Bukankah cantik tidaknya seorang wanita itu relatif? Dan sebenarnya kriteria cantik tidaknya seorang wanita menurutku tuh nggak hanya dari segi fisik, kepribadiannya lebih utama. Juga ia harus nyambung kalo’ diajak bicara, nggak cerewet-cerewet amat, bisa ngerti en maklum dengan perbedaan di sekitarnya, etc. Ih.., kaya’ ngomong kriteria istri idaman, ya! Jadi malu nih....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu? Apakah laki-laki yang sekarang jadi play boy kelas kakap seperti aku ini masih punya malu? Aku sendiri jadi nggak yakin dengan keimanan yang setiap saat sering kuikrarkan. Padahal aku ingat betul lho...hadist Rasulullah yang artinya malu itu sebagiam dari iman. Em, sebenarnya aku juga nggak begitu ngeh dengan keadaanku sekarang ini. Apa yang menyebabkanku berubah 180 derajat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan pergaulan? Meski udah nggak deket lagi ama komunitas jenggoter alias anak-anak yang nge-team di Rohis, aku masih sering diingetin. Terlalu sering malah. Dan satu-satunya akhwat (ih, aku masih inget lho sebutan itu) yang paling sering ngingetin aku ya Si Mela itu. Nggak tahu, tuh akhwat perhatian banget (GeeR kali ya aku?). Dulu memang aku yang minta untuk dikasih kritik, masukan, saran, nasehat atau taushiyah-lah biar kalo’ agak bengkok bisa lebih mudah ngelursinnya. Sekarang udah terlanjur bengkok beneran, eh ia masih belum kapok buat ngasih teguran ke aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya ia benar, bahwa semuanya pasti mengalami proses, dan seperti metamorfosisku dari ‘itong’(ikhwan sepotong) menjadi ikhwan beneran, kini penjelmaanku menjadi mantan ikhwan pun juga mengalami proses meski sebenarnya sangat perlahan-lahan. Dan sebenarnya aku pun merasakan sekali proses perubahan itu. Ada rasa gelisah yang menyeretku pada sebuah tanda tanya besar. Mengapa... mengapa tak bisa kurasakan kenikmatan antara dua kenikmatan sekaligus? Mengapa harus ada rasa kehilangan yang sangat ketika aku berlari dan mengejar kenikmatan yang lain?&lt;br /&gt;Aku masih ingat, Mela pernah mengingatkanku untuk meluruskan niat. Yah, tak pernah terlintas sedikitpun di dalam benakku untuk menikmati posisi itu. Ketua OSIS! Aku menerima musyawarah itu juga atas dorongan Mela juga. Ia yang menguatkanku untuk menempati posisi yang menjadi incaran berbagai elit organisasi di sekolah. Katanya itu peluang yang harus diambil, paling tidak merupakan sebuah wasilah dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, aku yakin kau bisa pegang amanah. Menjadi ketua memang tidak mudah. Tapi siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membuka jalan bagi kami agar lebih leluasa dalam bergerak. Berazzamlah Gus! Untuk semaksimal mungkin menunaikan tanggungjawab. Kewajiban kita, maksudku tugas kita untuk mengarungi samudera dakwah ini tak kan pernah usai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Mel, aku takut bila nanti tak mampu mencapai ketawadzunan. Aku takut bila langkahku nanti cenderung mengikuti arus. Aku takut...menjadi sekuler!” tenggorokanku seperti tercekat dan aku tak mampu berkata-kata lagi. Entahlah..yang pasti aku pun mengangguk perlahan-lahan. Dan sepertinya Mela bisa bernapas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu itu tergantung pada niat. Meski berat, kucoba untuk selalu meluruskan niat itu. Laa ghayata illallah. Allah ghayatuna. Kucoba memaknai tujuan hidup itu. Hanya untuk Allah!&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi padaku saat ini? Futur???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tit...tit...tit...” suara alarm dari hp itu memecah kesunyianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 24.00 atau 00.00, aku tak mempedulikannya. Yang ada di pikiranku hanya kesedihan. Aku nggak tahu...kenapa. Sepertinya aku telah sampai pada titik kejenuhan yang sangat. Puncak kejenuhan ini membuatku benar-benar nggak bersemangat. Aku lelah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba memejamkan mata kembali. Masih ada waktu untuk memulihkan energiku di kasur empuk yang disediakan ibu kosku. Tapi malam ini kurasa begitu panjang...kurasakan kesendirianku di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada yang membacakan surat Al-‘Asr di telingaku. Lalu bayangan anak-anak Rohis hadir menyapaku. Aku  tak mengerti...ada Susilo, Habib, Awan, Sakti, Nugroho dan Agung yang membawakanku spanduk. Membentangkannya tepat di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; BE A GOOD FIGHTER &amp; Let’s join with us: Ash-Sholihiin crew!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; “Apa yang kau ragukan lagi, Akhi? Bukankah surga Allah lebih indah daripada dunia dan seisinya? Apa yang kau risaukan? Apakah keindahan dunia lebih menarik di hatimu?”  Habib mendekat, duduk di sampingku dan mengintrogasiku dengan pertanyaan retoris. Aku diam, tak tahu hendak menjawab apa.&lt;br /&gt; “Kau masih ingat akan ikrar  di awal perjuangan kita, kan?”  kali ini suara Susilo yang juga teman sekelasku pun ber-retoris.&lt;br /&gt; Aku masih membisu, menunggu barangkali ada yang akan mereka tanyakan lagi. Aku masih menunggu...dan ketika sedang kupilih kata untuk balik mengintrogasi mereka, Nugroho yang menjadi lead vocal dari Ash-Sholiihin Voice mendendangkan penggalan nasyid dari SP yang sangat kuhapal. &lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allah Ghayatuna&lt;br /&gt; Muhammad Qudwatuna&lt;br /&gt; Al-Qur’an Dusturuna&lt;br /&gt; Jihad Sabiluna&lt;br /&gt; Syahid asma amanina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; “Apa mau kalian?” akhirnya hanya itu kalimat yang mampu kuucapkan.&lt;br /&gt; Mereka pun diam dan memberiku seulas senyum secara bersamaan lalu tanpa kata perpisahan menghilang. Kulihat diriku sendirian di padang yang luas. Panas tiada atap perlindungan. Duhai tempat apakah ini?&lt;br /&gt; “Tit...tit.. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ar-ruhul jadid fii jasadil ummah. Hai Mujahid luluhlantakkan jiwa pendosa.. Ar-ruhul jadid fii jasadil ummah...&lt;/span&gt;” Seketika aku terbangun. Ringtone ini sengaja kutambahkan bila panggilan anak-anak Rohis itu menghubungiku. Dan nyatanya memang benar. Ada miscalled dan sebuah sms masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“SMT Hri Lahir!&lt;br /&gt; Gusti Agung Setya Asmara,bangunlh u/ qiyamul lail. &lt;br /&gt;Ingat 5 sblm 5, mg ALLAH mengizinkn qta u/ b’benah!&lt;br /&gt;JIHAD IS STILL GOING ON, Akhi!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak. Habib, ketua Rohis yang merangkap sebagai koordinator bidang I OSIS mengingatkanku untuk qiyamul lail. Kulihat jam dinding di kamar menunjukkan 03.15. Kukira Habib sudah bosan mengingatkanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin sepertiga malam terakhir berhembus melewati jendela kamar yang sengaja kubuka kali ini sangatlah sejuk. Dingin tapi benar-benar menggiringku untuk menemui ketenangan. Bayangan Habib cs memenuhi benakku. Mereka pasti sudah khusyu’ dalam shalat malam. Pasti mereka sudah larut dalam isakan-isakan keinsyafan. Ah, sedang aku? Sudah berbulan-bulan melupakan kebiasaan untuk menjalin kemesraan itu.  Dan apakah ini momentum yang tepat untuk memulainya kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masih enggan akhirnya kuambil air wudhu dan memulai rakaat demi rakaat. Tapi aku tak tahu mengapa tiada kurasakan kenikmatan seperti dulu. Sungguh, aku pun tak mengerti, ketenangan yang tadinya sempat kutangkap lewat hembusan angin dari jendela tiba-tiba hilang. &lt;br /&gt;Aku capek! Kembali kurebahkan diriku di ranjang. Sayup-sayup sampai kudengar adzan Subuh. Aku tak peduli. Kurapatkan selimut karena rasa ngantuk menyerangku sedemikian hebat.&lt;br /&gt;Ash-sholaatu khoirun minan naum... Sholat lebih baik darupada tidur, tapi aku benar-benar ngantuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, bangun! Sudah hampir setengah tujuh lho..Le! Ayo, gek ndang ...mengko telat lho!&lt;br /&gt;Ah! Kalau saja nggak sungkan dengan ibu kosku yang baik hati itu mungkin aku nggak akan beranjak. Setengah tujuh? Hah? Berarti Ajeng sudah menungguku di teras depan. Aku harus super kilat nih: mandi, nyiapin buku, pakai seragam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar seperti dugaanku. Gadis manis, putri tunggal ibu kos itu terlihat gelisah, kulihat ia mondar-mandir menungguku. Ketika kustarter Supra X-ku, tanpa berkata-kata, ia segera duduk di boncengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kecepatan 75km/jam, aku meluncur ke SMA Klitik Jaya. Tepat 5 menit, aku dah sampai di pelataran SMA dan tentu saja bersamaan dengan bunyi bel. Hm..belum terlambat. Aku bisa bernapas lega menuju kelasku di 3IPA 4 tanpa kata-kata perpisahan atau hanya say good by pada Ajeng. Kubiarkan gadis itu dalam kejengkelen. Biarlah! Kalaulah dia mau marah, silakan saja dan aku tak kan peduli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kelas kudapati wajah-wajah tegang. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;What’s happened?&lt;/span&gt; O, aku baru ingat! Hari ini ulangan Matematika, pantas saja! Segera kuletakkan tas dan duduk setenang mungkin meski secara materi aku belum siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gus, sudah siap?” Habib menepuk pundakku pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh...anu...” Aku tergagap. Refleks, aku berpaling melihat wajahnya. Tanpa sengaja kurasakan pancaran ketenangan di balik tatapan matanya. Ada perasaan haru atas perhatiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah..., kenapa aku jadi sentimental begini. Padahal aku kan laki-laki.&lt;br /&gt;“Kamu masih punya kesempatan untuk belajar, kok! Yah, semoga besok kamu benar-benar siap.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?’&lt;br /&gt;Ulangannya dicancel. Hari ini mulai jam pertama sampai ke tiga guru-guru akan rapat tentang...” belum selesai Habib memaparkan informasinya, terdengar sorak bahagia dari penjuru kelas.&lt;br /&gt;“Yes..yes...yes!”&lt;br /&gt;Dasar anak-anak norak. Ada jam kosong saja senangnya bukan main, bagaimana bangsa ini bisa maju? &lt;br /&gt;“Gus, aku ke Ash-Sholiihin dulu ya! Sekalian yuk!” tawarnya. Aku menggeleng.&lt;br /&gt;“Nantilah kalau pas Dhuhur.”&lt;br /&gt;“Ya sudah! Assalamu’alaikum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan sosok itu berlalu. Langkahnya mantap menuju ke musholla. Ah, sebenarnya aku juga ingin ke sana tapi gengsi. Udah lama aku nggak sholat dhuha. Ironis sekali...padahal dulu aku yang paling sering koar-koar ngajak teman sekelas shalat dhuha bila istirahat pertama tiba.  Tepat sekali kalo’ dikatakan bahwa degradasi ruhiyahku tlah mencapai stadium empat. Ah, biarlah...aku capek membahas masalah begituan. Mending belajar matematika saja.&lt;br /&gt;Belum genap lima menit aku mengotak-atik soal-soal logika tiba-tiba kurasakan ada yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plok...plok..plok..” lemparan itu semakin menjadi dari kiri kanan depan belakang. Kemudian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Byuuur...” ada yang menyiramku dengan cairan kental. Baunya sangat tidak sedap sekali. Pasti ini perpaduan yang proporsional dari air comberan, telur busuk, dan aneka makanan basi yang telah dilembutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! Aku nggak bawa ganti. Padahal hampir setiap bulan insiden seperti ini terjadi. Dan sebenarnya kemarin Mela juga sudah mengingatkanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman yang budiman, adek-adek kelas 1&amp;2 yang cantik dan ganteng, hari ini sebelum reorganisasi OSIS berlangsung, ketua OSIS kita tercinta akan memberi sambutan. Marilah kita dengar pidatonya di hari ultahnya yang ke-18 ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai lagi! Si Gayuh yang kukerjain sebulan yang lalu ternyata menyimpan dendam kusumat. Dan ia memilih hari ini sebagai hari pembalasan. &lt;br /&gt;Plok..plok...terdengar tepuk tangan yang membahana. Aku diseret ke luar kelas menuju lapangan volley yang letaknya persis di samping musholla. Kemudian tanpa karcis, anak-anak sableng dari kelas 1, 2, &amp; 3 menuju ke arahku. Aku jadi tontonan gratis kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo’ Gus, ngomong dong! Tuh udah ditunggu fansmu.” Gayuh berbisik di telingaku. Wajahku seketika memerah bak udang rebus.&lt;br /&gt;“satu..dua..tiga..” kudengar sebuah suara yang memberi komando. Ya Allah, apa yang akan terjadi. Aku terduduk lemas dan pasrah dengan surprise-surprise yang sebenarnya kampungan dan sangat tidak edukatif sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gusti, happy birthday !” tanpa kusadari Ajeng mendekat lalu menaburiku tepung terigu dan bunga-bunga mawar. Astagfirullah, aku bergidik. Mengerikan sekali. Apa lagi yang akan dilakukan putri ibu kosku itu? Ya Allah lindungi aku!&lt;br /&gt;Aku harus berbuat sesuatu sebelum kejadian yang lebih buruk menimpaku. Tiba-tiba aku seperti mendapat pertolongan. Dengan tenang yang kupaksakan aku tersenyum dan mencoba untuk berbicara baik-baik. Memberi sambutan? Konyol sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum Wr. Wb...Terimakasih atas kebaikan teman-teman 3IPA4 yang dengan sukses mempermalukan saya di depan adik-adik kelas 1 &amp; 2. Dan terimakasih atas kesediaan  adik-adik yang telah menyempatkan diri untuk melihat tontonan gratis yang sebenarnya nggak bermutu ini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas keikhlasan dari semua pihak yang ada di sini. Wassalamu’alaikum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera berlari menuju musholla Ash-Sholiihin. Aku nggak tahu harus menyelamatkan diri ke mana lagi. Banyak yang mencoba mengejar dan menghalangiku. Tapi begitu tahu aku menuju ke sekretariat Rohis, mereka lebih memilih untuk melepasku dengan tatapan kecewa.&lt;br /&gt;Dari pintu yang sedikit terbuka, kulihat anak-anak Rohis sedang asyik berdiskusi. Mungkin rapat atau membicarakan masalah pelajaran. Aku tak tahu. Hampir saja kuurungkan niat untuk mengetuk pintu tetapi Habib lebih dulu membukanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba membalas sernyumnya ketika ia menghampirku dengan tatapan yang menawarkan ketulusan. Ada getar yang tiba-tiba muncul di hatiku. Hm..rasa sentimentil itu kambuh lagi. Ya Allah apa yang sebenarnya terjadi padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum Akhi.” Ia menghulurkan tangannya terlebih dulu. Aku menyambutnya kaku.  Dipandanginya rambutku yang kusut, bajuku yang belepotan dengan telur busuk, air comberam, tepung, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia segera masuk ke dalam ruang sekretariat lalu keluar dengan   bungkusan di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih, pake! Insya Allah bersih. Itu sebenarnya seragam yang sengaja kutinggal di base camp untuk persiapan kalo’ nanti malam jadi mabit di sini dan besok nggak sempat pulang ke rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks ya!