“We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight”
Saya di rumah sendirian, hanya ditemani senandung itu, Song for Gaza yang menjadi ungkapan hati seorang Michael Heart. Kemarin, seorang sahabat mengirim lagu itu. Ia mengirimkannya via YM, ketika tanpa sepengetahuan saya, suami menulis status message: rindu Bunda di ID saya (Sebelumnya saya memang bilang ingin pulang).
“Hari ini rindu Bunda? Nih, dengerin… “begitu kurang lebih komentarnya setelah lagu itu terkirim. Saya baru tahu kronologis terkirimnya lagu itu keesokan harinya.
Kini lagu itu berulangkali terdengar dari winamp, saat saya menekan tuts-tuts keyboard. Lagu itu begitu menggetarkan, menggugah kembali simpati yang begitu dalam untuk saudara-saudara kita di Palestina? Sekedar simpati tentu tak cukup. Perlu bukti nyata untuk menunjukkan rasa cinta buat saudara-saudara kita di Palestina. Ya! Namun, apa yang telah kita lakukan hingga kini untuk membantu mereka?
********
“Semoga menjadi pejuang tangguh untuk Palestina. karena di saat masih di alam rahim sedang terjadi genocida oleh isrel di sana...” tulis seorang sahabat yang lain pada space komentar salah satu tulisan di blog kami. Saya dan suami meng-amin-i doa itu.
Mujahid kecil kami juga sudah mendengar kabar tentang gejolak di negeri Anbiya’ itu. Hampir tiap hari abinya bercerita tentang perkembangan Palestina yang dibaca dari beberapa situs (seringnya http://www.infopalestina.com). Bahkan, ia juga sudah ikut aksi. Tanggal 2 Januari 2008, hari pertama (kembali) masuk kerja, saya dan Mbak Rina cabut dari kantor usai shalat dhuhur untuk bergabung dalam long march dan Munasharah Palestina. Saya katakan padanya, “Hari ini kita munasharah untuk saudara kita di Palestina, Nak. Baru ini yang kita lakukan saat ini, Sayang.”
Kini saya terhenyak, “Sudah sejauh jangkauan tangankah rasa simpati itu mengalir dalam empati yang benar-benar optimal?”
Sedih dan sakit hati yang tak terperi belumlah cukup. Harus ada bukti pembelaan. Bagaimanapun, tak selayaknya kita diam melihat kemunkaran . Ya! Jika kita masih ingin menjadi bagian dari orang-orang yang beriman.
Saya jadi teringat ketika mengedit terjemahan Al-Wafi, di antara hadist Arba’in, ada salah satu hadist yang berbicara tentang keharusan mengubah kemunkaran, hadist ke-34,
Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra., ia berkata, ”Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya). Jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya). Jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju). Demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)
Lantas, bagaimana kondisi kita saat ini?
********
Ah, saya malu. Rasa-rasanya semangat berempati untuk saudara-saudara di Palestina tidak lebih baik ketika saya masih sekolah atau aktif di kampus.
Dulu, mulai kelas 3 SLTP hingga SMU, saya dan teman-teman mengumpulkan sunduq buat Palestina tiap pekan sekali (pas pertemuan rutin). Masa SMU adalah masa genjar-genjarnya boikot produk-produk AS yang juga diboikot para ulama. Bahkan, saat ada teman traktiran di kantin (biasanya pas milad), kami menukar minuman (coca cola,dkk) dengan es teh atau yang lain. Sampai-sampai Ibu kantin keheranan, ”Kok ditukar dengan minuman yang lebih murah?”
Ketika memasuki lingkungan kampus, keterlibatan untuk menggemakan empati buat Palestina lain lagi. Selain munasharah juga ada atributisasi bendera Palestina. Teman-teman di FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) mempunyai komisi yang khusus menangani masalah ini. Dan Palestina, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kinerja komisi isu setiap tahunnya. Bahkan, teman-teman di FSLDK pernah menjadikan hari Juma’t sebagai hari palestina (Palestine Days), dan menghimbau para aktivis dakwah untuk menunjukkan atribut (bendera) Palestina seperti pin, gantungan kunci, stiker, emblem, dsb.
********
Di antara pokok-pokok kebaikan adalah melepas kesusahan saudara kita. Sebagaimana penggalan hadist Arba’in ke-36,
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan kesusahan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya...” (Lafazh riwayat Muslim)
Saudara kita di Palestina seperti halnya muslim di belahan bumi lain. Mereka adalah bagian dari kita. Maka, sudah sepantasnya kita penuhi hak-haknya. Bukankah ketika ada satu bagian tubuh kita yang sakit yang lain ikut merasakan demam? Jangan pernah merasa bosan dan berputus asa mendoakan mereka. Dan, marilah bersama kita galang empati buat mereka dengan apapun yang kita bisa. Setidaknya, kita turut berkontribusi dalam meluruskan pemberitaan tentang Palestina, menyisihkan dana untuk mereka, dan (berusaha) memboikot produk-produk AS yang mendanai pembantaian saudara-saudara kita. Sepakat?
Lalung Permai, 22:36












0 comments:
Post a Comment