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru kubawa langkahku menuju kamar ganti yang terletak persis di depan kantor sekretariat Rohis alias base camp mereka. Untung saja ukuran baju ini tidak begitu kekecilan karena sebenarnya badanku lebih besar darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti sore ada acara?” Habib langsung menodongku dengan pertanyaan begitu aku selesai ganti pakaian. Aku  malas untuk menjawabnya. Acara apa? Yang pasti nanti sore aku punya banyak agenda yang mesti kuselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya kami, aku dan teman-teman sudah lama ingin berbicara denganmu. Tapi entahlah...mungkin belum ada kesempatan yang pas. Seperti terbentang jarak...”&lt;br /&gt;Jarak itu memang sengaja kubuat. Tiap kali ada di antara kalian yang mencoba mengajakku untuk kembali. Bahkan untuk sekedar ngobrol dan berbasa-basi pun aku lebih sering menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, kami mau minta maaf!”&lt;br /&gt;Seperti ada petir yang menyambar tiba-tiba tapi aku hanya diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk segala kesalahan yang tanpa sengaja telah melukaimu, membuatmu merasa tak nyaman bahkan untuk sekedar berada di tempat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib cs ternyata punya pikiran seperti itu. Benarkah mereka masih memperhatikanku sama seperti dulu meskipun aku telah terlalu sering mengacuhkan mereka.&lt;br /&gt;“Dah shalat Dhuha?”  tanyanya ringan, mungkin mencoba memecah dinding kekakuan antara dia dan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum tuh” jawabku santai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buruan sana! Mumpung masih ada kesempatan. Nanti kalau dah selesai jemput ane di base camp ya! Kita ke kelas bareng. Sekarang ane mau nyelesain proposal untuk seminar bulan depan. Eh, ente mau kan jadi panitia...koordinator sie sponsorship,  ya?”  Ditepuknya pundakku cukup keras sebelum ia kembali ke ruang sekretariat. Kalau sudah kumat  dengan ane ente-nya itu berarti ada udang di balik rempeyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asli aku bingung! Sebenarnya kalau mau jujur, ini adalah momentum untuk kembali bergabung dengan komunitas mereka. Tapi bagaimana dengan Ajeng? Bagaimana dengan janjiku untuk setia padanya, paling tidak sampai aku lulus nanti. Hm..setia? Harusnya untuk Allah saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...aku mumet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah bilakah kugapai hidayah-MU kembali sedang hati ini masih sibuk memikirkan urusan duniawi? Bilakah kan kudapatkan cinta-MU , sedang masih saja kuharap cinta lain selain cinta-MU? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang yang lupa kepada ALLAH, lalu ALLAH menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, maka pasti kamu akan melihatnya tunduk terpacah belah disebabkan takut kepada ALLAh. Dan perumpamaan-perumpaan itu Kami buat untuk  manusia supaya mereka berfikir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isakan tangis tak mampu kutahan ketika Habib membaca surat AL-Hasyr  ayat 18-21 yang masih kuhapal artinya. Di sini, di bumi Perkemahan Sidorejo pula  kami pernah bersama-sama menghapal dan mentadaburrinya. Syahdu memenuhi ruang hatiku. Ya Allah terimakasih atas lembut tegurmu melalui hadirnya sahabat yang mengingatkanku untuk kembali menggapai indah hidayah-MU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini cerah sekali. Hawa pegunungan yang sejuk menemani kami berpetualang, mentafakuri penciptaan-NYA. Akhirnya setelah melewati pergulatan batin yang melelahkan kuputuskan untuk kembali mengikrarkan janji setia di jalan-Nya. Kututup lembar-lembar yang hitamku. Ku tak ingin hidup dalam kehampaan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin dengan bantuan Habib cs, kubawa barang-barang dari rumah Ajeng. Untuk sementara aku tinggal di markas mereka. Kontrakan yang sederhana yang kupilih untuk melakukan terapi ruhiyah. Masih ada luka yang harus kusembuhkan. Luka yang belumlah kering karena kesilauan pada fatamorgana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan Ajeng dengan alasan yang mudah diterimanya. Karena kutahu hingga kini ia masih belum mengerti akan cinta yang lebih membiusku, membawaku mengembara di rimba-NYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku yang telah salah memilihmu. Dan mungkin sangat menyakitkan jika aku memutuskanmu begitu saja. Ada hubungan yang lebih pantas untuk kita: ukhuwah. Karena hubungan ini tak mempunyai tendensi apa-apa.  Mari berbenah agar masa depan mampu kita jelang dengan kegemilangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gusti takut kalau aku mengganggu konsentrasi belajar Mas ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan itu. Tapi memang Mas butuh konsentrasi karena sebentar lagi UAN. Mas juga perlu mempersiapkan SPMB dengan baik. Sekali lagi maafkan aku, Jeng. Semoga kau temukan labuhan cinta yang tepat. Kau percaya Allah, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutahu hatinya hancur tapi ia terlihat tidak emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga sukses dan diterima di Kedokteran.” Ucapnya sebelum berlari meninggalkanku. Suaranya serak seperti menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depan reorganisasi OSIS. Aku harus melaporkan pertanggung jawabanku di hadapan Majelis Perwakilan Sekolah. Dan di sana pasti ada Mela yang siap menyerangku dengan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus, jangan ngelamun aja! Bentar lagi kita mulai perjalanan. Perbekalan di tasmu sudah lengkap, kan? Jangan sampai ada yang ketinggalan lho! Coba cek dah ada semuanya kan: korek api, air minum, roti, gunting, tali rafia!” Kali ini Susilo yang menegurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Siap bos!” jawabku mantap.&lt;br /&gt; “Lupakan sejenak beban yang menghimpitmu. Mari kita nikmati simulasi dari perjalanan panjang kita. Inilah The Real Moslem Adventure. Pasukan siap? Are you ready? ” Nugroho memberi komando. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes, we are!” Serentak  semua anak-anak Rohis menjawab kompak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali asyik dengan pikiranku ketika Habib mengingatkanku untuk bersiap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah” akhirnya hanya kata itu yang senantiasa terucap di sepanjang perjalanan out bond melewati hutan pinus bukit Selondo yang sebenarnya tak jauh dari kampungku. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah bilakah keindahan  ini kan terus mewarna di esok hari?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Gerih Permai, 300804:10.45  setelah lebih setahun kutinggalkan.&lt;br /&gt;Untuk Lukky, Amalia &amp;Akhi Putra Chilup: bilakah kembali merentas di jalan ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-2158176145445057126?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/2158176145445057126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/bilakah-kugapai-kembali.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2158176145445057126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/2158176145445057126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/bilakah-kugapai-kembali.html' title='BILAKAH KUGAPAI KEMBALI'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmE3iv3PgI/AAAAAAAAAWA/mwO-RBdccpY/s72-c/ikhwan.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-7272796420438587943</id><published>2009-02-16T21:47:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T22:07:56.416+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>HARUSNYA KUKEMBALI...!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmAYcHa3kI/AAAAAAAAAV4/f66GcwZMeNM/s1600-h/akhwat.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 94px; height: 130px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmAYcHa3kI/AAAAAAAAAV4/f66GcwZMeNM/s200/akhwat.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303411193557999170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Cobalah lihat wajahmu di cermin! Adakah perubahan yang membuatmu merasa tak nyaman? Perhatikan baik-baik, apakah bias ketaqwaan masih terpancar dan tatapan matamu terjaga dari hal yang diharamkan? Masihkah dirimu mencoba untuk selalu menjadi penyejuk hati bagi siapapun yang memandang? Masihkah engkau pribadi muslimah yang terus bertekad untuk setia di jalan dakwah, untuk senantiasa tegar meniti jannah?&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa bermonolog dengan himpitan kepedihan yang mendalam. Dipandanginya wajah putihnya yang tak lagi berseri. Ada gurat kelelahan yang jelas terlihat. Matanya cekung dan semakin sayu. Senyumnya tiada menandakan ketulusan, ada keterpaksaan yang tak mampu disembunyikannya.&lt;br /&gt;Jilbabnya masih sama. Warnanya saja yang semakin memudar. Tapi ia memang berniat mempertahankannya jilbab-jilbabnya yang hanya berjumlah tiga helai. Ketiganya berwarna putih. Ya, putih adalah warna netral yang menurutnya cocok untuk dipadukan dengan gamis warna apa saja yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya berjilbabnya pun masih sama dengan gayanya semasa SMU. Sederhana tanpa accessories. Lebarnya menandakan kekhasan akhwat : tampak elegant dan ekslusif, panjang menjuntai dan memberikan kenyamanan. Performance akhwat memang masih dimilikinnya...tapi jelas ia kehilangan sesuatu sehingga membuatnya terkungkung dalam kehampaan. &lt;br /&gt;Ke manakah kan kumuarakan segenap rasa yang selama ini terpendam. Bilakah ku kan mampu untuk menikmati hari-hariku sebagai seorang akhwat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhwat? Ya, seorang muslimah yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perfect&lt;/span&gt;! Definisi yang kini  terlalu berat dirasakannya. Definisi yang dulu pernah dilontarkan kepada Anang sewaktu mereka masih kelas 1 SMU itu kini disesalinya. Akhwat adalah sosok muslimah yang menampilkan performance Islam. Ia berjilbab dan mengaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupannya1. Dalam hal sekecil apapun ia berusaha untuk mengaplikasikan nilai-nilai Islam. Ya, dalam hal sekecil apapun! Nisa menekankan klausa itu sembari menunjuk ensiklopednida sebagai referensinya. So? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhwat itu harus cerdas menempatkan diri dalam hal dan kondisi seperti apapun, ” katanya mantap dan penuh kebanggaan saat itu. Maka tak heran, tiap mengisi lembar biodata atau formulir, tentang cita-citanya ia selalu menulis : kuingin menjadi akhwat mukminah yang kaffah, Insya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum berangkat, Dek? Sudah, ndak  usah terlalu lama mematut-matut diri di cermin. Dah cantik, kok! Cepat berangkat! Nanti nggak kebagian apa-apa lho...” teman sekamar yang juga kakak tingkatnya di kampus menegur dengan lembut.&lt;br /&gt; Seketika ia tersentak dan menyudahi monolog paginya.&lt;br /&gt; “Mbak Hesti ikut, yuk! Sekali-kali ikut kajian pagi biar...,” belum sempat ia selesaikan kalimatnya ketika tanpa izin sela terdengar tawa cekikikan dari kamar sebelah.&lt;br /&gt; “ Hesti sedang tidak beriman, masih belum berminat untuk berkumpul dengan orang-orang beriman di dalam masjid, Nis! ” Hm..meski tahu suara yang menimpali itu hanya bercanda, ia merasa hatinya teriiris ribuan sembilu. Refleks, mulutnya langsung manyun 1,5 cm.&lt;br /&gt; “Sudah, Dek, jangan diambil hati, berangkat sana gih!”&lt;br /&gt; “I ya, deh Mbak! Assalamu’alaikum, ” pamitnya datar.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nisa! Ia menyapa dirinya sendiri dalam hati. Mengapa kau jadi begini, Ukhti? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Mengapa kau jadi sensitif begini? Apa yang membuatmu berubah sedemikian drastis?&lt;/span&gt; Beruntun, ia menggeleng empat kali menandakan ketidakmengertiannya akan dirinya sendiri. Sesekali wajah yang dibiarkannya tertunduk pasrah itu terangkat, matanya mengawasi jalanan yang mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Meski tak bersemangat, kakinya tetap melangkah cepat dan saling bersusulan antara kiri dan kanan. Tepat di gerbang belakang kampus, ia menyebrang.&lt;br /&gt; Nurul Huda, masjid kampusnya sudah mulai dipenuhi jama’ah. Hamparan jilbab jelas terlihat di hadapan matanya. Dan kini, tinggal beberapa langkah lagi ia segera sampai dan bergabung dalam majelis ilmu.&lt;br /&gt; Kajian Jum’at Pagi...Hm..kini diikutinya dengan setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hari ini Nisa bangun lebih dulu daripada alarm yang biasanya membangunkan dirinya tepat jam 03.30 pagi. Namun udara dingin yang menyapanya tidak dibalas dengan ramah. Hampir saja ia kembali berbaring kalau saja tidak ingat iqobnya yang akan semakin menumpuk jika ia kembali absent dari qiyamul lail. Hm.. Rp.500,00 per hari jika dikalkulasi selama sebulan sudah lumayan untuk ukuran anak kos. So? Apakah artinya ia melakukan QL karena takut tak sanggup membayar iqob? Entahlah ... terkadang ia merasa bosan juga. Kenapa dulu ia bersemangat sekali untuk mengiqob dirinya jika tak mampu memenuhi target amal yaumi yang dibuatnya sendiri.&lt;br /&gt; Wudhu ...ayo bergegas, Nis! Ia mencoba menyemangati dirinya. Lantas, dibukanya pintu kamar dengan perlahan sekali. &lt;br /&gt;Waktu hendak mengambil air wudhu tanpa sengaja matanya menatap ke atas. Subhanallah! Refleks, ia bertasbih. Sudah lama sekali ia tak menikmati kerlip-kerlip bintang yang menawan itu. Allah, kurindu pada-Mu! Bimbing daku untuk  bertafakur dan memikirkan penciptaan-Mu agar aku mampu berma’rifah pada-Mu. Kembali dipandanginya gugusan bintang di langit. Ia bergumam penuh kekaguman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nis, elingo aku yen kowe pas ngguyu! Bila kau rindu aku, Nis, pandanglah langit di malam hari. Perhatikan baik-baik bintang gemintang yang berlomba memamerkan kerlipnya. Carilah bintang yang paling terang dan tahukah kau, itulah semangatku. Itulah semangat Arkini yang besar dan akan senantiasa menyala untuk menapaki liku kehidupan yang penuh dengan ujian, ”&lt;br /&gt;Terngiang kembali kata-kata perpisahan sahabatnya semasa SMU. Semangat! Ia pun menikmati wudhunya dan segera kembali ke kamar. Tidak, aku tidak boleh kehilangan 1/3 malam-Mu lagi Ya Rabb. Ia bertekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 11.00 tepat Nisa meninggalkan kos tempat ia dan teman-temannya biasa ngaji. Ia mempercepat langkahnya menuju jalan raya di belakang kampus. Begitu angkot kuning bertulis ’03 muncul ia segera melambaikan tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekar Pace, Pak!” ia setengah berteriak ketika angkot yang ditumpanginya sampai di perempatan daerah Sekar Pace. Terburu-buru ia menyerahkan uang Rp. 1500,00, lalu setengah berlari ia menuju halte yang berada di sebelah barat lampu lalu lintas untuk menunggu bus jurusan Jogja-Surabaya. Lega sekali rasanya ketika bus Sumber Kencono telah berhasil dinaikinya sebelum 2 menit ia menunggu di halte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngawi, Pak!” katanya seraya menyerahkan uang RP.5.500,00 ketika sang kondektur bus menghampirinya. Kemudian ia mulai asyik dalam diamnya dan tak mempedulikan seorang kakek yang memang tertidur di sebelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begini! Hatinya mulai bermonolog. Mengapa setelah selesai liqo’, penyakitku justru menjadi? Duhai, salahku-kah semua ini jika aku tak pernah lagi mampu menikmati segala sesuatu di lingkaran LQ-ku? Salahkah aku bila semangat untuk hadir dalam tiap pekan itu hanyalah paksaan diri, bukan refleks dari kebutuhan  akan pentingnya siraman ruhiyah?Salahkah aku bila merasa terasing tiap kali berada di antara mereka. Salahkah aku bila akhirnya menganggap liqo’ itu hanya formalitas belaka agar tidak disebut sebagai akhwat futuris? &lt;br /&gt;Akhwat? Andai saja dulu aku tak terlalu menggebu untuk mendapatkan status itu. Menyesal? Tidak! Nisa menggeleng. Ia berusaha untuk tetap yakin bahwa keputusannya untuk hijrah pada saat itu bukanlah suatu kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Azzam! Akankah mampu ia hadirkan kembali syahdu di hatinya seperti saat tekad yang kuat untuk menggapai kemuliaan itu mulai ditanam? Duhai..ternyata istiqomah itu tidak mudah&lt;/span&gt;. Ia ingat betul siapa saja yang paling bersemangat di awal-awal hidayah itu menyapa. Ia ingat betul ketika pertama kali dimabuk cinta atas nama ALLAH, ketika ukhuwah dirasakannya benar-benar indah. Ia pun tak kan pernah lupa bagaimana ia mengendalikan hatinya agar jangan sampai menduakan-NYA, bagaimana ia menolak seseorang yang sebenarnya sungguh dikaguminya. Tapi mengapa kini justru ia menjadi kecewa? Mengapa? Ia bahkan tak tahu mengapa  semangat yang pernah membara itu padam begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nisa!&lt;/span&gt; Ia masih sering menyapa dirinya kala perih itu takterperikan. Genap satu tahun sudah ia ada di Kampus Hijau, tapi mengapa ia justru merasa hidup di tempat yang panas. Muak. Itu yang lebih sering dirasakannya. Ia benar-benar dihimpit resah tiap kali melihat teman-temannya yang aktivis begitu bangga menceritakan agenda harian yang padat, yang lebih sering terisi dengan rapar dan rapat. Ia merasa lelah menghabiskan malamnya untuk mabit demi syuro’ dan syuro’. Ia merasa bosan tiap kali teman-teman mengajaknya untuk aksi dan meneriakkan yel-yel di jalan-jalan. Ia sungguh kecewa ketika mendengarkan perbincangan teman-teman di kos akhwat; yang tak pernah luput dari pokok bahasan: ikhwan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau nggak milih kos akhwat aja, Nis?” tanya Tante Wardah, adik kandung ibunya yang menemaninya membawa barang-barang ke kosnya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ah, males. Bosen.” Jawaban pendeknya yang ketus membuat tantenya terkejut.&lt;br /&gt;“Kenapa? Bukannya di lingkungan yang kondusif kamu lebih bisa terjaga. Kalau pas lagi error ada yang bisa bantu ngebenerin. Kamu bisa langsung mengaplikasikan teori ukhuwah agar lebih membumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, sih. Tapi pengalamanku membuktikan kalau kos akhwat tuh nggak seindah cerita Tante. Buktinya pas lagi kumpul yang dibicarain pasti ikhwan kalau nggak gitu ya seputar munakahat. Hm..sebel! Jadi nambah penyakit hati aja. Ngurus diri aja belum bisa udah ngomongin masalah begituan. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak semua akhwat begitu khan, kamunya aja yang sensitif atau jangan-jangan...”  Tante Wardah tersenyum melihat keponakannya yang semakin cemberut kuadrat menanggapi gurauannya.&lt;br /&gt;Dan mulai saat itu entah kenapa ia pun bosan dengan vocabulary yang biasa digunakan dengan teman-temannya: ikhwan, akhwat, akhi, ukhti, ana, antum, anti, afwan, syukron, etc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngawi...Ngawi. Ayo persiapan..Ngawi akhir, terminal!” &lt;br /&gt;Astaghfirullah! Dicobanya  beristighfar untuk mengendalikan  dzonnya. Ya ILLAHI, ampuni hambamu yang lemah ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngawi ..I am coming! &lt;/span&gt;Ia segera turun dari bus dan bersenandung lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di sini  kita pernah bertemu..&lt;br /&gt;Mencari warna seindah pelangi&lt;br /&gt;Ketika kau menghulurkan tanganmu &lt;br /&gt;Membawaku ke daerah yang baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini terbayang jelas di pelupuk matanya indahnya kebersamaan bersama teman-teman di masa SMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berdiri dalam yakin&lt;br /&gt;Berpeganglah dalam hidup&lt;br /&gt;Wahai Ukhti hiasi diri&lt;br /&gt;Dengan dakwah ‘tuk Islammu3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Nisa menyapu butir-butir bening yang perlahan mengalir di pipinya. Haru! Rasa yang akan senantiasa mengisi relung hatinnya tiap kali nasyid dari Muplavoix itu terdengar. Seolah ada yang membisikkan semangat untuk memaknai hijrahnya dengan sebening pemaknaan. Tanpa sadar bibirnya melafalkan hadist Arba’in yang pertama kali dihafalnya. Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya menuju Allah dan rasul-NYA, ia akan sampai pada Allah dan Rasul-NYA...&lt;br /&gt; Nisa terisak. Ada yang tidak beres dengan dirinya. Meski signal ketidakberesan itu sudah lama dirasakannya, baru kini disadarinya bahwa salah satu penyebabnya adalah niatnya yang sudah menyimpang. Wajar bila hanya kehampaan yang  dirasakannya karena bukankah ruh dari tiap amalan adalah ikhlas dan kini ia tak menjaganya. Ada ambisi pribadi yang diam-diam menodai aktivitas yang berlabel dakwah. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah...!&lt;/span&gt; Ia pun mengerti atas rasa ketidaknyamanan yang kerap menyerangnya di setiap kajian rutin  halaqohnya. Ia merasa tidak sekufu. Ya! Rasa itulah yang  akhirnya  mendominasinya. Membuatnya mendramatisir perbedaan yang ada. Ia merasa down tiapkali melihat semangat teman-temannya yang menggebu. Betapa tidak, mereka –teman-teman ngajinya- sebagian adalah akhwat siyasi yang dinilainya terlalu kelebihan energi. Aktivitas di BEM  serta organisasi eksternal kampus yang padat masih dibawa dan diperbincangkan di sela-sela aktivitas halaqohnya. Dan terus terang ia merasa terganggu. Ia merasa didzolimi karena tak mendapatkan suplai energi yang sangat dibutuhkannya. Durasi pertemuan yang singkat dinilainya tidak efektif karena sebagian waktu terbuang hanya untuk pembicaraan yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah...! &lt;/span&gt;Dicobanya untuk mengulang istighfar, menetralisir segala kekecewaannnya. Satu tahun di kampus hijau dilaluinya begitu saja. Ia merasa benar- benar di ambang kritis....Akankah kau mampu bertahan agar tidak semakin terjatuh dan terpuruk di jurang kefuturan, Nis? Akankah kau biarkan dirimu menambah jumlah barisan yang berjatuhan di jalan dakwah?  Pertanyaan yang itu-itu saja yang muncul dalam monolognya dan ia semakin tidak bersemangat untuk menjawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di dinding kamarnya menunjukkan jam 15.30. Nisa menekan tombol ‘stop’ di tape recordernya lalu mengembalikan kaset Muplavoix pada tempatnya. Hm..ia ingat betapa bahagia hatinya saat pertama kali memutar kaset itu. Kaset yang didapatnya setelah pertanyaaan di Kafe Nida yang ia kirim dimuat. Betapa bahagia hatinya saat itu, selain menerima paket berisi 3kaset nasyid, ia pun menerima kiriman surat dari para muslimah yang sebaya. Saat itu ia masih kelas tiga SMP dan itulah saat pertama ia merasakan indahnya ukhuwah dalam bingkai Islam. Nisa tertegun sejenak, memperhatikan sampul kaset yang dibumbui tanda tangannya sendiri plus tahun ’ 99. Ia pun ingat di pertengahan tahun itu ia mulai rutin mengikuti kajian di rumah guru agamanya sebelum ditrasfer dan diserahkan pada seorang akhwat. Nisa tersenyum tipis mengingat manisnya saat pertama ia mengenakan jilbab kaosnya yang telah 3 tahun absent pasca ia lulus TPA. Diperhatikannya lagi tanda tangan itu untuk beberapa saat. Kemudian dalam hitungan detik segera diletakknya kaset Muplavoix di antara tumpukan nasyid-nasyidnya. Ia segera mengambil wudhu untuk shalat ashar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai Ashar, ia menyapu halaman rumahnya dengan hati lapang. Rumahnya yang lebih mirip dengan villa meski tidak berada di kawasan pegunungan itu senantiasa mengingatkannya akan romantisme kenangan masa SMA yang belum lama ditinggalkannya. Dan memang benar kalau ia adalah orang yang suka terkenang dengan romantisme kenangan.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;An-Nisa Muthmainah.&lt;/span&gt; Mantan kabid kemuslimahan Rohis di SMU Permadani Hijau itu ingin menemukan dunianya kembali. Disadarinya bahwa ia tak mungkin menjadi seperti teman-temannya yang aktivis siyasi. Hari ini keputusannya sudah bulat: ia akan mengajukan proposal untuk pindah halaqoh. &lt;br /&gt;Aku harus kembali...menjadi diriku tanpa bayang-bayang siapapun. &lt;br /&gt;Biarlah aku dengan caraku yang sederhana dalam memaknai dakwah ini. Aku bukan kalian wahai teman-teman! &lt;br /&gt; Ternyata proposal pindah halaqoh yang diajukannya ditolak mentah-mentah oleh murrabiyahnya. Terus terang ia kecewa. &lt;br /&gt; Aku akan mengadakan boikot untuk tidak LQ. Ia membatin.&lt;br /&gt; “Berpikirlah dewasa, Ukh! Pindah halaqoh bukanlah solusi terbaik. Belum tentu di halaqoh yang baru anti bisa lebih baik. Janganlah kita membebani dakwah ini dengan persoalan internal. Ana harap anti lebih bijak dalam menyikapi perbedaan yang ada.” &lt;br /&gt; Terlalu teoritis. Itu yang dirasakan saat mendengar jawaban Mbak Sinta. Dan sungguh ia merasa tak mengerti dengan jawaban dari murrabiyahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau tahu Nis, Mas Cahyo, mantan ketua Rohis SMU kita sekarang nggak ngaji lagi. Ia hampir berubah 180 derajat. Dan Ukhti, kami tidak ingin hal ini terjadi padamu.  I mis U, Ukh! Kembalilah...sebelum jauh engkau berbelok arah ” suara serak Tyas di telepon tadi malam kembali terngiang.&lt;br /&gt; Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya tak kan bisa diraih kecuali melalui tarbiyah. Perkataan Musthafa Mansyur yang ditulis sebagai hiasan kamarnya kini dirasakan sangat dalam maknanya.&lt;br /&gt; Sudah sebulan lebih ia absent dari halaqohnya. Ia yang semula yakin mampu mengandalkan tarbiyah dzatiyahnya, kini pun merasa kewalahan. &lt;br /&gt;Ya Rabb ampuni keputusanku yang ternyata keliru!&lt;br /&gt;Cahyo, Hida, Titik dan Tono. Disebutnya nama aktivis Rohis SMUnya yang kini berbalik arah. Akankah kau membiarkan dirimu mengikuti jejak mereka, Nis?  Nisa tergugu...tangisnya pecah. Ya Illahi, izinkan  aku kembali!  Pintanya penuh harap.  &lt;br /&gt; Cahyo, mantan ketua RoHis yang prestasi akademiknya menonjol sejak di bangku SLTP, yang selalu juara pararel waktu SMU, yang mewakili SMUnya di Olimpiade Nasional; selain cerdas juga kritis, senang nulis, rajin ngisi mentoring adik-adik kelas, sering ngingetin aktivis Rohis via kertas taushiyah berantai, kok bisa-bisanya mencapai titik kuliminasi jenuh dalam urusan dakwah. Bahkan sudah setahun terakhir ini nggak ngaji lagi.&lt;br /&gt; Hida, teman karibnya di SLTP, yang dulu begitu antusias untuk segera memenuhi kewajibannya dalam berhijab, yang gigih dalam berprinsip, yang dikagumi ketawadhu’annya kini pun sudah nggak ngaji lagi. Bahkan jilbab yang mulanya lebar perlahan-lahan mengecil dan akhirnya terbang entah ke mana.&lt;br /&gt; Titik, maniak buku, yang sering meminjaminya majalah Sabili, yang memprovokasinya untuk bergabung dengan halaqoh tarbawi, toh akhirnya hilang di telan bumi.&lt;br /&gt; Dan satu lagi dari sahabatnya yang kini mengubah peta hidupnya : Tono. Mantan ketua OSIS yang terkenal paling dingin dengan lawan jenis, yang begitu bersemangat kalau berdiskusi tentang khilafah Islamiyah, sekarang pun jadi aktivis sayap kiri.&lt;br /&gt; Segalanya bisa terjadi bila Allah berkehendak. Akankah kulepas sgala keindahan hidayah-MU? Akankah kubiarkan hidayah itu pergi begitu saja? Ya Yang Maha Membolak-balikkan hati tetapkanlah aku dalam dien-Mu! Untuk kesekian kali bening-bening kristal berjatuhan di pipinya. Seiring istighfar yang menggema memenuhi lubuk hati, ia pun berjanji untuk kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dakwah ibarat pohon, ada saja daun-daunnya yang gugur berjatuhan. Tapi pohon dakwah itu tak kan pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas baru. Sementara pohon-pohon yang berguguran tak lebih hanya akan menjadi sampah sejarah5. Nisa tergugu. Kalimat yang tertulis di majalah Tarbawi yang tak sengaja dibukanya itu semakin membuatnya larut dalam penyesalan yang sangat. Bila-bila daun-daun dakwah banyak yang berguguran di terpa angin dan godaan maka izinkan aku menyembul menjadi tunas-tunas baru yang siap tumbuh di segala iklim dan kondisi. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Rabb, kabulkan pintaku.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hanya perbedaan karakter saja mengapa sudah membuatku lupa dengan segala keindahan yang ada dalam lingkaran tarbiyah? Bukankah perbedaan adalah rahmat yang mestinya dimaknai dengan bijak?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa tersenyum.  Ada azzam yang kini menyalakan bara di gulita jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allah………….&lt;br /&gt;Kuseretkan langkahku&lt;br /&gt;Hasung dosa kan kulebur&lt;br /&gt;Kubasuh luka kuhempas nista &lt;br /&gt;Izinkan aku kembali&lt;br /&gt;Takkan lagi kusurutkan langkahku &lt;br /&gt;Songsong fajar baru dalam cahya-Mu&lt;br /&gt;Ya Rabbi teguhkan derap jiwaku&lt;br /&gt;Tiap desir nadiku sebut asma-MU6&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Gerih Permai, 280804:14.57&lt;br /&gt;untuk: Pak Ali, Mbak Prih, Mbak Binti, Bu Iis, Mbak Eni, Wulan,  dan smua nama yang tlah menerbitkan rindu untuk kembali di pangkuan tarbiyah.&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1 : Kata-kata di Ensiklopenida&lt;br /&gt;2 : bait nasyid dari Brother&lt;br /&gt;3 : bait nasyid dari Muplavoix&lt;br /&gt;4 : kata-kata seorang teman:Atiyatul Izzah&lt;br /&gt;5 : dari majalah Tarbawi Edisi 8 Tahun 1 30 April &lt;br /&gt;  2000/25Muharram 1421 H&lt;br /&gt;6 : bait nasyid dari Izzatul Islam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-7272796420438587943?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/7272796420438587943/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/harusnya-kukembali.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/7272796420438587943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/7272796420438587943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/harusnya-kukembali.html' title='HARUSNYA KUKEMBALI...!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZmAYcHa3kI/AAAAAAAAAV4/f66GcwZMeNM/s72-c/akhwat.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-196906741095227132</id><published>2009-02-16T21:38:00.000+07:00</published><updated>2009-02-16T21:46:39.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>YAH, JANGAN BIARKAN TAMAN KITA GERSANG!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZl7m_kirvI/AAAAAAAAAVw/7Pa86EDInYU/s1600-h/DSC00136.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 156px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZl7m_kirvI/AAAAAAAAAVw/7Pa86EDInYU/s200/DSC00136.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303405946035416818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Monotype Corsiva"; 	panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada ALLAH. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-NYA, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. &lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sesungguhnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” &lt;b style=""&gt;(Q.S Al-Isra’:44)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="ES" style="font-size:16;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bila kita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tak segan mendaki&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Lebih jauh lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kita akan segera rasakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Betapa bersahabatnya alam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Setiap sudut seperti menyapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bahkan teramat akrab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Seperti kita turut membangun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Seperti kita yang merencanakan….&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;(SENANDUNG PUCUK-PUCUK PINUS:EBIET G. ADE)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sungguh menyenangkan menikmati jagung bakar sambil duduk di sini. &lt;span style="" lang="FR"&gt;Apalagi sore ini tak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Kulepas pandangan mengitari sekeliling telaga, mencari tempat yang agak lapang untuk sholat subuh dan muhasabah besok pagi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak terlalu sulit mencari tempat yang nyaman untuk menggelar beberapa lembar tikar. Kemarau telah menyebabkan air telaga surut. Tak heran bila air tak benar-benar sampai ke tepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;“Pak, biasanya kalau pagi tempat ini sudah ramai?” Mbak Yessi yang duduk di sampingku membuka dialog dengan seorang bapak yang menunggu penumpang kapal ‘bebek’nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Seumpama dipakai sholat subuh, boleh?” tambahku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Oh, boleh-boleh saja. Masih sepi, kok, Mbak.” Jawab bapak itu sambil membenahi letak topi lapangan yang menempel di kepalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Ya udah, De’, di sini aja, ya sholat subuh dan muhasabahnya. Biar terasa menyatu dengan alam.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku segera mengiyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Senja yang indah. Sarangan penuh kenangan, Mbak!” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Sudah terlalu sering ke sini, ya, Dek?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Dulu ke sini pas perpisahan dengan teman-teman SMA. Trus &lt;i style=""&gt;ndampingi&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;rihlah&lt;/i&gt; teman-teman Keputrian Tama*.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku mulai merasa deburan di hatiku muncul berirama. Pelan beraturan. Romantisme kenangan itu tiba-tiba hadir. Mungkin benar bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah meskipun sudut pandang kami--aku dan teman-teman rohis-- dalam menilai keindahan berbeda dengan sebagian besar penduduk bumi, terkhusus teman-teman SMA. Namun kami tetap melukis indah kisah pelangi dan menyimpannya di laci-laci ingatan yang tersembunyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Dek, &lt;i style=""&gt;gimana&lt;/i&gt; kabar teman-teman Solo?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Alhamdulillah, baik kecuali yang tidak, Mbak.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Masih pada sibuk?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Ya, begitulah…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Mbak Yessi tersenyum penuh arti. Semua bisa dimakluminya. Rata-rata teman-seangkatanku memang aktivis yang menduduki jabatan strategis, baik di LDK, BEM, maupun organisasi mahasiswa ekstra kampus. Susah untuk disuruh pulang meski hanya sebentar. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jadi kalau adik-adik SMA ada acara yang membutuhkan kehadiran alumni belum tentu teman-teman Solo bisa pulang meskipun kalau dikalkulasi jarak Solo paling dekat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Biaya transportasi ke Ngawi pun lebih murah dibandingkan dengan teman-teman yang kuliah di Surabaya, Malang, Jogja, Bogor, Bandung, dan Jakarta. Namun selalu saja ada agenda yang tak bisa ditinggalkan;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dauroh, seminar, training, talk show, dan semua agenda yang berlabel ‘wajib hadir’, entah posisi mereka sebagai SC maupun OC.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Dek, kembali ke villa, yuk! Sepertinya sebentar lagi maghrib.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku segera bangkit mengikuti Mbak Yessi setelah menyelesaikan pipilan terakhir dari jagung bakar dan membuang tongkolnya di tepi jalan. &lt;i style=""&gt;Tenang!&lt;/i&gt; Sepertinya tepi jalan itu memang biasa digunakan untuk membakar sampah-sampah. Ya, semoga bukan sebuah apologi untuk membenarkan tindakan membuang sampah seenaknya. Percaya, deh!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Perjalanan ke villa kami lalui dengan bertukar info, saling bercerita tentang alumni SMA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sebagian sudah lulus dan menikah. &lt;i style=""&gt;Menikah?&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku jadi teringat dua sosok laki-laki gagah. Nuansa Sarangan yang khas dengan keindahan alam dan obrolan tentang pernikahan membuatku merasa tiba-tiba kehadiran mereka begitu dekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl"  lang="AR-SA" style="font-size:16;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ﺏﻱﺖ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;SUBHANALLAH! Hanya untaian tasbih yang tak henti-hentinya mewakili perasaan takjubku malam ini. Udara dingin di Sarangan benar-benar membuat tubuhku menggigil. Bibirku membiru dan susah sekali untuk bersuara. Terlalu berlebihan mungkin. Padahal aku harus menemani adik-adik SMA diskusi sampai jam sepuluh malam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dingin khas pegunungan inilah yang membuat para ABG itu bersemangat untuk perlahan-lahan memejamkan mata. Mau tak mau mereka harus dirangsang dengan beberapa &lt;i style=""&gt;games&lt;/i&gt; agar kembali bersemangat. Ternyata volume suaraku benar-benar tak bisa mencukupi. Sudah lama sekali aku tidak menghadapi anak-anak SMA. Rasanya &lt;i style=""&gt;nggak &lt;/i&gt;bisa optimal. Apalagi delapan puluhan remaja yang ada di hadapanku hampir semuanya bersuara. Hmh.., sudah &lt;i style=""&gt;ngantuk &lt;/i&gt;masih juga ramai. Akhirnya Mbak Yessi pula yang turun tangan. Mantan &lt;i style=""&gt;KAMMI-er&lt;/i&gt; UGM itu yang menggantikanku memberikan &lt;i style=""&gt;games&lt;/i&gt; sebagai pengantar diskusi yang bertema khas remaja: &lt;i style=""&gt;cintrong.&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bahasa yang digunakan tidak mengalami perubahan Vi eM Ji alias Virus Merah Jambu meskipun sebenarnya aku tidak pernah sepakat kalau cinta dimasukkan sebagai virus. Bagaimanapun cinta adalah fitrah manusia. Kalau rasa itu sudah tidak menempati ruang yang seharusnya, barulah diperlukan penanganan khusus. Sebuah terapi yang sekali lagi bukan untuk membunuhnya tapi ‘sekedar’ mengendalikannya. Jadi ia bukanlah virus yang harus dibunuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Cinta! Berbicara tentangnya memang selalu menarik. Seperti apapun memaknainya senantiasa menghadirkan romantisme kenangan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Dan kali ini aku terkenang dengan dua sosok laki-laki gagah: ayah dan mas. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Apa kabar kalian? Bunda pasti juga merindukan kalian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sudah! Cobalah kau tepis dulu gejolak rindu itu. Sekarang bukan saat yang tepat untukmu menghadirkan mereka dalam monologmu &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;meskipun hanya kau yang tau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;. Sebuah suara memenuhi batinku. Mau tak mau aku pun kembali berkonsentrasi mengawasi diskusi yang dibagi dalam beberapa kelompok kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Durasi waktu memang dibatasi sampai jam setengah sepuluh. Artinya masih tersisa waktu tiga puluh menit untuk melanjutkan sesi diskusi kedua. Kelas X kembali dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka akan berdiskusi dengan tema ‘&lt;i style=""&gt;How to be a nice person ?’&lt;/i&gt;. Sedangkan kelas XI yang sebentar lagi akan menjadi inti penggerak Tama segera kugiring ke sebuah ruangan di villa bagian belakang. Sesuai permintaan panitia, aku mengajak mereka untuk &lt;i style=""&gt;sharing&lt;/i&gt; dari hati ke hati. Menyelesaikan ‘konflik’ dan ketegangan ukhuwwah yang tengah terjadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Memanfaatkan momentum tafakkur alam (TA), &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sebenarnya ada beberapa anologi yang bisa kuambil sebagai prolog untuk memancing mereka agar mau berterus terang tentang hal yang selama ini masih menjadi ganjalan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku mendapat bocoran dari kelas XII bahwa komunikasi antara adik-adik kelas XI masih belum beres. Mereka masih punya masalah interpersonal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Bukankah orang-orang yang beriman seperti halnya satu organ ; jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya merasa demam dan tidak bisa tidur. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Mbak harap forum ini adalah saat yang tepat untuk kita saling jujur dan berterus terang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bila masih ada yang kecewa, bila masih ada yang kesal dengan saudaranya tolong segera disampaikan. Jangan sampai masalah seperti itu menjadi penghambat dakwah. Ingat, &lt;i style=""&gt;nahnu du’at qoblla kulli syaiin&lt;/i&gt;; kita adalah da’i sebelum yang lain. Dakwah yang berat ini tidak mungkin mampu kita usung seorang diri.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kata-kata itu meluncur begitu saja. &lt;i style=""&gt;Nahnu du’at qobla kulli sya’iin&lt;/i&gt; adalah &lt;i style=""&gt;statement &lt;/i&gt;yang harus kumamah kembali. Karena ternyata seringkali aku lupa dengan apa yang dulu pernah kuikrarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Ruangan masih hening. Belum ada yang mau memulai. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kulihat mata-mata yang semakin mengantuk. Mbak Yessi yang duduk di sebelahku jadi &lt;i style=""&gt;gemes. &lt;/i&gt;Lantas dicobanya memancing adik-adik untuk bersuara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl"  lang="AR-SA" style="font-size:16;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ﺏﻱﺖ&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Sebelum adzan Subuh berkumandang delapan tikar berukuran besar telah digelar. Adik-adik sudah siap untuk sholat. Mereka telah memakai mukena. Jadilah pemandangan tepi telaga penuh dengan nuansa putih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Usai salam, kususun jemariku. Kucoba membawa bening telaga dan memindahkannya ke hatiku. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;RABBI!&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Kueja satu nama penuh harap dan cemas. Bilakah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;segenggam do’a yang kupinta akan terkabul. &lt;i style=""&gt;Wahai Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkan diri ini dalam dien-Mu!&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Sekarang masing-masing kelompok harap memisahkan diri. Kita akan melakukan muhasabah,” sebuah intruksi dari sie acara segera mendapat respon. Delapan puluhan gadis SMA itu segera menuju kelompoknya masing-masing. Ada empat kelompok yang terbentuk, menyesuaikan jumlah alumni yang ada; aku, Mbak Yessi, Bu Is dan Fahria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Sebenarnya aku tak punya persiapan sama sekali. Baru kemarin malam ada SMS yang memberi tahu bahwa alumni diminta mengisi acara malam hari dan muhasabah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Temanya terserah, mbak. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Yang penting kita bisa mengambil pelajaran dari alam dan mencoba menyatu dengannya.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Begitulah kurang lebih jawaban yang diberikan panitia saat kutanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Lagi-lagi kembali meluncurlah kata-kata yang harusnya kumamah lebih dulu. Aku takut sekali menjadi &lt;i style=""&gt;kaburo maqtan&lt;/i&gt; yang hanya bisa berkata-kata tapi tak bisa mengamalkannya. &lt;i style=""&gt;Bismillah... &lt;/i&gt;aku pun segera mengajak mereka untuk men-tafakkuri segala keindahan yang ada di sekitar telaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Bersyukur pada ALLAH atas segala nikmat yang tiada pernah bertepi. Nikmat penglihatan, pendengaran dan hati, serta segala yang kita tidak pernah sanggup untuk menghitungnya. Dengan mata ini kita bisa belajar banyak hal. Coba lihat sekeliling kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Banyak sekali ayat-ayat ALLAH yang ada di alam semesta. Dengan telinga yang sehat, kita bisa mendengar syahdunya adzan, panggilan untuk kita bersegera menghadap ALLAH. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sekarang kita juga bisa mendengar suara-suara alam di tepi telaga ini. Bila saja kita mengerti bahasa alam, mungkin kita akan sangat malu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Mari kita buka Al-Quran. Dalam sebuah ayat disebutkan bahwa &lt;i style=""&gt;kepunyaan ALLAH segala tentara langit dan bumi dan adalah ALLAH Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana**&lt;/i&gt;. Coba lihat di depan kita. Ada gunung yang tinggi tinggi menjulang. Kita tak cukup takjub dengan keindahannya namun kita pun mesti mengerti bahwa gunung adalah salah satu tentara ALLAH yang selalu siap diperintah. Bisakah kita mengambil pelajaran dari fenomena ini. Gunung saja takut pada ALLAH. Kalau tidak percaya, marilah kita belajar dari peristiwa gunung merapi? Kalau kita mampu mengerti, sebenarnya gunung itu berbicara dan mengajari kita untuk tunduk pada perintah ALLAH. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada ALLAH. Dan perumpamaan-perumpaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.***&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Begitulah firman ALLAH dalam salah satu ayat kauliyah-NYA. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sekarang sudah saatnya kita mengerti bahasa alam. Yakinlah bahwa gelombang tsunami, gempa tektonik, banjir, dan fenomena yang akhir-akhir ini terjadi bukan semata-mata musibah. Tapi itu adalah peringatan bagi diri kita untuk mengevalusi segala yang telah kita lakukan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Segala telah terjadi merupakan teguran bisa juga ujian.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gempa tektonik di Bantul adalah salah satu indikasi bahwa laut &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; mau diajak untuk &lt;i style=""&gt;syirik&lt;/i&gt;. Meskipun Mbah Marijan dan teman-temannya telah mengadakan larung untuk menolak bala, tetap saja terjadi gempa.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dalam jeda bicara kulafadzkan istghfar dalam-dalam. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kupancing mereka untuk menyebutkan fenomena alam dan mengambil pelajaran darinya. &lt;i style=""&gt;Ya ALLAH, izinkan kumamah kata-kata itu sebelum mencernanya kembali!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl"  lang="AR-SA" style="font-size:16;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ﺏﻱﺖ&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Siapa kalian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Mujahidah Tama?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Mau apa kalian?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Bersenang-senang....”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;What?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Aku menelan ludah. Para mujahidah hendak bersenang-senang. &lt;i style=""&gt;Yang benar saja?&lt;/i&gt; Mau tak mau aku pun menahan geli. Ada-ada saja Fahria itu. Gadis cantik berkacamata, yang pernah menyabet medali perunggu dalam olimpiade nasional mata pelajaran biologi, itu kuakui memang kaya ide dan mampu menyesuaikan diri. Darah SMAnya masih kental, maklum baru beberapa bulan lulus. Gadis yang baru saja bersatatus sebagai mahasiswa ITB itu memaksakan diri pulang ke Ngawi ‘hanya’ untuk menemani adik-adik SMA bertafakkur alam. Ya, mumpung belum jadi &lt;i style=""&gt;sibuker&lt;/i&gt; seperti teman-teman kampus yang lain. Sabtu siang sampai di SMA dan Ahad malam ia harus kembali ke Bandung lagi. Bolehlah mantan wakil presiden OSIS ini kuacungi jempol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Mbak ada yang kambuh asmanya, ” Sebuah suara menyiratkan cemas. Kusudahi dulu pengamatanku pada Fahria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Aku segera bergegas menuju pos akhir yang ada di atas bukit, mengikuti seorang panitia. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Astaghfirullah!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;What should I do?&lt;/i&gt; Sudah lama aku &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; menangani penderita asma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Bersama beberapa panitia, aku membopong Bunga ke tempat yang agak panas. Udara Sarangan yang dingin ini mungkin adalah salah satu faktor pemacu kambuhnya Bunga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Bunga dah lama &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; kambuh jadi &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; bawa obat. Tapi dah ada yang turun ke villa &lt;i style=""&gt;ngambil&lt;/i&gt; obat, kok, Mbak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kemarau ternyata tak hanya menyebabkan air telaga surut tetapi juga tanah merah di perbukitan ini menjadi kering. Akibatnya begitu tersentuh oleh kaki-kaki lincah para ABG, debu-debu pun menyapa. Aku saja merasa tidak nyaman tiap kali menginjak tanah merah yang kering, apalagi Bunga. Gadis belia ini tidak sekedar sensitif dengan debu tapi mungkin sangat alergi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Allahu Akbar… Allahu akbar!” gema takbir penuh semangat terdengar jelas. Rupanya &lt;i style=""&gt;basecamp&lt;/i&gt; anak-anak putra tidak jauh dari sini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tadi malam mereka juga tidur di perbukitan ini dengan tenda-tenda yang didirikan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Ada yang sakit, ya?” munculah Pak Wardi, guru Biologi sekaligus pembina rohis, dari arah suara takbir itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Ya, Pak. Asma. O, ya Pak, di ikhwan ada tikar? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Boleh pinjam?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Sebentar saya ambilkan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tak lama berselang Pak Wardi membawa selembar tikar berukuran besar. Aku segera menggelarnya dan membantu Bunga untuk merebahkan diri di tikar itu. Kutunggui gadis itu, sementara alumni dan panitia yang lain menjaga pos-pos permainan yang harus dilewati para peserta TA. Setelah minum obat yang dibawakan temannya, Bunga mencoba merebahkan diri. Nafasnya tersengal-sengal. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Kuusap pelan dan kuluruskan jari-jari tangannya agar tidak kaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Perlahan-lahan kondisinya membaik. Namun ia masih terlalu lemah untuk bergabung dengan teman-temannya. Jadilah aku menungguinya sampai kondisinya benar-benar pulih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Rumahnya di mana, Dek?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Spontan pertanyaan klise itu keluar dari bibirku. Pertanyaan yang salah karena kata ganti –nya seharusnya digunakan untuk menggantikan orang ketiga bukan orang kedua. Namun petanyaan itu sudah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sering kutujukan pada teman seperjalanan di bus jurusan Surabaya-Jogja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Sidolaju, Mbak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Sidolaju?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Gadis itu mengiyakan. Nama desa yang tidak asing bagiku. Bagaimana mungkin aku tidak akrab dengan nama desa itu. Ya! Masa kecil kuhabiskan di sana. Namun kini aku sudah semakin jarang untuk berkunjung. Ya, sejak ayah memutuskan menetap di sana tanpa ibu, mas dan aku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bunga memejamkan mata. Seolah ia memberiku kesempatan untuk kembali bermonolog seorang diri. Betapa romantisme kenangan masa kecilku kini terlihat jelas. Perlahan wajah ayah, mas, dan bunda hadir memenuhi ruang rasa. Sungguh, ternyata kebersamaan itu begitu mahal harganya. &lt;i style=""&gt;Ya ALLAH, bilakah KAU izinkan kami kembali berkumpul dalam pertemuan yang indah di surga-MU kelak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pohon-pohon pinus di sini menjadi saksi, sebentuk doa yang murni kini kembali kupinta. Segenggam harap untuk ayah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ayah, aku ingin kita kembali menyatu dengan alam. Dan belajar melihat keindahannya yang sungguh proporsional, belajar mendengar dzikir pada-NYA yang tiada henti, dan merasakan dengan hati bahwa segalanya tunduk pada-NYA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Taman di rumah mulai tidak terawat. Bonsai-bonsai sudah tidak rapi lagi, rumput jepang yang biasanya hijau sudah benar-benar kering, yang tersisa dan masih tetap terlihat manis hanyalah bunga soka, yang lain sudah tidak mencerminkan keharmonisan seperti halnya yang terjadi pada kita. Ternyata keindahan taman di runah semakin berkurang tanpa sentuhan tangan-tangan yang berjiwa seni. Bagaimana pula hati? Perlu seni tersendiri untuk menjaga agar kondisinya sehat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ayah, jangan biarkan taman rumah kita gersang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;, jangan biarkan kolam ikan kita kering. Kembalilah! Jangan biarkan taman hati kita mati. Kuingin seperti dulu, mencari bibit bonsai di hutan, menjala ikan di kali, dan menikmati indah kicau burung di alam bebas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tanpa sadar kunyanyikan ‘Senandung Pucuk-Pucuk Pinus’ milik Ebiet G. Ade yang dulu kerap menghiasi hari-hari kami dirumah. Sungguh! Ternyata aku memang harus mengerti bahwa bersahabat dengan alam dalam ikatan iman memberi banyak manfaat.**** Ternyata sudah sejak awal alam berbicara. Mungkin kita mesti memperlebar telinga agar mengerti bahwa alam mulai berteriak; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengabarkan kita bahwa ia masih tetap tentara ALLAH. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;“Mbak sudah mau selesai. Upacara penutup akan dilakukan bareng ikhwan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sebuah suara membisik di telinga. Untuk sementara segera kusudahi monologku. Kulihat Bunga sudah semakin membaik. Ia pun segera bangkit.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sungguh, menunggui gadis Sidolaju ini mengingatkanku pada ayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Yah, jangan biarkan taman kita gersang! Agar kita selalu melihat keindahan, mendengar tasbihnya, dan merasakan betapa kita bukan apa-apa karena kebesaran hanyalah milik ALLAH!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Mbak, afwan Bunga belum kuat jalan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Ya &lt;i style=""&gt;udah&lt;/i&gt; kita bareng mobil yang ngangkut barang-barang ikhwan &lt;i style=""&gt;aja.&lt;/i&gt; Berani nunggu mobil itu dengan Dek Nana di sini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“&lt;i style=""&gt;Nggak&lt;/i&gt; berani, Mbak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Akhirnya aku menemani Bunga dan Nana sampai mobil yang akan memuat tenda dan perkap yang digunakan oleh adik-adik putra lewat. Kunikmati penantian dengan menikmati keindahan yang ada sambil mengagungkan-NYA di setiap kata. Sungguh Maha Besar ALLAH dengan segala ciptaan-NYA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;“Matahari dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bulan beredar menurut perhitungan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dan tumbuh-tumbuhan serta pohon-pohon keduanya tunduk menghamba kepada-NYA.” (Q. S Ar-Rahman:5-6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;span dir="rtl"  lang="AR-SA" style="font-size:16;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ﺏﻱﺖ ﺏﻱﺖ&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="ES"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="ES"&gt;Jalur Gaza, Ar-Royyan Putri I, 8 Oktober 2006:23.39 (kenangan atas TA 26-27 Agustus)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="ES"&gt;De’, af1 namanu kuganti menjadi Bunga soalnya mbak lupa!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="ES"&gt;Untuk Bunda di rumah: Laa tahzan atas kepergian Mas Anton! &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="NL"&gt;Maafkan ade’ blm bisa mewujudkan harapanmu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;* Tama&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Ta’mir Musholla Ash-Sholihin (Rohis SMAN 2 NGAWI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;** Q.S Al-Fath:4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;*** Q.S Al-Hasyr:21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;**** kata-kata di Majalah Tarbawi Edisi 30 Th. 3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-196906741095227132?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/196906741095227132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/yah-jangan-biarkan-taman-kita-gersang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/196906741095227132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/196906741095227132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/02/yah-jangan-biarkan-taman-kita-gersang.html' title='YAH, JANGAN BIARKAN TAMAN KITA GERSANG!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SZl7m_kirvI/AAAAAAAAAVw/7Pa86EDInYU/s72-c/DSC00136.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-6917295438131285790</id><published>2009-01-25T23:32:00.000+07:00</published><updated>2009-01-25T23:55:34.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>Muhasabah Cinta-Q</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyYC7MONOI/AAAAAAAAAUw/xZxgzNWxga0/s1600-h/DSC00239.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyYC7MONOI/AAAAAAAAAUw/xZxgzNWxga0/s200/DSC00239.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295274437896975586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berbekalah untuk hari yang sudah pasti&lt;br /&gt;Sungguh kematian adalah muara manusia&lt;br /&gt;Relakah dirimu menyertai segolongan orang &lt;br /&gt;Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa....&lt;br /&gt;(Suara Persaudaraan)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, 26 Desember 2004, selepas Isya’ ada SMS yang masuk ke hp saya. Meski dengan mata yang terkantuk-kantuk, saya raih hp yang tergeletak di dekat bantal kemudian membukanya dengan segera. SMS dari Bude saya, “Nduk, tolong doakan masmu. Bude sangat sedih karena telp nggak bisa dihub.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tercenung sejenak. Apa yang terjadi? Refleks, tangan saya segera membuka kembali sms yang dikirim kakak sepupu  pada tanggal 4 Desember 2004. Begini bunyinya,” Agi Siaga 1, Dek! Malam ini ulang tahun GAM. Dari kemarin Mas  br tidur 1 jam, trus dibangunkan lg utk patroli, jangan sampai ada 1 pun bendera GAM yg berkibar. Klu kejadian kami semua kena tindak pimpinan. Emang sakit, Dek..? Doakan Mas, ya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian belum sempat membalas SMA ke Bude, saya yang kelelahan setelah mengikuti Islamic Leadership Training yang diadakan 2 hari penuh di Sragen, tak dapat menahan kantuk dan akhirnya tertidur. Paginya, selepas Subuh setelah membolak-balik terjemahan Al-Quran, saya kuatkan hati Bude dengan menuliskan salah satu penggalan Surat Al-Baqarah,”....Dan jika ada hamba-Ku yang bertanya tentang-Ku. Katakanlah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan doa hamba-Ku yang berdoa kepada-Ku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 6 pagi sambil menikmati nasi kucing, saya menonton tayangan berita pagi bersama teman-teman kos. Saya baru “ngeh” dengan SMS Bude semalam. Ternyata gempa bumi dasyat telah terjadi di Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selera makan pun hilang seketika. Sungguh! &lt;br /&gt;Betapa memang  jika ALLAH telah berkehendak, segalanya bisa terjadi. Mungkin tsunami yang terjadi di Aceh merupakan sebuah teguran akan kelalaian yang telah kita lakukan, bisa pula merupakan sebuah ujian ALLAH sebagai wujud tarbiyah dan kasih sayang-NYA kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak fragmen yang berputar. Ingatan-ingatan di masa yang telah terlampaui kembali hadir menyapa kesendirian. Ya! Kesendirian yang benar-benar saya bangun. Kesendirian yang tidak lama. Saya diberi waktu limabelas menit untuk menyendiri. Saya diberi tugas untuk bermuhasabah; merenungi segala kealpaan diri. Ada satu problem statement yang harus saya jawab dengan sebenar kejujuran: kemaksiatan apa yang telah saya lakukan sehingga menimbulkan kekalahan dan hilangnya keberkahan dalam berdakwah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah… luka itu kembali berdarah bersama perih yang tiada terkira.  Susah payah saya mencari sebabnya. Dan ketika kejujuran telah benar-benar menjadi  raja, terungkaplah fakta. Sungguh, tak mungkin saya mengelak lagi. Tak mungkin saya menyembunyikannya. ALLAH Maha Melihat.&lt;br /&gt; Astaghfirullah! Saya dihantui ketakutan. Apa jadinya bila saya tak punya kesempatan untuk menyembuhkan luka? Sebelum segalanya terlambat, saya harus segera menutupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, doakan Mas Anton, ya! Kakinya diamputasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mampu berkata-kata lagi ketika Bunda menahan isak di telepon. Bayangan kakak sepupu saya yang gagah itu begitu lekat. Sepupu yang baik hati. Saya ingat sosok tulus yang dengan jiwa seninya membantu saya membuat maket rumah-rumahan untuk ujian akhir di SMP. Ia juga yang mendesign sendiri stiker yang saya pesan untuk acara  Pondok Ramadhan masa SMA. Sepupu saya yang… selamat dari Tsunami di Aceh setahun yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang ia pun berpulang. Padahal sebentar lagi ia menikah. Ia dipanggil-NYA bukan saat Tsunami menerjang Aceh tapi saat hendak takziyah ke Rumah Sakit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasanya tak bisa dipercaya. Namun siapa yang mampu melawan takdir-NYA?&lt;br /&gt; Semua keluarga, sahabat dan tetangga berduka. Terlebih Bude. Untuk yang kedua kalinya ia harus melepas kepergian buah hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ALLAH!  Kini saya menemukan jawabannya. &lt;br /&gt;Ada kerinduan yang kembali hadir. Saya bersyukur ketika akhirnya luka dan perih yang ada membawa saya untuk kembali pada-NYA. Saya putuskan untuk menata ulang kembali visi hidup yang sempat berbelok arah. Tak ada kata terlambat untuk berbenah. Selagi napas ini masih diizinkan-NYA berhembus, saya masih mempunyai kesAempatan untuk bertaubat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Betapapun begitu banyak kemaksiatan yang telah saya perbuat, ALLAH Maha Penerima Taubat.&lt;br /&gt;Saya mamah kembali kata-kata yang dengan sadar ataupun tidak seringkali saya berikan untuk seorang saudara. Sebuah motivasi yang kini lebih tertuju untuk diri sendiri. Ya! Agar hanya kebaikan yang ada pada kita dalam setiap perjalanan waktu. Hanya ada dua pilihan: tetap baik atau lebih baik? Mana yang akan saya pilih? Sedang Rasul Saw. telah memberi rambu-rambu pada kita; bahwa orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bulan Syawal 1428 H memberikan kesan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di antara hiruk pikuk lebaran di rumah Mbah, Paklik mengumpulkan saya dan sepupu-sepupu yang masih lajang dalam sebuah forum saresehan. Ada taushiyah yang kemudian membawa kami pada sebuah refleksi diri. Apa yang dicari manusia dalam hidup yang tak lama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terdiam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah semua manusia menginginkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengalirlah taushiyah itu; taushiyah yang mengingatkan saya saat hidayah mulai menyapa; saat mata terbuka untuk mencari kesejatian; saat saya haus membaca buku dan majalah Islami dan saat saya beserta teman-teman mulai rutin berkumpul dalam halaqoh tarbawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang ingin bahagia. Dan di manakah bahagia itu ada? Harus bagaimana kita mencarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita orang yang beriman kebahagiaan seperti apa yang semestinya kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang bahagia adalah orang yang beruntung. Dan ciri-ciri orang yang beruntung ada dalam Q.S Al-Mukminun ayat 1-11.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Paklik kembali mengingatkan kami tentang kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang ada dalam diri orang-orang yang beriman. Sebagaimana yang keyakinannya atas janji ALLAH bahwa orang yang beriman akan mewarisi firdaus; surga yang tentunya lebih indah dari dunia dan seisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berubah menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membiarkan kenangan masa SMP dan SMA kembali hadir. Saat itu memang tak pernah terulang. Semangat untuk hijrah saat itu begitu menggebu. Bersama teman-teman, saya belajar bagaimana ber-Islam secara kaffah; bagaimana mulai menginternalisasikan nila-nilai Islam dalam keseharian.  Menjadi lebih baik adalah pilihan. Dan jalan menuju kebaikan terbentang lebar di hadapan. Tak ada yang bisa menghalanginya ketika tekad yang kuat benar-benar kita miliki. Saat itu saya disadarkan dengan tiga potensi yang diberikan ALLAH. Tiga potensi yang menjadikan kita berada pada puncak kejayaan bila ketiganya bisa bersinergi dalam ketawadzunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pribadi yang tawadzun. Wow.. keren! Siapa tak ingin?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kuatkan aku&lt;br /&gt;lindungi aku dari putus asa&lt;br /&gt;Bila kuharus mati &lt;br /&gt;pertemukan aku dengan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah cinta Edcoustic mengalun dari winamp. Saya dibawa hanyut dalam dzikrul maut. Apalagi Jum’at kemarin saya dan teman-teman nonton bareng film tentang sketsa siksa kubur. Ketakutan kini begitu menghantui. Betapa saya benar-benar tak punya cukup bekal bila sewaktu-waktu dipanggil-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia kehamilan yang semakin bertambah, sulit sekali memejamkan mata dengan lelap. Hampir tiap malam saya dilanda gelisah. Sungguh, fantasi tentang kematian acapkali mengganggu ketenangan yang coba saya bangun. Emosi saya semakin kacau. Saya akui amal yaumi memang tak memenuhi target akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan kuatkan aku&lt;br /&gt; lindungi aku dari putus asa&lt;br /&gt;Bila kuharus mati &lt;br /&gt;pertemukan aku dengan-Mu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalung Permai, 25 January 2009: 23:48&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-6917295438131285790?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/6917295438131285790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/muhasabah-cinta-q.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6917295438131285790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6917295438131285790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/muhasabah-cinta-q.html' title='Muhasabah Cinta-Q'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyYC7MONOI/AAAAAAAAAUw/xZxgzNWxga0/s72-c/DSC00239.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-3878239242564821012</id><published>2009-01-25T23:12:00.000+07:00</published><updated>2009-01-25T23:18:54.499+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>SAAT-SAAT SEPERTI INI..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyQeBxVf3I/AAAAAAAAAUo/DhyAreDxsj4/s1600-h/DSC00240.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyQeBxVf3I/AAAAAAAAAUo/DhyAreDxsj4/s200/DSC00240.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295266107426701170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore ini pun aku menangis lagi…&lt;br /&gt;Rindu pada orang-orang tercinta menghunjam begitu dalam.&lt;br /&gt;Air mata itu tertahan dalam kesendirian, menetes perlahan-lahan. Kucoba menahannya agar tidak terlalu deras berjatuhan. Kasihan mujahid kecilku, tiap hari mendapati umminya menangis (Maafkan Ummi, Nak!). Sungguh, kutakmau mewariskan kesedihan padanya. Ia harus lebih tegar dari Abi dan umminya. Maka, kucoba memaknai kembali ketegaran itu; bahwa perjuangan mengalahkan diri sendiri adalah jihad yang paling berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah.. aku pun tak mengerti. Akhir-akhir ini aku begitu mudah menangis, mudah lelah, mudah mengeluh. Parahnya, sifat manja&amp;melankolis menjadi meningkat berlipat-lipat. Emosiku seperti diaduk-aduk. Hanya istighfar yang terus berulang ketika berada dalam batas sadar, aku merasa bukan diriku. Aku menjadi sedemikian bergantung pada suamiku; menuntut perhatian lebih darinya, minta ini itu. Kadang, aku merasa keterlaluan: aku ini siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat seperti ini –saat aku merindukan kehadiran mereka yang tercinta-, aku seperti dihadiahi begitu banyak kasih sayang. Begitu tiada berhingga dan aku tak pernah mampu mengejewantahkan perasaanku dengan kata-kata. Maka, menghadirkan mereka dalam kesendirian adalah menyelami kembali telaga motivasi untuk terus berkarya. Meski kusadar; tak ada daya membahagiakan mereka semua. Sampai sekarang aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-3878239242564821012?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/3878239242564821012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/saat-saat-seperti-ini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3878239242564821012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/3878239242564821012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/saat-saat-seperti-ini.html' title='SAAT-SAAT SEPERTI INI..'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/SXyQeBxVf3I/AAAAAAAAAUo/DhyAreDxsj4/s72-c/DSC00240.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-6802931132563975716</id><published>2009-01-25T22:17:00.000+07:00</published><updated>2009-01-25T23:05:52.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LDK'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><title type='text'>DAKWAH KAMPUS DALAM KENANGKU; SECUIL KISAH untukmu, Sahabat!</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627400839 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"Monotype Corsiva"; 	panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Header Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} span.HeaderChar 	{mso-style-name:"Header Char"; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Header; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:70.9pt 70.9pt 70.9pt 70.9pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:16;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:16;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;Menuliskan romantisme kenangan seorang aktivis dakwah kampus tiada pernah ada akhirnya. Begitu banyak kisah yang membenamkan pelajaran dan tidak semua kisah mampu ter-cover dalam satu tulisan. Namun tak apa bila dari sekian banyak serba-serbi seorang aktivis di medan juangnya hanya beberapa saja yang tersaji. Setidaknya kisah-kisah itu menjadi pemantik api semangat bagi jiwa-jiwa yang mulai dilanda resah.&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;AWALNYA ADALAH HIDAYAH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya yakin babak demi babak dalam setiap episode kehidupan kita tidak pernah terlepas dari skenario ALLAH. Begitu pun ketika kita memutuskan untuk menjadi seorang aktivis dakwah –&lt;i&gt;sebutan yang begitu berat saya rasakan&lt;/i&gt;- di kampus. Ya! Ketika hidayah untuk ber-Islam secara &lt;i&gt;kaffah&lt;/i&gt; datang menyapa, kita dituntut untuk selalu memperbaiki diri. Dan ternyata itu belum cukup. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Alangkah egoisnya kita ketika tak mau berbagi dengan saudara-saudara kita. &lt;i&gt;Azzam &lt;/i&gt;untuk mengajak orang merasakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;indahnya hidup dengan iman dan Islam pun tertanam kuat di dada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menjadi baik memerlukan proses. Kita tidak bisa menunggu sampai menjadi benar-benar baik, baru kemudian mengajak orang menuju kebaikan. &lt;i&gt;Learning by doing&lt;/i&gt; pun menjadi pilihan! Kita tak pernah tahu berapa jatah usia yang diberikan-NYA. Mau tak mau proses perbaikan diri kita pun harus bersinergi dengan perbaikan ummat secara keseluruhan. Dan semua berawal dari hidayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hidayah teramat mahal dan istiqomah tidaklah mudah. Beruntunglah orang yang memutuskan untuk memilih jalan dakwah. Sebab ia tidak sendirian memikul berat bebannya. Ia punya banyak saudara perjuangan yang akan menjaganya. Bukankah ALLAH pun menyukai kita berjuang dalam barisan yang teratur? Dan aktivis dakwah bukanlah status sementara ketika kita di kampus. Di manapun kita, kita adalah da’i sebelum menjadi yang lainnya. Semoga jalan dakwah ini mampu menyelamatkan kita dari adzab pedih-NYA!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;PERCAYALAH, TAK ADA YANG SIA-SIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Saya begitu terkesan dengan &lt;i&gt;taushiyah&lt;/i&gt; yang disampaikan oleh seorang &lt;i&gt;ummahat&lt;/i&gt; dalam memaknai babak demi babak dalam setiap episode kehidupan, ”Tak ada yang sia-sia. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apa yang sudah kita lewati semuanya indah. Ya! Semua terasa indah bila dibingkai dengan bingkai dakwah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mari kita bingkai tiap kejadian dengan bingkai dakwah. Berharap setiap permasalahan yang dihadiahkan untuk kita menjadikan kita lebih dewasa dan bijak. Ingatlah bahwa ALLAH tidak pernah membebani seseorang di luar batas kesanggupannya. Maka ketika kita memutuskan untuk berjalan di atas jalan dakwah, bersiaplah menghadapi segala kemungkinan. Percayalah, tak akan ada yang sia-sia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;LDK; SALAH SATU WADAH PERJUANGAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kesan pertama di kampus hijau tercinta –&lt;i&gt;UNS&lt;/i&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memang benar-benar hijau. Klop. Pepohonan yang rindang di berbagai penjuru kampus tidak sendirian menjadi penarik perhatian. Ada sekian banyak &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; ikhwan/akhwat yang berlalu lalang sepanjang hari di ruas-ruas jalannya. Saya segera beradaptasi dan mencari tempat untuk beraktualisasi. Meskipun sudah &lt;i&gt;ngaji&lt;/i&gt; sejak kelas 3 SMP dan menjadi bagian dari Rohis semasa SMU, motivasi awal untuk bergabung dengan LDK –&lt;i&gt;JN UKMI UNS&lt;/i&gt;- lebih karena keinginan untuk beraktualisasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagi saya waktu itu, LDK adalah zona ternyaman untuk berekspresi. Saya yang sejak awal tidak terlalu mantap kuliah di salah satu program studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan enggan bergabung dengan UKM lain. Saya tidak siap untuk keluar dari zona nyaman. Saya &lt;i&gt;pamitan&lt;/i&gt; ke salah seorang mbak –&lt;i&gt;senior-&lt;/i&gt; agar tidak direkrut menjadi pengurus SKI fakultas. Saya tidak lagi tertarik dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus. LDK telah menjadi satu-satunya pilihan. Biarkan saya berkiprah di LDK, gumam saya waktu itu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Baru beberapa waktu berjalan, saya tersadar bahwa LDK hanyalah salah satu wadah perjuangan di kampus. Namun saya sudah terlanjur jatuh cinta, saya tak ingin ‘mendua’ meskipun akhirnya ada amanah lain yang juga harus diterima dengan lapang dada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BIDANG NISAA’ DALAM TIGA MASA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa kali ada yang mengatakan bahwa saya tidak akan berkembang kalau hanya berkutat dalam dunia keakhwatan. Saya yang alumnus Divisi Keputrian Rohis SMA mencoba tetap bertahan di Bidang Nisaa’. Bagaimanapun, di awal kepengurusan saya telah memilih meskipun dalam hati kecil saya ingin sekali menjadi bagian dari tim media. Ah, bukankah belajar &lt;i&gt;dakwah bil qolam &lt;/i&gt;bisa saya lakukan kapan saja dan di mana saja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun pertama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun pertama di LDK (2004/2005) -&lt;i&gt;masa kepemimpinan Pak Ahmadi&lt;/i&gt;- saya berjumpa dengan orang-orang hebat. Pun di Bidang Nisaa’. Saya menjumpai sosok muslimah yang pantas dijadikan teladan. Setidaknya keteladanan itu jelas terlihat di tataran ketua bidang, sekretaris, dan koordinator departemen. Dari mereka saya belajar betapa pentingnya perhatian, keikhlasan dan pengorbanan. Saya mencoba memahami bahwa kinerja bidang pun bukan sekedar merealisasikan program kerja yang telah dibuat. Saya menyaksikan sosok –&lt;i&gt;senior&lt;/i&gt;- yang tenang dan selalu terkendali menghadapi setiap kondisi. Secara tidak langsung saya juga diajarkan untuk segera menetralisir rasa kecewa terhadap kenyataan yang seringkali berbeda dengan harapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Salah satunya adalah keadaan di mana saya mendapati tidak semua pengurus aktif. Di tahun ini program kerja bidang Nisaa’ JN UKMI UNS lumayan banyak. Di Departemen Internal ada&lt;b&gt; &lt;/b&gt;(1)BOOM/Bina Ukhuwah Muslimah; acara yang dikemas untuk mempererat ukhuwah antar pengurus akhwat, menyikapi isu-isu kemuslimahan dan mengkomunikasikan permasalahan yang dialami pengurus akhwat; (2)LATANSA/Silahturahmi Antar Nisaa’; bertujuan mempererat ukhuwah antara Nisaa’ UKMI dengan Nisaa’ fakultas, mensinergiskan progja antar bidang Nisaa’ LDF dan meningkatkan eksistensi Nisaa’ UKMI; (3)KRM/Kajian Rutin Muslimah;sebuah kajian untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang fiqh muslimah; (4)EXOMUS/Exercise for Muslimah; sejenis acara &lt;i&gt;riyadhoh&lt;/i&gt; untuk memfasilitasi potensi jasadiyah muslimah, meningkatkan minat Olah Raga muslimah; (5) IM3/Ini lho.. Mading Muslimah Masa Kini; mading yang memuat isu kontemporer muslimah (6)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;SIMPATI (Muslimah Pandai Tulis Menulis) ; training kepenulisan muslimah yang dipandu oleh pengurus FLP Solo . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Sedangkan di Departemen Eksternal ada (7) KURMA/Kajian Rutin Bersama; sebuah kajian yang diikuti oleh ibu-ibu/remaja putri di sebuah dusun binaan; (8) NISAA’ LINK yang bertujuan membuka hubungan dan memperuas jaringan eksternal ; (9) NIRWANA/Nisaa’ Transfer Wacana ; sebuah seminar muslimah yang bertajuk “Wanita dalam Bible dan Quran” ; (10)&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:11;"   lang="FR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DERING (Leadership Training); sebuah training untuk meningkatkan skill kepemimpinan muslimah se-Surakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jumlah personal di bidang pada periode ini ada 16 akhwat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun kedua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun kedua (2005), tidak banyak yang berubah. Saya masih di Bidang Nisaa’. Di tahun ini periodesasi kelembagaan mengikuti tahun buku secara umum. Jadi masa ini –&lt;i&gt;di bawah kendali Akh Ihwan Mujahid&lt;/i&gt;- merupakan tahun kepengurusan tersingkat, sekitar setengah masa kepengurusan sebelumnya. Ada yang mengatakan ini adalah masa akselerasi kelembagaan. Di Bidang Nisaa’ departemen internal dan eksternal dilebur jadi satu. Dengan jumlah personal yang berkurang, kerja-kerja bidang membawa kesan tersendiri. Mulai dari konsep dan teknis sebuah kegiatan -&lt;i&gt;proposal, perijinan, sponshorsip dan fundrising, pubdekok, dll&lt;/i&gt;- dikerjakan oleh orang yang itu-itu saja. Jumlah pengurus bidang tahun ini ada 10 akhwat dengan program kerja yang juga cukup bervariasi. Ada (1)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;MADINA/Majalah Dinding Nisaa’ Nurul Huda; (2)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Kansah/ Pekan Taushiyah; program silaturrahim dan berkirim taushiyah antar pengurus akhwat yang dilaksanakan dalam satu pekan. Pelaksanaan kansah melibatkan seluruh pengurus akhwat JN UKMI UNS; (3) HAMASA/&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sehari Bersama Nisaa’&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;; sebuah acara yang dikemas untuk menjaga soliditas pengurus akhwat; (4)&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; KURMA MJ9/Kajian Rutin bersama Mojosongo; kajian bersama ibu-ibu di dusun binaan; (5) SEMUSIM/Sayembara menulis Muslimah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Surat Cinta buat Ayah” (6) T-KAT (Training Retorika Akhwat); (7) DERING /Leadhership training; latihan kepemimpinan muslimah pengurus LDF UNS dan LDK se-Surakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun ketiga &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun ketiga (2006), saya senang ketika akhirnya mendapat surat lamaran untuk menjadi sekretaris Bidang Media dan Informasi (Mediasi). Saya mulai merancang program baru, khususnya di departemen Media Islam (Medis), namun belum juga dilantik, saya ditarik kembali ke Bidang Nisaa’. Baiklah, meski dengan berat hati saya kembali ke bidang yang telah membesarkan saya. Kali ini posisi saya adalah sekretaris bidang. Sedangkan posisi ketua bidang di pegang oleh Ukhti Heni Marina. Di tahun ini –&lt;i&gt;di bawah kepemimpinan Akh Triasmoro&lt;/i&gt;- jumlah pengurus di Bidang Nisaa’ ada 15 akhwat yang terbagi dalam departemen internal dan eksternal. Program kerja pada tahun ini sebagian sama dengan tahun sebelumnya: MADINA, HAMASA, KURMA dan DERING. Sedangkan program lainnya ada From Heart to Heart; program yang dikemas untuk menjalin kedekatan antara pengurus dengan mahasiswi, dosen muslimah dan birokrat kampus. Program ini dilaksanakan di momentum tertentu –&lt;i&gt;hari pendidikan nasional dan hari aids sedunia&lt;/i&gt;- dengan membagi-bagikan bunga dan pin. Ada juga &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;TU&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;NISIA/Silaturrahim Nisaa’ LDK, Tokoh dan Elemen Wanita Surakarta yang dilaksanakan departemen eksternal. Selain itu pada tahun ini ada OBASA/Olah Raga Bareng Nisaa’ yang dilaksanakan pada hari Ahad. Dan yang tak kalah seru adalah Seminar dan Talkshow Muslimah bertajuk, ““Be Excellent Muslimah: Kenali diri...Lejitkan potensi” yang menghadirkan dr. Marijati (Peraih Ummi Award) sebagai narasumber.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Tak terasa saya telah melewati tiga periode di Bidang Nisaa’. Meskipun begitu, masih banyak kerja-kerja yang belum optimal. Beberapa hambatan yang kerap kami temui dalam Bidang Nisaa, khususnya periode 2006: (1)Sebagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;personel mempunyai amanah lain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan padatnya aktivitas akademis sehingga dalam setiap koordinasi tid&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;ak semua pengurus bisa hadir&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;; (2) &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kurang efektifnya komunikasi sehingga berdampak pada kurangmatangnya perencanaan dan persiapan terhadap suatu kegiatan; (3) Kedisiplinan yang kurang dalam menepati &lt;i&gt;time schedule&lt;/i&gt; yang telah dibuat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Akhirnya semua kembali pada masing-masing personal di bidang. Bagaimanapun, semua mempunyai tanggungjawab untuk melakukan yang terbaik di setiap amanah yang diembannya. Begitupun segenap mujahidah di Bidang Nisaa’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;FSLDK TERCINTA: PUSKOMNAS DAN BP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Beberapa bulan sebelum FSLDKN XIII di Samarinda, saya dan Ukhti Heni bergabung dengan tim Puskomnas FSLDK. Saya mendapatkan banyak hal baru. Meskipun kerja jaringan tidak serumit yang saya bayangkan tapi juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimanapun, amanah Puskomnas yang dipercayakan kepada UNS pada tahun 2002-2005 adalah amanah langit yang luar biasa. Saya menemukan sosok-sosok yang juga luar biasa, penuh semangat yang selalu menyala-nyala dalam tim Puskomnas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Tahun 2005-2007, UNS diamanahi sebagai BP Puskomnas; pendamping daerah Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat (Malpairjab). Dalam dua tahun ini, saya dan teman-teman di tim BP Puskomnas berinteraksi dengan teman-teman Indonesia Timur, khususnya teman-teman di LDK Babussalam Unkhair Ternate.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Syuro’ demi syuro’ FSLDK –&lt;i&gt;langsung maupun via chatting-&lt;/i&gt; kini menjadi hal yang menerbitkan kerinduan tiap kali mengenangnya. Saya berharap sinergisitas dakwah di kampus-kampus seluruh Indonesia mampu terwujud dengan adanya FSLDK. Persaudaraan yang kokoh dengan landasan iman menambah keyakinan bahwa di manapun muslim berpijak, di situlah tanah air Islam dan di situlah syariat ALLAH ditegakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Apa yang paling berkesan dari FSLDK? Terus terang saya tak akan sanggup menulisnya secara detail di sini. Biarlah saya tulis kembali sebuah hadist tentang indah persaudaraan sebagai pengingat agar kita senantiasa terjaga dalam jama’ah dakwah, “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasakan demam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;.&lt;sup&gt;” &lt;/sup&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(H.R Bukhari)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;YANG AKAN TERBINGKAI DALAM KENANGKU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kesabaran Yang Menawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di awal semester, banyak sekali tawaran untuk bergabung dalam aneka kegiatan mahasiswa di kampus. Semuanya menjanjikan hal-hal yang menarik, baik di tingkat program studi, fakultas maupun universitas. Di tingkat fakultas, tentu saja saya memilih untuk mengikuti PETAI(Pelatihan Tahap) I, yang merupakan daurah marhalah pertama yang diadakan SKI FKIP UNS. Pasca itu ada kegiatan follow up, sebagai pendampingan kader mula yang terbagi dalam kelompok kecil. Meskipun hanya beberapa kali berjalan namun saya sangat terkesan dengan pendamping saya; seorang Ukhti yang telah membuat saya belajar tentang kesabaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bagaimana tidak, di tengah kesibukannya yang padat, ia meluangkan waktu untuk mengunjungi adik-adik dampingannya. Sebuah kesabaran tentu saja menjadi energi untuk menepis lelah setelah bergerilya dari kos ke kos yang jaraknya tidak bisa dikatakan dekat. Ia menempuhnya dengan jalan kaki di tengah terik matahari yang begitu menyengat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Meski mendapat kunjungan yang hanya sebentar namun diam-diam saya terharu. Apalagi saat itu saya sedang kesepian. Saya memilih tinggal di kos biasa yang kondisinya tentu berbeda dengan kos binaan para aktivis dakwah. Saya yang merasa rindu dengan bi’ah yang kondusif merasa mendapatkan obat penawar dari kunjungan singkatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apa Yang Terjadi Setelah Pulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sejak awal semester sampai sekarang, saya termasuk mahasiswa yang paling sering pulang kampung. Bukan sekedar &lt;i&gt;homesick&lt;/i&gt; yang hinggap atau jarak rumah yang relatif dekat namun lebih dari itu pulang sudah menjadi kebutuhan. Memang seringkali benturan dengan padatnya aktivitas kampus menjadi kendala. Bagi saya hal itu harus disiasati. Saya pun mencari celah agar bisa pulang meskipun capek di jalan dan hanya numpang tidur semalam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Seringkali rencana pulang harus dicancel karena ada undangan yang harus dipenuhi. Undangan yang tak jauh-jauh dari daurah kader, syuro’ ini itu dan aktivitas-aktivitas kelembagaan yang terus mengalir tak kenal henti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suatu hari yang masih saya ingat; saya tergopoh-gopoh sampai di kos karena memburu waktu kuliah. Sengaja mampir ke kos sepulang dari rumah untuk mengambil buku dan mengurangi beban tas yang berat. Saat hendak berangkat ke kampus tak sengaja mata saya melihat kertas putih bertulis ”Secret Invitation” yang tak lain adalah bentuk&lt;i&gt; qoror&lt;/i&gt; untuk mengikuti sebuah kegiatan. Masya ALLAH, begitu banyak syarat tertulis di sana. Salah satunya adalah membuat makalah yang harus dikumpulkan dalam bentuk &lt;i&gt;hard copy&lt;/i&gt; saat registrasi. Saya hanya mempunyai waktu semalam untuk mengerjakannya. Namun sekali lagi undangan itu harus dipenuhi. Saya pun nekad menulis makalah dalam lembar-lembar folio karena tidak memungkinkan untuk mengetiknya. Saat itu di kos tidak ada komputer. Setelah &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; buku-buku pergerakan untuk referensi, saya mulai beraksi sampai batas malam. Esoknya, pagi-pagi sekali saya memburu bus agar sampai di lokasi pemberangkatan sebuah daurah sebelum jam enam pagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kalau saja saya &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; pulang kampung sebelumnya, mungkin akan berbeda kisahnya. Begitu pun di hari terakhir daurah ketika saya harus pulang kampung untuk mengambil madu mongso&lt;i&gt; &lt;/i&gt;–&lt;i&gt;makanan tradisonal dari tape&lt;/i&gt;- untuk dipresentasikan dalam mata kuliah Kewirausahaan keesokan harinya. Saya memberanikan diri untuk minta izin ke panitia. Saya jelaskan kepentingan saya yang mendesak. Bagaimanapun apa yang saya lakukan juga menyangkut nyawa –nilai- teman-teman satu kelompok. Akhirnya saya memang diizinkan pulang tapi terlebih dulu harus menyetor hapalan beberapa ayat Al-Quran yang tertera di undangan. O la.. la.., saya belum hapal betul. Untuk menebusnya saya disuruh push-up. Saya melakukannya dengan tegar. He.. he.. tapi begitu bus yang saya tumpangi beberapa kilometer meninggalkan Wonogiri, saya merasa kedua mata mulai hangat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian, tes..tes..mengalirlah bening-bening kristal itu di pipi. Parahnya, ketahuan sama kondektur bus, ”Lho Mbak, kok nangis?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Inspeksi Mendadak Ba’da Subuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malu menceritakan hal ini. Namun saya ingin hal ini menjadi pelajaran bagi para aktivis. Di sebuah kajian pagi di masjid kampus tercinta, Seorang ustadz pernah bercerita tentang aktivis yang tidur ba’da Subuh. Ustadz menyindir para aktivis itu meniru pemuda kahfi yang bersembunyi di dalam gua. Pagi-pagi di dalam gua? Ah, betul-betul sindiran yang tajam. Masak, iya sih kita membiasakan diri tidur ba’da subuh? Sekali dua kali mungkin –&lt;i&gt;meskipun banyak yang tidak sepakat-&lt;/i&gt; bolehlah kita melakukannya bila memang dalam keadaan darurat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ternyata apa yang diceritakan Ustadz bukanlah kisah fiktif. Saya pun menemui realita ’pahit’ itu di sejumlah kalangan aktivis dakwah. Sebabnya sangat kompleks. Namun dari fenomena tersebut saya belajar mengunyah nasehat-nasehat tentang keberkahan di pagi hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Survei yang tidak sengaja saya lakukan (saat bergerilya mengantar undangan tepat beberapa menit ba’da subuh usai syuro –&lt;i&gt;mabit&lt;/i&gt;- di masjid kampus) begitu mengejutkan. Biasanya saat saya mengantar undangan di waktu siang atau sore memang jarang bertemu dengan sejumlah nama yang ada di list. Mereka masih di kampus atau masih berkutat dengan aktivitasnya. Kalau undangan di antar ba’da subuh? Ternyata bukan waktu yang tepat juga. Saya harus beberapa kali mengucapkan salam untuk membangunkan mereka. Hampir semua yang saya datangi belum siap menerima tamu karena masih terlelap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sepeda Motor Sang Aktivis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suatu ketika, di sebuah daurah para aktivis dakwah kampus UNS di Yogyakarta, saya mendengar sebuah &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; dari seorang ustadz bahwa seorang aktivis minimal bisa naik sepeda motor. Bagaimanapun, kepiawaian mengendarai sepeda motor sangat menunjang mobilitas seorang aktivis. Saya yang saat itu masih belum terlalu berani mengendarai sepeda motor di jalan raya tidak memberikan komentar apa-apa. Dalam waktu-waktu yang mendesak, saya memang memberanikan diri meminjam motor seorang ukhti lengkap dengan sopirnya –&lt;i&gt;si empunya motor&lt;/i&gt;-. Namun sungguh, hal itu tidak selalu bisa saya lakukan di setiap keadaan darurat sekalipun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya bersyukur ketika di hadapkan pada satu pilihan: saya harus berani naik sepeda motor. Awalnya begitu sederhana. Saya mendapat tamu –&lt;i&gt;rombongan akhwat&lt;/i&gt;- dari Unsoed, Purwokerto. Ketika hari beranjak semakin siang, teman-teman harus segera sampai di Stasiun. Kalau terlambat, harus menunggu kereta berikutnya. Jalan satu-satunya untuk segera sampai ke stasiun adalah mengantarkan mereka dengan sepeda motor. Di parkiran pondok, ada beberapa sepeda motor &lt;i&gt;nganggur&lt;/i&gt;. Saya melobi beberapa dan minta tolong untuk mengantarkan para tamu ke stasiun. Sayang semua menolak karena harus mengerjakan sesuatu yang juga penting. Dengan terpaksa saya hanya mengantar mereka sampai mendapatkan angkot ke stasiun. Astaghfirullah, saya begitu di dera rasa bersalah. Coba kalau saya berani bawa motor? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akhir pekan ketika ada kesempatan pulang ke rumah, saya segera mengeluarkan sepeda motor dari tempatnya. Sudah beberapa minggu sepeda motor itu &lt;i&gt;nganggur&lt;/i&gt;. Si empunya –&lt;i&gt;kakak saya&lt;/i&gt;- sudah memberikan kepercayaan pada saya untuk memakainya karena sepeda itu tak mungkin dibawa merantau ke Kalimantan. Rencana semula sepeda itu baru akan saya bawa ke Solo untuk PPL semester VII. Akhirnya, memutuskan untuk tidak menunggu sampai masa PPL tiba. Ditemani sepupu, saya membawa motor kakak berkeliling desa agar terbiasa berkendara setelah beberapa lama tidak pernah membawanya. Alhamdulillah, Senin pagi, sepeda motor itu sudah berada di pondok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekarang saya membenarkan &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; yang pernah disampaikan Ustadz. Kepiawaian bersepeda motor sangat menunjang mobilitas. Apalagi ketika jam terbang sedang tinggi dan dalam sehari harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ketika saya mendapat amanah untuk sering berkunjung ke sebuah tempat yang relatif jauh dan memerlukan waktu lebih panjang bila ditempuh dengan bus, saya pun kembali membenarkan statement tersebut. Ya! Seorang aktivis dakwah idealnya piawai membawa kendaraan. Setidaknya sepeda motor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sosok Yang Menghayutkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kepribadian yang luar biasa. Terus terang saya kagum dengannya. Ia adalah seorang aktivis dakwah yang luar biasa. Hatinya benar-benar tertaut di masjid kampus. Selain aktif di kepengurusan LDK –&lt;i&gt;JN UKMI UNS&lt;/i&gt;-, ia juga menjadi takmiroh yang patut diteladani. Ada kecemburuan yang saya pendam hingga sekarang tiap kali mendapatinya menjadi ’pahlawan’ bagi yang lain. Seringkali ia menawarkan kebaikan meskipun ia sangat sibuk. Tak sekali dua kali ia pun menjadi ’pahlawan’ bagi saya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya masih ingat, ketika baru beberapa saat sampai di Jogja untuk syuro’ dengan BP Puskomnas UNY, ia mengirimi sebuah SMS ke HP saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Mbak, tadi pagi sudah sempat piket blm?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebuah hal yang sederhana. Namun berujung pada tawaran yang kalau saya tidak mengiyakan pun akan tetap dilakukannya. Ia akan menggantikan saya untuk piket di hari Jumat karena sebuah kelalaian. Saya benar-benar terburu-buru berangkat ke Jogja tanpa piket terlebih dahulu. Dan ia rela menggantikan saya. Bukan lantaran &lt;i&gt;iqob &lt;/i&gt;yang harus saya tanggung bila tidak piket, saya yakin ia melakukan dengan ikhlas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sungguh ketulusannya juga saya rasakan saat saya sakit. Sepulang dari Padang, ketika saya terkapar dan tidak ikut dirosah –&lt;i&gt;kuliah pagi di pesantren mahasiswa&lt;/i&gt;-, ia membuka pintu. Menawarkan bantuan untuk membelikan saya sarapan pagi. Ketika saya mengatakan bahwa sudah ada yang membelikan ia pun berlalu dan dalam hitungan detik kembali ke kamar membawa roti tawar dan minuman cereal. Subhanallah, saya benar-benar iri dengan ketulusannya. Pun ketika di musim penghujan ini, ia membelikan saya jas hujan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sosoknya yang &lt;i&gt;itsar&lt;/i&gt; dan tulus itu masih berpadu dengan kebaikan-kebaikan yang lain. Ia cekatan dan tidak banyak tingkah. Amal yauminya memang luar biasa. Ia terbiasa shaum daud. Mungkin itulah energi yang dimilikinya untuk senantisa istiqomah dengan kebaikan-kebaikannya. Semoga ALLAH membalas kebaikannya dengan balasan yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dinamika Antar Kampus Yang Berbeda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kampus itu surga bagi para aktivis dakwah. Begitu komentar yang saya dengar dari beberapa ikhwah. Ya! Berbagai fasilitas kampus terkadang memanjakan para aktivis dakwah. Meskipun demikian ternyata dinamika dakwah antar kampus berbeda meskipun dalam satu kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kampus swasta itu bonus. Begitu yang dikatakan ikhwah yang lain dalam kesempatan yang berbeda. Bila sebagian kader tersebar di kampus-kampus negeri maka menggerakkan sebagian besar kampus swasta membutuhkan kekuatan dan kegigihan tersendiri. Apalagi bila kita berangkat dari nol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dakwah kampus tahap persiapan menuju tahap satu memang unik. Saya tidak pernah menyangka kalau kondisinya akan seperti delapan puluhan atau sembilan puluhan awal. Jika di UNS kegiatan asistensi –&lt;i&gt;mentoring&lt;/i&gt;- sudah menjadi menu wajib bagi mahasiswa baru, maka sekedar melakukan pembinaan diri dalam pertemuan rutin pekanan tidak mudah dilakukan di kampus-kampus yang letaknya hanya beberapa kilo dari Kentingan. Butuh strategi khusus agar tidak dicurigai pihak-pihak tertentu. Apalagi akhir-akhir ini seringkali berhembus isu yang tidak mengenakkan dan sedikit berpengaruh terhadap aktivitas dakwah kampus. Sungguh acungan jempol buat mereka yang gigih dalam menggarap lahan baru di kampus-kampus tetangganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Putus Asa? Nggak lagi deh..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kadang saya merasa bukan apa-apa ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang TOP BGT; jam terbang tinggi, binaan banyak, prestasi akademis oke, pintar berorasi, jaringan luas, keluarga terkondisi, dst. Sedangkan saya? Malang nian bila hanya penuh kekurangan demi kekurangan tanpa satu pun kelebihan. Jangan-jangan saya tidak bersyukur. Jangan-jangan saya tidak mau berusaha?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setiap orang itu unik. Begitu pun aktivis dakwah kampus. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Meskipun &lt;i&gt;tawadzun&lt;/i&gt; tidak mudah dan kita punya banyak keterbatasan namun ALLAH telah memberi kemampuan kita untuk berusaha. Ketika di hadapkan pada sebuah kegagalan, sudah bukannya lagi seorang aktivis berputus asa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;TAK TERASA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak terasa usia di kampus sudah semakin berbilang. Amanah kelembagaan saya sudah selesai. Dan kini –&lt;i&gt;semoga tahun terakhir di kampus&lt;/i&gt;- saya masih harus belajar tentang banyak hal. Sungguh, betapa kehidupan pasca kampus perlu persiapan yang matang. Medan jihad pasca kampus tentu lebih berat dan menantang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;BERTAHANLAH, SAHABAT... PERJUANGAN MASIH PANJANG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perjumpaan selalu diikuti dengan perpisahan. Begitulah kebersamaan yang kita lalui dengan sahabat perjuangan di kampus. Semua akan menjadi kenangan. Namun semua tak berakhir di sini. Amanah sebagai seorang aktivis akan selalu melekat. Ingatlah bahwa kita telah berikrar untuk menjadi da’i sebelum menjadi yang lainnya; &lt;i&gt;nahnu du’at qobla kulli syai’in&lt;/i&gt;! Meskipun raga tak akan lagi melangkah beriringan tapi jiwa kita tak pernah berpisah, selalu menyatu dalam cinta untuk menyeru pada-NYA. Lantunkanlah do’a &lt;i&gt;rabithah&lt;/i&gt; sebagai pengikat hati-hati kita. Dan jangan lupa berdoa agar kelak ALLAH mengumpulkan kita kembali di tempat yang lebih baik –j&lt;i&gt;annah&lt;/i&gt;-NYA-. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selamat berjuang! ALLAHU AKBAR!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ukhtiikum fillah –&lt;i&gt;hamba ALLAH yang dhaif&lt;/i&gt;-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Fathimatul Azizah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1529119125359023106-6802931132563975716?l=fathimatulazizah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/feeds/6802931132563975716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/dakwah-kampus-dalam-kenangku-secuil.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6802931132563975716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1529119125359023106/posts/default/6802931132563975716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fathimatulazizah.blogspot.com/2009/01/dakwah-kampus-dalam-kenangku-secuil.html' title='DAKWAH KAMPUS DALAM KENANGKU; SECUIL KISAH untukmu, Sahabat!'/><author><name>~AbiyasaFathim~</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12440233825335419031</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='23' src='http://3.bp.blogspot.com/_-Y4dfxYK8yY/Sw94WBvJNFI/AAAAAAAAAd4/dHgKqESZRW0/S220/Butterfly_Morpho_Anaxibia_(M)_KL.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1529119125359023106.post-1483109642668142344</id><published>2009-01-20T22:28:00.000+07:00</published><updated>2009-01-20T22:59:22.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>Untuk Saudara Kita di Palestina</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: lucida grande;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: lucida grande;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: lucida grande;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-styl
